
Andi dan Herti tidak berhenti untuk men scrolling galery foto akun ID Satria yang membuat mereka benar-benar shock.
"Gila sih ini parah.. Pak Satria kelihatan banget bucinnya ndi sama Arin." ujar Herti sambil tak berhenti melihat setiap foto mereka berdua yang pernah Satria posting.
"Njirrr, ini seriusan.. Gak percaya gue, bisa-bisanya mereka pura-pura gak kenal satu sama lain padahal udah mau 7 bulan kita kerja bareng." timpal Andi yang tidak bisa berhenti untuk terheran-heran.
"Kita ke kost an Arin sekarang." ujar Herti sebal.
"Ngapain? " tanya Andi membuat Herti semakin naik darah.
"Lah kok ngapain sih Andi lau? Ya kita minta penjelasan sama Arin lah. Kenapa dia harus bohongin kita dan pura-pura gak kenal sama pacarnya sendiri." jelas Herti yang sudah kesal. sampai di ubun-ubun.
"Her, Ini kan masalah pribadi dia mungkin privasi. Lagian kita siapa bisa nuntut dia buat jujur ke kita." ujar Andi sembari kembali menyedot jusnya kembali dengan santai.
Plakk,
Herti memukul punggung Andi dengan sebal. Bisa-bisanya ia bersikap bodoh saat-saat seperti ini, pikirnya.
"Aww, sakit Herti." pekik Andi berteriak kesal.
"Abis gue kesel banget sama lu gak ada Pinter-pinternya tuh otak."
"Eh, Herti jangan sekate-kate tuh mulut! enak bener asal mangap!" ujar Andi menjadi ikut marah membuat Herti sedikit terkejut.
"Kok jadi elu yang marah?" tanya Herti .
"Ya iya, gue marah lu pikir gue gak bisa marah." jawab Andi kembali berteriak sebal.
"Ya sorry, abis gue sebel banget. Lu tuh gak peka! gue sebel sama Arin, bisa-bisanya dia sembunyiin ini dari kita." ujar Herti dengan nada melemah.
"Gue ngerti, tapi gak baik juga kita terlalu ikut campur urusan orang walaupun dia tuh temen deket kita. Lu kenal sama Arin udah berapa lama sih, masa belum paham juga."
__ADS_1
"Dia tuh kalau gak cerita berarti itu menurut dia adalah hal yang benar-benar privasi. Lagian, yang kita lihat itu foto-foto lama semua. Itu lu bisa lihat kan tahun berapa postingannya dan bisa jadi mereka tuh cuma mantan. " jelas Andi membuat Herti kembali terdiam.
"Iya sih, selama ini kita selalu di kenalin sama cowok yang lagi deket sama dia ataupun pacarnya. Kalau sekarang di sembunyiin ya pasti karena itu tuh cuma masa lalu. Apa yang mau di banggain coba kalau bilang-bilang tapi ternyata cuma mantan." jelas Andi lagi membuat Herti mulai mengerti.
"Tapi kenapa pak Satria gak hapusin foto mereka ya, malah di simpen di galery gitu. Orang kan ngeliatnya bisa salah paham, kayak kita sekarang." ujar Herti kembali.
"Her, ya kalau itu kan urusan pak Satria. Bisa aja emang dia belum move on dan masih sebucin itu sama Arin. Lu bisa lihat sendiri kan dari foto mereka, kelihatan banget pak Satria sayang banget sama Arin." timpal Andi.
"Iya sih, ngelihat foto kek gini rasanya gak rela kalau mereka harus jadi mantan. Sweet banget tahu gak sih." ujar Herti sembari kembali menatap foto mereka satu persatu.
"Ya, gimana? Itu kan gimana mereka. Sebagai temen, kita cuma berhak buat support Arin aja. Lagian gue lebih suka dia sama dokter Raka. Mereka kelihatan serasi banget menurut gue."
ujar Andi menerawang membayangkan Arin bersanding dengan Raka.
"Tapi gak tahu kenapa gue lebih suka Arin yang ada di foto ini ndi. Dia kelihatan bahagia banget, ya gak sih? " tanya Herti mengingat jika ia sendiri belum pernah melihat Arin sebahagia ini dengan siapapun .
"Iya, lu bener. Arin cantik banget di foto ini. Masih lucu banget lugu gitu masih SMA ini sih." ujar Andi tersenyum melihatnya.
Flashback,
Ia selalu bisa bersikap profesional terlepas dari seberapa berat pun tuntutan dalam pekerjaannya. Arin tidak pernah mengeluh seberapa pun ia merasa lelah.
Dan selama Andi dan Herti mengenalnya, Arin adalah orang yang terlihat dingin tapi berhati hangat. Arin tidak mudah dekat dengan orang lain dan cenderung menjaga jarak dengan setiap rekan kerjanya.
Dan bagaimana mereka bertiga bisa menjadi dekat pun adalah cerita yang panjang. Sebelumnya Arin cukup dekat dengan Ike. Mereka berdua masuk di perusahaan tersebut di waktu yang sama.
Hanya saja karena cemburu dengan pencapaian Arin yang bisa lebih baik darinya, Ike mulai menjauhi Arin. Bahkan ia menyebarkan rumor buruk tentang kepribadian Arin terhadap sesama karyawan.
Semenjak itu Arin selalu sendiri sampai akhirnya di pertemukan dengan Andi dan Herti sebagai 1 tim. Mereka bisa menjalin hubungan baik terlepas dari rumor yang Ike buat-buat tentang Arin.
Tapi walaupun begitu, Arin tidak pernah sekalipun membalas Ike. Apapun kata-kata pedas atau sindiran yang Ike ucapkan, Arin tidak pernah memasukkannya ke dalam hati.
__ADS_1
Akhirnya Andi dan Herti sepakat jika mereka tidak akan menemui Arin karena hal tersebut. Mereka akan menunggu Arin di kantor lusa nanti, dan akan membicarakan baik-baik agar tidak menyinggung Arin.
Akhirnya selama satu hari ini, mereka habiskan untuk menggibahkan Arinda dan Satria saja. Mereka tidak bisa membahas sesuatu yang lain karena rasa penasaran mereka.
**
Sore hari Arin terbangun karena suara ketukan di pintu. Selly yang merupakan tetangga kamarnya memanggilnya. Arin pun mencoba untuk membuka matanya lebar-lebar dan meregangkan otot-ototnya sesaat sambil mengumpulkan kesadarannya.
"Ya, sebentar."
Ceklek, pintu di buka.
"Mbak Arin, ada kurir antar makanan itu di depan lagi nunggu. " ujar Selly.
"kurir? tapi saya gak pesan makanan kok." ujar Arin.
"Masa sih mbak, tapi bener loh dia bilang atas nama mbak Arinda. Disini cuma mbak aja yang namanya itu." ujar Selly menjelaskan.
"Oh ya udah sel, makasih infonya. Biar saya cek ke depan." ujar Arin sembari menutup pintu kamarnya.
"Atas nama mbak Arinda." ujar kurir.
"Iya, pak. Tapi masalahnya saya gak pesan makanan loh." jawab Arinda membuat kurir tersebut tersenyum mengerti.
"Mbak, ini memang bukan pesanan mbak. Tapi seseorang mengirimkannya untuk mbak Arinda." jawab kurir tersebut dengan ramah.
"Pengirimnya siapa ya pak?" tanya Arin penasaran.
"Maaf mbak, pengirimnya gak cantumin nama atau nomor teleponnya. Jadi ini gimana ya? Mau di terima apa gak? Udah di bayar semua mbak ini." jelas kurir tersebut.
"Eh, ya udah deh pak, saya ambil. Terimakasih ya." ujar Arin sembari mengambil 1 buah paper bag berukuran sedang berisi makanan.
__ADS_1
Dari penampilan luar dan bentuknya saja Arin sudah bisa menebak apa isi di dalamnya.
"Apa Raka ya, yang kirimin ini." ujar Arin bergumam kecil sambil berjalan menuju kamarnya.