
Sementara di Hotel Seruni, Bayu tengah mondar-mandir di lobby menunggu kedatangan pujaan hatinya itu. Ia sudah sampai sejak jam 3 sore tadi karena berangkat menggunakan pesawat.
Ia tidak mau membuang waktu di jalan tak berarti. Namun nahasnya ia malah di buat kesal dengan kabar bahwa salah satu rombongan bus terlambat karena bus tersebut mogok.
Dan sialnya ada Arin dan Satria dalam rombongan bus tersebut. Senyum nya tampak merekah melihat satu persatu karyawan dalam bus tersebut telah sampai di lobby hotel.
Namun setelah beberapa lama ia baru tersadar, jika Arin dan teman-temannya tidak ada dalam rombongan tersebut.
"Sial!!" pekiknya sambil memukul udara melepas geram di hatinya.
Tangannya langsung saja merogoh saku di jaketnya untuk mengambil handphone miliknya. Dengan tidak sabar ia membuka aplikasi hijau untuk menghubungi Arin. Namun bagaikan sia-sia sejak ia sampai di hotel sore tadi Arin tak menjawab telepon darinya.
Bahkan semua chat yang ia kirimkan tampak masih belum terbaca sama sekali. Ia harus puas dengan menunggu dan sepertinya ia kalah langkah lagi dengan Satria.
Dengan langkah tergesa akhirnya Bayu bergerak meninggalkan hotel. Ia pergi bersama Devano sang asisten pribadi yang selalu menemaninya kemanapun ia pergi.
"Tuan muda, kemana kita akan pergi?" tanya Devano begitu mulai menyalakan mesin mobilnya karena ia yang menyetir untuk bosnya itu.
"Club! " jawab Bayu singkat.
"Baik tuan muda." jawabnya patuh.
Tanpa bertanya 2 kali ia pun segera mengemudikan mobilnya untuk membelah jalanan malam kota jogjakarta. Satu tangannya tampak membuka aplikasi untuk mencari letak Club terbaik di kota tersebut.
Sebenarnya Bayu bukanlah orang yang gemar mengkonsumsi alkohol dan pergi ke club malam. Hanya sesekali saja ketika ada undangan dari teman-temannya yang mengadakan acara di sana.
Tapi entah kenapa akhir-akhir ini dia lebih banyak merasa gelisah. Karena itu ia memilih untuk menenggelamkan dirinya di Club malam dengan minuman agar ia tak terlalu terbebani dengan pikirannya saat ini.
__ADS_1
Tidak bisa ia pungkiri di salah satu sudut hatinya ia mengakui jika ia sudah kalah. Seberapa keras pun ia mencoba, Arin tetap lah Arin yang selalu memasang tembok yang begitu tinggi dengannya.
Bahkan jauh sebelum ia membawa Satria masuk dalam kehidupan Arin. Memikirkan hal tersebut membuat ia kembali di kuasai emosi. Beberapa teguk minuman telah membasahi kerongkongan nya begitu ia sampai di Club.
Kerlap-kerlip lampu diskotik dan suara dentuman musik yang memekakkan telinga tidak membuatnya terganggu. Setelah ke sekian kalinya, ia meminta kepada bartender untuk menambahkan kembali minumannya.
Devano masih duduk dengan setia di sebelahnya untuk menjaga tuannya itu. Ia hanya memesan segelas cocktail karena ia tidak boleh mabuk. Bagaimana pun ia yang akan membawa Bayu pulang ke hotel nanti.
Beberapa wanita penghibur nampak mendekati Bayu dan mencoba untuk menggodanya. Namun ia tak bergeming sama sekali, bahkan ketika salah satu dari mereka mulai bersikap agresif dengan menyentuh beberapa bagian tubuhnya Bayu hanya melemparkan tatapan tajamnya seolah memperingatkan.
Bibirnya terkatup namun para gadis yang biasa menjajakan tubuhnya setiap malam itu dibuat takut dengan tatapan mata Bayu yang begitu penuh dengan ancaman.
Sementara Arin, Satria, Herti dan Andi sampai di hotel ketika waktu sudah menunjukan hampir pukul 11 malam. Mereka pulang terlambat karena eyang putri terus menerus menahan mereka untuk pergi.
Lebih tepatnya eyang terus menahan Arin untuk tinggal. Bahkan eyang membujuk mereka untuk menginap di sana daripada ke hotel. Namun karena Satria bersikeras untuk ke hotel akhirnya mau tidak mau eyang pun mengizinkan.
Flashback,
Setelah acara makan malam selesai, eyang menyarankan semua orang untuk shalat berjamaah. Mengingat saat maghrib pun mereka lewati begitu saja karena insiden bus mogok.
Satria dan Andi memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu secara bergantian menggunakan kamar mandi yang ada di kamar Satria. Sementara Arin dan Herti menggunakan kamar tamu.
Ketika itu Herti mandi lebih dulu, eyang pun menghampiri Arin di kamar Satria. Eyang terus menatap Arin dengan tatapan entah tak terbaca membuat Arin pun sedikit merasa tidak nyaman.
"Kamu jauh lebih cantik dari pada di foto. Apalagi sekarang sudah jadi seorang wanita dewasa." ujar eyang menatap Arin sambil tersenyum teduh.
"Maksud eyang?" tanya Arin tidak mengerti arah pembicaraan eyangnya Satria tersebut.
__ADS_1
"Dulu eyang hampir setiap hari lihat kamu, walaupun cuma di foto. Karena itu, eyang sudah hafal betul wajah kamu. Eyang terkejut Satria bisa datang sama kamu cah ayu." jelas eyang putri sambil mengusap rambut Arin dengan lembut.
Arin pun tampak tertegun mendengar penuturan eyang putri. Kini ia mulai menerka-nerka kemana arah pembicaraan itu akan berakhir.
"Eyang tahu, berat bagi kamu untuk menerima masa lalu Satria. Dan eyang juga tidak akan menyalahkan kamu atas keputusan kamu untuk kalian berpisah. Tapi, eyang hanya ingin kamu tahu cah ayu, cucu eyang ini sangat mencintai kamu. Dia sangat sayang sama kamu, setiap hari tidak pernah eyang lihat dia tidur tanpa memeluk foto kamu. Bahkan tak jarang diam-diam ia menangis ketika benar-benar merindukan kamu."
Apa yang eyang Satria katakan sedikit banyaknya sangat mempengaruhi Arin. Bagaimanapun ia juga sadar betul jika dirinya sendiri pun masih sangat mencintai Satria.
Walaupun selama ini ia selalu membantah dan menyangkal hal tersebut dengan keras. Tapi ia tahu, kalau sebenarnya ia hanya membohongi dirinya sendiri.
Setelah mengatakan apa yang selama ini terjadi pada Satria selama 8 tahun ia di jogja, eyang putri pun pergi. Sebelum keluar dari kamar, eyang putri juga memberitahu kan bagaimana hubungan Satria dan Arslan selama ini.
Ada sedikit rasa bersalah di hati Arin mendengar jika Satria sangat menjaga jarak dengan Arslan karena dirinya. Walaupun Arslan tidak mengetahui siapa Satria sebenarnya, tapi Arin tetap merasa bersalah telah menjauhkan seorang anak dari ayahnya.
Walaupun sebenarnya ia melakukan itu tanpa sengaja dan tanpa ia tahu. Satria begitu terpuruk setelah putus dengannya sampai ia mengabaikan banyak hal dan kehidupannya di Jakarta bersama keluarga nya.
Dan yang paling membuat Arin terkejut adalah mengetahui fakta sebenarnya bagaimana akhirnya Arslan tidak di perkenalkan ke publik sebagai anak Satria melainkan sebagai adiknya.
Menurut eyang, setelah Vina mengetahui kehamilannya. Ia sempat beberapa kali mencoba untuk menggugurkan Arslan yang saat itu masih dalam kandungan nya. Bahkan ketika lahir dan Satria nekat minta cerai dengannya, Vina berkata jika ia akan membuang Satria ke panti asuhan untuk memulai kehidupan nya yang baru.
Bukannya menyesali dengan apa yang telah ia perbuat, Vina malah berniat menambah dosanya. Karena tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi jika Arslan tetap dalam pengasuhan Vina apalagi sampai Vina membuangnya akhirnya kedua orang tua Satria memutuskan untuk mengambil Arslan.
Dan akhirnya keluarga mereka pun mengarang cerita tentang asal usul Arslan sebenarnya. Bagaimana pun Arslan hanyalah bayi yang tidak berdosa.
Tidak sepantasnya menanggung beban dosa orangtuanya dan ikut menderita karenanya.
Satria pun sempat berada dalam fase depresi, dan pernah nekat akan melakukan bunuh diri jika permintaannya untuk bercerai dengan Vina tidak di kabulkan eh kedua orangtuanya.
__ADS_1