Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Bab 117


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini Satria tampak sudah kembali beraktivitas di kantor. Meskipun dengan keadaan yang masih memiliki gerak terbatas tapi Satria tetap bersemangat menjalani harinya.


Meskipun bisnisnya berkembang dengan pesat kurang dari 2 tahun tapi Satria tidak berbangga diri. Ia hanya berharap apa yang ia bangun dengan keringatnya bisa berjalan dengan baik dan lancar.


Sejak dulu Satria memang di kenal sebagai orang yang cerdas. Dan semasa bekerja pun ia adalah karyawan yang cakap dan dapat di andalkan meskipun usianya masih terbilang muda. Mantan bosnya di Jogja dulu berperan banyak dalam kemajuan bisnisnya saat ini.


Satria bisa memiliki banyak relasi dan klien besar berkat bantuan mantan bosnya itu. Hubungan mereka terbilang sangat baik bahkan pria paruh baya tersebut sempat ingin menjadikannya menantu. Tapi ternyata Satria menolak dengan tegas satu permintaannya itu dengan alasan jika ia sudah memiliki calon istri.


Ya tentu saja, lagi-lagi Arin yang ia jadikan alasan di depan orang lain meskipun saat itu hubungan mereka terbilang buruk bahkan Arin selalu bersembunyi darinya selama bertahun-tahun. Tapi Satria tetap yakin dengan cintanya bahwa ia hanya akan mencintai 1 Arinda dalam hidupnya.


Itu jugalah yang menjadi alasan ia akhirnya menerima tawaran Bayu dan pindah ke Jakarta meskipun jabatannya di perusahaan sebelumnya cukup tinggi. Ia merasa bersalah dengan setiap kebaikan yang di berikan bosnya sementara ia tidak bisa memenuhi keinginannya.


Meski begitu mereka tetap berhubungan dengan baik selama ini. Dan begitu mengetahui Satria kembali ke Jogja dan sedang merintis bisnis kecil-kecilan dari nol pak Handoko pun tak segan menawarkan bantuan.


Bahkan banyak dari relasi pak Handoko yang menjadi investor di perusahaan kecil milik Satria saat itu. Kemampuan Satria dalam berbisnis memang sudah tidak di ragukan lagi, akhirnya ia sukses mengembangkan bisnis miliknya tersebut sampai seperti sekarang ini.


Beberapa hari lagi adalah ulang tahun Satria sekaligus acara pertunangan yang diam-diam sedang di siapkan oleh semua orang. Tentu saja Satria tidak mengetahui apapun tentang rencana tersebut. Arin pun pergi ke Jakarta untuk menjemput kedua orangtuanya di bandara bersama Dean.


Dan saat dalam perjalanan mobil yang ditumpangi Arin berhenti di lampu merah tepat berdampingan dengan mobil Satria. Satria yang tengah fokus pada ponselnya pun menoleh ke kiri dan kanannya begitu merasakan pergerakan mobilnya berhenti.


Tidak sengaja matanya menangkap bayangan seorang gadis seperti Arinda nya tengah duduk di bangku samping kemudi. Ia pun mencoba menajamkan penglihatannya dan itu memang benar Arin. Tentu saja Satria sangat terkejut, setelah beberapa bulan ini mereka tidak pernah bertemu sekalipun.

__ADS_1


Tapi kejadian di lampu merah hari ini begitu mengusik pikirannya. Satria berpikir apa yang sedang Arin lakukan di Jakarta, terlebih ia tidak bicara apapun padanya selama ini. Belum sempat Satria memanggil Arin ternyata mobil yang di tumpangi calon istrinya itu sudah melaju lebih dulu.


Satria pun segera menghubungi Arin, dan tidak menunggu lama Arin pun menjawab. Namun betapa kecewanya Satria ketika mendengar jawaban Arin yang berbohong tentang keberadaannya di Jakarta.


Tapi Satria memilih untuk diam dan tak mengatakan jika sebenarnya ia melihat Arin. Setelah itu Satria kembali melanjutkan perjalanannya untuk meeting bersama klien. Ia sedang terburu-buru karena itu ia tidak bis mengikuti Arin.


Walaupun ia kecewa karena telah di bohongi oleh kekasihnya, namun Satria tidak mau berpikir macam-macam yang akan mengganggu hubungan keduanya. Ia memilih untuk menanyakannya nanti, ketika ia libur ia berencana untuk menemui Arin langsung dan datang ke rumahnya.


Sementara Arin pun yang tidak mengetahui apa-apa sedikit merasa aneh karena cara bicara Satria terdengar sedikit berbeda. Namun ia memilih untuk berpikir positif toh ia yang paling tahu bagaimana besarnya pria itu mencintainya. Jadi pasti tidak ada apa-apa, dan itu hanyalah perasaannya saja.


Setelah hampir 3 jam akhirnya Arin pun sampai di Bandara. Tidak sampai 10 menit ia pun melihat kedua orangtuanya tengah berjalan ke arah mereka dengan membawa koper berukuran besar.


Setelah hari itu, Arin merasa Satria sedikit berbeda. Satria jarang menghubunginya kecuali Arin yang lebih dulu menghubunginya. Satria masih belum bisa melupakan kebohongan Arin, tapi bagaimana pun juga ia sangat merindukan Arin dan ingin bertemu.


Satria menjadi gamang sendiri, setelah semua hal yang terjadi ia pikir tidak akan ada masalah yang kembali menerpa hidupnya. Namun ternyata ia salah, sekarang ia kembali di buat galau dengan sikap Arin. Ada sedikit keraguan di hatinya jika sebenarnya mungkin perasaan Arin kini berubah untuknya.


Lain halnya dengan Arin yang tampak bersemangat mempersiapkan pesta kejutan ulang tahun sekaligus acara pertunangan mereka. Bahkan ia sudah bertemu diam-diam dengan mama Satri beberapa kali untuk mempersiapkan semuanya.


Dan akhirnya sampai di hari sebelum hari H akhirnya mama Satria menjalankan rencananya. Ia pun mulai berbicara dengan Satria saat makan malam bersama di rumah.


"Sat, besok antar mama kondangan yuk."

__ADS_1


ujar mama Satria.


"Kondangan? Tumben banget ma. Kenapa gak pergi sama papa aja." jawab Satria sedikit lesu.


"Papa ada acara makanya gak bisa antar. Besok kan hari Sabtu, kamu gak ngantor juga. Apa salahnya kamu temani mama kamu sat. Dia gak minta anter kamu ke bulan loh."


jawab papa Satria memberikan alasan dan membuat Satria tidak bisa berkata-kata.


"Ya udah, besok acaranya dimana ma?" tanya Satria yang langsung di jawab oleh mamanya dengan semangat.


"Di gedung pramudya perkasa." membuat Satria sedikit terkejut.


"Loh kok di Bogor?" tanya Satria sedikit curiga.


"Kita kan tinggal di Bogor bukan setahun 2 tahun loh Sat. Banyak kenalan dan teman mama di sana, pulang dari kondangan kita bisa mampir ke rumah Arin kan?" tanya mama Satria.


"Ya udah, besok aku yang anterin mama tapi gak usah mampir-mampir." jawab Satria singkat dn langsung beranjak dari meja makan.


"Loh kenapa tuh anak, tumben banget."


"Udah pa, gak usah di pikirin besok jug happy dia." jawab mama Satria menimpali membuat papa Satria mengangguk setuju.

__ADS_1


__ADS_2