Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Bab 101


__ADS_3

Hari sudah menjelang malam ketika Arin dan Satria sampai di depan kost'an. Mereka tidak langsung turun dan memilih untuk berbicara sebentar di dalam mobil. Satria sudah tahu mengenai keputusan Arin yang akan kembali ke rumah.


"Kamu yakin mau PP Bogor - Jakarta tiap hari?" tanya Satria sambil menggenggam tangan Arin dan menciuminya sesekali.


"Aku gak punya pilihan sat. Untuk saat ini, ayah sama ibu pengennya aku di rumah. Daripada aku harus berhenti kerja, sama sekali gak ada alasan nanti buat keluar. Lagian aku juga udah terlanjur nyaman sama kantor aku yang baru." jelas Arin sembari menghela nafas berat.


Satria pun menarik Arin ke dalam dekapannya sambil berujar permintaan maaf berkali-kali. Karena ia pun sadar, jika semua ini adalah karena dirinya. Satria pun mencoba untuk kembali menguatkan hatinya jika ia tidak akan pernah menyerah tentang Arin.


"Maafin aku ya sayang, ini semua gara-gara aku." ujar Satria dengan perasaan sedih.


"Sat, udah deh kita gak perlu bahas ini lagi." ujar Arin dengan mood yang sedikit memburuk.


"Ya udah, maaf ya sayang." jawab Satria sambil mengecup lembut bibir Arin spontan.


"Ih, Satria." pekik Arin sembari memukul lengan kekasihnya itu.


"Ih yang, pengennya cium malah. Tapi kalau cium takut bablas lagi, ah pokoknya pengen cepet-cepet halalin kamu." ujar Satria merengek seperti anak kecil membuat Arin hanya geleng-geleng kepala.


Usia mereka saat ini memang sudah pantas untuk membina rumah tangga. Tapi apa daya jika restu belum di dapat, mereka harus bersabar dan berusaha lebih keras lagi untuk meyakinkan kedua orangtuanya Arin.


"Udh ya, aku masuk aja." pamit Arin membuat bibir Satria kembali mengerucut.


"Besok ketemu lagi ya." bujuk Arin.


"Ya udah deh." jawab Satria masih sedikit tidak rela.


Arin pun bersiap turun dan mengambil barang-barangnya agar tidak ada yang tertinggal. Namun ia kembali sebelum benar-benar turun untuk mengecup pipi Satria.


Cup,


Hanya satu kecupan saja sudah membuat mood Satria kembali naik. Ia pun melepas kepergian Arin dengan senyuman terkembang.


"Langsung istirahat ya, jangan kemana-mana lagi udah malam. Besok pagi aku jemput ya." ujar Satria berpesan ketika Arin akan memasuki gerbang kost'an nya.


Satria langsung memarkirkan mobilnya untuk pulang ke rumahnya . Semua keluarganya pun sudah pulang dari rumah lama berbarengan dengan Arin dan Satria hanya saja menggunakan mobil yang berbeda.

__ADS_1


Satria pun mulai berpikir keras dan mencari ide bagaimana cara untuk meluluhkan hati kedua orangtuanya Arin. Ia merasa semua jalan sudah tertutup rapat baginya.Tapi ia tidak akan menyerah begitu saja, ia sangat mencintai Arin karenanya bagaimana pun caranya ia akan berusaha untuk mendapatkan restu dari kedua orangtuanya.


***


Belum sempat Arin memutar kenop pintu kamarnya, Sherina pun memanggilnya.


"Rin, kamu dari mana aja?" tanya Sherina begitu sampai di depan pintu kamar Arin.


"Aku abis pulang ke Bogor soalnya ayah sama ibu aku pulang Sher." jawab Arin seadanya.


"Oh gitu, kirain kemana." ujar Sherina sembari menautkan kedua tangannya.


"Um, Rin maaf ya soal tempo hari." sambungnya meminta maaf dengan tulus.


"Gak apa-apa Sher, gak usah di pikirin. Aku juga gak mikir gimana-gimana kok santai aja." jawab Arin jujur karena memang saat itu ia tak ingin berpikir macam-macam.


"Sher, kalau masih mau ngobrol di dalam aja ya aku capek banget soalnya abis perjalanan jauh lumayan kan Bogor-Jakarta." ujar Arin sembari membuka pintu kamarnya lebar-lebar.


"Eh, jangan besok kan kamu juga kerja. Mending istirahat aja, nanti kita sambung lagi ngobrolnya." ujar Sherina yang menyadari wajah lelah Arin.


"Ya udah, aku duluan ya nanti kita sambung lagi." ujar Arin berpamitan.


***


"Good morning sweetheart."


"Sat, kamu gak usah jemput ya Dean udah datang jemput aku, nanti aku hubungi lagi ya." ujar Arin dengan terburu-buru langsung memutus telponnya begitu saja.


Satria yang mendengar penjelasan Arin pun hanya bisa menghela nafas pasrah mendengar penjelasan Arin beberapa saat lalu. Jika begitu, artinya ia akan sulit menemui Arin.


Bahkan sangat mungkin ketika pulang bekerja pun Dean yang akan menjemputnya. Memikirkan hal tersebut membuat mood Satria memburuk di pagi hari. Ia yang semula sudah siap untuk berangkat langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa ruang keluarga dengan pikiran menerawang.


Sebenarnya banyak hal yang sedang ia pikirkan saat ini. Tapi masalahnya dengan Arin lah yang paling mendominasi pikirannya saat ini. Satria pun memutuskan untuk menelpon Adam, seorang laki-laki berusia 24 tahun yang kini menjadi orang kepercayaannya.


Bisa di bilang Adam adalah asisten pribadinya saat ini, karena hanya ia yang Satria percaya untuk membantu mengurus bisnisnya. Tentunya semua masih dalam pantauan Satria meskipun terkadang ia tidak datang langsung ke pabrik untuk melihat dan mengontrol hasil produksi.

__ADS_1


"Dam, hari ini jadwal saya apa aja?" tanya Satria sambil memijat pelipisnya yang terasa pening.


Adam pun menjelaskan semua kegiatan yang harus di lakukan oleh Satria. Bahkan hari ini Satria ternyata sedang sangat sibuk. Ia akan melakukan meeting dengan salah satu selebgram terkenal seantero Indonesia untuk membahas perihal endors yang akan di lakukan oleh selebgram tersebut.


Satria memutuskan untuk menggunakan jalur viral agar produk yang ia pasarkan laku keras di pasaran. Tentunya hal itu juga sudah dengan pertimbangan yang matang. Ini bukanlah pertama kalinya Satria memasarkan produknya dengan cara tersebut.


Setelah berbicara panjang lebar dengan Adam Satria pun ikut bergabung di meja makan dengan keluarganya. Arslan sudah di antarkan pergi ke sekolah oleh supir keluarga mereka.


"Gimana sat rencana kamu ke depannya?" tanya sang mama.


"Aku belum tahu ma, semuanya masih abu-abu. Tapi satu hal yang pasti aku gak akan berhenti sampai kedua orangtuanya Arin setuju." papa dan mamanya mengangguk mengerti mendengar penjelasan Satria.


Sebenarnya mereka sangat ingin menemui calon besannya itu. Tapi Satria dan Arin bersikukuh jika mereka akan berusaha sendiri baru lah mereka sendiri yang akan mempertemukan kedua keluarga.


Mama dan papa Satria hanya bisa menyetujui keputusan keduanya. Obrolan pun berlanjut ke ranah bisnis yang saat ini di jalankan oleh Satria. Eyang dan mamanya banyak memberikan masukan mengenai produk yang Satria jual. Bahkan mereka merekomendasikan beberapa menu baru yang menurut Citra sedang cukup hits saat ini.


Satria pun berjanji akan mempertimbangkan saran dari mama dan eyangnya tersebut. Satria pun menanyakan keberadaan Citra yang tak terlihat pagi itu. Mama pun menjelaskan jika pagi ini ia sudah berangkat untuk mengikuti tes CPNS.


Sementara Arin yang pagi itu di antar pergi bekerja oleh Dean hanya bisa menggerutu kesal. Karena Dean, menjemputnya terlalu pagi. Arin bahkan harus melewatkan sarapan paginya dan bermake up dalam perjalanan.


"Besok-besok gak usah jemput kalau harus sepagi ini." ketus Arin dengan mood yang sudah memburuk.


"Yah kan, aku juga harus berangkat kerja. Kalau gak jam segini jemput nya aku bisa kesiangan lah." jawab Dean membuat Arin semakin kesal.


"Ya kalau gak sempet gak usah jemput! Kakak bisa kok berangkat sendiri, biasanya juga begitu." sengit Arin menatap tajam adiknya yang terlihat hanya bisa menghela nafas perlahan.


"Aku di suruh ayah sama ibu." jawab Dean membuat Arin tak mampu lagi berkata-kata.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2