
Keesokan harinya Arin pun terbangun ketika adzan subuh berkumandang. Wajahnya begitu berseri-seri ketika mengingat apa yang terjadi malam tadi. Ia pun menutup wajahnya dengan bantal mengingat kekonyolannya sendiri tentang Citra.
"Hah, memalukan!" gumamnya merasa malu sendiri padahal ia sedang sendiri di kamarnya tidak ada siapapun di sana.
Tak lama terdengar suara pesan masuk dari handphonenya. Segera ia ambil benda berbentuk persegi tersebut yang ia letakkan di atas meja kecil yang berada di samping tempat tidurnya.
"Morning, jangan lupa subuhan sayang." Begitulah kira-kira isi dari pesan masuk yang di kirimkan oleh Satria.
Arin pun tersenyum malu setelah membacanya. Padahal Arin belum membahas apapun tentang hubungan mereka. Ia ingin semuanya berjalan secara alami dan tak ingin terlalu terburu-buru.
Apalagi banyak hal yang harus mereka pikirkan ke depannya jika mereka memutuskan untuk kembali bersama. Akan ada badai besar dalam keluarganya, jika mereka mengetahui tentang kedekatannya dengan Satria.
Terutama kedua saudara laki-lakinya, mereka pasti akan bersikeras menolak jika ia menjalin hubungan kembali dengan Satria. Hah, rasanya kepala Arin mendadak pusing jika memikirkan hal tersebut.
Akhirnya ia pun memutuskan untuk bergegas menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim tanpa membalas pesan yang di kirimkan oleh Satria.
Sementara Satria yang sejak tadi menunggu balasan, hanya menggerutu sebal karena ternyata Arin hanya membaca pesan yang ia kirimkan tanpa membalas. Meskipun ia sudah biasa menerima sikap cuek Arin tetap saja terkadang ia merasa sedikit kesal.
"Apa susahnya coba balas chat aku." tulisnya lagi, tapi setelah beberapa saat Arin belum juga membaca pesan tersebut.
Akhirnya Satria pun memutuskan untuk melakukan ibadah shalat subuhnya terlebih dahulu. Namun setelah ia selesai dan melihat handphone yang ia letakkan di atas kasur masih belum ada jawaban.
Satria pun langsung bersiap, ia berniat menjemput Arin untuk mengantarkannya berangkat ke kantor. Dan sebelum itu ia berencana untuk mengajak Arin sarapan bersama.
Mama dan papa Satria sedikit terheran melihat wajah Satria yang tampak begitu cerah pagi ini, tidak seperti biasanya. Eyang pun yang sedang menikmati secangkir teh hangat di ruang keluarga turut memperhatikan perubahan air muka Satria.
"Mau kemana mas jam segini udah rapi aja?" tanya sang mama sembari menata beberapa masakan yang baru saja selesai ia masak di meja makan.
"Mau nganterin calon istri berangkat ke kantor." jawab Satria santai membuat semua orang terkejut.
Bahkan papanya sampai tersedak ketika sedang menyesap kopi di tangannya mendengar jawaban nyeleneh putra sulungnya itu.
"Pa, ini mama gak salah dengar kan?" tanya mama Satria yang hanya di balas gelengan kepala oleh sang suami.
__ADS_1
"Apa sih mama sama papa lebay banget. Ya kan eyang?" ujar Satria sambil mencium punggung tangan para orang tua termasuk eyang putri.
"Satria berangkat ya, Assalamualaikum." ujar Satria berpamitan sambil melenggang pergi ke arah pintu depan sebelum sempat eyangnya menjawab pertanyaannya.
"Astaghfirullah pa, kayaknya kita harus lakukan sesuatu. Jangan-jangan anak kita sekarang mulai gak waras to." ujar mamanya menjadi sedikit panik.
"Ah, mama apa-apaan sih? ngedoain anak tuh yang baik-baik. Jangan ngomong sembarangan kayak gitu dong ma." jawab papa Satria memperingati.
"Bu, piye to ?" tanya mama Satria pada eyang putri yang sejak tadi hanya diam termenung.
"Coba saja nanti malam kita bicarakan dulu baik-baik dengan Satria. Kalau ternyata dia hanya bercanda saja, sebaiknya kita coba bujuk dia untuk mengikuti perjodohan. Kebetulan cucu dari sahabat ibu juga ada yang lajang, siapa tahu Satria bersedia?" jawab eyang putri setelah beberapa saat.
"Saya gak yakin bu, anak itu keras kepala sekali jika itu tentang kehidupan pribadinya. Kalau bisa semudah itu, mungkin Satria sudah saya nikahkan sejak beberapa tahun lalu." ujar papa Satria sedikit tidak setuju.
"Ya kita kan belum coba lagi pa, kan siapa yang tahu sekarang Satria sudah punya keinginan untuk menikah. Syukur-syukur sih dia memang sudah punya calonnya sendiri." jawab mama Satria bersikeras.
"Ya sudah terserah kamu sama ibu saja, asal jangan minta papa yang bicara sama Satria ya." jawab papa Satria sembari berjalan menuju halaman belakang rumah mereka.
"Kamu pengen tahu aja apa pengen tahu banget?" jawab mama membuat Citra mencebik kesal.
"Mama ih." jawab Citra dengan kesal.
"Ya habisnya kamu pengen tahu aja urusan mas mu." timpal mama.
"Oh soal mas Satria, soal pacarnya ya?" tanya Citra asal.
"Kok kamu bisa tahu, emang mas mu cerita kalau dia punya pacar?" tanya mama yang sudah sangat penasaran sejak tadi.
"Enggak kok, mas Satria gak pernah cerita apa-apa tapi aku kan pernah lihat foto cewek yang jadi wallpapernya kemaren." jawab Citra dengan jujur karena memang hanya itu yang dia tahu.
"Ah, kamu mama kira tahu beneran." cibir sang mama.
"Loh emang bener wallpaper handphone kak Satria tuh foto dia sama cewek. Lumayan cantik lagi ceweknya ma, aslinya lebih cantik lagi sih cuma agak pangling." jawab Citra sambil mengoleskan selai di roti tawarnya.
__ADS_1
"Maksud kamu gimana sih Cit?"
"Iya Citra pernah ketemu di kedai bakso sama cewek yang fotonya ada di handphone mas Satria ma waktu hari apa ya lupa." jawab Citra dengan yakin.
"Kamu kenapa baru cerita sekarang." ujar eyang yang sudah sangat gemas dengan cucu perempuannya itu.
Mama Satria dan eyang pun berjalan keluar mencari papa Satria yang sedang melanjutkan acara minum kopinya di halaman belakang. Sementara itu Satria baru saja sampai di depan gerbang rumah kost Arin langsung menelponnya.
Karena setelah beberapa kali melakukan panggilan telepon Arin tidak menjawabnya sama sekali Satria pun mengirimkan sebuah pesan singkat.
" Sayang, aku di depan yaa.."
Dan benar saja tidak sampai 5 menit Arin langsung menelponnya.
"Kamu mau ngapain?" tanya Arin menahan kesal.
"Jemput kamu dong, sekalian kita sarapan dulu sama-sama ya waktunya masih cukup banget kok." jawab Satria dengan santainya.
"Aku kan bisa berangkat sendiri ngapain jemput-jemput segala." timpal Arin dengan ketus.
"Ya aku kan masih kangen, baru juga ketemu lagi udah lama. Jadi sekarang tiap hari aku yang bakal antar jemput kamu ya kemana aja." ujar Satria sambil menekankan kata-kata di akhir kalimatnya.
"Biar apa coba ih?"
"Biar kamunya gak kabur-kaburan lagi."
"Ih nyebelin"
"Gimana kalau kita langsung nikah aja deh, ya ya ya? jadi kan tinggalnya bareng tuh aku gak bakal terlalu khawatir." ujar Satria semakin terdengar nyeleneh di mata Arin.
"Ah ngaco, yaudah bentar tunggu aku belum siap." jawab Arin langsung mematikan sambungan teleponnya.
Satria pun hanya tersenyum lebar sembari merapikan tatanan rambutnya yang sudah terlihat begitu rapi.
__ADS_1