
Satria terbangun ketika seseorang menyiram tubuhnya dengan air es. Seketika itu juga Satria bangun terperanjat sambil merasakan perih di sekujur tubuhnya. Terutama di bagian paha kirinya yang mempunyai luka tusukan yang cukup dalam.
Darah terlihat masih merembes dari luka tersebut, sementara wajah Satria sudah terlihat pucat karena banyaknya darah yang sudah ia keluarkan. Dengan susah payah Satria berusaha untuk duduk sambil meringis menahan sakit ketika menggerakkan kakinya.
Sementara tidak jauh dari Satria terlihat Arin yang sudah duduk di atas kursi kayu dengan mata yang di tutup sebuah kain berwarna hitam. Sementara tubuhnya di ikat ke kursi dengan menggunakan sebuah tambang.
Dalam keadaan seperti itu Arin hanya bisa menangis sambil memanggil-manggil nama Satria. Bukan hanya takut tapi Arin begitu mengkhawatirkan kondisi Satria yang terluka cukup parah.
"Sat, kamu dimana?"
"Satria." lirih Arin di sela Isak tangisnya.
"A..aku, gak apa-apa sayang." jawab Satria dengan suara lemah namun masih bisa di dengar oleh Arin.
"Alah, udah sekarat aja banyak gaya lu! Sok soan mesra-mesraan!" ujar salah satu anak buah Bayu tersebut sambil menginjak luka tusuk Satria yang masih menganga membuat Satria menjerit tertahan menahan kesakitan.
"Aarrght." teriak Satria membuat airmata Arin semakin deras mengalir.
"Apa yang kalian lakukan, tolong saya mohon cukup. Jangan sakiti dia lagi." pinta Arin mengiba namun hanya di tertawakan oleh sekelompok penjahat yang menculik mereka saat ini.
Dan di sudut ruangan seorang laki-laki berpenampilan rapi dengan jas melekat di tubuhnya tersenyum smirk menyaksikan semuanya. Satria tidak menyangka Bayu yang adalah sahabatnya sendiri selama bertahun-tahun bisa nekat melakukan hal ini.
Meskipun begitu Satria hanya bisa diam dan menelan kekecewaannya pada mantan sahabatnya itu. Bayu telah di butakan oleh cinta dan obsesinya terhadap Arin. Dalam diamnya Hanya melihat ke arah Bayu yang kini duduk sembari memutar-mutar sebuah pistol berukuran kecil.
Satria tidak menyangka jika Bayu akan senekad ini, dalam 1 tahun Bayu berubah terlalu banyak. Sampai ia tidak bisa mengenali sosok Bayu yang kini ada di hadapannya.
Bayu pun memberikan kode kepada anak buahnya untuk melepaskan kain yang menutupi mata Arinda. Dan begitu di lepas Arin sedikit mengerjap mencoba menyesuaikan cahaya dengan matanya.
Ia pun menatap ke sekeliling mencoba mencari keberadaan Satria, tapi yang ia lihat pertama kali adalah Bayu yang kini berjalan ke arahnya dengan tatapan yang entah. Arin sedikit terkejut menyadari jika semua ini adalah ulah Bayu.
Arin mencoba bersikap acuh dan kembali mengedar mencari Satria yang kini terlihat duduk setengah bersandar ke dinding di pojokan ruangan. Meskipun samar, bisa ia lihat Satria mencoba tersenyum dan memberikan isyarat jika semuanya akan baik-baik saja.
Arin pun mencoba melepaskan ikatan di tangan dan tubuhnya tapi tetap saja ia tidak bisa. Arin pun hanya bisa menangis terisak sambil menatap ke arah Satria yang sudah terlihat lemah.
"Hai, apa kabar?" sapa Bayu yang kini berjongkok di hadapannya.
__ADS_1
Satu tangan Bayu mencoba mengelus lembut pipi Arin namun seketika Arin pun memalingkan wajahnya. Ia tidak suka Bayu menyentuhnya, dan andai saja bisa ia ingin sekali menghajar sosok di hadapannya tersebut.
"Baiklah tidak apa-apa. Aku masih bisa sedikit bersabar." ujarnya sambil tersenyum kini beralih menatap Satria.
**
Sedangkan Dean bersama beberapa orang anggota kepolisian sedang mengintai sebuah bangunan tua terbengkalai yang berada di pinggiran kota. Sebelumnya mereka mencoba melakukan pengejaran namun mereka sempat kehilangan jejak.
Namun setelah mengecek beberapa cctv dari jalan tempat dimana mereka melihat mobil para penjahat terakhir kali, akhirnya usaha mereka pun membuahkan hasil. Semua petunjuk merujuk ke lokasi dimana mereka berada sekarang.
Saat itu sudah hampir pagi ketika akhirnya mereka sampai di sana. Dean sudah menelpon Adrian dan kedua orangtuanya memberitahukan insiden tersebut. Adrian dan ayahnya sudah dalam perjalanan menyusul mereka ke lokasi meskipun Dean sempat melarang mereka.
Pihak polisi sudah mengepung tempat tersebut sementara di dalam kini Bayu tengah menatap Satria dengan raut wajah dinginnya. Melihat Satria dalam kondisi mengenaskan seperti itu tidak serta membuatnya iba, hatinya sudah mati, apalagi untuk sekedar merasakan simpati.
"Tidak ada gunanya kamu melakukan ini Bayu." ujar Satria pelan sambil merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
"Sudah sekarat saja kau masih terlalu percaya diri. Tidak perlu khawatir Sat, sebelum ajal menjemput kamu, aku akan memastikan kamu menjadi saksi bagaimana Arin menjadi milikku." timpal Bayu sambil tertawa remeh.
"Kamu hanya bermimpi di siang bolong. Bahkan jika aku mati di sini hari ini, kamu tidak akan pernah mendapatkan apapun." ujar Satria membuat Bayu menatap tidak suka.
"Jangan memancing ku Satria." ucap Bayu dengan menahan geram.
"Diam !! " sentak Bayu sembari mengacungkan pistol di tangannya ke arah Satria.
"Apa yang kamu lakukan? Jangan berani kamu lukai Satria lagi." ujar Arin dengan penuh emosi membuat Bayu menoleh sambil tersenyum smirk.
"Oh iya, baiklah." jawab Bayu dengan tatapan yang penuh kekecewaan.
Bahkan ketika dalam kondisi terdesak pun Arin masih membela Satria dan bukan dirinya. Dan tiba-tiba saja Bayu pun menembakkan pistol di tangannya tanpa aba-aba.
Dorr,
Dean dan para polisi menjadi lebih siaga mendengar bunyi letusan senjata api dari dalam gedung tua tersebut. Mereka pun bergegas untuk masuk dan melumpuhkan beberapa orang yang sedang berjaga di setiap pintu masuk.
"Satriaaa.." teriak Arin begitu histeris melihat Bayu menembakkan timah panasnya tepat di bagian perut Satria membuat Satria kembali tergeletak.
__ADS_1
Satu tangannya berusaha memegang luka di perutnya yang sudah mengeluarkan banyak darah. Satria masih bisa tersenyum membuat Bayu semakin kesal dan mencoba untuk menembak Satria kembali namun belum sempat ia menarik pelatuknya Arin berlari sambil memeluk Satria.
Air mata di wajah Arin sudah tumpah ruah, ia menangis histeris melihat keadaan Satria yang kini hanya tersenyum teduh sambil menatapnya dalam. Sejak tadi Arin hanya diam karena ia sedang mencoba membuka ikatan di tangannya dan berhasil.
Karena perhatian semua orang mengarah ke Satria akhirnya Arin bisa membuka ikatan di tubuhnya dan segera berlari menghampiri Satria yang sudah tergeletak. Dengan tangan bergetar Arin meraih tubuh Satria ke dalam pangkuannya.
Arin hanya menangis sambil mengusap wajah Satria dengan histeris. Ia tidak memperdulikan Bayu lagi yang terus memanggilnya bahkan mengancamnya. Telinganya seolah tidak mendengar apapun membuat Bayu semakin emosi.
"Lepaskan dia sekarang juga atau kamu mau ikut mati bersamanya!" ujar Bayu kembali mengancam Arin setelah berkali-kali memanggilnya tapi Arin hanya menatap Satria dan mengacuhkannya.
"S..sat, jangan tinggalin aku." ujar Arin di sela isak tangisnya yang sudah pecah.
Satria hanya bisa tersenyum sambil menahan rasa sakitnya. Seluruh tubuhnya sudah lemah dan ia sudah tidak sanggup untuk menggerakkannya lagi. Sekuat mungkin dengan sisa tenaga yang ia punya Satria mencoba meraih pipi Arin dengan tangannya yang tampak bergetar dan berlumuran darah.
"Maaf..in aku." ujar Satria terbata sambil memuntahkan darah dari mulutnya membuat tangis Arin semakin kencang.
Satria meminta maaf karena ia sudah merasa sangat lelah, rasanya tubuhnya sudah tidak sanggup lagi untuk bertahan. Satria berpikir, mungkin ini adalah hari terakhirnya. Dan ia ingin meminta maaf karena ia tidak bisa membebaskan Arin dan malah harus pergi meninggalkannya.
Suara Arin makin terdengar samar di telinganya. Perlahan pandangan matanya pun meredup, tapi Satria tetap bersyukur di dalam hatinya karena jika pun ia mati hari ini wajah Arin adalah satu-satunya yang menjadi pengantar kepergiannya.
Ia mengingat kenangan-kenangan manis mereka dulu, bagaimana ia bisa jatuh cinta pada Arinda. Bagaimana hari-hari indahnya terlewati dengan bahagia. Satria menutup kedua matanya dengan senyuman yang tersemat di bibirnya.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Tbc