
Malam harinya semua orang tampak berkumpul di area taman belakang hotel. Tidak ada acara formal di sana hanya perjamuan makan malam biasa. Pakaian yang mereka kenakan pun hanya pakaian santai namun tetap sopan.
Semua karyawan tampak berbaur satu sama lain, mengobrol sambil menikmati hidangan yang di sediakan pihak hotel. Selain menyediakan makanan dalam bentuk prasmanan, panitia juga meminta menu barbeque sebagai tambahan.
Bahkan ada acara api anggun juga di sana. Ini adalah acara ramah tamah karyawan sekaligus penutupan acara gathering. Panitia sudah mengatur sedemikian rupa acara gathering tersebut.
Di tengah acara Satria sibuk mengedarkan pandangannya mencari sosok Bayu yang tidak terlihat sama sekali. Walaupun hubungan mereka sedikit merenggang akhir-akhir ini, namun Satria tetap merasa khawatir pada sahabatnya itu.
Kemarin malam, Bayu benar-benar menghabiskan waktunya di Club malam dengan mabuk-mabukan. Dan begitu ia bangun pada pagi harinya, ia mendapat telepon dari mamanya yang memberitahukan jika kondisi papanya mendadak drop.
Karena itu ia bergegas pulang walaupun masih merasakan pengar. Beruntung Devano tidak ikut minum dengannya sehingga bisa membantunya untuk lebih cepat sampai.
Mereka menaiki pesawat paling pagi agar bisa secepatnya sampai di Jakarta. Dan begitu sampai papanya sudah sedang menjalani perawatan di rumah sakit.
Karena itu ia tidak terlihat sedikitpun dalam acara gathering tersebut walaupun dia ingin. Meskipun ia sudah berada di jakarta namun ia tetap menempatkan seseorang untuk selalu mengawasi Arin dan Satria.
Sementara Arin dan Herti tengah menikmati kudapan, Andi pun menghampiri Satria yang tampak celingukan seperti tengah mencari seseorang.
"Pak, Arin ada di sana sama Herti." ujar Andi sambil menunjuk ke arah Arin yang tengah sibuk mencicipi berbagai macam cake.
"Iya saya tahu di." jawab Satria sambil tersenyum menatap Arin dari kejauhan.
"Lah tak kira, bapak lagi cariin dia." ujar Andi membuat Satria kembali tersenyum.
"Emang saya kelihatan sebucin itu ya sama Arin?" tanya Satria sambil menyesap secangkir wedang jahe di tangannya.
"Lah, bapak baru nyadar? Lihat akun Insta Dairy bapak juga saya langsung tahu kalau bapak tuh bucin akut." ujar Andi sambil terkikik geli.
"Iyaa ya, 10 tahun saya mencintai orang yang sama." gumam Satria samar tapi masih bisa terdengar di telinga Andi.
"Makanya pak, manfaatkan kesempatan yang ada sebaik mungkin." ujar Andi memberikan semangat untuk Satria.
"Kamu benar, makasih ya Andi." ujar Satria nampak bersemangat sambil menyerahkan cangkir minumannya pada Andi.
__ADS_1
Setelah itu, Satria berlari kecil ke arah Arin. Ini adalah hari terakhir mereka di kota itu, Satria ingin sekali mereka bisa menghabiskan waktu bersama.
Dan setelah ia tepat berada di depan Arin, mendadak hilang begitu saja. Namun Andi yang sudah terlanjur berbaik hati itu pun segera mengirimkan chat pada Herti untuk menjauh.
Mereka ingin keduanya bisa bersama lagi karena melihat jika sebenarnya baik Arin maupun Satria masih sama-sama saling mencintai. Mereka tidak pernah tahu apa yang melatarbelakangi kandasnya hubungan Arin dan Satria.
"Her, kita mau nyobain apalagi nih?" tanya Arin masih membelakangi Satria dan fokus dengan makanan di depannya.
Tiba-tiba suasana berubah sunyi karena Herti yang biasanya sangat berisik tiba-tiba menjadi lebih pendiam. Namun ketika ia berbalik, ia malah di buat terkejut dengan keberadaan Satria di belakangnya.
"Mau jalan-jalan?" tawar Satria dengan senyum mengembang.
Dan tanpa menunggu jawaban Arin, Satria menarik lengan Arin menjauh dari keramaian. Arin seakan terhipnotis dengan senyuman yang tak lepas dari wajahnya. Sambil berjalan membelah keramaian, Tangan Satria tak lepas menggenggam Arin menuntunnya keluar dari halaman belakang hotel.
Arin dan Satria kini tengah duduk di sebuah bangku taman yang berada di alun-alun kota Jogja. Sweater tebal milik Satria kini sudah berpindah di tubuh Arin. Tentu saja atas desakan Satria, mau tak mau Arin mengenakannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam ketika mereka sampai di alun-alun kota Jogja. Satria segera mengajak Arin untuk menghampiri salah satu Angkringan dan memesan wedang ronde sebagai penghangat tubuhnya.
Udara cukup dingin, dengan angin malam yang berhembus cukup kencang sampai mampu menghempaskan daun-daun kering yang sudah berserakan karena berjatuhan dari pohonnya.
"Jalan-jalan." jawabnya singkat dengan senyuman yang tak pudar menghias wajahnya.
"Kamu bahagia banget sih dari tadi kayaknya senyum-senyum terus." ujar Arin sedikit ketus sambil memegang mangkuk wedang rondenya dengan kedua tangan.
"Gimana gak bahagia, kan lagi sama kamu. Tahu gak, dari dulu aku pengen banget ngajak kamu jalan-jalan sekitar sini sambil kulineran. Kalau aja kita masih punya waktu di sini pasti aku ajakin kamu ke tempat-tempat bagus di sini." jelas Satria dengan sabar, jangan lupakan senyuman di wajahnya yang begitu teduh menatap penuh cinta.
Mendengar jawaban Satria Arin pun berpikir dengan keras, bagaimana pun ia bersikap pada Satria tapi laki-laki itu selalu sabar menghadapi nya. Pendiriannya hampir saja goyah jika ia tidak mengingat kedua orang tuanya.
"Di makan wedang rondenya? Jangan di lihatin aja." ujar Satria memecah lamunan Arin.
Harus ia akui jika ternyata laki-laki di hadapannya ini masih memiliki pengaruh yang luar biasa untuk hidupnya. Meskipun begitu, Arin tidak ingin terjebak dengan masa lalu.
Setelah puas mencicipi wedang ronde, Satria sudah memesankan bakmi jawa karena Arin sangat menyukai jajanan berjenis mie seperti itu. Setelah kenyang, kemudian mereka pun melanjutkan jalan-jalan nya dengan menaiki becak lampu mengitari jalan sekitar keraton Jogja.
__ADS_1
Sampai akhirnya perjalanan mereka berakhirnya di depan pohon beringin kembar. Satria sengaja mengajak Arin kesana, ia akan menyerahkan semuanya pada takdir.
Mitos di sana mengatakan jika sepasang kekasih berhasil menyebrangi pohon beringin kembar tersebut sambil menutup mata, maka mereka akan menjadi pasangan sejati dan bahagia.
Tapi sebaliknya, jika mereka gagal maka kisah cinta mereka akan putus begitu saja. Walaupun terdengar konyol, tapi Satria tetap ingin mencobanya sekali saja. Ia pun menjelaskan mitos yang mengikat kedua pohon kembar di depannya.
Diluar dugaan Satria, Arin menerima ajakan Satria untuk menyeberangi pohon tersebut.
Apapun hasilnya nanti, Arin harap mereka bisa saling menerima.
"Ayo kita serahkan semuanya pada takdir." ujar Arin sambil tersenyum menatap Satria dengan berbeda.
Arin ingin mereka berdua sama-sama menemukan kebahagiaan nya setelah ini. Mereka sudah sama-sama terluka selama bertahun-tahun karena mempertahankan perasaan yang sama.
Semoga ketika mereka dengan rela telah saling melepaskan, maka Tuhan akan berikan kehidupan yang lebih baik untuk mereka berdua. Arin terus berdoa setulus hatinya semoga hal baik segera datang pada mereka berdua setelah semua ini.
Arin mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Satria. Satria tidak bisa menebak apa yang hendak Arin lakukan, karena tatapan matanya begitu kosong. Arin tidak menunjukkan apapun lewat isyarat tatapan matanya.
Setelah satu langkah tersisa di antara mereka Arin pun memberanikan dirinya untuk melepaskan semua perasaannya lewat ciuman singkat di bibir Satria. Namun belum sempat ia menarik kembali dirinya Satria langsung menahan tubuhnya dan menyesap bibir Chery di depannya dengan penuh perasaan.
Mereka pun akhirnya melepaskan tautan bibir mereka setelah nafas mereka hampir tak tersisa. Setelah itu, Satria menarik Arin ke dalam dekapan nya sambil menumpahkan air matanya di sana.
Ia menangis dalam diam, ia tak ingin Arin melihatnya menangis dengan menyedihkan.
Ia sadar ini adalah perpisahan mereka yang sebenarnya, terakhir kalinya ia bisa menggapai kekasih hatinya dalam dekapannya.
"Mari kita tidak bertemu lagi, aku doakan setelah ini hanya akan ada kebahagiaan untuk kamu. Maaf karena sudah memberikan luka paling besar dalam hidup kamu. I love you Arinda." ujar Satria sambil mengeratkan pelukannya.
Bibirnya mengucapkan kata perpisahan, tapi tubuhnya berkata sebaliknya.
"Semoga kamu juga bahagia." setelah beberapa saat.
Kini mereka kembali saling berhadapan, mereka mulai mengikat sapu tangan di tangan masing-masing untuk menutup mata. Setelah itu mereka pun saling berbalik berlawanan arah mencoba untuk menyeberangi pohon beringin kembar di hadapannya.
__ADS_1
"Selamat tinggal."
Tbc,