
Sudah 30 menit berlalu, dan kini mereka tengah duduk di sebuah kedai sate lesehan yang terletak tidak jauh dari rumah kost Arin. Sejak sampai di sana, tidak banyak yang Arin ucapkan selain menjawab pertanyaan Satria mengenai pemesanan makanan mereka.
Meskipun sikap Arin sedikit dingin terhadapnya Satria seolah tidak perduli. Bahkan wajahnya tidak berhenti menampilkan senyuman yang begitu manis, dan tentunya membuat Arin semakin muak.
Arin masih mengingat pertemuan terakhir mereka beberapa hari lalu, Satria menggandeng seorang gadis belia yang cukup cantik di kedai bakso itu. Lalu untuk apa, Satria menemuinya lagi pikir Arin mulai merasa sebal.
Namun ia memilih diam dan menunggu apa yang sebenarnya Satria inginkan kali ini dari dirinya. Jika memang sudah move on, kenapa mengejar-ngejarnya kembali seperti hari ini?
"****! Menyebalkan!! " teriak Arin dalam hati.
Bagaimana pun ia akan bersikap sesantai mungkin, dan membuat Satria besar kepala karena mengira dirinya telah cemburu.
"Cih! cemburu? mana mungkin aku cemburu padanya. Dia hanya masa lalu yang tak terlalu penting. Dan lagi pula gadis yang dia bawa kemarin masih kalah cantik denganku." gerutunya lagi dalam hati sembari menatap tajam ke arah Satria yang seakan tak peduli.
"Kamu apa kabar Rin? kemarin kita ketemu tapi belum sempat ngobrol apa-apa." ujar Satria mengawali pembicaraan setelah pesanan mereka mulai berdatangan.
"Aku baik, seperti yang kamu lihat." jawab Arin cuek sambil berdiri kemudian berjalan ke arah wastafel untuk mencuci tangan.
Tidak sampai 5 menit ia pun kembali dan kini bergantian dengan Satria yang pergi untuk mencuci tangannya. Begitu Satria kembali ke meja mereka pun mulai makan dengan tenang tanpa obrolan apapun.
Lebih tepatnya Arin merasa enggan berbicara ketika makan, karena takut merusak selera makannya. Kebetulan ia sangat lapar karena memang belum makan malam sama sekali. Sebenarnya kedatangan Raka ke kamar Sherina adalah atas permintaannya yang meminta Raka membelikan makanan untuknya.
Namun karena terlalu bersemangat dan terburu-buru akhirnya ia melupakan makanan tersebut. Padahal di awal ia sudah melihat jika Raka membawa sebuah paper bag berisi makanan pesanannya.
Satria pun hanya tersenyum kecil melihat Arin yang seperti enggan untuk di ajak bicara dan fokus pada makanannya. Karena itu ia memilih untuk mengalah dan makan dengan tenang. Lagi pula malam masih panjang, dan mereka masih punya banyak waktu untuk bicara setelah ini pikir Satria.
30 menit pun berlalu dan akhirnya mereka pun telah selesai makan. Arin menghabiskan 1 porsi sate ayam taichan dan semangkuk soto iga dengan satu porsi nasi putih. Sementara Satria memesan seporsi tengkleng kambing lengkap dengan nasinya dan 1 porsi sate kambing yang merupakan kesukaannya.
"Bisa kita bicara sekarang?" tanya Satria membuat Arin sedikit menghela nafas pelan.
__ADS_1
"Bicaralah." jawab Arin singkat.
"Apa kamu tidak senang bertemu denganku lagi?" tanya Satria menatap ke dalam mata Arin tanpa ekspresi.
"Menurut kamu?" jawab Arin balas menatap Satria tak kalah tajam.
"Kamu tahu Rin, aku sangat bahagia dan bersyukur dengan pertemuan kita lagi kali ini. Yang mungkin saja sebagai salah satu petunjuk dari Tuhan untuk jalan hubungan kita ke depannya." ujar Satria dengan tatapan meredup.
"Apa yang membuat kamu begitu senang? Bagaimana jika itu hanya kebetulan biasa, bukan sebuah takdir seperti apa yang kamu pikirkan." jawab Arin menohok.
"Apa kamu sudah melupakan pembicaraan terakhir kita di depan pohon kembar saat itu?" tanya Satria.
"Aku tidak lupa tentang apapun Satria, tapi dalam hidup bukankah kita harus berjalan maju ke depan bukanlah mundur ke belakang." jawab Arin dengan tegas kemudian berdiri dari tempatnya.
"Aku rasa tidak ada lagi hal yang perlu kita bicarakan, tetaplah berjalan maju ke depan. Jangan menoleh apalagi kembali hanya karena kamu melihat ku." ujar Arin kembali kemudian berjalan pergi keluar dari rumah makan tersebut.
Namun Satria pun kini tidak ingin tinggal diam dan menyerah begitu saja seperti yang sudah-sudah. Dengan langkah yang cepat Satria berhasil menyusul Arin setelah membayar bill dan meletakkan beberapa lembar uang di atas meja.
Langkah kaki Arin pun sontak terhenti, tapi Arin hanya diam dan tak mampu berkata apa-apa.
"Aku merindukan kamu selama setahun penuh, apakah tidak bisakah kamu berikan aku waktu untuk memuaskan rasa rindu ku walaupun hanya menatap kamu saat ini."
"Apakah aku benar-benar sudah tidak pantas untuk menginginkan kamu sebagai masa depan walaupun aku sudah berusaha dengan begitu keras?"
Perlahan satu tangan Satria memutar tubuh Arin untuk berbalik dan menariknya ke dalam pelukannya. Satria bahkan menangis tanpa suara, dalam dekapan hangat mantan kekasihnya itu. Arin pun dapat merasakan air mata Satria yang perlahan jatuh membasahi bajunya.
Arin pun tidak bisa berkata-kata dengan apa yang terjadi saat itu. Hatinya pun sedikit melembut melihat Satria yang terlihat begitu sedih karenanya. Tapi di sisi lain, Arin tidak ingin menyakiti gadis lain. Karena kedatangan nya kembali ke hidup Satria gadis tersebut harus tersingkirkan.
Setelah beberapa saat akhirnya Arin pun mencoba melepaskan Satria dan mengajaknya untuk berbicara di sebuah bangku panjang yang terletak di taman samping rumah makan tersebut.
__ADS_1
Ada beberapa ayunan dan juga perosotan yang sepertinya di peruntukkan bagi pengunjung yang membawa anak untuk bermain di sana. Karena saat itu waktu sudah cukup malam, rumah makan tersebut sudah mulai sepi dan akan tutup dalam 1 jam.
"Aku cuma gak mau buat usaha kamu sia-sia dengan kehadiran aku Sat." ujar Arin setelah cukup lama terdiam.
"Maksud kamu apa Rin?" tanya Satria tak mengerti.
"Gadis yang datang bersama kamu waktu itu, aku gak mau ngerusak hubungan kamu sama dia. Kalau kamu udah move on dari aku, gak apa-apa kamu jalanin aja hubungan kamu yang sekarang. Gak perlu mikirin aku lagi, Sat." ujar Arin membuat Satria terkejut sesaat sebelum akhirnya tertawa dengan kencang.
Bahkan ia sampai memegangi perutnya karena akhirnya mengerti. Jika Arin bersikap seperti itu karena telah salah paham terhadapnya saat itu.
"Kamu kok malah ngetawain aku sih Sat?" tanya Arin yang tiba-tiba saja merasa sangat kesal melihat tanggapan Satria.
"Lagian, kamu tuh makanya apa-apa tuh konfirmasi dulu dong sayang sama aku jangan cemburu buta begitu." ujar Satria sambil memegangi kedua sisi wajah Arin dengan gemas dan sesekali mencubit nya.
"Awh, apa sih Sat sakit tahu gak?" ujar Arin kesal sambil mengusap pipinya yang baru saja di cubit oleh Satria.
"Iya, iya maaf ya." jawab Satria kembali mengelus pipi Arin dengan lembut.
"Dengerin aku deh ya, selama setahun ini bahkan hampir 10 tahun ini aku tuh cuma cintanya sama kamu Arinda Hanania. Aku tuh cuma galaunya sama kamu aja, rindunya, sayangnya semua cuma buat kamu. Dan soal cewek yang kemaren, mana mungkin kamu bakal ngerusak hubungan aku sama dia yang ada kamu malah bikin dia kesenangan punya kakak ipar secantik kamu yang berhasil bikin masnya galau sepanjang masa." jelas Satria sambil memegangi kedua sisi wajah Arin sehingga mereka bisa saling menatap dengan jelas.
"M.. maksud kamu?"
"Yups." jawab Satria mengkonfirmasi kecurigaan Arin dengan sangat meyakinkan.
"Citra?" tanyanya lagi masih tidak percaya.
" Tapi dulu dia masih SD." ujar Arin dengan bodohnya.
"Kamu tuh, dia SD 10 tahun lalu. Dean aja udah segede apa sekarang? Saking dewasanya adek kamu udah bisa bikin aku opname beberapa hari di rumah sakit tahu gak." celoteh Satria mengeluarkan keluh kesahnya.
__ADS_1
Seketika Arin pun tidak bisa berpikir apapun. Satu-satunya hal yang terpikir dalam otaknya hanya satu kata saja yaitu malu. Ia sungguh benar-benar malu dengan situasi yang terjadi saat ini. Andai saja bisa ia ingin menghilang saja dari sana dan tak terlihat oleh Satria.
" Aarrght, Bodoh banget." jeritan hati Arin saat itu.