Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Bab 113


__ADS_3

Mama Satria segera memberikan kabar ketika Satria meminta mereka untuk mengantarkannya ke makam Bayu. Arin hanya bisa berharap dn berdoa semoga Satria bisa mengikhlaskan semuanya.


Arin bukan tidak tahu, seberapa dekat keduanya. Hanya saja kondisinya yang terkendala oleh jarak membuatnya tidak bisa menemani Satria untuk menenangkan dan menguatkannya.


Ingatan Arin melayang pada kejadian 1 bulan lalu dimana pertemuan antara kedua keluarga sudah di lakukan. Mereka ingin membicarakan banyak hal mengenai keberlangsungan hubungan Arin dan Satria.


Keluarga Satria mencoba meluruskan beberapa kesalahpahaman di antara keluarga Arin terhadap Satria. Meskipun begitu mereka pasrah pada apapun yang menjadi keputusan keluarga Arin pada akhirnya.


Meskipun Satria memang memiliki masa lalu yang cukup kelam, akan tetapi setelah mengetahui yang sebenarnya keluarga Arin menjadi sedikit melunak. Mereka meminta waktu untuk berpikir, bagaimana pun juga Arslan harus menjadi bahan pertimbangan juga.


Karena suatu saat nanti, Satria dan kedua orangtuanya harus menjelaskan tentang hubungan mereka yang sebenarnya. Tidak mungkin hal sebesar itu akan mereka sembunyikan terus menerus karena bagaimana pun Arslan adalah tanggung jawab Satria.


Keluarga Satria hanya bisa menerima dan menyetujui apa yang di inginkan oleh keluarga Arin. Mereka berusaha untuk bersikap hati-hati karena salah mengambil langkah saja masa depan putra mereka menjadi taruhannya.


"Rin, apa kamu sudah benar-benar memikirkan keputusan kamu dengan baik?" tanya ayah begitu mereka sana di rumah.


"Sudah ayah." jawab Arin dengan yakin.


"Memulai suatu hubungan pernikahan itu tidak gampang , untuk menyesuaikan diri antar pasangan saja bukan hal yang mudah. Apalagi kamu harus menjadi ibu sambung dari seorang anak. Apa kamu siap untuk menerima dan menyayangi dia seperti anak kamu sendiri?" tanya ayah dengan begitu serius.


Arinda pun hanya tersenyum mendengar pertanyaan ayahnya itu. Jika memang ia merasa keberatan atau tidak siap menerima Satria dengan kelebihan dan kekurangannya maka ia akan mundur tanpa di minta.


"Yah, Arin sudah mempertimbangkan semuanya dengan matang. Dan untuk Arslan tentunya Arin sudah siap untuk menerima dia sebagai anak Arin sendiri. Arslan itu hanyalah anak-anak, dia tidak boleh tercemari dengan bagaimana pun kondisi keluarganya saat ini." jelas Arin membuat ayah dan ibunya kehabisan kata-kata.


Arinda adalah seorang gadis pekerja keras dan mandiri. Ketika ia sudah memutuskan sesuatu maka ia akan berpegang teguh pada keputusannya. Setelah memikirkan semua itu dan melihat seberapa besar Satria mencintai dan selalu berusaha melindungi putrinya akhirnya ayah Arin pun mulai luluh.


 Ia akan mencoba untuk mempercayakan putrinya pada Satria. Bagaimana pun ia ingin melihat putri semata wayangnya itu bisa bahagia dengan kehidupannya. Toh setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan dan Satria pun berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua.

__ADS_1


"Baiklah jika keputusan kamu memang sudah bulat. Ayah dan ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kebahagiaan kamu." ujar ayah dengan sendu.


Arin pun segera menghampiri kedua orangtuanya dan memeluk mereka dengan perasaan bahagia. Tapi ayah memberikan syarat jika mereka boleh menikah saat Satria sembuh dan bisa berjalan dengan normal seperti biasa.


Arin pun sempat keberatan dengan persyaratan yang di ajukan ayahnya tersebut. Namun keputusan ayahnya pun sudah bulat bahkan setelah itu ayahnya langsung menghubungi keluarga Satria dan menyampaikan apa yang menjadi keputusannya tersebut.


Selama beberapa bulan Satria melakukan pengobatan dan berbagai macam terapi. Keluarganya mengusahakan yang terbaik agar Satria bisa sembuh dengan lebih cepat. Mereka pun sengaja tidak memberitahukan mengenai keluarga Arin yang sudah menerimanya karena ingin memberikan kejutan.


Arin pun tidak merasa keberatan dengan permintaan mama Satria tersebut. Selama itu pula keduanya hanya menjalani hubungan jarak jauh dan berkomunikasi melalui telepon. Walaupun sebenarnya mereka sudah sangat saling merindukan satu sama lain, tapi Arin berusaha menahan diri untuk memotivasi Satria.


"Yang, kamu gak kangen apa sama aku?" tanya Satria dengan lesu.


"Sedikit." cicit Arin sembari menahan tawanya agar tidak pecah.


Satria pun berdecak kesal mendengarnya. Padahal sudah hampir 3 bulan lamanya ia begitu merindukan Arin setengah mati. Tapi gadis tersebut hanya bersikap biasa saja selama ini.


"Makanya kamu harus semangat terapinya, biar bisa jalan lagi kayak semula. Nanti kalau kamu udah sembuh baru kita ketemu." jelas Arin membuat bibir Satria kembali mengerucut sebal.


"Ayah sama ibu aku udah balik ke pulau, dan di sini ada kak Adrian sama Dean yang jagain aku. Kalau mau protes, kamu boleh kok datang ke sini nanti aku bilang kak Adrian." ujar Arin tersenyum di balik telepon.


"Tuh kan bawa-bawa mereka lagi. Bodyguard kamu tuh nyebelin banget tahu yang. Mereka tuh gak bisa apa sedikit aja berempati sama keadaan aku yang lagi butuh support kamu banget loh." ujar Satria menggerutu kesal.


"Loh, kan aku selalu support kamu sat." kilah Arin tak mau kalah.


"Ya udah lah. Gimana apa kata kamu aja deh." ujar Satria dengan mode merajuknya membuat Arin hanya bisa geleng-geleng kepala sembari tersenyum.


***

__ADS_1


Setelah menyelesaikan semua urusannya di Jogja, Sherina memutuskan untuk kembali ke Jakarta beberapa bulan lalu. Ia pun akhirnya memutuskan untuk membuka sebuah usaha angkringan yang berlokasi di sebuah pusat jajanan yang lokasinya tidak jauh dari pasar Senen Jakarta.


Dalam usaha tersebut ia bekerjasama dengan Herti karena ia pun merasa tertarik melihat Sherina yang bisa sukses menjalankan usaha tersebut selama beberapa tahun ini. Bahkan ia sudah memutuskan untuk resign karena ingin turut mengurus langsung usaha mereka.


Meskipun tidak mudah, tapi mereka berusaha untuk melakukan berbagai cara marketing digital sebagai alat promosi mereka. Sedikit banyak Herti yang memang mempunyai basic sebagai orang marketing tentunya mempunyai banyak ide dan inovasi untuk bisnis mereka yang baru seumur jagung itu.


Dan tentunya usaha tidak akan mengkhianati hasil, akhirnya bisnis yang baru mereka buka bisa berjalan dengan lancar setelah beberapa upaya. Hubungan Sherina dan Raka juga kini semakin dekat, walaupun mereka belum memiliki perasaan satu sama lain tapi mereka berdua merasa cocok dan nyaman satu sama lain.


Meskipun bukan cinta mereka sepakat untuk pelan-pelan memberikan kesempatan bagi hubungan mereka untuk berkembang. Namun jika itu tak berhasil, maka mereka berdua pun sepakat untuk menjadi teman saja.


Setiap kali sedang senggang mereka akan meluangkan waktu untuk bertemu. Sekedar untuk makan ataupun nonton bersama. Mereka berusaha untuk saling mengenal karakter satu sama lain. Tentunya Arin dan Herti sangat mendukung penuh keputusan keduanya.


Mereka berdua merasa Raka adalah laki-laki yang baik dan begitu serasi jika bersanding dengan Sherina. Meski begitu mereka tidak pernah ikut campur lebih dalam tentang perkembangan hubungan keduanya. Mereka hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk keduanya kelak bagaimana pun hasilnya.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2