Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Karaoke


__ADS_3

Di luar perkiraan, ternyata Raka sampai di restoran lebih lama. Hampir setengah jam lamanya semua orang menunggu kedatangan Raka. Tapi untuk mengantisipasi Dean memberikan ide untuk memesan makanan lebih dahulu.


Dean juga mengirimkan pesan pada Raka menanyakan apa yang ingin dia pesan. Dan tepat ketika Raka sampai akhirnya pesanan pun tiba dan telah di susun di atas meja makan.


"Sorry ya semua, saya telat." ujar Raka mengambil duduk di bangku yang kosong tepat di sebelah Sherina.


"It's okay dokter Raka, no problem." jawab Herti sambil tersenyum manis membuat semua orang saling melemparkan tawa.


"Gak apa-apa Raka, kamu datang di waktu yang tepat kok ya kan?" ujar Arin menanyakan pendapat yang lainnya dan semua orang tampak mengangguk setuju.


"Karena udah dateng semua, kita mulai makan yuk sekarang. Aku udah ngiler banget nih." ujar Sherina yang tampak sudah akrab dengan semua orang di meja tersebut kecuali Dean tentunya.


Sontak saja Raka pun menoleh mendengar suara yang tampak tidak asing. Ia pun mengernyit heran melihat gadis yang duduk di sampingnya itu, ia merasa pernah melihatnya tapi entah dimana.


"Hai, kenalin Sherina." ujar Sherina menyapa sembari menjulurkan tangannya dengan ramah.


"Oh, Hai, saya Raka." jawab Raka sambil mencoba mengingat dimana ia pernah melihat wajah Sherina yang tampak familiar.


Bener saat Raka tampak tertegun melihat Sherina yang terlihat sudah memulai ritual makannya. Meskipun semua orang di sana baru ia kenal, tapi Sherina tidak bersikap malu-malu sama sekali.


Semua orang merasa senang dengan bergabungnya Sherina malam itu. Sherina pandai membuat suasana yang redup menjadi lebih hidup dengan sikapnya yang polos dan blak-blakan.


Ia tidak bersikap malu-malu walaupun ini adalah pertemuan mereka yang pertama.


Raka pun mengakui hal tersebut, dan merasa jika Sherina orang yang menyenangkan. Tapi tiba-tiba, Raka pun teringat dengan siapa itu Sherina.


"Ah, ya saya ingat. Pantas wajah kamu itu familiar banget, kamu yang waktu itu makan ketoprak saya kan?" ujar Raka membuat semua orang menatap heran ke arah keduanya.

__ADS_1


"Kalian pernah ketemu?" tanya Arin mulai penasaran.


"Gak sengaja kok, waktu itu ketoprak pesanan kita ke tuker." jelas Raka.


"Wah, kayaknya tanda-tanda nih." cetus Andi sambil tersenyum menggoda.


"Tanda-tanda apa ?" timpal Sherina sedikit salah tingkah.


"Jodoh." ujar Herti spontan membuat Sherina mendelik tidak suka.


Sementara Raka hanya memasang wajah datarnya mendengar ucapan teman-temannya itu dan tidak terlalu memikirkannya. Bagi Raka itu tak berarti apa-apa, karena sesungguhnya hatinya masih belum merasa baik-baik saja setelah patah hati.


Diam-diam Raka menatap Arin yang terlihat begitu bahagia, menikmati momen tersebut penuh dengan canda tawa. Namun ia pun segera mencoba menepis segala hal yang terlintas di pikirannya.


Semua orang tampak sibuk saling berbincang dan bercanda satu sama lain. Suasana nya begitu hangat walaupun sudah sekian lama mereka tidak saling berjumpa. Hanya Dean yang menyadari bagaimana perubahan raut wajah Raka.


"Oia Rin, sudah hampir 6 bulan ini gue sama Andi resign dari perusahaan." ujar Herti membuat Arin sedikit terkejut.


"Oh ya? kenapa?" tanya Arin penasaran.


"Banyak kebijakan yang di rubah setelah pak Bayu mimpin perusahaan. Apalagi semenjak lu pergi, kayaknya dia jadi makin gila." ujar Herti berpendapat.


"Bener banget Rin, jauh banget sama bapaknya. Dan sejujurnya pak Bayu emang berubah banget sih sekarang, apalagi setelah temennya masuk gantiin pak Sa." Herti pun segera menginjak kaki Andi mencoba menghentikan celotehan tidak penting sahabatnya itu.


Andi pun memekik kesakitan secara spontan langsung menutup mulutnya dengan tidak enak hati. Sherina melihat perubahan di wajah Arin sesaat, tapi ia tidak ingin berasumsi macam-macam.


"Udah selesai semua kan makannya, gimana kalau sekarang kita pergi ke tempat karaoke." usul Dean mencoba mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Iya, udah lama kita gak ketemu kayaknya seru deh kalau kita karaokean dulu sebelum pulang." timpal Raka mencoba membuat suasana kembali mencair.


"Kayaknya seru juga tuh, ayo pergi yuk Rin." ujar Sherina dengan nada merengek.


"Iya, gue juga setuju mending kita karaokean dulu." timpal Herti yang di dukung penuh oleh Andi.


Semua orang tampak melihat ke arah Arin yang sejak tadi hanya diam dan mengunci mulutnya. Sejujurnya semua orang di sana sudah merasa tidak enak hati dengan ketidaksengajaan Andi dan Herti membahas Satria di depan Arin.


Walaupun Arin bercerita jika ia sudah baik-baik saja, tetap saja mereka harus bersikap lebih hati-hati lagi. Dean menatap tajam ke arah Herti dan Andi ketika mereka hendak keluar dari restoran.


Semenjak ia melihat kakaknya hampir meregang nyawa karena depresinya dulu, Dean selalu khawatir tentang Arin. Ia bahkan selalu bersikap posesif terhadap kakaknya, walaupun mereka sering bertengkar tapi Dean sangat menyayangi Arin.


Kebetulan di mall tersebut juga terdapat salah satu tempat karaoke terbaik di Jakarta. Mereka pun segera pergi ke sana dan memesan paket Deluxe room untuk mereka berenam agar lebih nyaman.


Raka juga berujar jika acara malam ini, dia yang akan membayar jadi semua orang bisa memesan makanan dan minuman sepuasnya. Mereka pun sangat bersenang-senang menikmati malam yang semakin larut.


Hanya Dean yang tidak mau ikut menyanyi bersama yang lain dan hanya duduk sebagai penonton menikmati camilan yang sudah di pesan. Sejak dulu, Dean memang orang yang sangat introvert selain dengan keluarga ia tidak terlalu banyak bicara.


Tujuannya ikut dalam pertemuan tersebut tentunya karena ia ingin menjaga kakaknya secara langsung. Apalagi sekarang ia adalah satu-satunya keluarga terdekat yang tinggal di kota yang sama.


Dean sudah merasa jika ia sudah bisa dan cukup dewasa untuk menjaga kakaknya. Selama ini ia hanya bisa diam dan melihat semua hal terjadi tanpa bisa berbuat apa-apa.


Sudah cukup ia melihat kakaknya menderita, keluarganya menjadi kacau. Semua orang hanya saling berpura-pura untuk bisa menguatkan satu sama lain. Walaupun hal tersebut sudah berlalu, tapi Dean tetap tidak bisa melupakannya begitu saja.


Bahkan setelah ia melampiaskan dendamnya beberapa waktu lalu dengan menghajar Satria habis-habisan, Dean masih belum merasa cukup. Sebisa mungkin ia akan selalu berusaha menjauhkan laki-laki yang telah menyakiti kakaknya itu.


Kakaknya tidak boleh terluka lagi apalagi dengan orang yang sama. Dean sendiri yang akan memastikan hal tersebut.

__ADS_1


__ADS_2