Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Sepiring ketoprak


__ADS_3

Hari ini Arin bangun dalam keadaan lebih segar. Ia belum memikirkan apa yang harus ia lakukan hari ini. Apakah ia akan menemui sahabat-sahabatnya lebih dahulu atau melakukan hal lainnya.


Dengan semangat ia pergi untuk membersihkan diri, Arin memutuskan untuk berendam air hangat sambil menikmati secangkir coklat panas kesukaannya yang ia pesan melalui layanan kamar.


Setelah menghabiskan waktu selama setengah jam berendam, Arin pun langsung menyelesaikan ritual mandinya dan segera berganti pakaian. Arin memilih menggunakan dress floral berwarna biru langit dengan sentuhan make up flawless.


Sedangkan Sherina sejak pagi tadi, ia memilih untuk jogging di sekitar taman kota sembari mencari sarapan pagi yang ia inginkan. Sebetulnya malam tadi, ia sudah mengajak Arin tapi Arin menolak bergabung dengan alasan ia tak suka berolahraga.


Karena itu Sherina pergi seorang diri, meskipun begitu Sherina tetap bersemangat.


Melihat Sherina seperti melihat mentari pagi yang bersinar cerah. Wajahnya selalu terlihat bersinar dan memancarkan aura positif.


Pembawaannya yang selalu ceria benar-benar membuat kecantikannya terlihat sempurna. Tidak sedikit laki-laki yang menaruh kagum padanya, kecuali Satria tentunya.


Setelah puas berkeliling taman selama lebih dari 30 menit Sherina mendatangi seorang penjual ketoprak yang berjualan di sekitar taman kota yang tengah ramai di kelilingi pembeli.


"Bang ketopraknya 1 ya makan di sini, pedes." ujar Sherina sambil duduk di sebuah kursi panjang yang tersedia.


"Bang saya pesan 1 ketopraknya, jangan pedes ya." timpal seorang laki-laki yang mengenakan setelan baju olahraga berwarna hitam duduk di depannya.


Sherina hanya melirik sekilas lalu kembali fokus pada ponselnya. Ia sedang berkirim pesan dengan Arin yang kini sedang menikmati sarapan paginya di kamar hotel. Sherina ingin pergi berjalan-jalan hari ini, tapi dia tidak ingin pergi sendiri.


Maka dari itu, ia sedang berusaha membujuk Arin untuk ikut dengannya. Meskipun baru saling mengenal Sherina selalu bersikap seolah mereka adalah teman lama. Apalagi Arin adalah tipe orang yang pendiam, jadi Sherina harus lebih banyak bicara dengannya.


Arin sedang mempertimbangkan, apakah ia akan ikut dengan Sherina atau pergi menemui teman-temannya. Walaupun kepribadian mereka berdua sangat bertolak belakang tapi Arin merasa nyaman berteman dengan Sherina.


Melihat Sherina, ia seperti berkaca pada dirinya sendiri di masa lalu. Jika saja ia masih seperti dulu, ia rasa mereka akan jadi manusia paling berisik sejagat raya, pikir Arin. Ia pun tersenyum memikirkan hal tersebut, kemudian menerima tawaran Sherina.

__ADS_1


"Yess." gumam Sherina sambil cekikikan menatap ponselnya dengan khusyuk.


Laki-laki yang duduk di depannya tampak memandang aneh Sherina. Karena walaupun di tempat umum, Sherina terus menerus tertawa sendiri menatap ponselnya tak peduli dengan tatapan orang di sekelilingnya.


"Pak, ini ketopraknya ya yang 1 punya si neng yang pakai baju merah. Kalau yang 1 ini punya si abang yang di depannya pakai baju warna hitam. Awas ke tuker ya." pesan si ibu penjual ketoprak sembari memberikan 2 porsi ketoprak di tangannya.


"Iya, bu iya. Masa iya ke tuker." ujar si bapak cuek.


"Pak, air minumnya habis." ujar seorang ibu di meja sebelah Sherina.


Si bapak itu pun meletakkan kedua piring di tangannya kembali dan mengambilkan minuman yang di minta oleh pelanggannya tersebut. Setelah itu, ia pun kembali mengambil 2 piring ketoprak tersebut dan memberikannya pada Sherina dan laki-laki di depannya.


"Nah, ini buat si neng. Kalau ini buat mas nya. Maaf ya kalau lama, soalnya antri banget." ujar si bapak meletakkan piring tersebut di meja dengan ramah.


"Terimakasih ya pak, enggak lama kok." timpal Sherina tak kalah ramah.


Sherina sedikit melirik ke arah laki-laki di depannya yang tampak cuek tersebut. Baru saja si bapak hendak berbalik, laki-laki di depan Sherina tiba-tiba terbatuk-batuk dengan kencang.


"Pak, ini gak salah. Saya kan pesan ketopraknya gak pedes. kenapa ini pedes banget." ujar laki-laki tersebut lalu meneguk sebotol air putih di tangannya hingga tandas.


Wajahnya yang putih bersih tampak berubah memerah menahan rasa pedas yang begitu membakar lidah. Toleransi nya terhadap rasa pedas sangatlah tipis, jadi ia tidak bisa memakan makanan pedas seperti itu.


"Waduh, jangan-jangan ke tuker lagi sama si mbaknya. Maaf ya mas, saya tidak sengaja. Biar saya ganti ya secepatnya." ujar si bapak merasa sangat tidak enak hati.


"Ya sudah pak, ini." ujar laki-laki tersebut menyerahkan sepiring ketoprak yang baru ia cicipi tersebut.


"Gak usah pak, kalau ke tuker berarti yang ini punya mas nya kan? Udah saya balikin aja yang ini punya mas nya. Biar itu sini buat saya." ujar Sherina membuat si bapak dan laki-laki tersebut tercengang.

__ADS_1


"Tapi neng, itu udah di cicip sama mas nya tadi." ujar si bapak sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Gak apa-apa, pak. Cuma baru di cicip sedikit kan? Saya minta tolong buat di ambil kan sendok yang baru aja ya." ujar Sherina sambil tersenyum.


"Baiklah neng, tunggu sebentar." ujar bapak penjual ketoprak, sementara laki-laki di depannya menatap aneh padanya.


Sherina memberikan piring di depannya kepada laki-laki tersebut dengan cuek. Sementara ia mulai menaruh piring bekas laki-laki tersebut di depannya dengan santai.


"Apa kamu tidak jijik? Itu adalah makanan bekas." ujar laki-laki tersebut menatap heran.


"Tidak." jawab Sherina singkat sambil mengambil sendok baru yang di berikan si bapak.


"Dasar perempuan aneh." gumamnya namun masih bisa terdengar di telinga Sherina.


"Mereka hanya pedagang kecil, untuk makanan yang kamu cicipi tidak sampai sendok itu harus mereka ganti dengan 1 porsi jelas mereka akan merugi." jelas Sherina santai sambil menyuap makanan ke mulutnya.


"Tapi kan itu kesalahan mereka sendiri." timpalnya lagi.


"Whatever." jawab Sherina cuek.


Laki-laki yang duduk di depannya itu benar-benar di buat kehabisan kata-kata melihat apa yang Sherina lakukan. Meski begitu Sherina memilih acuh dan melanjutkan acara sarapan paginya yang sempat tertunda karena insiden kecil tersebut.


Ia tidak mau ambil pusing dengan tanggapan orang lain tentangnya. Baginya yang terpenting adalah ia merasa nyaman dengan dirinya sendiri dan dengan apa yang ia lakukan.


"Cantik-cantik tapi kelakuan nya aneh banget." ujar laki-laki itu dalam hati sambil menatap Sherina yang tampak cuek.


"Gak usah ngelihatin saya kayak gitu terus mas, khawatir jatuh cinta." celetuk Sherina membuat laki-laki di depannya itu tersedak dan memuntahkan minuman yang bahkan belum sampai ke tenggorokannya.

__ADS_1


__ADS_2