
Satria tengah benar-benar sibuk dengan bisnisnya yang berkembang cukup pesat dalam beberapa bulan terakhir setelah mendapatkan investor. Bahkan selama 3 bulan terakhir, ia belum sempat untuk sekedar pulang ke Jakarta menemui keluarganya.
Pagi itu eyang putri sudah menunggunya di meja makan. Sesekali matanya melirik ke arah ruang kerja Satria yang masih tertutup rapat. Belakangan, ruang kerjanya menjadi tempat dimana ia lebih sering menghabiskan waktu selama di rumah.
Setelah lama menunggu akhirnya yang di tunggu pun tiba. Satria yang rapi pun berjalan menghampiri meja makan lalu duduk di sampingnya setelah menyapanya terlebih dahulu.
"Morning eyang."
"Morning." jawab eyang singkat.
"Cantik banget sih pagi-pagi, mau kemana eyang?" tanya Satria melihat eyang sudah tampak rapi.
"Eyang mau ke Jakarta." jawabnya singkat.
"Loh, mau apa? mendadak banget kayaknya. Kenapa eyang baru bilang, kan aku gak bisa temenin kalau gini."
"Gimana mau bilang, kalau ngobrol kayak gini aja kamu gak sempet. Tiap hari sibuk terus, udah ngalahin presiden." sindir eyang sembari menyuap nasi goreng di piringnya.
"Ya maaf eyang, tapi aku beneran lagi sibuk banget. Tapi janji deh setelah pembangunan pabrik aku selesai, aku pasti banyak waktu senggang." ujar Satria membujuk.
"Bisa aja sekarang bilang gitu tapi nanti lain lagi ceritanya." jawab eyang sedikit ketus.
"Eyang kok gitu sih, gak percaya banget sama Satria. Ngomong-ngomong eyang ke Jakarta nya di antar siapa? Aku khawatir loh kalau eyang pergi sendiri." ujar Satria kembali bertanya.
"Sama aku lah, wong mas sibuk terus toh." timpal Citra yang terlihat baru datang ke ruang makan dan bergabung.
"Loh kamu kapan datang dek?" tanya Satria begitu Citra menghampirinya dan mencium punggung tangannya.
"Semalem mas, makanya jangan sibuk terus. Adik dateng aja sampai gak tahu." sindir Citra membuat Satria hanya bisa tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
__ADS_1
"Ya, maaf." cicit Satria.
"Ya sudah, Citra kamu sarapan dulu temani mas mu. Eyang sudah selesai dan mau bersiap dulu di kamar." ujar eyang pamit meninggalkan keduanya.
Lama mereka berdua berbincang-bincang selama di meja makan. Tidak lupa Satria pun menanyakan kabar kedua orangtuanya serta Arslan. Ia berjanji pada Citra jika secepatnya ia akan menyusul ke Jakarta setelah pekerjaannya di Jogja selesai.
~
Lain halnya dengan Satria yang begitu sibuk, Arin dan Sherina begitu menikmati liburan singkat mereka di kota hujan selama 2 hari. Bahkan di hati terakhir mereka di sana Adrian sengaja mengambil cuti untuk menghabiskan waktu bersama keluarga kecil dan adiknya itu.
Mereka pergi ke sebuah tempat wisata terkenal yang ada di kawasan puncak Bogor. Sherina sangat bersemangat setiap kali Arin mengajaknya ke suatu tempat atau sekedar mengajaknya untuk menikmati kuliner yang enak di sana.
2 hari berlalu begitu cepat, sayangnya Arin tidak bisa menghabiskan waktu lebih dari 2 hari di sana. Karena kebetulan ia langsung mendapatkan panggilan interview dari sebuah perusahaan.
Ia harus mempersiapkan diri sebaik mungkin. untuk interview, karena itu ia segera mengajak Sherina kembali ke Jakarta. Sebelum ia kembali di sibukkan dengan pekerjaan, Arin ingin menyempatkan waktunya untuk bertemu sahabat-sahabatnya.
Ia pun mengirimkan pesan kepada Raka, Andi , dan juga Herti untuk bertemu. Arin sudah memberitahukan perihal kembalinya ia ke kota metropolitan tersebut. Rencananya malam harinya Arin akan mengajak mereka untuk pergi makan malam.
Mereka sepakat untuk bertemu di mall XX jam 7 malam nanti. Kebetulan ada sebuah restoran Jepang yang menjadi tempat favorit mereka dulu ketika makan di luar. Sejak siang hingga sore hari Arin dan Sherina memilih untuk beristirahat di kamar masing-masing.
Selama 2 hari di Bogor mereka benar-benar menghabiskan waktunya untuk pergi hang out ke tempat wisata atau cafe yang sedang hits di Bogor. Mereka lebih banyak berburu kuliner terutama makanan pedas yang menjadi favorit keduanya.
Karena itu begitu sampai di Jakarta mereka merasa cukup lelah dan memutuskan untuk beristirahat sejenak. Selepas Maghrib Dean sudah sampai di depan tempat kost milik Arin. Ia sengaja berinisiatif untuk menjemput kakaknya tersebut.
Ddrrrtt,
Ddrrrtt,
Ddrrrtt,
__ADS_1
"Rin handphone kamu nyala terus tuh." ujar Sherina memberitahu.
"Oh iya, makasih Sher." jawab Arin sambil mengambil hpnya yang tergeletak di atas meja rias.
"Ya, de. Iya sebentar kakak turun." jawab Arin menyahut seseorang yang menelponnya.
"Sher, bentar ya ke depan dulu . Dean udah dateng, dan ada di bawah sekarang." pamit Arin.
Arin pun langsung menghampiri adiknya tersebut dan membukakan pintu gerbang untuknya. Setelah memarkirkan mobilnya di halaman rumah, Arin mengajak Dean untuk masuk ke ruang tunggu yang di peruntukan untuk tamu laki-laki.
Kebetulan tempat tinggalnya adalah rumah kost khusus untuk putri. Dan tamu laki-laki tidak di perkenankan untuk masuk ke dalam kamar meskipun saudara. Ada ruangan khusus yang cukup nyaman untuk menunggu di bawah.
Setelah berbincang-bincang sebentar Arin pun pamit untuk bersiap, sebelumnya ia sudah memakai make up tipis selepas shalat Maghrib. Arin juga sudah meminta Sherina untuk segera bersiap karena mereka akan langsung berangkat dalam 10 menit.
Setelah keduanya siap mereka pun turun dan segera menemui Dean yang sedang asik bermain ponsel. Tidak lupa Arin juga memperkenalkan Sherina sebagai temannya kepada Dean dan mereka pun berangkat.
"Waduh Rin, adek kamu ganteng banget sih sumpah gak kalah sama bang Adrian." ujar Sherina berbisik.
"Eits, jangan naksir yang 1 udah ada yang punya dan 1 lagi masih bocil." timpal Arin dengan wajah pura-pura marah.
"Ya gak gitu juga lah, kan aku cuma bilang mereka ganteng ih." seru Sherina membuat Arin pun tertawa kencang.
"Lagian, apa gak liat secantik apa temen kamu ini? Pastilah saudaranya juga ganteng." sambungnya lagi dengan puas membuat Sherina kesal.
Mereka bertiga pun akhirnya berangkat menggunakan mobil milik Dean. Seperti biasa, jika di depan orang asing Dean terlihat dingin dan cuek. Dia bahkan tidak menimpali sedikit pun obrolan Arin dan Sherina selama perjalanan.
Setelah berkendara selama hampir 30 menit mereka pun sampai di mall XX. Mereka bertiga pun segera pergi ke lantai 8 dimana restoran tersebut berada. Andi dan Herti sudah tampak menunggu di meja yang sudah mereka pesan.
Kehebohan pun tidak bisa di hindari lagi ketika mereka berdua melihat kedatangan Arin. Herti bahkan menangis dengan kencang sambil melayangkan pukulan ringan pada lengan sahabatnya itu. Sampai akhirnya merek bertiga pun saling melepas rindu dengan saling berpelukan satu sama lain.
__ADS_1
Baik Andi maupun Herti sudah sangat mengenal Dean karena pernah beberapa kali bertemu dulu. Arin pun memperkenalkan Sherina pada kedua sahabatnya itu. Mereka pun memutuskan untuk memesan minuman terlebih dahulu sambil menunggu kedatangan Raka sambil mengobrol.
Sementara Raka masih terjebak macet di jalan, padahal ia sudah berusaha secepat mungkin untuk sampai. Tidak lupa ia pun memberikan kabar pada Arin jika ia sedang dalam perjalanan dan akan terlambat sekitar 15 sampai 20 menit.