Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Bab 111


__ADS_3

Satria masih termangu ketika kedua orangtuanya datang. Pikirannya sudah berkelana ke banyak tempat memikirkan banyak hal sampai membuat kepalanya sedikit pusing.


"Sat." panggil mama Satria membuyarkan lamunannya.


"Eh, iya ma." jawab Satria sedikit terkejut mendapati kedua orangtuanya sudah berada di ruangannya.


"Kamu sudah makan?" tanya mama Satria sembari membuka beberapa Tupperware box di tangannya dan ia letakkan di atas nakas.


"Satria gak laper ma." jawab Satria membuat kedua orangtuanya saling menatap sesaat.


Setelah kedatangan kedua orangtuanya Arin akhirnya memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Ia sudah berjanji untuk pulang ketika Satria sudah sadar dan kondisinya sudah stabil.


Walaupun merasa berat, tapi akhirnya Arin pun harus menepati janji yang sudah ia ucapkan ketika ayah dan ibunya selalu memintanya untuk pulang ketika Satria masih koma.


Dan kini perasaan galau Satria semakin menjadi-jadi, walaupun sikap kedua orangtua Arin tidak sedingin seperti sebelumnya. Tetap saja nyatanya kini mereka telah membawa putri mereka. Dan bisa saja setelah ini, kedua orangtua Arin akan meminta Arin untuk meninggalkannya.


Satria pun menggeleng cepat menghalau setiap pemikiran buruk yang hinggap. Lain halnya dengan mama dan papanya yang hanya bisa tersenyum kecil memperhatikan kegalauan putra mereka.


Setelah hampir 20 hari lamanya ia tinggal di rumah sakit akhirnya hari ini Satria sudah di perbolehkan untuk pulang. Dan sepanjang perjalanan pulangnya Satria terus melamun. Ia memikirkan bagaimana akhirnya kisah cintanya dengan Arin setelah ini.


Semenjak Arin ikut dengan kedua orangtuanya pulang, sampai akhirnya ia di perbolehkan untuk keluar dari rumah sakit Arin tak pernah lagi datang sekalipun. Satria sangat frustasi dengan keadaan tersebut dimana Arin bahkan hanya menghubunginya sesekali melalui pesan singkat.


Ratusan panggilan telepon Satria setiap harinya bahkan terabaikan begitu saja. Sungguh ia sangat membenci situasi seperti ini, andai saja ia mampu maka ia akan pergi sendiri untuk menyusul Arin ke rumahnya.


Tapi Satria pun sadar jika kondisi tubuhnya saat ini tidaklah memungkinkan untuk ia bisa bepergian seorang diri. Untuk ke toilet saja, ia membutuhkan bantuan papanya selama di rumah sakit.


Setelah sampai di rumah, papanya membantu Satria untuk duduk di kursi roda dan bersiap membawanya ke kamar. Karena kondisinya saat ini, akhirnya kamarnya di pindahkan ke lantai 1 yang sebelumnya menjadi kamar tamu.


"Sat, papa tinggal ya?" ujar papa Satria setelah mereka berada di kamar.


"Makasih pa." jawab Satria singkat.


"Kamu mau papa bantu ke tempat tidur atau gimana?" tanya papanya lagi.


"Gak usah pa, ini cukup kok. Satria bisa sendiri nanti kalau mau istirahat." jawab Satria membuat papanya mengangguk mengerti.

__ADS_1


Setelah papanya keluar, Satria tampak kembali termenung menatap jendela besar di dalam kamarnya yang memperlihatkan taman yang ada di halaman belakang.


Walaupun rumah kedua orangtuanya tidaklah megah namun terlihat cukup luas. Desain rumahnya tampak sederhana, dan terlihat natural. Rumah tersebut di kelilingi taman bunga, karena mama dan papanya sangat menyukai kegiatan berkebun.


Satria pun mengambil handphone yang ia taruh di dalam sakunya. Ia mencoba menghubungi nomor handphone Arinda semenjak pagi namun tak kunjung aktif.


Satria semakin galau dan khawatir jika Arin seperti tengah menghindarinya.


Ia pun menatap kedua kakinya yang kini hanya bisa terduduk di atas kursi roda. Walaupun ia tidak di nyatakan cacat karena kondisi kakinya yang mengalami beberapa luka tusuk tapi tetap saja ia tidak akan bisa berjalan normal untuk beberapa bulan ke depan.


"*Apa mungkin kamu akan meninggalkan ku karena kond*isiku seperti ini?" batin Satria sembari menatap kedua kakinya dan mengelusnya pelan.


Jika Satria tengah begitu galau dengan perasaannya lain halnya dengan Arin. Ia tengah menikmati acara makan siang dengan teman-temannya yang khusus datang menyusulnya ke Bogor hari itu.


Bukannya ia tidak tahu apa-apa tentang Satria, namun ayahnya bersikeras untuk melakukan hal tersebut. Bahkan setelah lolos dari kematian saja, ayah Arin masih ingin sekali lagi menguji cinta Satria.


Dan Arin tentunya tidak bisa berbuat banyak, apalagi ada restu keluarganya di balik ujian untuk kesungguhan Satria. Ayahnya ingin benar-benar memutus keraguannya dengan melihat kegigihan Satria untuk mendapatkan restu darinya.


Baik Dean maupun Adrian pun tidak lagi bersikeras menolak Satria di depan Arin. Dan mereka sangat setuju dengan apa yang ayahnya lakukan saat ini. Mereka tidak ingin salah mengambil keputusan dalam kebahagiaan Arin.


Meskipun hubungan Arin dan Sherina sempat berubah canggung tapi semuanya telah kembali normal. Sebelum Arin pulang bersama kedua orangtuanya, Sherina sudah menemuinya dan meminta maaf.


Akhirnya Sherina menceritakan semuanya dan berusaha untuk jujur tentang perasaannya sendiri tentang Satria. Meskipun mereka mencintai orang yang sama tapi Sherina dengan tegas mengatakan bahwa ia akan melupakan Satria dan menjalani hidupnya dengan lebih baik.


Ia ingin memulai hidupnya yang baru tanpa bayang-bayang masa lalu. Ia ingin di cintai oleh laki-laki lain sebesar Satria mencintai Arinda. Dan Arin pun sangat senang mendengar keputusan Sherina ambil.


Karena bagi Arin sendiri Sherina lebih dari pantas untuk mendapatkan seseorang yang mencintainya dan mau memperjuangkannya. Karena menjalani cinta sepihak sangatlah melelahkan apalagi semua itu sudah Sherina jalani bertahun-tahun.


Kini mereka akan saling mendukung sebagai sahabat. Karena insiden penculikan tempo hari, Sherina mengundurkan jadwal kepulangannya. Ia berencana untuk pulang ke Jogja setelah dari tempat Arinda.


Setelah meluruskan banyak hal akhirnya Sherina bisa bernafas lega. Sekarang ia bisa menjalani hari-harinya dengan perasaan yang lebih baik begitu pun dengan Arinda.


***


Dan akhirnya 2 hari pun berlalu begitu saja tanpa terasa. Arinda benar-benar menikmati waktunya dengan pergi ke berbagai tempat wisata dengan kedua sahabatnya. Herti sengaja mengambil cuti selama 3 hari agar mereka bisa menikmati liburan bersama.

__ADS_1


Setelah mengantarkan kedua sahabatnya di stasiun handphone Arin pun berdering menampilkan foto Satria di layar handphonenya. Arin pun segera mengangkat panggilan telepon Satria karena ia pun sudah sangat merindukan kekasihnya itu.


"Halo Sat."


"Kamu lagi diluar?" tanya Satria sedikit khawatir.


"Iya, aku baru habis dari stasiun. Anter Sherina sama Herti pulang." jawab Arin jujur.


"Tapi kamu gak sendirian kan? Kamu di antar ayah gak?" tanya Satria mendadak cemas.


Sejujurnya ia masih sedikit trauma dengan insiden penculikan beberapa waktu lalu. Bahkan ia belum sempat menanyakan keadaan Bayu sekarang dan bagaimana perkembangan kasus mereka.


Satria sangat khawatir kejadian seperti itu akan terjadi lagi. Di tambah kondisinya kini yang sudah tidak mungkin lagi bisa ia andalkan untuk menolong Arinda. Untuk dirinya sendiri pun Satria masih cukup kepayahan.


Butuh waktu untuk bisa menyembuhkan kakinya agar ia bisa berjalan dengan normal seperti sedia kala. Arin pun yang menyadari kekhawatiran Satria tentangnya mencoba menenangkan kekasihnya itu.


"Aku di antar ayah kok, ini lagi jalan ke tempat parkir. Ayah tunggu aku di parkiran ini aku bentar lagi sampai." jelas Arin membuat Satria sedikit bernafas lega.


"Pokoknya kamu jangan pergi-pergi sendiri dulu ya untuk sementara waktu. Aku khawatir sayang, apalagi kondisi aku sekarang kayak gini." ujar Satria membuat langkah Arin terhenti.


"Sat, kita udah bahas ini kemaren. Aku yakin kamu bakal cepat pulih asal kamu nya tetep semangat. Harus rajin terapinya, disiplin latihannya makan yang banyak." ujar Arin panjang lebar.


Satria pun tersenyum, rasanya semua rasa putus asanya mendadak hilang berganti dengan semangat yang tinggi untuk bisa sembuh dan berjalan normal kembali.


.


.


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2