Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Penolakan


__ADS_3

Rintik hujan masih setia menemani pagi hari di kota Jogjakarta. Hawa dingin begitu menusuk kulit membuat setiap orang terlalu malas untuk beranjak dari kenyamanan dan kehangatan ranjang tidurnya.


Sejak semalaman hujan telah mengguyur kota tersebut tanpa henti. Suasana pagi yang sepi dan dingin itu tidak serta membuat Satria terbuai. Ia sudah terlihat segar sejak mentari menampakan dirinya.


"Sat, hari ini kamu mau pergi?" tanya eyang sembari menarik kursi untuk duduk di sebelah Satria.


"Rencananya hari ini Satria mau meeting sama calon investor eyang. Kebetulan teman kuliah Satria, ada yang berminat untuk bergabung dalam bisnis kecil-kecilan Satria ini. Doain ya eyang, biar semuanya lancar." jelas Satria.


"Ya sudah, kamu sarapan dulu yang benar. Apapun yang kamu lakukan, eyang selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu."


"Makasih eyang, eyang emang paling the best deh."


Satria dan eyang putri pun melanjutkan sarapan paginya di temani suara gemericik hujan yang semakin terdengar kuat. Setelah menyelesaikan sarapannya Satria bergegas pergi ke kamar untuk bersiap pergi.


Hujan tidak akan menyurutkan langkahnya untuk maju dalam hidup. Satria sangat bersemangat untuk memulai hari, bahkan jika badai datang sekalipun ia tidak akan mundur.


Seorang gadis cantik berambut coklat dan sedikit bergelombang tampak membunyikan bel di rumah eyang Satria. Gadis tersebut terlihat membawa sebuah paper bag berisi brownies kesukaan Satria.


"Oalah, Sherina toh. Eyang pikir siapa yang mau bertamu pagi-pagi di cuaca hujan begini." ujar eyang menyambut gadis tersebut dengan ramah.


"Iyah eyang, habisnya kalau gak pagi-pagi begini Satria pasti keburu pergi." ujar Sherina sedikit malu-malu.


Eyang pun tampak tercenung sesaat mengingat pembicaraan nya dengan Satria tempo hari mengenai Sherina. Sejujurnya eyang sangat menyukai gadis tersebut, selain baik dan cantik Sherina juga gadis yang sangat pintar dalam berbisnis.

__ADS_1


Terbukti dengan ia memiliki beberapa tempat angkringan yang bahkan pernah sangat viral di sosial media selama 1 tahun belakangan. Meski begitu ia gadis yang rendah hati, tidak pernah bersikap sombong.


Tentu eyang menyukainya, di tambah eyang sangat kenal betul dengan keluarganya.


Keluarga Sherina merupakan keluarga cukup terpandang di kotanya.


"Pagi Satria." sapa Sherina dengan senyuman termanis nya.


"Ya, pagi." jawab Satria sambil berlalu.


"Loh, sat mau kemana?" tanya Sherina sedikit berlari mengejar langkah Sherina.


"Meeting." jawab Satria singkat tanpa menoleh sedikit pun.


"Boleh ikut gak?" sontak saja pertanyaan yang keluar dari mulut Sherina membuat langkah Satria terhenti.


"Gue mau pergi meeting, bukan mau tamasya. Please ya sher, apa penolakan gue selama ini gak cukup jelas di mata lo." ujar Satria membuat hati Sherina begitu sakit.


"Sat, apa harus kamu sekasar itu sama aku?" tanya Sherina dengan air mata yang hampir tumpah.


"Gue minta maaf jika menurut lo cara gue ini kasar atau apa. Tapi Sher, gue udah ratusan kali ngasih penolakan yang baik tapi lo gak ada ngerti. Please, berhenti buat ngarepin sesuatu yang lo tahu lo gak akan bisa dapetin." ujar Satria melembut.


"Gue tahu lo cewek yang baik, tapi lo juga harus ngerti kalau hati itu gak bisa di paksa. Gue bukan gak mau buka hati gue buat lo, tapi gue emang gak bisa." sambung nya lagi membuat air mata Sherina semakin tumpah ruah.

__ADS_1


Selama ini ia sudah berusaha mati-matian untuk menaklukkan hati Satria. Bahkan ia membuang jauh-jauh harga dirinya sebagai perempuan dan terus mengejar cinta Satria. Tapi ternyata, perjuangan nya selama ini tetap tak bisa berarti apa-apa untuk Satria.


"Apa yang Arinda miliki yang tidak aku miliki Sat?" tanya Sherina dengan terisak.


"Sherina gue pikir lo sendiri pasti tahu dan paham ini semua bukan tentang itu. Ini semua tentang gue yang udah cinta mati sama dia, sampai gak ada tempat lagi buat orang lain di hati gue." ujar Satria.


"Gue tahu lo cewek yang baik, dan gue yakin suatu hari nanti lo bakal dapetin seseorang yang lebih baik dari gue. Gue mohon sama lo tolong berhenti sekarang juga, jangan bikin gue seakan-akan jadi orang jahat di mata orang lain. Gue cuma pengen mempertegas semuanya dari sekarang. Lo berhak dan layak buat dapetin seseorang yang juga bisa mencintai lo dengan tulus." Sherina pun hanya bisa terdiam sambil menangis mendengarkan semua ucapan Satria.


Satria membiarkan Sherina untuk menangis meluapkan semua perasaannya. Ia tetap bergeming dan tidak pergi, bagaimana pun Sherina pernah menjadi temannya. Dan selama ini Sherina sudah sangat baik padanya.


Sejujurnya Satria tidak tega, tapi ia tidak ingin Sherina berlarut dengan perasaan nya semakin jauh. Ia tidak ingin membiarkan Sherina tenggelam dalam harapan yang tinggi tentang hubungan mereka.


"Aku iri Sat sama Arinda, yang bisa kamu cintai sebesar itu. Maaf kalau selama ini aku buat kamu ngerasa gak nyaman. Aku harap suatu hari nanti, aku bisa di cintai sebesar itu oleh seseorang." ujar Sherina pada akhirnya.


Satria hanya bisa menatap iba melihat Sherina yang berlalu pergi setelah berpamitan dengannya. Jauh di lubuk hatinya Satria memang merasa kasihan dengannya namun Satria tidak ingin menjalani hubungan penuh kepalsuan.


Sebaik-baik nya kebohongan, kenyataan akan lebih baik walaupun terasa pahit. Ini bukan tentang Arinda, tapi ini tentang hatinya sendiri yang tidak bisa berlabuh ke lain hati begitu saja.


Sherina dengan patah hatinya mencoba untuk berbesar hati menerima kekalahan nya. Ia sadar jika selama ini ialah yang terlalu keras kepala untuk mempertahankan perasaannya memupuk harapan yang sia-sia.


Setelah melihat Sherina pergi, akhirnya Satria memutuskan untuk tetap melanjutkan langkahnya, walaupun dengan perasaan sedikit tidak nyaman. Bagaimana pun Sherina selama ini sudah sangat baik terhadapnya, sempat terbesit sedikit rasa bersalah di hati Satria.


Tapi ia pun kembali menepisnya, Satria yakin dengan keputusannya kali ini adalah yang terbaik untuk mereka berdua. Seharusnya, sejak dulu ia melakukannya dan tak membiarkan Sherina sejauh ini dengan perasaannya.

__ADS_1


__ADS_2