Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Kebenaran yang terpendam


__ADS_3

Semua anggota keluarga saat ini sedang menikmati pesta barbeque di halaman belakang. Meisya yang berinisiatif mengadakan acara tersebut untuk mengalihkan pikiran Arin dari Satria.


Ia tidak ingin adik iparnya itu terus berlarut dalam kesedihan. Siang tadi Dean juga sudah pulang ke rumah, dan untuk menjaga suasana hati kakaknya ibu menceritakan semua yang terjadi.


Dean sangat marah mendengar hal tersebut dan berniat untuk menemui Satria secara langsung. Tapi Adrian menasihatinya jika yang terpenting sekarang adalah bagaimana dengan kondisi Arin.


Mereka harus bisa mengalihkan pikiran Arin terlebih dahulu dari hal-hal yang bisa membuatnya tertekan. Dan di sanalah akhirnya semua anggota keluarga berakhir dengan canda dan tawa yang riuh.


Arin masih terlihat sering melamun dan terlihat murung, tapi orang-orang di sekitarnya tak membiarkan hal itu berlangsung lama. Secara bergantian mereka berusaha untuk menghibur Arinda.


Meisya datang dengan mendorong stroller berisi bayinya yang sedang tertidur. Ia sengaja membawanya dan menyerahkannya pada Arin untuk di jaga. Sementara Meisya beralasan kalau dia harus menyiapkan makanan membantu ibunya.


Arin pun menyetujui permintaan kakak iparnya itu, walaupun masih sedikit bicara dan tersenyum keadaannya jauh lebih baik dari kemarin.


Raka bisa melihat dengan jelas kesedihan yang Arin coba sembunyikan di depan keluarganya. Ia pun menghampiri Arin yang kini sedang menatap keponakannya yang terlelap dengan tatapan yang tak terbaca.


"Hai."


"Oh, Hai Raka."


"Bagaimana sekarang? Apa lebih baik? "


"Um, sepertinya lebih baik dari yang bisa aku pikirkan."


"Kamu harus bisa menjadi lebih baik, karena ada banyak yang mendukung dan mencintai kamu." ujar Raka memberikan isyarat dengan matanya menunjuk ke arah keluarganya.


Arin pun hanya bisa tersenyum getir. Ia melupakan dukungan dari keluarganya selama ini dan lebih fokus pada luka di hatinya. Padahal mereka selalu ada untuk menghapus air matanya dan menangis bersamanya ketika ia tengah benar-benar hancur.


"Thanks Raka, kamu membuatku sadar. Jika sebenarnya aku tidak pernah sendiri." ujar Arin sungguh-sungguh.


"Tentu." jawab Raka sembari mengelus rambut Arin dengan sayang.


Sementara di sudut kamar yang gelap terlihat Satria dengan penampilan yang sangat berantakan. Satu tangannya ia gunakan untuk menyesap sebatang rokok dan tangan lainnya memegangi sebuah foto lama.

__ADS_1


Flashback,


Setelah hari dimana Arin memutuskan hubungan mereka, Satria memutuskan untuk menemui Fina dengan emosi yang sudah memuncak.


Brakk!!


Dengan keras Satria membanting pintu kamar kost Fina. Sementara gadis tersebut hanya tertawa puas melihat kemarahan di mata Satria.


Ia sudah menduga jika Satria pasti akan segera menemuinya. Dan benar saja tidak menunggu lama Laki-laki yang pernah menjadi mantan kekasihnya tersebut sudah berada di hadapannya.


"Apa maksud lo ngelakuin ini?!" teriak Satria penuh emosi.


"Ini semua gak akan terjadi kalau aja lo gak ninggalin gue Sat. Lo terus menghindar sampai nomer gue lo blokir." Jawab Fina dengan santai sembari mengoleskan pewarna kuku di tangannya.


"Brengsek!!" umpat Satria menghampiri Fina lalu merebut pewarna kuku dan membuangnya sembarang.


Fina masih terlihat santai meski ia bisa melihat dengan jelas jika Satria benar-benar tengah di bakar emosi. Tapi ia tidak merasa khawatir, karena ia sangat mengenal Satria.


Seberapa marah pun Satria padanya, ia tidak akan pernah berbuat kasar padanya. Dan karena itulah Fina masih bisa tersenyum dengan santai mengejek kekesalan di wajah Satria.


"Lo pikir gue gak bisa berbuat apa-apa sama lo Fin? Denger gue baik-baik, bagi gue lo adalah perempuan paling menjijikkan yang pernah gue temui. Dan gue nyesel pernah kenal dan ketemu sama lo! " ujar Satria menurunkan cengkramannya membuat leher Fina tercekik.


"Ss.. sat lepasin gue. Sakit s..sat." ujar Fina terbata.


"Gue bahkan bisa bunuh lo sekarang juga Fin. Tapi gue gak bakal ngelakuin itu, gue peringatin lo sekali ini aja. Sampai ada lagi lo ganggu hidup gue, gue bisa ngelakuin hal yang gak pernah bisa lo sendiri bayangin." bisik Satria membuat Fina sedikit takut.


"O.. oke sat. Gue gak bakal ganggu lo, tapi lepasin gue dulu." pinta Fina yang sudah sangat kesakitan.


"Gue gak pernah main-main sama ucapan gue! Hidup gue udah hancur karena lo, jangan pikir gue gak bisa berbuat nekat sama lo!" ujar Satria sembari melepaskan cengkraman nya dengan kasar membuat Fina terbatuk meraup udara sebanyak yang ia bisa.


Satria pun berlalu hendak meninggalkan kamar Fina tapi ia berhenti di pintu sesaat dan menoleh.


"Kebohongan lo kali ini udah ngehancurin hubungan gue sama Arin. Tapi sampai lo muncul di depan gue lagi dan coba buat ngelakuin hal apapun, gue bakal lupain lo itu ibu dari Arslan." ujar Satria begitu dingin.

__ADS_1


"Gue emang bohongin Arin kalau sekarang gue lagi hamil anak lo sat. Tapi jangan lupa, lo yang udah bikin Arslan ada di dunia ini." ujar Fina yang tak lagi ingin Satria debatkan lagi.


Karena kebenarannya memang ia pernah menghamili mantan kekasihnya itu. Tapi itu pun 3 tahun sebelumnya. Dan anak itu di asuh dan di besar kan oleh keluarga Satria sebagai adiknya.


Ketika SMA Satria pernah menghamili Fina dan itu pun karena tidak di sengaja. Saat itu Satria dan Fina sudah putus, tapi karena Fina tidak ingin di tinggalkan oleh Satria ia pun menjebaknya.


Saat itu Fina berbohong kepada Satria kalau ayah tirinya sedang menghajarnya karena mabuk sementara ibunya sedang pergi ke luar kota.


Karena tidak ingin terjadi sesuatu terhadap Fina, Satria bergegas ke rumahnya. Begitu sampai, Fina berpura-pura kesakitan dengan penampilan yang sudah berantakan.


Ia meminta Satria untuk menemaninya di rumah sampai ibunya pulang karena takut ayah tirinya kembali. Satria pun tidak tega menolak permintaan gadis itu karena bagaimana pun ia dulu pernah sangat menyukai nya.


Tapi ternyata Fina telah merencanakan itu semua, dan mencampur minuman Satria dengan sesuatu sampai membuat Satria kehilangan kesadarannya.


Dan begitu pagi menjelang, Satria begitu terkejut mendapati dirinya yang tertidur dengan Fina di kamar tanpa sehelai benang pun di kamar mereka.


Dan tak lama setelah kejadian tersebut Fina pun hamil, dan mau tak mau Satria harus bertanggungjawab dengan kehamilan Fina. Tapi itu pun tidak berlangsung lama, karena kedua orang tua mereka hanya menikahkan mereka secara siri.


Dan setelah menikah mereka tidak tinggal 1 rumah, sementara Fina di sewakan sebuah rumah di pinggiran kota bogor untuk ia tinggali sendiri di temani oleh mama Satria.


Ibu dan ayah tirinya mengusirnya karena di anggap telah mempermalukan keluarga. Setiap hari mama Satria membantu mengurus kebutuhan Fina ataupun membuatkan makanan yang sehat dan bergizi untuknya.


Satria tidak pernah mengunjungi Fina sekali pun setelah mereka menikah karena merasa kecewa karena merasa Fina telah menjebaknya.


Ia tidak mungkin melakukan sesuatu hal yang buruk pada Fina jika ia sadar. Hubungan mereka sudah berakhir sejak beberapa bulan sebelumnya karena Satria sudah muak dengan sikap dan sifat Fina yang keras dan pencemburu.


Sampai akhirnya Arslan telah lahir, Satria bersikeras tidak ingin melanjutkan pernikahan mereka. Walaupun ia harus putus kuliah nanti dan harus bekerja untuk menghidupi putranya tapi ia tidak ingin bersama Fina.


Karena ia sudah tidak mempunyai perasaan apapun yang tersisa untuk Fina. Karena itulah akhirnya mereka akhirnya berpisah, dan Arslan di urus dan di akui oleh mamanya sebagai adik Satria.


Tidak ada yang mengetahui hal tersebut kecuali keluarga mereka masing-masing. Fina tentu saja tidak terima dengan keputusan tersebut tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa.


Walaupun begitu Kedua orang tua Satria menjamin kehidupan Fina dan mendaftarkan ia untuk kuliah di Jakarta. Mereka berjanji akan terus menopang hidup Fina sampai ia bisa benar-benar mandiri.

__ADS_1


Tapi setelah Fina mengetahui jika Satria berpacaran dengan Arin ia menjadi sangat marah. Karena itulah ia datang dan membohongi Arin dan mengaku jika ia tengah hamil anak Satria.


__ADS_2