Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Ke Rumah Sakit


__ADS_3

Satria bangun di pagi hari dengan tubuh yang lelah dan tidak segar. Sebenarnya kepalanya sedikit pusing, tapi ia memiliki pekerjaan penting yang tidak bisa ia tinggalkan hari ini.


Ia pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian kantor. Setelah itu ia turun untuk sarapan bersama keluarganya.


"Kamu pulang Sat?" tanya papa Satria begitu melihat putra sulungnya berjalan ke adalah ruang makan.


"Ya pa, papa sehat? " tanya Setelah mencium punggung tangan ayahnya itu lalu memeluknya.


"Alhamdulillah, Sat. Papa harus sehat terus karena waktu papa untuk bekerja tinggal sebentar lagi." jawab papa Satria.


"Papa mau pensiun? " tanya Satria sedikit terkejut.


"Ya, masih tersisa 1 tahun lagi." ujar papa Hari sembari tertawa.


"Gak berasa yah pa? " ujar Satria.


"Iya, untungnya Citra udah lulus kuliah tahun ini." ujar Citra sembari menghampiri kakaknya dan memeluknya.


"Kamu wisuda kapan dek?" tanya Satria setelah mengurai pelukannya.


"Bulan depan, do'ain ya mas biar lancar semua." ujar Citra.


"Tentu dong, nanti mas pasti kasih hadiah buat kamu." ujar Satria sembari mengacak-acak rambut adik perempuan satu-satunya itu.


"Yess, bener ya. Aku tagih loh nanti janjinya." ujar Citra meminta kakaknya berjanji.


"Iya janji." jawab Satria berjanji.


"Kalau aku dapet hadiah juga gak?" tanya bocah kecil yang sejak tadi menyimak percakapan 3 orang dewasa di hadapannya.


"Loh, emang kamu mau hadiah juga?" tanya Satria berjongkok di hadapan putranya.


"Mau dong mas, masa mbak Citra doang yang di kasih." ujar Arslan sembari melipat tangan di dadanya dengan bibir mengerucut.


Semua orang pun tertawa melihat tingkah Arslan yang menggemaskan.


"Ya udah, nanti mas beliin kamu hadiah juga deh. Kamu mau apa?" tanya Satria.


"Aku gak mau hadiah seperti itu." ujar Arslan dengan suara hampir bergumam membuat Satria tidak mengerti.


"Kamu mau apa? bilang aja, mas pasti beliin kok." ujar Satria kembali bertanya.


"Aku gak mau hadiah yang di beli." ujar Arslan dengan kepala menunduk.


"Loh terus, kamu mau apa?" tanya Satria penasaran.

__ADS_1


"Aku pengen pergi ke Dufan sama mas Satria." ujarnya dengan suara kecil tapi masih terdengar di telinga Satria.


Degg,


Seketika perasaan bersalah muncul di hati Satria membuatnya hanya bisa membeku. Selama ini ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri dan tidak pernah memperhatikan Arslan sedikit pun.


Hatinya sedikit terenyuh mendengar permintaan putranya yang ingin menghabiskan waktu bersamanya dari pada sebuah hadiah.


"Ya udah, minggu depan mas usahain waktunya. Nanti kita berdua pergi ke Dufan." ujar Satria sembari tersenyum sembari mengangkat wajah putranya dengan lembut.


Spontan saja Arslan berteriak kegirangan sambil memeluk Satria karena merasa senang dengan apa yang Satria janjikan. Selama bertahun-tahun mereka tinggal di kota yang berbeda.


Dan setelah Satria kembali, ia malah memilih untuk tinggal di apartemen dari pada kembali ke rumah. Arslan sangat sedih karena itu. Ia


merindukan sosok kakak laki-lakinya itu dan berharap bisa menghabiskan waktu berdua dengannya.


Setelah itu mereka menikmati sarapan pagi dengan tenang. Satria berangkat ke kantor setelah mengantarkan Arslan pergi ke sekolah. Semakin lama tubuhnya terasa semakin lemas dan tak bertenaga.


Dengan hati-hati ia mengemudikan mobilnya ke kantor. Begitu sampai Satria langsung menuju ruangannya karena pekerjaan sudah menunggunya. Sebenarnya ia sedang tidak enak badan, tapi ia harus menyelesaikan pekerjaan yang penting.


Sembari memegang kepalanya yang sakit, Satria berjalan menuju ke ruangannya. Arin sempat melihatnya berjalan di depannya tapi Satria langsung bersikap seolah ia baik-baik saja.


Ia tidak ingin menunjukkan kelemahannya di depan Arin. Begitu sampai di ruangannya Satria langsung membuka laptop dan beberapa berkas yang harus ia kerjakan.


Setelah menyelesaikan kesalahpahaman di antara dirinya dan Arin, Satria masih sesekali mengkonsumsi alkohol untuk sekedar menghilangkan penat di kepalanya.


Terlebih hubungannya dengan Bayu kini tiba-tiba menjadi sangat buruk. Membuat Satria tidak enak hati, apalagi ia masuk dan bekerja di perusahaan itu atas permintaan Bayu.


Tapi jika ia berhenti bekerja dan pindah ke perusahaan lain, Satria akan kehilangan momen untuk melihat Arin setiap hari. Satria pasti akan menyesal jika ia melakukannya.


Sampai siang hari, Arin melihat Satria tidak keluar sedetik pun dari ruangannya. Ataupun tanda-tanda kedatangan Bayu ke ruangan Satria. Arin sedikit terheran, karena biasanya Bayu hampir setiap hari datang ke ruangan Satria.


Ia pun segera mengenyahkan pikirannya tentang Satria dan Bayu. Ia tidak boleh terlalu peduli dengan masalah keduanya, pikir Arin.


Arin pun memutuskan untuk pergi makan siang bersama dengan rekan-rekannya. Sementara Satria masih berkutat dengan pekerjaannya. Sampai sore hari ketika semua pekerjaannya selesai Arin mendatangi ruangan Satria untuk meminta tanda tangannya di berkas yang ia kerjakan.


Tok tok tok,


"Masuk." ujar Satria yang sedang membereskan meja kerjanya.


"Pak, ada berkas yang harus di cek dan di tanda tangani." ujar Arin sembari bergerak menghampiri Satria.


Arin merasa sedikit aneh melihat Satria, wajahnya sangat pucat dan tubuhnya terlihat lemas. Arin pun menyerahkan berkas tersebut dan Satria langsung menandatangani nya.


"Pak gak di cek dulu?" tanya Arin kembali di buat terkejut karena Satria tidak biasanya bersikap seperti itu.

__ADS_1


Satria pun tersenyum menatap Arin sambil menahan rasa sakit di kepalanya yang semakin menjadi.


"Saya percaya dengan pekerjaan kamu." jawabnya membuat Arin sedikit tidak percaya.


"Bawalah ini dan segera pulang." ujar Satria masih tersenyum.


"Ya sudah pak, terimakasih." ujar Arin mengambil berkas tersebut hendak keluar.


Tak lama setelah itu Satria keluar dengan langkah yang sangat perlahan membuat Arin kembali penasaran. Ia pun kembali menghampiri Satria yang sudah sangat pucat.


"Bapak, gak apa-apa?" tanya Arin dengan raut wajah sedikit khawatir.


Satria hanya menggeleng sambil sebelah tangannya memegang kepalanya yang semakin sakit. Andi pun ikut menghampiri Satria karena khawatir.


"Bapak pucat banget, pak Satria sakit?" tanya Andi sembari mencoba memegangi tubuh Satria yang tampak lemas.


"Loh, rin badan pak Satria panas banget ini. Kayaknya beneran sakit. Gimana ini?" klinik kantor juga pasti udah tutup jam segini." ujar Andi panik.


"Ya udah, kita bawa ke rumah sakit aja." ujar Arin langsung berlari ke mejanya mengambil Tas dan jaketnya.


Andi dan Arin pun membantu Satria berjalan ke parkiran menuju mobilnya. Karena Andi membawa sepeda motor, Arin pun bersepakat jika ia yang akan mengemudikan mobil Satria sementara Andi mengikuti mereka menggunakan sepeda motornya.


Suasana kantor sudah mulai sepi dan kebetulan hanya ada Arin dan Andi yang tersisa di divisi mereka karena yang lain sudah pulang lebih dulu.


Bayu melihat semua kejadian itu hanya bisa mengepalkan tangannya dengan kuat menahan amarah. Kenapa Satria selalu mendapatkan perhatian dari Arinda dan hubungan mereka semakin dekat.


"Lihat aja lu Sat. Seberapa lama lu bakal bertahan di kantor ini. Gue yang bawa lu masuk ke sini, dan gue juga yang bakal pastiin lu keluar dari sini juga." ujar Bayu sembari menatap penuh kebencian pada Satria.


Di perjalanan Arin tampak sesekali menatap Satria yang hanya duduk sambil memejamkan matanya sejak tadi. Beberapa kali ia meringis dengan pelan menahan sakit di perut dan kepalanya.


Dari wajahnya terlihat jika Arin sangat cemas dengan keadaan Satria. Dan ia tidak bisa menyembunyikannya sedikit pun. Dan karena itu, ia sampai lupa mengubungi Raka yang kini baru saja sampai di depan gedung kantornya.


Ia menghubungi Arin beberapa kali, tapi ia sama sekali tidak mengangkatnya karena hanya fokus pada Satria dan jalan.


"Anda mau menjemput Arinda?" tanya Bayu dengan senyum mengejek di wajahnya.


"Tentu saja, setiap hari saya selalu melakukannya." jawab Raka dengan wajah tenang.


"Arinda sudah pulang dengan Satria beberapa menit yang lalu, jadi sebaiknya anda segera pulang karena percuma menunggu di sini." ujar Bayu sengaja memanas-manasi Raka.


"Maaf sepertinya anda salah, Kalau Arin memang sudah pulang dia pasti menghubungi saya lebih dulu." jawab Raka masih dengan percaya diri.


"Kasihan sekali, baiklah kalau anda memang tidak percaya. Anda bisa menunggu sepuas anda di sini." ujar Bayu sembari memasang kaca mata hitam miliknya dan berjalan meninggalkan Raka yang masih kebingungan.


"Gak mungkin Arin gak ngabarin gue dulu kalau dia pulang, apalagi kalau dia pulang sama Satria. Kayaknya itu gak mungkin." gumam Raka masih tidak percaya.

__ADS_1


__ADS_2