Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Dilema


__ADS_3

Pagi hari, Arin tengah berkemas untuk mengikuti acara gathering dari kantornya.


Masih ada 1,5 jam lagi waktu yang tersisa untuk pergi ke tempat pemberangkatan dimana mereka akan menggunakan transportasi Bus yang telah di sewa oleh kantornya.


Rencananya mereka akan menggunakan sekitar 10 buah Bus besar. Ketika telah selesai berkemas, Arin langsung melanjutkan sarapannya yang tertunda kemudian meneguk 2 buah pil andalannya yang harus ia konsumsi setiap hari.


Arin mengenakan sebuah kemeja kasual berwarna putih yang di padu padankan dengan celana jeans kulot berwarna biru cerah. Tak lupa ia juga mengenakan sepatu cats andalannya, rambutnya ia ikat ekor kuda sehingga menampilkan leher jenjangnya yang indah.


Setelah semua siap Arin mulai merapikan tempat tidurnya yang sedikit berantakan. Tapi sesaat kemudian ia pun mendesah berat sambil terduduk di atas kasur berukuran single tersebut.


Ingatannya mulai meremang mengingat kejadian semalam dimana Herti mencerca nya dengan berbagai pertanyaan tentang hubungan Arin dengan Satria. Bahkan tanpa Arin sangka, Herti telah mengetahui hal yang lebih banyak daripada sekedar kecurigaan saja.


Flashback,


"Nasi sudah menjadi bubur, bukankah lebih baik kamu jujur saja padaku tentang hubungan kalian itu." ujar Herti dengan tatapan mengintimidasi.


"Ma.. maksudnya apa sih her?" tanya Arin pura-pura tidak mengerti.


"Sudahlah Arin, aku sudah tahu jika pak Satria itu mantan pacar kamu kan?" tanya Herti to the point sambil menunjukkan sebuah foto di ponselnya.


"Lohh, dapet dari mana her?" tanya Arin kembali di buat terkejut.


"Gak penting dapet dari mana, tapi kenapa gak jujur aja sih rin ama kita-kita. Biasanya juga kita tahu kok siapa aja mantan pacar lo." ujar Herti sembari melipat tangannya di dada.


"Duh her, gak gitu. Gimana ya jelasinnya."


"Ya tinggal jelasin rin." timpalnya lagi dengan raut wajah sebal.

__ADS_1


"Ya masalahnya itu udah lama banget her, gue aja pacaran sama dia waktu gue masih SMA. Jadi gue pikir buat apa juga di omongin gitu." kisah Arin membuat Herti mendelik.


"Ya tetep aja, kok bisa sih lo bersikap seolah gak kenal ama dia. Apalagi gue perhatiin kayaknya dia juga masih ada rasa sama lo." ujar Herti kembali membuat Arin terperangah.


"Iya, biarin aja her toh gue enggak." jawab Arin sembari memunggungi sahabatnya itu segera mencuci tangannya di wastafel.


"Mata gak bisa di bohongin loh." ujar Herti kemudian melenggang pergi meninggalkan Arin sendiri di sana.


Tidak cukup ketahuan oleh temannya itu, ketika Arin keluar dari toilet ia langsung di buat pusing dengan Bayu dan Satria yang terlihat berjalan menghampiri nya dari arah yang berbeda.


Arin hanya bisa mendesah pelan, ia dilema dengan sikap yang harus ia ambil untuk menghadapi kedua orang laki-laki di depannya itu. Apalagi yang selama ini Arin tahu, jika mereka merupakan sahabat dekat.


Arin tidak ingin menghancurkan hubungan persahabatan mereka. Tapi entah bagaimana ia bisa membuat keduanya mengerti jika Arin bahkan tidak akan mungkin memilih untuk bersama keduanya.


"Wow, cantik sekali kamu malam ini." ujar Bayu yang lebih dulu sampai di depannya.


"Tiap hari juga cantik, lo aja yang baru nyadar." timpal Satria dengan tatapan tidak suka.


"Arin gak suka dansa, dia gak bisa." jelas Satria dengan tampang menyebalkan nya.


"Gue nanya Arin, bukan nanya lo." sewot Bayu.


"Gue cuma bantu Arin jawab, apa yang gue tahu kok. Dan itu bener kan rin?" ujar Satria dengan sengit.


"Sudah ya, pak tolong jangan bertengkar. Dan seperti yang pak Satria bilang memang benar, mohon maaf Pak saya tidak bisa." jawab Arin menyela keduanya yang hendak kembali membuka suara, membuat Satria menyunggingkan senyum di bibirnya.


"Dan untuk pak Satria, sepertinya saya juga sudah menegaskan jika saya berharap pak Satria bisa berhenti mengganggu saya. Permisi." Sambungnya lagi membuat senyuman di bibir Satria surut berganti kekecewaan.

__ADS_1


Tentu saja Bayu tertawa puas melihat reaksi Arinda yang begitu enggan di dekati oleh Satria lagi.


"Harusnya lo tahu diri Sat, Arin gak akan pernah mungkin mau balik lagi sama lo. Walaupun mungkin dia udah maafin kesalahan lo di masa lalu, tapi apa iya dia bisa nerima anak lo yang pasti bakal ngingetin dia sama penghianatan lo." ujar Bayu membuat darah Satria mendidih seketika.


Dengan kesal Satria menarik jas yang Bayu kenakan dengan tatapan penuh amarah. Tapi beberapa saat kemudian ia pun melepaskan cengkraman tangannya menyadari situasi saat ini jika mereka tengah berada di tengah pesta.


Dan tentunya hal itu akan menjadi konsumsi publik jika sampai mereka berkelahi di sana. Satria beberapa kali menghembuskan nafas kasarnya sebelum akhirnya berlalu tanpa kata meninggalkan Bayu yang tersenyum smirk menatap nya.


"Lo lihat aja sat, gue bakal pastiin lo benar-benar hancur sampai lo akan melihat sendiri kebencian yang lebih besar di mata Arin buat lo." ujar Bayu bermonolog.


**


Suara dering ponsel pun berhasil membuyarkan lamunan Arin. Nama Raka tertera di sana, tapi Arin merasa enggan untuk mengangkatnya.


Setelah panggilan tersebut berhenti Arin langsung membuka sebuah aplikasi untuk memesan taksi online. Arin tahu jika Raka saat ini pasti sedang berada di rumah sakit. Karena ia sangat tahu jadwal praktek dokter tampan tersebut.


“Maaf ka, buat sekarang aku masih butuh waktu untuk sendiri." ujar Arin sembari menatap deretan pesan yang di kirimkan Raka sejak beberapa hari lalu.


Memang Arin sedang menghindari Raka, semenjak ia tahu bagaimana perasaan laki-laki tersebut untuknya Arin menjadi sungkan untuk bertemu.


Apalagi Raka telah banyak membantunya selama ini, ia merasa tidak enak hati untuk menolak perasaan Raka terhadapnya. Tapi di sisi lain, ia merasa tidak bisa membalas perasaan Raka.


Bagi Arin Raka adalah sahabat terbaik nya, satu-satunya laki-laki yang selalu melindunginya dan tak pernah menyakiti nya. Arin berharap banyak pada hubungan mereka, tapi bukan sebagai pasangan melainkan sahabat, saudara yang bahkan mungkin nanti akan ia anggap sebagai keluarga.


Tidak ingin berlarut Arin memutuskan untuk langsung berangkat karena kebetulan taksi yang ia pesan sudah sampai di depan kost nya.


Selama perjalanan gathering ini Arin harap tidak akan ada sesuatu yang membuatnya pusing lagi. Semoga bos dan atasannya itu tidak mengikuti acara ini juga, pikir Arin. Walaupun terdengar sedikit mustahil.

__ADS_1


Arin hanya ingin bersenang-senang selama 2 hari ke depan bersama rekan-rekannya. Anggaplah ini sebagai kenangan terakhir mereka yang manis sebelum Arin pergi beberapa hari lagi.


Belum ada 1 orang pun yang tahu tentang rencananya ini termasuk Herti maupun Andi. Arin memilih untuk berpamitan di saat terakhir karena tidak ingin mereka sedih dengan kepergiannya.


__ADS_2