Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Patah hati bersama


__ADS_3

Takdir bukanlah sesuatu yang bisa kita atur sesuai dengan keinginan kita. Di dalamnya selalu terjadi hal tak terduga, hal yang tak di sangka. Jika memang teramat menginginkannya, langitkanlah keinginan mu dengan untaian do'a pada yang maha kuasa.


Arin sendiri tidak tahu apa yang benar-benar ia inginkan untuk saat ini. Yang ia tahu adalah jika saat ini ia selalu meminta yang terbaik untuk dirinya pada yang maha kuasa dalam setiap do'a yang ia panjatkan.


Karena ia pun sadar, jika terkadang sesuatu yang kita anggap baik sekalipun tak berarti akan berakhir baik untuk kita begitu pun sebaliknya. Ia pasrahkan segala hal tentang takdir dan masa depannya di atas sajadah panjang yang ia gelarkan.


Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore ketika tiba-tiba handphonenya berdering menampilkan sebuah nama yang selama beberapa hari ini terus mengusiknya. Awalnya ia merasa enggan untuk menjawab, namun beberapa detik kemudian ia pun akhirnya kembali mengambil ponselnya yang terus berdering tanpa henti.


"Ada apa?" tanya Arin tidak ingin berbasa-basi.


"Galak banget sih yang, kangen ya makanya marah-marah terus sama aku." jawab Satria terdengar menyebalkan di telinga Arin.


"Apa sih gak jelas." timpal nya lagi sambil melipat sajadah di depannya.


"Jangan marah terus nanti aku cium baru tahu rasa." ujar Satria lebih nyeleneh lagi membuat Arin hampir kehabisan kata-kata.


"Jalan yuk, aku udah di depan nih. Jangan lama-lama kesininya ya, aku tunggu. Gak usah dandan karena kamu udah paling cantik di mata aku. Oke." ujar Satria panjang lebar tanpa memberi kesempatan Arin untuk menjawab dan langsung memutus telponnya.


"Astaghfirullah, nyebelin banget ini orang!" ujar Arin dengan gemas.


Dan sesudah itu Arin pun bergegas melepas mukena yang masih ia pakai dan berganti pakaian. Celana kulot dan kaos over size menjadi pilihannya sore ini. Tidak lupa ia memakai jam tangan dari kulit berwarna cokelat gelap dan sepatu sneaker serta Sling bag berwarna hitam.

__ADS_1


Tidak sampai 20 menit akhirnya Arin pun menghampiri Satria yang sudah tampak berdiri sambil bersender di mobilnya. Entah hanya sekedar kebetulan atau apa Satria mengenakan baju yang senada dengan apa yang Arin kenakan.


"Ya ampun, cantik banget sih calon istri aku." ujar Satria sembari mengacak-acak rambut Arin yang sudah ia rapihkan.


"Ih, kebiasaan deh. Bisa gak sih gak iseng kayak gitu." gerutu Arin sedikit kesal sambil kembali merapikan rambutnya berkaca pada mobil Satria.


"Ya abis aku gemes banget sayang sama kamu." ujar Satria sambil menjawil pipi Arin yang memang sejak dulu sedikit chuby.


Dan bagai tersambar petir di siang bolong kini ada 2 hati yang patah secara bersamaan melihat adegan manis di depan mata mereka. Dan mereka adalah Sherina dan Raka yang hendak mengantarkan Sherina pulang setelah pertemuan tidak sengaja mereka di supermarket beberapa saat lalu.


Keduanya hanya terpaku menatap interaksi di antara Arin dan Satria sambil dengan hati yang sesak. Air mata tiba-tiba saja meluncur bebas tanpa sanggup ia tahan, dan kenyataan paling pahit kembali menerpa hidupnya kembali.


Dan ia pun tersadar jika perempuan yang selama ini di cintai oleh Satria yang membuatnya selalu di tolak dengan segala cara adalah sahabatnya sendiri. Sherina mencoba menahan sesak di dadanya, namun hatinya teramat sakit meskipun ia mencoba untuk bersikap seolah baik-baik saja.


Agaknya hal yang tidak jauh berbeda di alami oleh Raka. Akhirnya ia melihat sendiri jika pada akhirnya cinta yang ia harapkan dari Arinda tetap jatuh pada masa lalunya. Walaupun Arin tidak pernah memberikannya harapan dan menutup semua jalan untuk hubungan mereka ia pun tetap merasakan sakitnya patah hati.


Perasaannya selama ini pada Arin sangatlah murni dan tulus. Bahkan ketika Arin terus menolaknya, ia pun sadar jika Arin masih belum selesai dengan masa lalunya. Raka pun mencoba untuk menguatkan hatinya yang sebenarnya di penuhi sesak dalam dada.


Tapi sedetik kemudian ia pun menyadari sesuatu, bahwa ada orang yang jauh lebih patah hati darinya. Raka bisa mendengar jelas isakkan kecil mulai terdengar dari gadis di sebelahnya. Jelas terlihat jika Sherina tengah menatap ke arah yang sama dengannya.


Raka tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Sherina. Tapi satu hal yang ia sadari betul jika akan lebih baik jika keduanya tidak ada di sana. Tanpa berkata-kata Raka pun kembali memarkirkan mobilnya dan pergi meninggalkan halaman rumah kost Sherina.

__ADS_1


"Loh ka, kita mau kemana?" tanya Sherina di sela isak tangisnya menyadari jika mobil yang ia naiki malah berputar untuk kembali ke jalan luar meninggalkan tempat tujuannya sebelumnya.


"Aku gak tahu apa yang buat kamu terlihat begitu patah hati saat ini, tapi mungkin ada baiknya saat ini untuk kita pergi." ujar Raka tersenyum kecil mencoba menyembunyikan kepahitan di wajahnya.


Sherina pun tidak bisa berkata-kata lagi mendengar perkataan Raka. Mungkin ia akan berterima kasih setelah ini karena membawanya pergi. Entah kemana Raka sendiri belum tahu pasti kemana mereka akan pergi.


Setelah berputar-putar di jalanan ibu kota selama hampir 1 jam akhirnya Raka memilih untuk berhenti di sebuah taman kota. Mereka tidak keluar dari mobil dan hanya duduk dalam diam selama beberapa saat.


Sampai akhirnya Sherina pun bercerita jika sebenarnya Satria adalah alasannya melarikan diri dari Jogjakarta, kota kelahirannya. Ia pun bercerita tentang kisah cintanya dan tentang Satria panjang lebar.


Ia tak pernah menyangka jika takdir begitu kejam karena mempertemukannya dengan seseorang yang menjadi alasannya patah hati selama bertahun-tahun karena penolakan yang sama. Bahkan mereka kini telah menjadi sahabat dekat layaknya saudara.


Walaupun begitu bukan berarti Sherina membenci Arinda. Hanya saja ia begitu tidak suka dengan takdir yang seolah tengah mempermainkannya dan menari di atas penderitaannya. Raka pun hanya diam dan mendengarkannya saja apa yang menjadi keluh kesah Sherina dan isi hatinya.


~


Tak lama setelah Raka dan Sherina memutuskan pergi karena tidak ingin melihat pemandangan menyakitkan karena melihat kebersamaan keduanya. Arin dan Satria pun akhirnya memutuskan untuk pergi, tepatnya Satria yang membawa Arin pergi.


Arin sendiri belum tahu pasti kemana Satria akan membawanya pergi. Karena tiap kali bertanya Satria hanya menjawab Rahasia. Karena itu Arin memilih untuk diam dan tidak ambil pusing karena ia tahu Satria pasti tidak akan membawanya ke tempat yang macam-macam.


***TBc***

__ADS_1


__ADS_2