
Satria POV
Sudah sewindu berlalu sejak ku menahan rindu..
Sudah sewindu tak pernah ku tatap wajah cantikmu..
Sudah sewindu hatiku pedih hidupku terasa begitu pilu..
Sudah sewindu ku menunggu hari dimana kita akan bertemu..
Hari-hari berat itu sudah ku lalui,
Dunia ku yang sempat terhenti kini berjalan kembali..
Sewindu sudah hidupku terasa mati suri,
Biarlah kau ku cintai lagi sepuas hati ..
.
.
.
Setelah pesta ulang tahun perusahaan, hari ini kami akan mengadakan acara gathering.
Dan beruntungnya aku, karena jogja menjadi tempat yang akan kami tuju dan akan kami tinggali selama 2 hari.
Selama 8 tahun aku tinggal di kota ini, dan momen ini akan ku jadikan sebagai kesempatan ku untuk mengobati rindu.
Pagi ini aku sampai di tempat pemberangkatan Bus yang akan membawa kami ke Jogja. Saat turun dari mobil, ku lihat Arin tengah berjalan menyusuri rentetan Bus yang sudah terparkir rapi.
Tanpa sadar langkah kakiku tergerak untuk mengikutinya. Ketika ia sudah menaiki salah satu Bus, ku lihat ia duduk bersama rekan perempuan nya.
__ADS_1
Ku lihat wajahnya tampak murung dan kuyu. Guratan lelah dan kantung mata yang sedikit menghitam menghiasi wajahnya yang ayu. Ia terlihat memejamkan sembari memasang earphone di kedua telinganya.
Entah kenapa hati kecilku terus menuntunku mendekati nya. Hingga akhirnya aku meminta teman di sampingnya untuk bertukar tempat untuk duduk. Sekali saja, aku ingin menghabiskan waktu yang tersisa bersamanya.
Ya, aku sudah memutuskan setelah acara ini berakhir aku akan segera mengundurkan diri dari perusahaan. Hubungan ku dengan Bayu kini memburuk, apalagi sekarang ia sudah di angkat menjadi Dirut perusahaan ini.
Cepat atau lambat pasti ia akan menendang ku keluar dari perusahaannya. Meski begitu, sebelum pergi, aku ingin mencoba memperbaiki hubungan kami terlebih dahulu. Aku akan meminta maaf dan menjelaskan semuanya pada sahabat ku itu.
Dan untuk sekarang ia ingin bersikap egois saja. Setidaknya aku ingin memiliki kenangan yang indah sebelum akhirnya kami benar-benar berpisah.
Tidak ada yang istimewa selama perjalan kami karena Arin terus mengacuhkan ku. Aneh rasanya bisa sedekat ini dengannya dalam waktu berjam-jam lamanya. Tapi aku bahagia dengan hal itu.
Sampai akhirnya Bus yang kami tumpangi pun mendadak berhenti di tengah jalan. Ternyata Bus yang kami tumpangi mogok dan mau tidak mau akhirnya kami harus menunggu Bus di perbaiki.
Para penumpang Bus pun turun dan memilih untuk menunggu di luar sampai akhirnya montir yang di hubungi oleh sopir Bus datang. Ku lihat Arin mulai kedinginan, karena udara malam terasa dingin setelah hujan.
Beruntung saat ini hujan tak lagi turun, hanya menyisakan hawa sejuk berlebihan dan bau tanah yang basah memenuhi penciuman. Tanpa pikir panjang ku lepas jaket di tubuhku untuk ku pasangkan padanya.
Sudah bisa di tebak, kedua bola matanya yang indah itu seperti akan melompat keluar dari tempatnya. Bibirnya nampak terbuka seperti hendak mengatakan sesuatu namun coba ia tahan.
"Sat, tolong dong lihat sikon. Semua orang jadi ngelihatin ke arah kita.” ujarnya membuatku semakin gemas.
Saat ia mencoba melepas dan mengembalikan jaket itu padaku, dengan cepat aku menahannya. Wajahnya sudah terlihat merah padam entah karena malu atau marah padaku.
"Jangan di lepas." ucapku menatap langsung pada netranya.
Tapi aku memilih untuk bersikap tak peduli. Untuk kali ini biarlah aku bersikap egois, sekali saja. Selama beberapa saat tatapan mata kami terhubung hingga akhirnya ia lebih dulu menyerah dengan memalingkan wajahnya.
Tak lama kemudian aku pun mengeluarkan ponsel untuk menghubungi pakde tejo. Ia adalah sopir pribadi eyangku, karena saat ini posisinya lah yang paling dekat untuk ku mintai pertolongan.
Kami berempat akhirnya duduk di pembatas jalan, tanpa mereka ketahui aku sudah merencanakan hal lain. Tidak sampai 40 menit tampak sebuah mobil menghampiri kami.
Pakde tejo menghampiri kami dengan senyum sumringah nya. Sementara ketiga orang di samping ku hanya saling pandang sambil mengedikkan bahu tak mengerti.
__ADS_1
"Oalah, den kenapa gak kasih kabar kalau mau datang. Eyang putri sangat senang begitu mendengar kedatangan aden." ujarnya dengan mata berbinar dan senyum mengembang.
"Iya pakde, soalnya ini acara kantor. Tadinya saya mau berkunjung saja sebelum pulang ke Jakarta nanti." jawabku semakin membuat Arin kebingungan.
"Rin, kenalkan ini pakde tejo. Beliau ini orang kepercayaan eyangku disini. " ujarku memperkenalkan membuat pakde tejo mengulas senyum sembari mengangguk menyapa.
"Di ayo kita ambil barang-barang di bus. Kalian tunggu saja di sini biar kita berdua yang ambil barang-barang sama tas kalian." ujarku sembari menggasak lembut rambut Arin gemas.
Sementara sang empu masih terdiam belum mengerti situasi yang terjadi. Aku tidak memberikan celah untuknya bertanya bergegas mengajak Andi menuju Bus yang terparkir tidak jauh.
Sepertinya Andi dan Herti mengerti dengan maksudku dan tersenyum mendukung tanpa membantah atau mempertanyakan apapun.
"Mbak Arin.. dan maaf dengan?"
"Herti pakde." jawab herti spontan.
"Ya mbak Herti, mari kita tunggu di mobil saja. Udaranya semakin dingin di sini." ajak pakde tejo masih terdengar di telingaku samar.
Namun sepertinya Arin menolak melihat ketika aku kembali ia masih berdiri mematung di tempat yang sama.
"Pak, maaf ini maksudnya apa ya? Bapak mau bawa kita kemana?" tanya Arin dengan tidak sabar.
"Aku sengaja manggil pakde tejo untuk mengantar kita. Karena kalau nunggu Bus selesai di perbaiki akan lama." jawabku menatap Arin membuatnya seketika mendelik tak suka.
"Maaf Pak, ini acara kantor. Tidak seharusnya bapak bersikap seenaknya seperti ini. Apa kata karyawan lain kalau kita seenaknya meninggalkan mereka. Acara ini di adakan juga untuk memupuk kebersamaan." ujar Arin berapi-api.
"Rin, aku tahu. Tadi aku udah bicara sama sopir menanyakan kapan ini akan selesai dan ternyata ini akan memakan waktu lama. Karena itu, aku minta tolong pakde tejo untuk jemput. Sedangkan untuk yang lain aku juga sudah memesankan beberapa mobil untuk mengantarkan mereka. Tuh mobilnya udah pada datang." jawabku selembut mungkin untuk meredakan emosi Arin.
Dan benar saja tepat apa yang aku bilang tampak beberapa mobil datang berjejer di sana. Membuat Arin terpaku diam membuatnya enggan kembali menjawab ucapanku.
Ku raih lengan Arin untuk menuntunnya menuju mobil kami. Dan aku juga sudah berpesan pada semua karyawan untuk menggunakan mobil yang telah aku siapkan. Dan meminta mereka memastikan agar tidak ada yang tertinggal ketika mengambil tas kami di Bus.
Arin diam tampak menurut dan tak mendebat lagi ketika aku menariknya dan menuntunnya menuju mobil. Aku pun membukakan pintu belakang untuknya, dan ia pun langsung masuk tanpa aku minta lagi.
__ADS_1
Setelah itu aku memutar langkahku untuk duduk di samping pak tejo sementara Andi dan Herti duduk bersama Arin. Setelah itu Arin benar-benar mengunci mulutnya seakan malas untuk bersuara kembali.