
Satria memilih untuk pulang ke rumah lama keluarganya yang ada di Bogor juga. Lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah Arin, tidak sampai setengah jam ia sudah sampai di sana.
Satria banyak merenung sejak pertemuan dengan kedua orangtua Arin beberapa saat lalu. Ia merasa sangat bersalah, dan merasa sangat sakit mendengar apa saja yang sudah terjadi pada Arin selama ini.
Dan semua itu adalah karena kesalahan yang telah ia lakukan di masa lalu. Satria menjadi bingung, di satu sisi ia sangat mencintai Arin tapi di sisi lain rasa bersalahnya pun begitu besar sampai ia tak memiliki keberanian untuk menghubungi Arin lagi sejak tadi.
Hari sudah beranjak siang, dan tidak ada satu pun pesan dari Arinda yang ia balas. Satria terlalu malu terhadap Arin karena sudah banyak membuat hidupnya begitu menderita. Namun ia tidak mengetahui apapun dan masih bisa menjalani hari-harinya dengan baik-baik saja.
Hampir pukul satu siang ketika sebuah mobil memasuki pekarangan rumah Satria. Dan begitu Satria mencoba mengecek siapa yang datang, ia pun begitu terkejut melihat semua keluarganya sudah berada di sana. Bahkan Arslan pun turut hadir di sana.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
"Loh kenapa semuanya ada di sini?" tanya Satria masih sedikit bingung dengan keberadaan keluarganya.
"Kamu bikin mama sama papa khawatir Sat." ujar sang mama sambil menggeret sebuah koper memasuki rumah di ikuti sang papa di sampingnya.
"Eyang juga ikut?" tanya Satria bodoh.
"Jelas-jelas eyang ada di sini, kenapa kamu bertanya loh Sat." jawab eyang nya sembari menggelengkan kepalanya heran.
Di belakang eyang nampak Citra dan Arslan tengah berjalan menyusul. Mereka berdua kompak menyapa Satria yang masih dalam mode bingungnya.
"Gimana mas hasilnya?" tanya sang mama begitu mereka duduk di ruang keluarga.
Satria hanya bisa menggeleng lemah mendengar pertanyaan mamanya. Ia tidak bersemangat untuk membicarakan apapun mengenai hal itu sekarang walaupun dengan keluarganya sendiri.
"Apa perlu kami bantu untuk bicara dengan kedua orangtua Arin mas?" tanya mamanya lagi membuat Satria seketika menggeleng kembali.
__ADS_1
"Gak usah ma, nanti aja ya kita bahas ini lagi. Satria pengen tidur dulu, semalem gak bisa tidur." ujar Satria pamit untuk pergi ke kamarnya.
Walaupun rumah tersebut sudah tidak di huni, tapi mama Satria mempercayakan seseorang untuk mengurus dan membersihkan nya setiap 2 hari sekali. Karena itu ketika mereka datang mereka sudah bisa langsung beristirahat karena kondisi rumah sudah dalam kondisi bersih dan terawat.
Mama menyuruh Citra untuk merapikan beberapa bahan makanan yang ia beli dalam perjalanan tadi. Sebelum pulang ke rumah, mama Satria memilih untuk mampir dulu ke supermarket guna membeli beberapa bahan makanan untuk di rumah selama beberapa hari.
Eyang putri sudah beristirahat di dalam kamarnya sejak tadi, hanya tinggal mama dan papa Satria saja yang memilih untuk bertahan di ruang keluarga. Keduanya tampak termenung dengan pikiran yang berkelana.
Sejujurnya melihat respon Satria tadi sudah barang tentu kedua orangtua Arin menolak mentah-mentah kedatangan Satria. Mereka juga sadar diri dengan apa yang menimpa Satria saat ini adalah buah dari masa lalunya yang kelam.
"Pa, apa kita tidak bisa berbuat sesuatu untuk anak kita?" tanya mama memecah sunyi yang sejak tadi mengisi.
"Bukan begitu ma, masalahnya tidak sesederhana itu. Bayangkan sendiri jika Arin menjadi putri kita. Apa kita akan begitu saja menerima Satria dengan masa lalunya." ujar papa Satria membuat istrinya akhirnya mengangguk setuju.
Memang benar, apa yang terjadi pada Satria belum tentu akan bisa di terima oleh calon mertua nya. Terlepas itu Arin atau siapapun. Karena setiap tua pastilah menginginkan yang terbaik untuk putrinya.
Apalagi sedikit banyaknya papa dan mama Satria sudah tahu tentang kesalahpahaman yang terjadi antara Arin dan Satria dulu yang di sebabkan oleh Vina. Tentunya kedua orangtua Arin berpikir jika Satria bukanlah laki-laki yang setia.
***
Sherina sudah bangun pagi-pagi sekali karena ia ingin bicara dengan Arin. Ia ingin meminta maaf atas sikapnya malam tadi. Tapi begitu ia pergi ke kamarnya ternyata Arin sudah pergi sejak pagi sekali.
Menurut penjaga kost Arin pergi setelah di jemput oleh laki-laki yang biasa mengantar dan menjemputnya. Dan laki-laki tersebut pernah memperkenalkan dirinya sebagai calon suami Arin.
Mendengar penuturan dari penjaga kost, Sherina tampak murung. Ia tidak ingin bersikap munafik seolah hal yang baru saja ia dengar tidak mempengaruhinya. Karena bagaimana pun perasaannya terhadap Satria pun bukan sesuatu hal yang dangkal.
Untuk meredakan rasa penat di hatinya Sherina memilih untuk pergi keluar. Ia akan berjalan-jalan sebentar sambil mencari udara segar untuk menghilangkan sesak di hatinya. Namun baru saja berjalan beberapa puluh meter keluar dari kost'an nya sebuah mobil pun menghampirinya.
Seorang laki-laki berpengawakan tinggi tegap dengan kulit putih dan mata berwarna coklat menghampirinya. Ia tersenyum lebar menampilkan deretan gigi putihnya membuat aura tampannya menguar begitu saja.
__ADS_1
Sherina pun sempat tertegun beberapa saat ketika melihat Raka berjalan ke arahnya. Sejujurnya Sherina akui, jika Raka adalah laki-laki yang sangat tampan. Dan dengan profesinya sebagai seorang dokter menambah nilai plus untuk dirinya.
"Mau kemana Sher?" tanya Raka begitu sampai di depan Sherina.
"Um, saya mau jalan-jalan aja kok di sekitar sini." jawab Sherina sedikit canggung.
"Oh seperti itu. Kalau begitu mau gak kalau ikut saya?" ujar Raka membuat Sherina mengernyit.
"Ikut kemana?"
"Udah, ayok ikut aja nanti juga tahu." ujar Raka sembari menggamit lengan Sherina tanpa permisi dan membawanya ke dalam mobil.
Sherina hanya bisa pasrah, ia juga sudah tahu dan yakin jika Raka adalah orang yang baik. Jadi Raka tidak mungkin berbuat macam-macam padanya. Setelah berkendara sekitar setengah jam akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.
Sherina tampak tersenyum melihat sebuah danau membentang cukup luas di depannya. Pepohonan pinus yang berada di sekitar danau menambah kesan sejuk dan udaranya pun terasa sangat segar bagi Sherina.
"Apa kamu masih sedih ?" tanya Raka bertanya.
"Bohong kalau saya bilang enggak." jujur Sherina sembari menghela nafas panjang.
"Sama kok, kamu gak sendiri." ujar Raka pada akhirnya membuat Sherina cukup terkejut.
"Aku juga sama patah hatinya dengan kamu." ujar Raka lagi mencoba jujur tentang perasaannya.
"Maksudnya gimana sih ka?" tanya Sherina masih tidak cukup mengerti.
"Aku pernah sangat mencintai Arin, dan kisah cinta ku tidak berbeda jauh dengan apa yang kamu alami dengan Satria. Dan bedanya aku belum selama seperti kamu mengenal Satria. Tapi rasanya benar-benar patah hati ini, lalu bagaimana dengan kamu ya?" kelakar Raka dengan kekehan lembutnya.
Kedua matanya menyipit dengan airmata yang menggenang. Kesedihan tampak tercetak jelas di wajahnya membuat Sherina tertegun untuk beberapa saat sebelum akhirnya tertawa kecil.
__ADS_1
Mereka pun tertawa bersama, menertawakan perasaannya yang saat ini sama-sama tengah merasakan pahitnya patah hati. Namun setidaknya kali ini mereka tidak sendiri. Mereka pun mencoba untuk saling menghibur satu sama lain atas apa yang sedang mereka alami saat ini.