
Hallo kak, terimakasih banyak untuk kalian yang masih setia baca cerita ini. Terimakasih yg selalu support dengan kasih like, komen, ataupun Vote nya.
Maaf karena terkadang gak bisa up setiap hari karena kondisi dan situasi di real life lagi emang gak memungkinkan.
Jadi saya cuma bisa up di jam-jam senggang kek gini. Dan maaf kalau gak bisa kebut2n karena cerita ini hampir 50 % based true story.
Jadi beneran ada kisahnya Arinda dan Satria ini.. (tapi nama dinsamarkan) Ya walaupun di beberapa bagian saya rubah karena gak mungkin di tulis sesuai cerita aslinya🤭
Semoga bisa ngikutin sampai tamat ya kak 😊
Thankyou so much, all of u 😍
Please, Dukung karya saya terus biar bisa sampai selesai.. Karena emang gak gampang buat selesai in ini.. huhu😥
***********
Setelah jam makan siang Bayu baru kembali ke perusahaannya. Ia banyak memikirkan kata-kata Rendy sejak meninggalkan restoran tempat mereka makan siang bersama.
Begitu sampai di ruangannya, sekretarisnya yang bernama Amel pun memberitahukan tentang kedatangan Satria sejak pagi dan siang tadi ketika jam makan siang.
Tapi Bayu seolah tak peduli dan tak acuh, ia pun menyuruh Amel untuk tidak perlu memberitahukan apapun hal yang terjadi selain mengenai pekerjaan.
Walaupun sedikit bingung dengan sikap Bayu, tapi Amel tidak berani membantah perintah atasannya tersebut. Bayu kini sedang di sibukkan dengan pengangkatan dirinya yang akan segera menjadi Direktur Utama di perusahaan tersebut.
1 bulan lalu, papanya sudah mengumumkan rencana pensiunnya dan penunjukan Bayu yang tak lain adalah putranya sendiri menjadi Direktur Utama menggantikan dirinya karena alasan kesehatan.
Papa Bayu sedang menjalani pengobatan untuk penyakit Radang selaput otak yang sudah ia derita selama 1 tahun belakangan ini. Dan tepat 1 minggu lagi akan di adakan pesta untuk perayaan pengangkatan jabatannya itu.
Ketika Amel hendak keluar dari ruangan Bayu, terdengar suara ketukan di pintu.
Tok tok tok,
"Masuk." ujar Bayu sembari memberikan kode pada amel untuk keluar.
Satria pun membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan Bayu. Bayu nampak tenang sambil membolak-balik halaman berkas yang sedang ia pelajari tanpa memperdulikan keberadaan Satria di sana.
"Bay, gue mau jelasin soal.. "
__ADS_1
"Gak perlu." ujar Bayu sembari menutup berkasnya dengan tiba-tiba.
"Gue gak mau denger penjelasan apapun tentang itu. Tapi gue bakal kasih 1 nasehat buat lu." sambungnya lagi membuat Satria masih bungkam mendengarkan apa yang akan Bayu katakan selanjutnya.
"Jangan pernah bermimpi buat dapetin dia lagi, dia lebih pantas dapet cowok yang lebih baik dari lu. Harusnya lu sadar, sama beban apa yang lu bawa." ujar Bayu membuat Satria begitu tersentak mendengarnya.
Tidak pernah sekalipun ia berpikir jika ia akan mendapatkan perlakuan seperti itu dari sahabatnya sendiri. Sabahat yang selalu bersamanya dan mendukungnya selama ini.
Satria tidak menyangka sedikit pun, jika Bayu akan bisa berbicara dan bersikap se angkuh itu. Akankah persahabatan mereka yang sudah terjalin selama 8 tahun lamanya akan hancur begitu saja.
Satria sadar diri jika apa yang Bayu katakan memang benar adanya. Ia memang tidak pantas untuk Arin dalam banyak hal. Terutama karena telah menjadi penyebab utama dari penderitaan yang Arin alami selama ini.
Karena merasa tidak ada lagi yang bisa ia bicarakan, Satria pun memutuskan untuk kembali ke ruangannya saja. Tapi belum sampai ia memegang gagang pintu untuk keluar, Bayu kembali mengatakan hal yang menyakiti hatinya.
"Dan tolong untuk selanjutnya, lebih baik anda bersikap lebih sopan di kantor. Karena saya adalah direktur utama perusahaan ini sekarang." ujar Bayu begitu menusuk.
Deg,
Hati Satria begitu sakit mendengar kalimat demi kalimat yang Bayu ucapkan padanya. Bayu adalah satu-satunya sahabatnya selama ini yang paling dekat dengannya, seperti orang asing sekarang.
"Baik, pak. Permisi." ujar Satria sebelum akhirnya meninggalkan ruangan Satria.
Flashback di restoran.
"Gue dari dulu udah bilang sama lu, jangan terlalu berkorban buat Satria. Kalau emang dia sahabat yang baik, mana mungkin dia dulu biarin Sherina ngejar-ngejar dia sementara dia tahu lu cinta mati sama Sherina." ujar Rendy kembali menghasut Bayu.
"Gak Ren, lu salah paham aja. Dulu Satria gak pernah kok nanggepin Sherina." jawab Bayu membantah.
"Kata siapa Satria gak pernah nanggepin Sherina? di depan lu aja dia sok nolak padahal di belakang lu, dia embat juga." ujar Rendy sembari memperlihatkan sebuah foto ketika Sherina memeluk Satria dan Satria tersenyum bahagia dalam foto tersebut.
Seketika amarah di dalam hatinya berkobar dan menyulut api kebencian untuk Satria di dalam hatinya. Diam-diam Rendy tersenyum puas dengan melihat raut wajah Bayu yang di penuhi kemarahan.
"Dan gue yakin sekarang, Satria gak akan mungkin biarin lu milikin cewek yang udah-udah jelas dia cinta mati dari dulu. Apalagi mereka pernah berhubungan, lebih gampang buat Satria dapetin balik tuh cewek dari pada elu Bay." ujar Rendy masih terngiang-ngiang di telinga Bayu.
Itulah hal yang membuat Bayu bersikap sedingin itu pada Satria. Ia merasa Satria telah menipu dan mengkhianatinya selama ini. Dan bukan tidak mungkin Satria akan melakukannya lagi.
Kali ini ia tidak akan menyerah pada siapapun untuk mendapatkan gadis yang ia cintai. Bayu sudah bertekad apapun caranya, ia akan mencoba mendapatkan hati Arin.
__ADS_1
Sementara Satria terlihat berjalan dengan lesu menuju ruangannya. Arin dan karyawan lainnya sedikit keheranan mendapati atasan mereka yang tidak seperti biasanya itu.
Awalnya Arin ingin bertanya tantang keadaan Satria, tapi ia urungkan karena takut jika Satria akan salah paham dengan sikapnya. Lagi pula ia harus bisa bersikap profesional selama di kantor, pikir Arin.
Hari itu berlalu dengan sangat berat bagi Satria. Malam hari hujan turun sangat deras ketika Arin hendak pulang. Kebetulan Satria berjalan di belakangnya, melihat Arin yang tampak kebingungan.
"Kamu gak di jemput? " tanya Satria
"Enggak Sat, aku pulang sendiri." jawab Arin sembari mengotak atik ponselnya untuk memesan taksi online.
"Ya udah, bareng aja yuk aku anterin." ajak Satria.
"Nggak usah sat, ini lagi pesan taksi kok. Bentar lagi juga dateng taksinya." ujar Arin.
"Oh ya udah, aku tungguin deh sampai datang taksinya." tawar Satria kembali.
"Eh, enggak usah Sat." tolak Arin kembali merasa sedikit tidak nyaman.
"Ini hujannya deras banget, pokoknya aku tungguin ya sampai kamu naik taksi." ujar Satria berkeras.
Arin pun bingung bagaimana lagi caranya untuk menolak Satria terlebih ia tidak tega karena sepertinya Satria terlihat berbeda hati ini. Ia tampak murung dan memiliki masalah yang cukup berat.
"Ya udah." jawab Arin masih sedikit canggung.
Walau bagaimana pun Arin sebenarnya sangat ingin menjaga jarak dengan Satria di luar konteks pekerjaan. Tapi entah kenapa ia menjadi tidak tega ketika mengingat wajah Satria yang tampak kusut.
Hujan sangat deras hingga petir menyambar-nyambar membuat Arin sedikit takut. Sejujurnya ia cukup lega ada seseorang yang menemaninya menunggu di sana.
Dan ketika petir menyambar dan menggelegar begitu keras menggema di langit, Arin sangat terkejut sekaligus ketakutan sehingga tubuhnya refleks memeluk Satria yang berdiri di sampingnya sembari menyembunyikan wajahnya dalam dada bidang Satria.
Tentu saja Satria sangat terkejut dengan apa yang Arin lakukan, hingga membuat jantungnya berdetak lebih kencang. Satria pun mencoba untuk menenangkan Arin, dengan mengusap punggung Arin dengan lembut sembari mencoba menyesuaikan detak jantungnya kembali.
Sejak dulu Satria sangat tahu jika Arin sangat takut dengan suara petir yang menggelegar. Karena itu ia bersikeras menemani Arin menunggu taksinya datang.
Tapi lain halnya dengan hati Satria yang berbunga-bunga, di sudut lain ada sahabat baiknya yang tengah mengepalkan tangannya begitu kuat menahan rasa marah dan cemburu.
Benar saja yang Rendy katakan, jika Satria tidak akan memikirkan perasaannya dan hanya akan mementingkan dirinya sendiri apalagi tentang Arin, pikirnya.
__ADS_1
Ia pun segera berbalik arah untuk kembali ke lobby dan keluar dari pintu yang lain. Segera ia menghubungi supirnya untuk datang ke pintu lain dan menunggunya di sana.