
Meisya kini menatapi wajah sahabatnya yang masih terlelap. Kamar yang biasanya selalu rapi dan bersih itu kini terlihat sedikit berbeda. Beberapa barang tampak berserakan dimana-mana.
Entah sudah berapa lama ia berada di sana, ia tidak ingin membangunkan Arin melihat wajahnya yang terlihat murung dan gelisah bahkan dalam tidurnya.
Tiba-tiba saja kedua mata Arin terbuka sempurna dengan nafas yang terengah-engah seperti sedang berlari kencang.
"Rin." panggil Meisya yang langsung mengalihkan pandangannya.
Belum sempat Meisya berujar, Arin langsung berhambur memeluknya mencari ketenangan di sana. Sahabat sekaligus kakak iparnya itu tidak mengucapkan satu patah kata pun dan hanya mengeratkan pelukannya seiring tangis Arin yang pecah.
Ia ingin membiarkan Arin mengeluarkan semua emosi yang tertahan selama bertahun-tahun dalam dirinya. Ia akan selalu berada di sana untuk mendampingi dan membantu Arin untuk bangkit menghadapi segala permasalahan yang ada.
Arin mencurahkan semua kesedihan dan sakit hatinya pada Meisya dalam sela tangisannya. Ibu tengah berdiri di depan pintu hanya bisa menahan dan menutup mulutnya agar tangisannya tidak terdengar oleh kedua putrinya di dalam.
Sebagai seorang ibu, tentu ibulah yang paling merasakan kesedihan atas apa yang Arin alami. Selama ini ibu dan ayah hanya berpura-pura seperti tidak terjadi apapun untuk menjaga hati putrinya.
Mereka juga bukan tidak tahu jika selama ini hampir setiap malam, Arin tidak pernah tertidur dan hanya menangis di dalam kamarnya. Sebagai orang tua mereka hanya bisa saling menguatkan untuk menjaga perasaan putrinya untuk tidak lagi terluka.
Mereka bahkan tidak pernah ingin membicarakan hal ini ketika Arin sedang berada di rumah. Mereka ingin Arin bisa perlahan melupakan kenangan buruknya tentang Satria.
Mereka ingin melihat Arinda bisa memulai hidupnya yang baru tanpa kesedihan dan kesakitan. Karena itu, apapun yang Arin inginkan selama ini selalu mereka dukung penuh tanpa melarangnya.
Termasuk ketika Arin memutuskan untuk pindah dan tinggal di Jakarta. Mereka tidak pernah menolaknya meskipun sebenarnya berat untuk berada jauh dari putri kesayangannya itu.
Bahkan Ayah pernah mengajak ibu untuk pindah ke luar kota dan memulai hidup baru di sana. Tapi Arin sendiri yang menolak dan melarang mereka untuk melakukannya.
Lagipula rumah, keluarga, dan pekerjaan ayahnya ada di kota hujan tersebut. Arin tidak ingi menyusahkan orangtuanya karena dirinya sendiri.
Ibu yang tidak tahan mendengar tangisan pilu putrinya itu memilih untuk pergi ke kamarnya. Di sana, ia menumpahkan tangisannya sejadi-jadinya.
Beberapa kali ibu memukul dadanya yang terasa begitu sesak. Ayah masih berada di halaman belakang menemani Raka. Sementara Adrian berada di kamar untuk menjaga bayi mereka.
"Nak Raka, boleh om tanya sesuatu?"
__ADS_1
"Iya om, silahkan.“
"Apa kamu menyukai Arin?“
"Sebenarnya saya sangat menyukai Arin om, tapi. "
"Sudah, om tahu maksud kamu.“
"Selama ini, Arin selalu menutup hatinya untuk laki-laki lain karena laki-laki brengsek bernama Satria itu!" kenang ayah Arin.
"Om harap, kamu akan tetap menyukai Arin dan tidak berubah. Om yakin, kamu bisa menjadi pengganti terbaik dari pada laki-laki itu."
"Saya serius om sama Arin, dan saya akan mencoba untuk tetap memperjuangkan Arin."
"Om tahu, kalau om tidak akan salah mempercayai orang. Tapi ada satu hal lagi yang harus kamu ketahui tentang Arin."
"Apa itu om?"
"Dulu ketika awal Arin mengetahui betapa brengseknya laki-laki itu, ia sangat terpukul. Mereka sudah berpacaran hampir 2 tahun dan keluarga kami saat itu pun sudah berhubungan dengan baik. Arin mempunyai mimpi untuk menikahi laki-laki itu suatu hari nanti. Dan begitu semuanya terbongkar Arin langsung memutuskan hubungannya dengan laki-laki tersebut. Saat itu Arin pertama kali mengenal cinta di usianya yang masih begitu belia, dan saat itu juga ia harus merasakan patah hati."
"Dan setelah hampir seminggu Arin seperti itu, kami memutuskan untuk membawa Arin ke psikiater. Tapi kami begitu terkejut melihat Arin yang meminum beberapa butir obat tidur secara bersamaan saat itu."
"Tentu saja saat itu kami sangat panik dan langsung membawanya ke rumah sakit. Beruntung nyawanya bisa tertolong saat itu, tapi begitu sadar Arin tetap diam seperti itu. Tidak ada kehidupan ataupun gairah yang terpancar dalam matanya."
"Saat om dan tante merawat Arin di rumah sakit, Meisya mencari tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Arin. Ia menemui Satria dan akhirnya dia sendiri yang menceritakan semuanya. Dan gadis yang ia hamili tersebut adalah mantan pacarnya sebelum Arin."
"Kami merasa sangat kecolongan sebagai orang tua. Padahal selama ini Satria di kenal sebagai anak yang pintar, santun, dan berprestasi di sekolah. Karena itu, tidak ada 1 pun dari teman-teman Arin mengetahui tentang hal yang terjadi pada Satria.“
"Disitulah om dan tante merasa gagal menjaga Arin dari laki-laki bajingan seperti Satria!“ ucap ayah dengan penuh amarah.
Raka sempat terkejut mendengar kenyataan tentang Arin yang bahkan pernah mencoba untuk mengakhiri hidupnya karena Satria. Raka bertekad jika ia akan menyembuhkan luka di hati Arin dan membuat Arin mencintainya dan melupakan Satria dan segala kenangan buruk mereka.
Ayah Arin pun begitu senang mendengar tanggapan Raka. Kini ia yakin jika ia tidak akan salah membiarkan putrinya dijaga oleh Raka.
__ADS_1
Dan di kamarnya kini tangisan Arin perlahan mereda walau masih di selingi isakan yang tertahan.
"Gue di sini Rin, gue dan semua orang selalu berada di sisi lo, buat ngedukung lo, dan mensupport elo apapun yang terjadi.“ ujar Meisya mencoba menenangkannya.
Arin hanya bisa menangis lega mendengar penuturan sahabatnya itu yang walaupun sudah menjadi seorang ibu tapi masih kekanak-kanakan selama ini.
Meisya tidak pernah menyuruh Arin untuk berhenti menangis ia malah menyuruh sahabatnya itu untuk terus menangis sampai ia benar-benar merasa puas dan tidak sanggup lagi melakukannya.
"Hari ini hari spesial buat lo, lo mau nangis seharian pun gue gak bakal kemana-mana dan terus di samping lo." ujar Meisya sambil menepuk bahu sahabatnya itu.
***
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
. Mohon maaf karena beberapa hari kemarin gak bisa up karena kebetulan author lagi sakit DBD. Hari ini di kasih double up..
__ADS_1
Terimakasih yang sudah membaca karya ini, dan terus mendukungnya 😘