Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Bab 114


__ADS_3

Sherina dan Raka telah kembali pada aktivitas kesibukannya masing-masing. Namun selama beberapa bulan ini hubungan mereka semakin dekat setiap harinya. Walaupun belum ada getaran cinta di antara keduanya namun mereka sudah bisa saling merasakan kenyamanan satu sama lain.


Berawal dari sering curhat menjadikan mereka teman dekat. Tidak hanya masalah percintaan, mereka berbagi banyak hal tentang kehidupan maupun karir dan bisnis mereka masing-masing. Tidak sering keduanya bertukar pendapat jika merasa sedang butuh masukan dari orang lain.


Bagi Raka selain wanita yang mandiri dan pekerja keras, Sherina juga merupakan wanita yang bijak. Sehingga ia nyaman berbagi banyak hal mengenai kehidupannya dan tidak segan untuk meminta pendapat jika memang sedang membutuhkannya.


Begitu juga dengan Sherina yang merasakan hal serupa. Meskipun mereka memiliki passion yang berbeda tapi mereka bisa saling mengerti dan mendukung dengan baik. Bukankah, terkadang kita memang membutuhkan saran dari orang yang berada di luar dari lingkungan kita? Pikir Sherina.


Mereka bisa berjalan berdampingan walaupun dunia mereka tidaklah sama. Bertemu dan mengenal sosok Sherina membuat pikirannya terbuka tentang banyak hal. Bahkan masih banyak hal tentang dunia ini yang tidak Raka ketahui, apalagi mengingat dirinya hidup sejak kecil dengan serba di mudahkan.


Keluarganya merupakan keluarga dokter selama 3 generasi. Karena ingin sedikit berbeda makanya ia mengambil spesialis kejiwaan agar ia bisa sedikit terlepas dari beban cap pewaris dari semua orang. Ia merupakan putra sulung dan satu-satunya anak laki-laki di keluarganya.


Karena hal tersebut ia merasa memiliki beban tersendiri. Untuk itu ia ingin mengambil langkah yang berbeda dari kedua orangtuanya yang merupakan dokter spesialis bedah jantung dan bedah tulang. Ia tidak ingin membuat orangtuanya kecewa jika ia tidak mengambil kuliah kedokteran.


Tapi di sisi lain ia pun tidak ingin terus menerus di bayangi dengan status pewaris dan segala tuntutannya. Sedangkan kedua adik perempuannya menjadi spesialis bedah jantung dan spesialis bedah dan ginekologi.


Ia tidak menyukai pola pikir keluarganya yang masih memegang teguh budaya patriarki. Dimana anak laki-laki di dalam keluarga memiliki peranan lebih penting dan hak yang lebih dari pada anak perempuan. Karena itu ia selalu mendukung kedua adiknya yang di rasa lebih memiliki bakat untuk mengurus rumah sakit milik keluarganya tersebut.


Meskipun mendapatkan penolakan berkali-kali karena spesialis yang dia ambil bertentangan dengan keinginan kedua orangtuanya tapi Raka tetap konsisten pada pendiriannya.


Karena itu ibunya berkali-kali sempat menjodohkannya dengan beberapa anak dari koleganya yang juga merupakan keluarga dokter beberapa generasi. Sayangnya dari semua usaha tersebut tidak satu pun yang membuahkan hasil.


Akhirnya ibunya Raka pun menyerah dan menyerahkan sepenuhnya tentang apa jalan hidup yang akan Raka pilih dan bagaimana kriteria ia dalam mencari pasangan. Kedua orangtuanya akhirnya membebaskan Raka untuk membuat pilihannya sendiri asalkan ia bahagia.


Karena bagaimana pun kebahagiaan putra mereka jauh lebih penting di atas segalanya. Sejak kecil keluarga mereka merupakan keluarga yang sangat harmonis meskipun kedua orangtuanya di jodohkan namun pada akhirnya mereka bisa saling mencintai seiring berjalannya waktu.

__ADS_1


Seperti hari-hari sebelumnya di hari senin sampai Jumat mereka akan di sibukkan dengan pekerjaan masing-masing. Namun ketika hari sabtu tiba mereka selalu menyempatkan waktu untuk sekedar makan ataupun nonton bersama.


Dan hari ini keduanya memutuskan untuk nonton bersama di bioskop yang ada di salah satu mall terbesar di pusat kota. Seperti biasa Raka menjemput Sherina ke kedai angkringannya sekitar pukul 4 sore. Kedai mereka buka setiap hari sejak pukul 3 sore dan sebelum pergi dengan Raka, Sherina ingin membantu di kedai sebentar.


Tidak jarang Herti maupun para karyawan Sherina menggoda mereka yang selalu pergi bersama namun selalu menyangkal tentang hubungan spesial di antara keduanya. Namun baik Raka maupun Sherina tidak pernah menganggap serius apa yang mereka katakan.


Karena tidak ada yang salah dengan apa yang orang pikirkan. Kenyataannya pergi bersama Raka di hari sabtu ataupun minggu menjadi rutinitas nya yang baru selama beberapa bulan ini. Sherina dan Raka sudah sama-sama dewasa, dan status pacaran saat ini belumlah penting untuk mereka bicarakan.


Yang terpenting saat ini adalah kenyamanan di antara mereka satu sama lain. Jika mungkin memang mereka merasa cocok untuk menjalin hubungan ke arah yang lebih serius maka mereka akan membicarakannya secara terbuka.


Toh mereka sudah bukan ABG lagi yang harus jalan karena status pacaran. Kecocokan dan kenyamanan adalah hal yang utama bagi keduanya. Ketertarikan dan perasaan akan tumbuh dan mengikuti perkembangan hubungan mereka nanti.


Untuk saat ini mereka hanya ingin menikmati waktu dan kesempatan yang ada sebaik mungkin. Mereka sadar di usia mereka saat ini komitmen menjadi hal terpenting yang di butuhkan.


Dan untuk mencapai sebuah komitmen di butuhkan kecocokan dan komunikasi yang baik. Setelah itu biarlah hubungan mereka mengalir seperti air, tidak perlu melawan hanya perlu mengikuti langkah demi langkah untuk mencapai sebuah komitmen dan keseriusan dalam menjalin sebuah hubungan.


Agar suatu saat nanti hal tersebut tidak menjadi alasan bagi keduanya terlibat dalam pertengkaran. Dan selain ekonomi yang mumpuni, Raka juga memiliki fisik yang rupawan. Sejujurnya dengan wajah sedikit blasteran, Raka terlihat sedikit lebih tampan dari Satria yang berwajah lokal.


Dan tentunya yang paling penting adalah kepribadian Raka itu sendiri. Selain perhatian dan pengertian, Raka juga orang yang pintar dalam membaca situasi dan menyesuaikan diri dalam bersikap. Ia bisa mengimbangi beberapa kekurangan dalam diri Sherina dan selalu sabar dan bersikap dewasa dalam mengahadapi sebuah masalah.


Setelah sampai di tempat tujuan mereka berdua pun langsung naik ke lantai teratas dimana bioskop berada. Mereka tidak perlu repot-repot lagi untuk mengantre karena Raka sudah membooking tiket untuk mereka berdua sebelumnya.


Dan begitu mereka hampir memasuki ruangan theater, seseorang tampak menahan tangan Raka membuat keduanya menoleh begitu Saja. Raka dan Sherina tampak mengernyit melihat seorang perempuan yang berusia sekitar 24 tahun.


Selain memiliki wajah yang cantik, gadis tersebut memiliki senyuman yang menawan. Sherina yang melihat bagaimana cara gadis tersebut memandang Raka merasa sedikit tidak nyaman di buatnya.

__ADS_1


"Mas Raka, sudah lama tidak bertemu." sapa gadis tersebut dengan begitu manis.


"Maaf anda siapa?" tanya Raka dengan wajah datarnya menatap ke arah gadis asing tersebut.


Mendengar jawaban Raka membuat Sherina hampir saja tertawa karena senang. Meskipun entah untuk alasan apa. Senyuman di wajah gadis tersebut langsung surut mendengar apa yang Raka katakan.


"Maaf mas, saya Virly putri dari dokter Gunawan. Saya adik dari mbak Cintya yang pernah di jodohkan dengan mas beberapa waktu lalu." jawabnya terlihat sedikit menahan malu.


"Oh iya, maaf saya tidak mengenal kamu karena saya hanya pernah melihat kamu 1 kali saja saat acara makan malam keluarga." ujar Raka berbicara seadanya.


Sherina pun menyentuh pundak Raka mencoba mengingatkan tujuan utama mereka ke sana. Beberapa menit lagi film akan segera di putar dan ia tidak ingin berlama-lama lagi berdiri di sana. Apalagi sikap gadis di hadapannya saat ini cukup membuatnya kesal.


Gadis tersebut hanya menyapa Raka dan tidak sedikitpun melirik ke arahnya. Seakan-akan ia tidak ada di sana dan hanya sebagai makhluk tak kasat mata. Dari pandangannya saja Sherina bisa melihat jika gadis tersebut menaruh hati pada Raka.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2