Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Pertemuan


__ADS_3

Arin sedang memandangi ponselnya yang baru saja ia aktifkan setelah 2 hari tak ia sentuh. Beberapa kali ia membuka kontaknya dan mencari nama Satria untuk menghubunginya tapi Arin masih ragu sehingga mengurungkan niatnya.


Dan tiba-tiba saja ponselnya berdering dengan nama Satria yang muncul sebagai penelepon nya. Arin membeku sesaat merasa ragu untuk mengangkatnya tapi ia kembali memikirkan kembali apa yang Raka katakan.


Akhirnya Arin pun menerima panggilan tersebut dan di seberang telepon sana Satria pun tersenyum lega karena Arin mau bicara dengan nya.


"Halo, Arin."


"Ya."


"Bisa kita ketemu?"


"Baiklah."


"Benarkah? Kamu bener-bener mau nemuin aku rin? "


"Hem."


"Aku jemput kamu sekarang? "


"Gak usah, kita ketemu di taman biasa."


"Oh, ya sudah. 30 menit lagi aku sampai."


"Ya."


Begitulah isi percakapan mereka di telepon. Walaupun Arin berbicara dengan sangat singkat, tapi Satria sangat senang. Karena setidaknya Arin bersedia menemuinya. Ia pun semakin bersemangat dan berniat untuk mengatakan kebenaran yang selama ini Arin tidak pernah ketahui.


Karena selama ini ia belum sempat menjelaskan kejadian yang sebenarnya tentang Fina. Setidaknya Arin harus tahu, jika ia tidak pernah mengkhianati nya ketika mereka masih bersama.


Semua itu terjadi jauh sebelum mereka menjalin hubungan. Walaupun itu tidak bisa membenarkan apa yang telah ia lakukan, setidaknya ia tidak ingin Arin membencinya karena menganggapnya sebagai pengkhianat.


~


Di rumah, Arin terlihat sudah rapi. Ia pun turun dan segera mencari Raka untuk mengantarnya menemui Satria. Ia tidak bisa tenang jika ia pergi sendiri untuk menemui Satria.


"Bu, Raka dimana? "


"Raka di depan sama ayah lagi ngopi."


"Oh ya sudah, Arin ke depan dulu. "


"Sayang, kamu mau kemana memang sudah rapi? " tanya ibu.


"Aku pengen keluar sebentar bu, jalan-jalan aja biar gak suntuk." ujar Arin terpaksa berbohong.


Karena tentu saja ibunya tidak akan mungkin mengijinkannya jika ia mengatakan yang sebenarnya.


"Ya sudah, kamu hati-hati kalau gitu." pesan ibu.


Arin pun bergerak ke halaman depan rumahnya mencari Raka dan ayahnya yang sedang terlibat pembicaraan seru.

__ADS_1


"ayah." panggil Arin


"Eh, anak ayah kok udah cantik aja sih?"


"Ayah, malu ih sama Raka."


"Loh kenapa malu? Kan kamu emang anak kesayangan ayah."


"Ih ayah, udah ah."


Ayah dan Raka tertawa senang menggoda Arin yang hanya bisa tersenyum kecut.


"Ngomong-ngomong, kamu mau kemana jam segini udah rapi, udah cantik? " tanya ayah serius.


"Aku pengen jalan sebentar yah keluar, boleh kan yah?" tanya Arin.


Ayah pun menatap ke arah Raka sembari tersenyum.


"Boleh sayang, kamu di antar Raka kan tapi?“ tanya ayah.


" Iyah dong, masa Raka aku tinggal." jawab Arin.


Mereka berdua pun berpamitan pada ayah sebelum akhirnya pergi menggunakan mobil Raka.


"Kita mau kemana rin?"


"Ketemu Satria. Kamu jalan lurus aja nanti aku tunjukkin jalannya."


Tidak sampai 15 menit akhirnya mereka sampai di tempat yang di tuju.


"Kamu tunggu di sini aja, aku gak lama." ujar Arin sembari melepas sabuk pengamanannya.


"Kamu yakin gak perlu aku temani?" tanya Raka memastikan.


"Gak usah, kamu tunggu aja."


"Ya sudah, kau ada apa-apa langsung telepon aku ya." ujar Raka sembari memegang tangan Arin.


"Ya, aku pergi dulu."


Arin pun menghela nafas cukup panjang sebelum akhirnya melangkah memasuki area taman. Ini adalah taman yang sama, dimana 2 hari yang lalu ia bertemu dengan Satria.


Satria terlihat sudah duduk di bangku taman menandakan ia sudah datang lebih dulu. Dari jauh ia melambaikan tangannya sambil tersenyum menatap Arin.


Arin tertegun beberapa saat menatap Satria dengan tatapan tak terbaca. Tiba-tiba Satria yang ia lihat berubah menjadi Satria muda yang pernah begitu ia cintai 8 tahun lalu.


lalu terdengar suara seorang gadis memanggil nama Satria dengan berlari menghampiri Satria di sana. Satria memberikan sebuah boneka beruang berwarna putih berukuran besar dan beberapa tangkai bunga mawar kepada gadis itu.


Itu adalah kenangannya ketika mereka merayakan anniversary 1 tahun berpacaran. Gadis itu tampak tersenyum dengan cerah dan terlihat sangat bahagia dengan apa yang Satria berikan.


Dan gadis itu adalah dirinya sendiri di masa lalu. Arinda pun tersadar ketika Satria menyentuh tangannya. Sejak tadi Satria memanggil Arin, tapi Arin hanya terus menatapnya dengan kosong.

__ADS_1


Karena khawatir Satria pun menghampiri Arin dan mencoba menyadarkan Arin dari lamunannya. Arin pun dengan refleks menarik tangannya menghindari sentuhan dari Satria.


"Maaf, aku cuma khawatir aja sama kamu dari tadi diem terus aku panggil." Satria berujar dengan tulus.


"Iya, gak apa-apa." jawab Arin sedikit acuh.


"Ya udah kita ke sana yuk, biar enak kita bisa bicara sambil duduk." ajak Satria tapi Arin tampak tidak bergerak sedikit pun.


"Kita cari tempat lain." ujar Arin sembari melangkah mendahului Satria.


Setelah berjalan beberapa meter akhirnya mereka menemukan tempat yang nyaman. Arin dan Satria mengambil posisi duduk bersebelahan tapi Arin tetap memberi jarak di antara mereka.


Suasana mendadak canggung, mereka berdua sama-sama tidak tahu harus memulai dari mana. Sampai akhirnya Satria mengambil langkah untuk memberanikan diri berbicara lebih dulu.


"Aku minta maaf tentang kejadian terakhir." ujar Satria.


"Lupakan tentang itu, aku datang ke sini untuk mendengarkan penjelasan kamu yang tidak pernah ingin aku dengar selama 8 tahun. Aku akan memberikan kamu kesempatan untuk menjelaskan semuanya."


"Terimakasih." ujar Satria merasa senang.


"Ada 3 hal yang ingin aku jelaskan pada kamu. Dan aku harap kamu bisa mendengarkan aku untuk kali ini saja. Aku bersumpah, tidak ada kebohongan sedikit pun dalam semua perkataan ku kali ini. "


"Baiklah, hanya untuk saat ini. Ini adalah pertama dan terakhir kalinya aku akan mendengar penjelasan kamu."


Satria pun mencoba menarik nafas panjang sebelum menjelaskan semua kebenaran yang selama ini belum sempat ia jelaskan pada Arin.


"8 tahun yang lalu, ketika Fina datang kepada kamu dalam keadaan hamil itu adalah sebuah kebohongan." jelas Satria membuat Arin tersentak.


"Gak mungkin, Satria. Jangan pernah kamu coba bohongin aku lagi." ujar Arin penuh emosi dengan sekuat tenaga ia mencoba untuk tidak membiarkan air mata lolos dari pipinya.


"Please dengerin aku sampai selesai, jangan bicara sampai aku selesai. Tolong kamu dengarkan penjelasan aku dulu, please." ujar Satria sambil memegang kedua lengannya dan menatap ke dalam matanya membuat Arin kembali terdiam.


"Yang pertama, aku tidak pernah mengkhianati kamu sekalipun selama kita berpacaran hampir 2 tahun. Aku tidak pernah menghamili Fina ketika aku bersama kamu." jelas Satria dengan suara bergetar menahan emosinya sendiri.


"Bohong." ujar Arinda sambil menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Yang kedua, memang aku pernah menghamili Fina. Aku mengakuinya di depan kamu saat ini. Tapi itu tidak terjadi setelah kita berhubungan.


Kamu ingat ketika aku di kelas 3 dan tiba-tiba aku dan Fina memutuskan pindah sekolah? Saat itu aku tidak sengaja menghamili Fina, karena Fina menjebak aku dengan minuman. Aku tidak pernah mengkhianati kamu sekalipun." jelas Satria kembali mengeratkan pegangannya di lengan Arin dengan air mata yang sudah mulai lolos dari kedua matanya.


"Dan yang ketiga, aku tidak pernah berniat membohongi kamu tentang Arslan yang sebenarnya adalah anak aku sendiri. Tapi, aku takut kalau kamu gak bisa terima masa lalu aku ketika kamu tahu semuanya. Aku terlalu takut kamu ninggalin aku."


"Maafin aku rin, aku mohon maafin aku karena udah sembunyiin masa lalu aku dari kamu. Aku benar-benar menyesal. Aku memang menyembunyikan kebenaran tentang Arslan tapi aku gak pernah mengkhianati kamu" ujar Satria yang kini sudah bersimpuh di hadapan Arin sambil menangis.


Sementara Arin sangat shock mendengar kebenaran yang selama ini telah Satria sembunyikan. Ia tidak tahu apa yang harus ia rasakan saat itu, bahkan ia tidak bisa berkata-kata apapun dan hanya bisa menangis menahan sesak di dadanya.


Semua hal yang Satria ungkapkan begitu sulit untuk ia terima. Ia sendiri telah bersalah karena tidak pernah mau untuk mendengar penjelasan Satria selama ini dan terus menghindar.


Tapi di sisi lain ia juga begitu kecewa mendengar kenyataan yang sebenarnya jika Satria benar telah memiliki seorang anak dari Fina. Arin merasa sangat tersiksa dengan semua itu selama bertahun-tahun, tapi ternyata itu hanyalah separuh kebenaran yang ia ketahui.


Perlahan kedua tangan Arin bergerak menyentuh kepala Satria yang bersandar di kedua pahanya sambil menangis. Satria pun bangkit dan mereka berpelukan untuk pertama kalinya setelah 8 tahun.

__ADS_1


Mereka sama-sama menumpahkan semua perasaan mereka saat itu.


__ADS_2