Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Surat pengunduran diri


__ADS_3

Hari yang di tunggu-tunggu oleh 2 orang manusia itu pun akhirnya tiba. Herti dan Andi sudah siap menunggu Arin di lobby kantornya. Mereka sepakat untuk menahan rasa penasaran mereka sampai bisa bertemu langsung dengan Arin.


Dan tidak berselang lama, mereka melihat Satria datang dengan wajah cerah dan segarnya. Mereka pun sempat di buat terdiam melihat orang yang menjadi penyebab rasa penasaran mereka itu sejak 2 hari lalu.


"Selamat pagi." sapa Satria dengan ramah membuyarkan lamunan dua sejoli itu.


"Eh, sse.. selamat pagi pak." jawab mereka bersamaan dengan gugup.


Satria pun sedikit merasa aneh dengan tingkah keduanya, namun ia tak mau ambil pusing dan memilih untuk melanjutkan langkahnya. Tapi baru 2 langkah yang ia ambil, ia pun kembali menghampiri kedua bawahannya tersebut.


"Andi, terimakasih ya atas bantuannya tempo hari." ujar Satria mengulurkan tangannya.


"Eh, i.. iya Pak sama-sama." jawab Andi terbata sembari menjabat tangan Satria.


"Nanti siang saya traktir kalian berdua deh, sebagai ucapan terimakasih. Kasih tahu Arin ya, kamu juga Herti boleh kok kalau mau ikut." ujarnya panjang lebar membuat sepasang manusia itu hanya bisa saling pandang.


"Gimana? mau kan?" tanya Satria lagi menunggu jawaban.


"Oh iya pak siap, terimakasih." ujar Herti mengumbar senyuman di bibirnya.


"Oke, nanti berangkat pakai mobil saya aja ya." ujar Satria sambil berlalu meninggalkan keduanya.


Setelah Satria pergi, mereka berdua pun tertawa heboh dan memikirkan sebuah rencana yang bagus. Setelah berdiskusi beberapa saat mereka akhirnya memilih untuk masuk menuju ruangan mereka tanpa menunggu Arin.


10 menit kemudian Arin sampai di parkiran dan segera memarkirkan kendaraan roda dua kesayangannya itu. Ia menghela nafas kasar sambil melihat kembali sebuah amplop berisi surat pengunduran dirinya yang sudah ia siapkan.


Arin memutuskan untuk mempercepat kepindahannya dan segera mengundurkan diri dari pekerjaannya. Ia juga sudah menghubungi kedua orangtuanya dan mengatakan keputusannya itu.


Baik ibu maupun ayahnya memberikan dukungan penuh untuk keputusan yang di ambilnya. Mereka ingin putri mereka lekas sembuh dan bisa seperti dulu lagi. Apapun akan mereka lakukan untuk putri kesayangannya itu.

__ADS_1


Arin berjalan dengan langkah tegasnya menuju ruangan HRD untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya tersebut.


Tok tok tok,


"Masuk."


" Oh mbak Arin, silahkan masuk." sapa kepala HRD yang bernama bu Retno.


"Selamat pagi bu, bisa minta waktunya sebentar?" ujar Arin dengan lembut.


"Oh, bisa-bisa. Silahkan duduk dulu mbak Arin." jawab bu Retno dengan ramah.


"Gimana mbak? ada yang bisa di bantu?" tanya bu Retno lagi.


"Begini bu, saya berencana untuk mengundurkan diri dari perusahaan. Dan kebetulan kontrak kerja saya akan berakhir awal bulan depan." ujar Arin dengan lugas sembari menyerahkan sebuah amplop berisi surat pengunduran dirinya.


Bu Retno yang mendengarnya sedikit terkejut dan langsung mengubah ekspresi wajahnya yang tampak santai menjadi lebih serius.


Karena notabene nya bu Retno adalah orang pertama di perusahaan ini yang Arin kenal dengan baik. Beliau banyak membantu Arin selama ini hingga hubungan mereka cukup dekat walaupun tidak bekerja di divisi yang sama.


"Maaf Bu, saya mengundurkan diri karena alasan pribadi." ujar Arin sedikit menundukkan wajahnya.


"Maaf kalau boleh ibu tahu, sebenarnya ada apa? Rin, ibu kenal kamu dengan baik. Kamu selama ini selalu bekerja dengan baik dan profesional. Kenapa tiba-tiba kamu mengundurkan diri seperti ini?" tanya bu Retno lagi yang sudah sangat penasaran.


Arin pun mengeluarkan sebuah surat hasil diagnosis dari psikiaternya pada bu Retno. Bu Retno pun membaca surat tersebut dengan sedikit terkejut.


"Kamu?"


"Iya bu, saya ingin memulihkan diri saya terlebih dulu dan meninggalkan jakarta. Itu sebabnya, saya memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak kerja saya. Saya harap ibu bisa mengerti dan membantu saya sekali lagi." ujar Arin penuh harap.

__ADS_1


"Kamu tenang saja, saya pasti bantu kamu." ujar bu Retno menggenggam tangan Arin menguatkan.


"Terimakasih ya bu, dari awal saya bekerja di perusahaan ini ibu adalah orang yang selalu membantu saya." ujar Arin tulus.


"Sama-sama nak, kamu selalu mengingatkan saya pada anak saya. Semoga kamu selalu bahagia dengan apapun jalan yang kamu pilih." ujar bu Retno dengan mata yang sudah berkaca-kaca lalu mereka berdua tertawa bersama.


Bu Retno pun berdiri dan segera menghampiri dan memeluk Arin dengan penuh kasih sayang. Sejak awal, ia bisa melihat Arin adalah gadis yang baik dan pemberani. Tapi ia seperti menyembunyikan sebuah luka yang besar dalam dirinya.


Setelah hampir 15 menit berada di ruangan bu Retno, Arin segera menuju ruangannya. Semua orang sudah tampak bersibuk dengan pekerjaan masing-masing ketika Arin sampai.


Ia pun segera ke mejanya dan mulai menyiapkan dirinya untuk ikut bertempur dengan tumpukan berkas yang sudah tersedia di mejanya.


"Enak banget yaa datang telat. Berasa kantor pribadi." cetus Ike membuat semua orang menoleh ke arahnya.


"Kenapa pada liat gue, harusnya dia tuh yang kalian pelototin kayak gitu." ujarnya tidak terima.


"Mbak Arin udah dateng mbak dari tadi, cuma ke ruangan HRD dulu tadi saya liat." ujar Dea anak magang yang baru 2 minggu bekerja di sana.


"Eh elu tuh cuma anak magang di sini gak usah sok sok belain dia deh." ujar Ike tersulut emosi.


"Ke, stop. Kita tuh di sini sama-sama kerja. urus aja kerjaan kamu sendiri." ujar Arin membuat Andi dan Herti tertawa puas.


Tidak biasanya Arin menjawab nyinyiran rekan kerjanya itu. Tapi kali ini ia tidak bisa tinggal diam lagi begitu saja, ia tidak ingin merusak hari-hari terakhirnya dengan terus di rendahkan oleh orang lain.


Kurang dari 2 minggu lagi ia akan tetap bekerja di perusahaan itu, jadi Arin ingin mengingat kesan yang baik ketika bekerja. Ike hanya bisa mendengus sebal mendengar jawaban Arin yang di ikuti tawa puas rekannya yang lain.


Sementara Satria sedang tersenyum senang menatap kagum pada mantan kekasihnya itu. Arin selalu terlihat tenang bahkan ketika ia benar-benar kesal sekalipun, pikir Satria.


Di ruangannya Bayu tengah merancang sebuah rencana yang sangat rapi untuk menendang Satria keluar dari perusahaan. Dan tentunya itu akan membuat Satria tidak akan memiliki muka di hadapan bawahannya sekalipun.

__ADS_1


"Hari kehancuran lo semakin dekat bro. Welcome to the hell. " ujar Bayu dengan senyum menyeringai.


__ADS_2