Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Bab 110


__ADS_3

Jika Satria kini sudah merasa lega karena bisa kembali ke sisi orang-orang terkasihnya. Lain halnya dengan Bayu yang baru saja di nyatakan meninggal dunia tepat 1 hari sebelum Satria sadar.


Selama beberapa hari ini Bayu telah menjalani perawatan insentif, tapi rupanya tuhan berkehendak lain. Bayu telah berpulang, dan kenyataan itu begitu memukul telak keluarganya.


Begitu juga dengan kabar yang di bawa oleh pihak kepolisian jika Putra kebanggaan mereka menjadi dalang dalam penculikan mantan karyawan mereka di perusahaan serta percobaan pembunuhan terhadap Satria yang notabenenya mereka kenal sebagai sahabat dekat Bayu.


Pihak kepolisian pun telah menjelaskan kronologi sebenarnya dan motif dari putra mereka menculik Arinda. Mama Bayu merasa begitu shock mendengarnya, ia tidak menyangka Bayu bisa berbuat senekad dan sejauh itu.


Apalagi Bayu adalah orang yang sangat tertutup terhadap kehidupan pribadinya. Meskipun begitu, kedua orangtuanya hanya bisa menerima kenyataan pahit yang mereka alami saat ini.


Bahkan papa Bayu langsung menjenguk Satria dan menemui keluarganya saat mengetahui fakta tersebut. Ia meminta maaf dengan tulus untuk apa yang telah putranya lakukan. Bagaimana pun kedua keluarga sudah saling mengenal dengan baik, tentunya.


"Pak Rahmadi, saya sangat betul-betul menyesal tentang apa yang terjadi di antara kedua anak kita. Sejujurnya saya tidak percaya, karena setahu saya hubungan Bayu dan Satria benar-benar dekat layaknya saudara. Tidak pernah terpikirkan di benak saya, jika Bayu bisa bertindak sejauh ini hanya karena cinta buta." ujar pak Wardana dengan tulus.


"Pak Wardana, saya pun tahu betul bagaimana watak Bayu seperti apa. Seperti bapak yang mengenal Satria dengan baik dan selalu menganggapnya seperti keluarga begitu pun kami. Tapi begitulah kehidupan, jalannya tidak bisa kita tebal dan terka sesuka hati. Apapun yang terjadi, saya harap tidak menjadi beban di hati pak Wardana. Saya dan istri sudah ikhlas dengan apa yang terjadi, semoga tuhan yang maha kuasa berkehendak untuk memberikan kesembuhan bagi keduanya. Untuk saat ini, hanya itulah yang paling penting." jawab papa Satria mencoba menenangkan laki-laki yang beberapa tahun terlihat lebih tua darinya.


Papa Satria sangat tahu, jika pak Wardana sedang dalam kondisi kesehatan yang tidak cukup baik. Bahkan ia bisa melihat jelas wajah pucat pak Wardana, walaupun ia selalu berkata baik-baik saja.


Papa Satria mengenal keluarga Wardana cukup baik karena hubungan persahabatan kedua putra mereka. Karena itu ia pun sedikit merasa tidak enak hati, apalagi pak Wardana memiliki kondisi kesehatan jantung yang cukup mengkhawatirkan.


Ia tidak ingin memberikan beban pikiran ataupun tekanan yang bisa mempengaruhi kesehatan pak Wardana. Karena bagaimana pun ia tidak boleh menanggung beban kejahatan yang di lakukan oleh putranya.


Dan ketika Bayu di nyatakan meninggal pun, papa Satria menyempatkan diri untuk ikut mengantarkan jenazah Bayu ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Dan di esok harinya keajaiban pun terjadi dimana Satria akhirnya sadar dari koma nya.


Keluarga Satria meminta Arin untuk ikut menyembunyikan kabar meninggalnya Bayu. Karena bagaimana pun Bayu pernah menjadi orang terdekat di hidup Satria, karenanya mereka tidak ingin memberikan kabar buruk tersebut pada Satria.


Setidaknya, sampai Satria benar-benar sudah di rasa cukup kuat untuk menerima kabar tersebut. Semenjak sadar dan di pindahkan ke ruang perawatan, Arin terus mendiamkan Satria.

__ADS_1


Ia sangat ingin marah dan menumpahkan kekesalan dan kekecewaannya terhadap Satria. Tapi melihat kondisi Satria yang seperti itu, Arin hanya bisa memilih untuk bertahan dan menyimpan semua perasaannya sendiri.


Karena itu ia memilih untuk lebih banyak diam dari pada ia melampiaskan kekesalannya terhadap Satria yang kini masih menjadi seorang pasien rumah sakit.


"Sayang, please." ujar Satria yang sudah sangat merasa tidak tahan dengan diamnya Arinda.


Arin pun hanya menoleh sekilas dan kembali melanjutkan apa yang ia lakukan sejak sampai di ruangan tersebut. Ia memilih untuk fokus membaca novel online kesukaannya daripada meladeni Satria.


"Yang, maafin aku ih." ujar Satria mencoba membujuk Arin.


"Memangnya kamu salah apa?" tanya Arin acuh .


"Iya aku salah karena gak bilang sejujurnya tentang Sherina." jelas Satria setelah menghela nafas beberapa kali.


"Dia sahabat baru aku loh Sat, seandainya kamu lupa." ujar Arin berpura-pura mengingatkan walaupun sebenarnya ia hanya sedang menyindir Satria.


"Sayang please, aku tuh bingung harus buktiin gimana lagi sih caranya supaya kamu tuh percaya sama aku. Apa aku harus.." Satria tidak bisa menyelesaikan kata-katanya karena Arin menahan bibirnya untuk bicara menggunakan isyarat tangannya.


"Gak ada hal yang kamu perlu buktikan Sat, cukup." ujar Arin dengan mata yang sudah kembali membasah ia pun memeluk tubuh Satria dengan begitu hati-hati.


"Jangan pernah terluka lagi karena aku, ya." pinta Arin kembali dengan sendu.


Sejujurnya ia sangat merasa bersalah dengan apa yang terjadi. Apalagi Arin juga sudah mendengar apa yang terjadi dengan Bayu, ia tidak tahu bagaimana reaksi Satria jika mengetahui yang sebenarnya.


Dan untuk masalah Sherina, tidak ada yang salah dengan Satria, Arin sendiri lah yang merasa bersalah terhadap Sherina. Tapi ia melimpahkan semuanya pada Satria tanpa ia sadari.


***

__ADS_1


Di hari berikutnya, banyak sanak saudara Satria yang datang untuk menjenguk. Bahkan Sherina, Herti, Andi dan Raka pun datang untuk melihat kondisi Satria yang sudah cukup membaik. Arin berusaha untuk menutup mata pada masa lalu yang terjadi di antara Satria dan juga sahabatnya. Lagi pula, perasaan bukan lah sesuatu hal yang bisa di paksakan.


Bahkan tanpa ia kembali pada Satria pun, hubungan keduanya tetap tidak akan berkembang dan hanya jalan di tempat saja. Karena itu hanyalah cinta yang bertepuk sebelah tangan, meskipun ia merasa kasihan ada Sherina tapi untuk memberikan Satria rasanya dia tidak akan rela.


Untuk kali ini Arin ingin bersikap egois dan memperjuangkan kebahagiaannya sendiri. Kedatangan mereka tidak terlalu lama, karena dokter memang tidak memperkenankan Satria untuk berinteraksi lama dengan orang yang datang membesuk.


Ia harus banyak istirahat agar kondisinya bisa segera pulih dan kembali beraktivitas seperti biasa. Menjelang sore, Arin begitu terkejut dengan kedatangan ayah, ibu dan kedua saudara laki-lakinya. Arin pun sedikit takut dengan tujuan kedatangan mereka saat itu.


Apakah mungkin keluarganya datang untuk memisahkan mereka kembali. Jika iya, Arin sangat merasa tidak sanggup untuk mengalaminya. Suasana nampak begitu canggung begitu mereka berempat memasuki ruang perawatan.


Arin bahkan tidak berani menatap kedua orangtuanya. Namun sentuhan Satria menyadarkannya jika ia begitu sibuk dengan pikirannya sendiri sampai tidak sempat menyapa keluarganya yang datang.


"Bagaimana kondisi kamu sekarang?" tanya ibu memecah suasana hening di ruangan.


"Sudah jauh lebih baik, Tante." jawab Satria setenang mungkin walaupun hatinya sama sekali tidak merasakan ketenangan.


.


.


.


.


.


.tbc

__ADS_1


__ADS_2