Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Bab 115


__ADS_3

Dengan suasana hati yang terlanjur memburuk akhirnya membuat acara mereka menjadi tidak menyenangkan seperti biasanya. Ya bukan hanya mengobrol sesaat sebelum mereka masuk ke dalam bioskop nyatanya gadis yang mengaku namanya Virly tersebut ikut masuk ke dalam ruang theater yang sama dengan mereka.


Entah ini takdir atau apa yang jelas Sherina sangat merasa kesal. Tidak hanya ikut masuk nyatanya gadis tersebut membeli kursi tepat di sebelah kiri Raka sementara dirinya berada di sebelah kanan Raka. Semangatnya untuk menonton film kesukaannya berakhir dengan rasa kesal yang berusaha ia redam.


Sherina sadar ia sudah cukup dewasa untuk tidak bersikap kekanak-kanakan. Ia tidak mungkin meminta gadis tersebut untuk pergi ataupun tidak mengganggu mereka. Ia hanya bisa menghela nafas pelan sembari mengatur emosinya. Tampaknya gadis tersebut begitu menyukai laki-laki yang sedang berkencan dengannya saat ini.


Mau marah pun Sherina tidak bisa, toh mereka belum memiliki hubungan resmi sebagai pasangan atau yang lainnya. Mereka hanya teman, teman dekat dan teman bersenang-senang tentunya. Sherina pun berusaha untuk bersikap acuh tidak memperdulikan Raka yang terlihat menimpali setiap ucapan gadis di sampingnya.


Sepanjang menonton film gadis tersebut tidak berhenti mengajak Raka berbicara. Sepertinya ia dengan sengaja selalu mencari topik obrolan yang menarik dengan Raka agar laki-laki tersebut nyaman dan mau berbicara dengannya.


"Mas Raka mau pergi kemana setelah ini?" cetus Virly begitu film selesai dan lampu kembali di nyalakan.


"Kami mau langsung pulang sepertinya." ujar Raka sembari menatap gadis di sampingnya yang terlihat pendiam tidak seperti biasanya.


Ia pun merasa tidak enak hati, ia sadar pastinya keberadaan Virly saat ini membuat Sherina tidak nyaman. Tapi ia juga tidak bisa mengabaikan Virly begitu saja karena bagaimana pun ayahnya merupakan teman baik dari papa Raka.


Sherina sempat menoleh sekilas ke arah Raka mendengar penuturan Raka yang mengatakan mereka akan pulang. Ada sedikit rasa kecewa terselip di hatinya namun Sherina berusaha untuk memendam itu semua. Ia pun berusaha menampilkan wajah datarnya seolah ia tidak keberatan dengan keputusan Raka saat itu.


"Oh begitu, padahal baru jam segini loh mas. Tadinya aku mau ajak mas buat makan malam bareng dulu." ujar Virly membuat Sherina semakin malas berada di sana.


"Mungkin lain waktu ya, soalnya kami masih ada urusan. Kalau begitu, duluan ya." ujar Raka sembari menggenggam tangan Sherina lembut menuntunnya untuk meninggalkan area bioskop.


"Oh iya mas." cicit Virly dengan wajah yang terlihat kecewa.


Apalagi begitu Raka menggenggam tangan Sherina, seketika perasaannya menjadi sangat kesal. Padahal sudah lama ia merasa tertarik dengan laki-laki yang pernah di jodohkan dengan kakaknya tersebut.


Dan ternyata kesempatan pun akhirnya datang ketika ia melihat Raka secara tidak sengaja ada di dalam mall ini. Dan betapa beruntungnya ia bisa bertukar tempat dengan orang yang membeli kursi Raka. Bahkan ia tidak segan merogoh kocek sebagai tanda terima kasihnya.

__ADS_1


Tetapi sepertinya usahanya itu tidak berjalan seperti apa yang ia harapkan. Meskipun Raka mau berkomunikasi dengannya, itupun terhitung hanya sebatas sopan santun saja sebagai seorang kenalan. Raka benar-benar memasang tembok pembatas di antara mereka dan Virly sangat yakin itu semua karena Sherina.


Sejak awal hatinya begitu merasa cemburu melihat kedekatan Raka dn Sherina. Walaupun ia baru bertemu mereka 1 kali dan gelagat keduanya terlihat biasa, tidak tampak mesra seperti layaknya teman tapi Virly memiliki firasat jika gadis yang sedang bersama Raka akan menjadi saingan terberatnya.


Bukan hanya dari segi usia yang jauh lebih dewasa, tapi pembawaan Sherina yang cukup tenang turut membuat Virly khawatir. Walaupun Virly dengan sengaja membuat Sherina kesal dengan tidak menganggap ada keberadaannya di antara mereka tapi Sherina tetap bersikap tenang.


Karena itu Virly akan memikirkan cara bagaimana ia bisa memenangkan hati Raka dan menyingkirkan Sherina sebagai saingannya. Meskipun Raka adalah laki-laki yang pernah di jodohkan dengan kakaknya tapi sudah lama ia menaruh hati pada dokter tampan tersebut.


Dan begitu perjodohan tersebut tidak di lanjutkan ia pun merasa sangat lega. Artinya ia mempunyai kesempatan yang cukup untuk mendekati Raka dan mendapatkannya. Dan setelah sekian lama waktu ya ia tunggu pun akhirnya datang tanpa ia duga.


Setelah menuntun Sherina memasuki mobil, Raka pun menghela nafas panjang membuat Sherina menoleh dengan kening yang bertaut.


Raka pun menatapnya begitu dalam membuat Sherina sebenarnya sangat gugup namun ia menutupi semua itu dengan berpura-pura datar saja.


"Maaf ya, kamu tadi pasti bete banget." ujar Raka dengan sungguh-sungguh.


Ia pun bukannya tidak peka dengan situasi yang menimpa mereka beberapa saat yang lalu. Hanya saja ia tidak ingin membuat gadis yang mereka temui tadi berbuat ulah. Ia bukannya lupa dengan siapa sosok Virly tersebut bahkan ia juga menjadi salah satu alasan Raka meminta papanya untuk membatalkan perjodohannya dengan Cintya.


Karena itu Raka yang tidak ingin merusak hubungan persaudaraan di antara keduanya memilih untuk membatalkan rencana perjodohan tersebut. Cintya pun sangat tahu jik adiknya itu sepertinya cukup tertarik dengan calon tunangannya.


Dan setelah itu mereka memutuskan untuk tidak saling berhubungan lagi meskipun sebatas menjadi teman. Namun jika di pertemukan secara langsung mereka berdua masih saling menyapa sebagai bentuk kesopanan terhadap satu sama lain.


"Aku gak apa-apa kok ka, yuk kita pulang." jawab Sherina sedikit mengulas senyum tipis berusaha menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.


"Kita belum makan malam, aku udah reservasi tempat buat kita makan. Kita kesana dulu ya." jelas Raka dengan senyum teduhnya.


"Bukannya tadi kata kamu kita mau langsung pulang?" tanya Sherina berpura-pura tidak mengerti dengan situasi yang terjadi.

__ADS_1


"Sher, kamu tahu pasti kan aku bilang kayak gitu untuk apa? Please kmu jangan bete ya, aku jamin kamu pasti seneng aku ajak ke tempat itu." bujuk Raka dengan wajah mengiba.


Akhirnya Sherina pun hanya bisa pasrah dan mengangguk lemah. Ia sudah malas untuk sekedar berbasa-basi tapi ia juga tidak tega menolak permintaan Raka. Akhirnya mereka pun sampai di sebuah cafe bertemakan outdoor musim panas.


Setiap sudut cafe menjadi spot menarik untuk sekedar ber-selfie ria. Mereka sampai di tempat tersebut sekitar pukul 8 malam dn pengunjung cafe terlihat cukup ramai. Sherina pun di buat terkesan dengan konsep yang di usung cafe tersebut, selain estetik tempat tersebut cukup nyaman.


Seorang waiter menghampiri mereka dan menuntun keduanya untuk ke tempat lain yang sudah di reservasi oleh Raka sejak kemarin. Salah satu koleganya merekomendasikan tempat tersebut padanya dan ia pun cukup tertarik ketika melihat ulasan pengunjung yang telah datang kesana.


Meskipun berada di outdoor tapi ada beberapa bangunan berbentuk seperti paviliun yang berfungsi sebagai dapur terbuka dan ada panggung juga di sana karena menyediakan live music yang di isi seorang penyanyi wanita dan sebuah band.


Dan akhirnya mereka pun sampai di sebuah paviliun yang berada di bagian belakang mengahadap sebuah danau buatan. Lampu-lampu terlihat terang dan berwarna-warni menghiasi setiap sudut.


"Kamu tahu tempat ini dari mana? " tanya Sherina dengan mata yang berbinar.


Ia sangat suka dengan tempat tersebut, walaupun lokasinya cukup jauh sekitar jam dari pusat kota. Tapi begitu sampai semua kekesalannya langsung luruh seketika apalagi begitu ia mendengar sebuah lagu yang sedang di mainkan oleh sebuah band di atas panggung.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2