
Setelah sampai di kamar hotelnya Arin langsung menaruh kopernya sembarangan lalu melemparkan tubuhnya di atas ranjang berukuran king size tersebut.
Tubuhnya sudah benar-benar lelah, akan tetapi sebelum ia akan memejamkan matanya, ia pun teringat jika ia harus menghubungi ayah dan ibunya lebih dahulu.
Segera ia ambil ponsel yang ia letakkan di dalam Sling bag nya yang ia letakkan tidak jauh. Setelah menelpon ibunya, dan mengabari jika ia sudah sampai di Jakarta Arin pun terlelap.
Tidurnya benar-benar nyenyak sampai-sampai ia tidak sadar telah tertidur selama beberapa jam. Ketika ia bangun ia melihat sekelilingnya yang nampak mulai gelap.
Samar-samar ia melihat ke jendela, ternyata hari sudah beranjak malam. Arin pun bangun dengan malas, setelah meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku ia pun mulai menyalakan lampu kamarnya.
Setelah itu ia bergegas membongkar isi kopernya untuk mengambil pakaian, karena ia akan mandi dan bergegas untuk melaksanakan ibadah shalat Maghrib yang waktunya akan segera habis.
Setelah menyelesaikan ritual mandi kilat dan ibadah shalat Maghrib Arin pun merasakan perutnya yang mulai lapar. Jika ia ingat-ingat memang terakhir kali ia makan hanyalah sarapan paginya di rumah sebelum ia berangkat.
Karena itu ia memutuskan untuk pergi keluar mencari makanan. Namun entah itu kebetulan atau takdir, lagi-lagi ia bertemu dengan Sherina di dalam lift. Terang saja, Sherina merasa senang bukan main karena mendapatkan teman untuk makan malam.
Mereka berdua akhirnya bersepakat untuk pergi makan di luar daripada makan di restoran hotel. Kebetulan Sherina mempunyai tempat tujuan yang sangat ingin ia kunjungi selama di Jakarta.
Mereka memutuskan untuk makan di sebuah kedai steak yang tengah viral di sosial media. Walaupun hanya kedai sederhana, namun pelanggan yang datang bukan main antriannya.
Meski harus sedikit bersabar, tapi mereka berdua menikmatinya. Biasanya Arin sulit untuk akrab dengan orang yang baru dia kenal, tapi Sherina adalah pengecualian baginya.
Sebagai perempuan pun Arin merasa nyaman untuk berbincang dengan Sherina. Pembawaannya yang ceria dan supel membuatnya selalu bisa menghidupkan suasana canggung yang Arin ciptakan.
__ADS_1
Sherina tidak seperti orang asing walaupun di hari pertama mereka saling mengenal. Sherina mengingatnya pada sosok Raka, yang juga mudah mengambil hatinya sebagai seorang teman.
Mereka berdua adalah orang yang menyenangkan pikir Arin. Bagaimana bisa seseorang terlihat sesempurna itu, sepertinya mereka berdua tidak pernah mengalami ketidakberuntungan dalam hidupnya.
Keduanya sama-sama pandai menghibur orang lain, dan tidak mudah tersinggung dengan kediaman Arin. Orang yang tertutup seperti Arin, begitu mudahnya luluh oleh keduanya.
Setelah antri hampir 40 menit akhirnya mereka bisa masuk dan memesan makanan di sana. Sherina terlihat paling bersemangat ketika memesan makanan. Bahkan ia memesan 3 porsi menu yang berbeda.
Arin hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan heran. Apa mungkin Sherina bisa menghabiskan semua makanan yang ia pesan. Bahkan selain minuman, Sherina juga memesan 2 porsi salad buah.
"Sher, kamu gak salah pesan makanan sebanyak itu?" tanya Arin setelah waiters yang mencatat pesanan mereka pergi.
"Kamu tenang aja Rin, habis kok. Aku ini punya nafsu makan yang tinggi, aku biasa kok makan banyak." jelas Sherina santai membuat Arin bergedik ngeri.
"Terus itu salad buah gak salah pesan 2 juga. Minuman aja kamu udah pesan 2, apa gak penuh nanti perutmu ?" tanya Arin sekali lagi.
"Oh, kalau salad buah aku pesan 2 sengaja yang 1 buat kamu. Tapi kalau minuman itu memang buat aku semua. Haus banget aku Rin, kalau pesan 1 kurang." jawabnya lagi membuat Arin mengurut kening heran.
"Tapi aku gak minta d pesanin salad buah kan tadi?" tanya Arin.
"Iya, itu aku sengaja biar kamu coba. Enak kok salad buahnya, kamu pasti suka. Aku yang traktir deh tenang aja, kamu mau pesan tambahan lagi juga gak apa-apa." ujar Sherina lagi dengan santainya membuat Arin kehabisan kata-kata.
"Oh enggak deh, itu cukup." ujar Arin yang malas mendebat teman barunya tersebut.
__ADS_1
Tak lama menunggu akhirnya pesanan mereka pun datang. Meja makan mereka hampir penuh dengan pesanan Sherina. Arin berpikir, jika Sherina seperti orang yang sudah tidak makan selama 3 hari.
Sherina tidak malu-malu lagi dengan Arin, begitu pesanan datang ia pun langsung melahap satu persatu hidangan di meja tersebut. Arin pun hanya bisa tersenyum melihat tingkah Sherina yang menurut nya sangat lucu.
Walaupun mereka baru kenal, Sherina tidak pernah bersikap malu-malu. Sebaliknya ia memperlihatkan dirinya yang memang apa adanya. Dari hal tersebut Arin bisa menilai seberapa tulus orang seperti Sherina.
Sepertinya keputusan nya untuk kembali ke Jakarta merupakan hal yang tepat. Bahkan di hari pertama saja, ia sudah mendapatkan teman baru semenyenangkan Sherina.
"Arin, kenapa ngelamun? Ayo abisin makannya." tegur Sherina membuat Arin kembali tersenyum dan segera melanjutkan makan malamnya.
Setelah itu, tidak ada percakapan yang berarti lagi di antara mereka. Baik Arin maupun Sherina memilih untuk fokus dengan makanannya masing-masing.
Setelah menyelesaikan acara makan malamnya keduanya memutuskan untuk berjalan di trotoar menyusuri jalan Jakarta di malam hari. Arin sangat menikmati momen tersebut, sejujurnya ia rindu melakukan hal itu.
Dulu setiap hari libur, ia selalu menghabiskan waktunya untuk hunting makanan bersama kedua sahabatnya. Jika mereka terlalu kenyang seperti sekarang, maka mereka akan berjalan selama beberapa ratus meter sampai mereka merasa nyaman dengan perut mereka.
Tiba-tiba ia jadi merasa sangat rindu dengan keduanya. Ia pun membuka ponselnya, ragu-ragu ia terus menscroll nomor ponsel Andi dan Herti. Apakah boleh, ia menghubungi mereka sekarang pikirnya.
Namun belum sempat memutuskan apapun, Sherina pun kembali mengajaknya berbincang. Kebetulan kedai makanan tempat yang mereka datangi lokasinya tidak jauh dari hotel tempat mereka menginap.
Karena kekenyangan, Sherina mengajak Arin untuk berjalan kaki sampai ke hotel. Arin tidak merasa keberatan dengan ajakan Sherina karena memang ia sangat menikmati momen-momen seperti ini.
Begitu sampai di lobby hotel, Sherina langsung meminta nomor ponsel Arin. Akhirnya setelah bertukar nomor ponsel mereka pun kembali ke kamar masing-masing.
__ADS_1