Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Pulang ke Bogor part 2


__ADS_3

Setelah makan siang bersama dengan berbagai hidangan yang telah di siapkan oleh kedua orang tuanya, Raka memutuskan untuk pamit dan pulang ke Jakarta.


Ibu yang terlanjur berharap jika Raka akan menjadi calon menantu nya pun, segera memikirkan cara agar Raka tidak segera pulang dengan menyuruh Arin mengajak Raka untuk mengunjungi Meisya.


Dan akhirnya di sanalah mereka berada, di depan sebuah rumah bergaya minimalis dengan halaman yang di penuhi tanaman hias dan bunga-bunga yang cantik.


Tok tok tok,


"Assalamu'alaikum." ujar Arin dan Raka bersamaan.


"Waalaikum salam." jawab Adrian sembari membukakan pintu.


Alangkah terkejutnya ia melihat adik perempuannya itu kini berdiri di depannya. Karena baik Arin maupun kedua orangtuanya memang tidak memberitahukan jika Arin akan pulang.


Arin pun langsung berhambur ke arah kakak laki-lakinya itu sembari mengucapkan selamat karena kini ia telah menjadi seorang Ayah. Karena Arin datang di hari sabtu, Adrian pun sedang libur kerja.


"Kamu kok gak bilang-bilang sih pulang? Kan kakak bisa jemput kamu di stasiun." ujarnya belum memperhatikan Raka yang kini masih berada di depan pintu.


"Biar surprise." ujar Arinda tertawa.


"Kamu tuh dasar ya. Ya udah, masuk yuk Meisya lagi di kamar tuh." ujar Adrian mempersilakan adiknya untuk masuk.


"Eh kakak, aku gak sendiri sama temen." ujar Arin sembari memanggil Raka dengan lambaian tangannya.


"Raka sini." panggilnya kemudian.


"Siapa de?“ bisik Adrian.


"Temen." jawab Arin singkat.


"Kak, kenalin ini Raka temen aku dari Jakarta." ujar Arin memperkenalkan.


"Oh iya, Adrian." ujar Adrian memberikan tangannya.


"Raka.“ ujar Raka sembari menjabat tangan Adrian.


"Ayo Raka, silahkan masuk." ujar Adrian.


"Rin ajak Raka ke dalam, kakak panggil Meisya dulu." ujar Adrian kemudian berlalu.


Arin pun mengajak Raka untuk masuk dan mempersilahkannya untuk duduk di sofa sembari menunggu sahabat dan keponakannya datang.


Tidak sampai 5 menit Meisya pun datang dengan berseloroh heboh memanggil Arin yang merupakan sahabat sekaligus adik iparnya. Dan mereka pun langsung berpelukan dengan sangat bahagia, sementara bayinya di gendong oleh Adrian sang ayah.


"jadi ibu gak usah bar-bar." ujar Arin masih mendekap tubuh sahabatnya itu.


"Gue masih gak nyangka Rin, gue sekarang udah punya bayi udah jadi ibu. Kan kita masih imut-imut." jawab meisya dengan mimik wajah menggemaskan.


"Makanya lu jangan bar-bar lagi sekarang, harus kalem biar jadi contoh buat ponakan gue." ujar Arin sembari tersenyum.


"Iya, iya. Makanya lu cepetan nyusul biar anak kita nanti gak kejauhan usianya biar bisa kayak kita." ujar Meisya merengek membuat Arin pun tertawa.


"Mei." ujar Arin memberikan isyarat jika ia tidak datang sendiri.


"Eh, ini siapa Rin?" tanya Meisya spontan.


"Oh, kenalin ini Raka temen gue dari Jakarta." ujar Arin memperkenalkan.


"Hai, Raka."

__ADS_1


"Meisya."


"Ya udah kita duduk dulu yuk, Raka silahkan duduk." ujar Meisya.


Kemudian Meisya memanggil asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya untuk membuatkan minuman dan membawakan camilan bagi kedua tamunya.


Semenjak melahirkan Adrian memilih memperkerjakan seorang ART karena ia harus mulai bekerja tapi tidak tega meninggalkan istrinya sendiri.


Sementara ia tidak ingin merepotkan ibu maupun mertuanya untuk mengurus istrinya. Karena itu ia memilih untuk memperkerjakan orang untuk membantu pekerjaan istrinya di rumah dan Meisya bisa fokus pada bayi mereka.


Arin pun meminta izin untuk menggendong keponakan barunya itu yang tampak sangat cantik dan menggemaskan. Ia persis seperti Meisya tapi memiliki mata dan bibir seperti Adrian.


Hampir 3 jam lamanya mereka berada di rumah Adrian. Ketika Meisya akan menidurkan anaknya di kamar, ia meminta Arin untuk mengikuti nya ke kamar dengan alasan meminta tolong sesuatu.


Namun setelah tiba di kamar, Meisya langsung meletakkan bayinya di box. Dan dengan semangat 45 nya mencecar Arin untuk menanyakan siapa Raka sebenarnya. Ia begitu kecewa mendengar jika Raka hanyalah seorang teman bagi Arin.


"Lu mau sampai kapan Rin kayak gini?"


"Gue gak tahu Mei, tapi saat ini gue cuma nyaman sebagai temen aja ama dia gak lebih."


"Lu yakin gak mau nyoba sama dia?"


"Mei, please.. Buat sekarang gue gak pengen mikirin itu dulu. Walaupun gak menutup kemungkinan kalau pada akhirnya gue bisa jatuh cinta pada Raka, tapi ya sekarang belom Mei."


Meisya pun hanya bisa menghela nafas kecewa dengan jawaban yang di lontarkan adik iparnya itu.


Tak lama setelah itu mereka memutuskan untuk pulang karena hari sudah sore dan Raka harus segera kembali ke Jakarta, pikir Arinda.


Beruntung jarak rumah Adrian dengan rumah kedua orangtuanya tidak jauh, setelah sampai di rumah, Raka pun langsung berpamitan kepada kedua orangtuanya Arinda.


Beberapa kali ibu mencoba menahan Raka untuk pulang dengan alasan mengajaknya untuk makan malam bersama. Walaupun sebenarnya Raka masih betah, tapi ia tidak ingin membuat Arin tidak nyaman dengan kehadirannya.


"Iya, thanks ya udah anterin sampai jauh-jauh kesini."


"Nanti balik ke Jakarta perlu aku jemput lagi?"


"Gak usah Ka, nanti saya naik kereta aja."


"Beneran? "


"Iya."


"Ya udah, aku pulang ya."


"Hati-hati di jalan-jalan ya, terima kasih loh sekali lagi."


Drama berpamitan pun selesai. Malam harinya Arin hendak pergi ke minimarket yang berada di ujung jalan seberang perumahan orangtuanya. Ia pergi menggunakan sepeda motor matic milik ayahnya yang terparkir di garasi.


Sudah lama rasanya ia tak menggunakan sepeda motor matic kesayangannya semenjak mengenal Raka. Karena kemana pun ia pergi, Raka selalu sempat untuk mengantar bahkan menjemputnya.


Arin pun tersenyum tipis mengingat kesehariannya yang sudah lebih seperti memiliki pacar ketika bersama Raka. Tidak sampai 10 menit akhirnya ia sampai di minimarket yang menjadi tujuannya.


Setelah membeli es krim dan beberapa camilan yang ia inginkan, ia pun bergegas untuk membeli beberapa jajanan pinggir jalan yang hanya bisa ia temui di kota hujan tersebut.


Sudah lama sekali sejak terakhir ia menikmati jajanan pinggir jalan di kota kelahirannya. Setiap kali ia pulang, ia tidak pernah pergi kemana pun bahkan untuk berjalan-jalan santai menikmati suasana sabtu di malam hari.


Arin kembali melajukan sepeda motornya menuju sebuah tempat yang menjadi tongkrongan terfavorit anak muda di sekitar. Puluhan pedagang kaki lima tengah menjajakan semua dagangannya di sana.


Setelah memarkirkan kembali motornya ia berjalan menelusuri deretan pedagang kaki lima sambil menikmati es krim di tangannya.

__ADS_1


Ia memesankan martabak pandan keju coklat untuk ayahnya, dan martabak telur spesial untuk ibunya.


Sedangkan ia sendiri sedang mencari sesuatu yang sangat ia inginkan sejak lama. Setelah berjalan sekitar 200 meter ia pun menemukan sebuah gerobak cilok yang sedang di kerubungi oleh para pembeli.


Cilok bakso adalah salah satu jajanan yang terkadang masih sulit ku temui di Jakarta. Dan jika pun ada, rasanya sangat jauh berbeda dengan cilok bakso mang ade yang berada di depannya itu.


Dengan sabar Arin pun menunggu antrian untuk di layani. Sejak SMP Arin dan teman-teman nya sering datang kesini untuk membeli cilok mang ade. Ia hampir tidak pernah sepi pembeli setiap harinya.


"Mang 10 ribu ya, pakai kuah jangan pakai saus tapi pakai sambel kecap nya sedikit cukanya yang banyak." ujar Arin membuat mang Ade menoleh dengan spontan.


"Eleuh eleuh ieu teh saha? Si gelis tea lin? Neng Arin nya? (aduh-aduh ini tuh siapa? si cantik ya ini? neng Arin?)" ujar mang Ade begitu senangnya.


"iya mang, ini Arin."


"Kemana aja atuh neng?"


"Ada aja mang, biasalah jadi anak rantau."


"Eh iya pantes tadi tuh ada pacarnya si neng kesini, baru pada pulang ya neng?"


"Pacar? Ah siapa? Arin gak punya pacar mang Ade. Salah kali ah."


"Itu loh si ujang yang suka kesini sama neng pas SMA."


Deg,


"Oh iya, Satria. Tadi baru aja dari sini."


Deg,


Dari kejauhan Satria terus memandang ke arah Arin yang tengah berbincang dengan mang Ade. Kedua sudut bibirnya pun terangkat, seiring senyum yang mengembang di wajah mantan kekasihnya itu.


.


.


.


.


.


.


.


**Halo readers..


Sebelumnya saya ingin menghaturkan maaf yang sebesar-besarnya karena selama beberapa bulan ini saya tidak bisa up**.


**Di karenakan HP saya mengalami kerusakan, sehingga saya tidak bisa log in kembali di akun ini. Dan setelah meminta tolong pada admin kemarin akhirnya saya bisa menggunakan kembali akun ini.


Untuk yang mau lanjut membaca karya saya, saya sangat mengucapkan terimakasih. Dan untuk yang memberikan saya komentar negatif karena saya sudah lama tidak up dan lebih baik tidak perlu up lagi drpd up nya lama, saya mempersilahkan anda untuk tidak lagi membaca karya-karya yang saya tulis.


Saya menulis karena saya menyukainya, tapi saya juga terkadang memiliki kendala tersendiri. Saya punya kegiatan dan kesibukan sendiri ya readers di dunia real. Dan ketika ada waktu senggang, saat itu saya baru bisa menulis.


Saya sangat berharap jika kita bisa saling mensuport dan saling menghargai masing-masing. Thanks.


*Happy saturday night 😉**

__ADS_1


__ADS_2