Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Mari saling memaafkan


__ADS_3

Setelah mendengar penjelasan Satria, mereka tidak saling berbicara sepatah katapun. Mereka hanya menumpahkan semua perasaan yang saat itu bergemuruh di dalam dada agar mereka bisa merasa lega.


Kini Arin dan Satria sama-sama kebingungan tentang bagaimana mereka harus bersikap dan menyelesaikan masalah mereka. Bagaimanapun juga, masalah ini telah sama-sama melukai mereka selama bertahun-tahun.


Kesalahpahaman yang tak bisa ia jelaskan selama 8 tahun akhirnya bisa terselesaikan. Satria merasa lega tentang semua itu. Tapi ia juga tidak bisa begitu saja berpikir jika Arin akan memaafkannya dan memberikan kesempatan untuk hubungan mereka begitu saja.


"Sekarang kamu sudah mengetahui semuanya. Dan aku sangat bersyukur bisa menjelaskan itu. Tapi aku juga tahu, semua penjelasan aku ini begitu terlambat dan aku pun sadar kamu juga berhak untuk tidak memaafkan aku untuk semua kesalahan aku itu."


"Tapi setidaknya, aku mohon sama kamu untuk tidak membenci aku." ujar Satria.


Arin masih tampak diam dan belum mengatakan apapun. Semua itu begitu sulit ia percaya dan tak pernah ia bayangkan sekalipun.


"Aku memaafkan kamu Sat, tapi.."


"Tapi apa rin?"


"Tapi maaf, untuk melanjutkan hubungan kita saat ini belum mungkin terjadi. Banyak hal yang berubah selama 8 tahun ini, kita sama-sama terluka dengan kesalahpahaman ini tapi tidak berarti kita mungkin masih saling mencintai." ujar Arin setelah berpikir selama beberapa saat.


"Apa kamu sudah benar-benar melupakan aku dan mencintai laki-laki lain?" tanya Satria.


Arin hanya menggelengkan kepalanya membuat Satria kembali bertanya-tanya.


"Lalu kenapa kita tidak bisa melanjutkan hubungan kita? Kenapa kamu tidak mau mencobanya?" tanya Satria kembali.


"Sat, kita sudah berpisah selama 8 tahun. Dan selama itu baik aku maupun kamu, kita sama-sama telah berubah. Aku memang masih mencintai kamu, tapi bukan kamu yang sekarang. Aku mencintai kamu yang dulu ada di masa lalu ku."


"Kita hanya saling mengenali kita yang dulu, tapi kita yang sekarang adalah orang asing bagi satu sama lain." jelas Arin membuat hati Satria kembali hancur.


"Aku mengerti maksud kamu." ujar Satria mencoba menegarkan hatinya.

__ADS_1


"Mari saling memaafkan.“ ujar Arin memberikan tangannya untuk berjabat tangan.


Satria pun tersenyum menyambut tangan Arin dan langsung menariknya hingga tubuh kurus Arin menabrak tubuhnya. Satria tersenyum sambil menyembunyikan kepedihan yang ia rasakan.


"Kamu adalah tetap seseorang yang pernah sangat aku cintai, kamu akan selalu mempunyai tempat di hatiku. Carilah kebahagiaanmu yang baru, lupakanlah masa lalu. Aku harap kamu akan menemukan seseorang yang akan mencintai kamu lebih dari aku, yang tetap mempercayai mu bahkan ketika dunia membenci dan menghakimi mu." ujar Arin tulus.


"*Tidak, sayang. Kamu adalah satu-satunya wanita yang aku cintai, dan akan selalu begitu. Suatu hari nanti, aku yakin Tuhan yang akan membawamu kembali padaku."


"Aku mencintai kamu, Arinda. Kamulah cinta pertamaku dan juga terakhirku. Kamu adalah satu-satunya yang pernah ada di hatiku." Batin Satria*.


Baginya sudah cukup, ketika Arin bisa memaafkannya. Setelah hampir 10 tahun ia mencintai gadis yang sama, dan pastinya Arin akan selalu mempunyai tempat di hatinya.


Walaupun tidak lagi bisa bersama, tapi Satria hanya ingin mencintai gadis itu dalam hidupnya. Karena hidup itu adalah pilihan, maka itulah pilihannya.


"Tolong biarin aku peluk kamu sebentar lagi. Aku sudah menunggu hari ini selama 8 tahun." ujar Satria sambil tertawa kecil.


Arin pun tidak menjawab ataupun menolaknya lagi. Mereka hanya mencoba menikmati kedamaian ketika mereka bisa berdamai dengan hati mereka masing-masing.


Raka melihat semuanya dari kejauhan, walaupun ada perasaan cemburu di hatinya tapi melihat Arin bisa berdamai dengan masa lalunya lebih membuatnya tenang.


Setelah pertemuan itu Satria dan Arin sepakat untuk memulai hubungan mereka sebagai teman. Satria tidak ingin memaksakan kehendaknya, apapun yang Arin inginkan sekarang adalah menjadi prioritasnya.


Ia pikir biar waktu yang menentukan kemana takdir akan membawa mereka nanti. Ia akan tetap menyimpan Arin di hatinya sebagai satu-satunya cinta. Dan begitu pun dengan Arin, walaupun ia pernah begitu membencinya tapi akhirnya ia mengetahui jika setidaknya Satria tidak pernah mengkhianati cinta mereka dulu.


Tidak mudah memang untuk memulai suatu hubungan kembali setelah bertahun-tahun, tapi ia ingin memberikan kesempatan bagi Satria untuk tetap menjadi seseorang yang pernah begitu berharga di hidupnya.


Walaupun hanya di masa lalu, Satria adalah cinta terbaiknya yang pernah ia miliki di masa itu. Arin akan mulai mengingatnya seperti itu. Satria memiliki tempat tersendiri di hatinya, karena bohong rasanya jika ia bisa melupakan Satria sepenuhnya.


Setelah semua drama kesalahpahaman yang berlangsung selama sewindu itu akhirnya terselesaikan dengan baik. Arin pulang dengan hati yang begitu lega, ia menghampiri Raka yang tengah menunggunya di mobil.

__ADS_1


"Apa sudah selesai nona?"


"Tentu saja." jawab Arin tersenyum begitu manis.


Raka pun ikut bahagia melihat senyuman yang kembali terbit di wajahmu cantik Arinda.


"Kita langsung pulang?" tanya Raka.


"Hem, Raka.. Bisakah kita pergi ke mall sebentar?" tanya Arin dengan wajah imutnya.


"Sesuai permintaan nona." jawab Raka sembari menyalakan mesin mobilnya.


Mereka pun saling melemparkan senyuman sembari melontarkan beberapa candaan.


Bukankah cinta bisa sehebat itu? Mengubah kesedihan yang datang bagaikan badai yang menerjang pulau sampai menjadikannya luluh lantak.


Tapi cinta juga yang mampu mendatangkan pelangi dan matahari yang cerah setelah badai berlalu.


Begitulah kehidupan, kita tidak akan tahu misteri apa yang akan terjadi dalam hidup kita. Entah itu membawa kebahagiaan ataupun kesengsaraan.


Terkadang ketika kita memimpikan hujan kebahagiaan, yang datang mungkin badai kesengsaraan. Manusia harus selalu siap untuk di tampar oleh kenyataan, terlepas itu sebagai hal baik ataupun sebaliknya.


Karena bagaimana pun manusia berencana, tetaplah Tuhan yang akan memutuskan apa yang baik dan buruk untuk ia datangkan terlebih dahulu di dalam hidup kita.


Jangan khawatir tentang takdir, karena roda kehidupan selalu berputar. Jika hari ini kau di buat begitu lelah karena menangis penuh kekecewaan, bisa jadi esok akan Tuhan hadirkan kejutan penuh kebahagiaan yang tak pernah kita pikir akan dapatkan.


Satria belajar banyak hal dari apa yang telah terjadi dalam hidupnya selama ini, bahwa sebagai manusia kita di haruskan untuk pasrah terhadap rencana yang Tuhan berikan.


Bukan menyerah, bukan marah. Tapi kita hanya perlu mengikuti setiap alur yang Tuhan ciptakan. Karena pada akhirnya akan selalu ada kebahagiaan yang menanti kita di depan.

__ADS_1


Tetap yakin dan percayakan semuanya dalam harapan yang di bungkus dengan indah melalui do'a. Karena tidak ada do'a yang sia-sia ketika seorang hamba terus meminta dengan keteguhan hatinya.


Dulu Satria begitu yakin Arin akan selalu membencinya selama sisa hidupnya. Tapi hari ini ia kembali di tampar oleh kenyataan yang menyejukkan hatinya.


__ADS_2