Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Pulang ke Bogor part 1


__ADS_3

Beberapa hari kemudian kedua orangtuanya menelpon untuk menanyakan kabar putri satu-satunya itu. Sudah hampir 2 bulan Arin tidak pulang ke rumah, karena pekerjaan yang sedang padat.


Akhirnya Arin pun memutuskan bahwa ia akan mengambil cuti selama 2 hari setelah weekend, jadi dia bisa tinggal lebih lama di rumah. Dan ketika hendak pergi Arin pun memberitahukan tujuannya untuk berlibur pada Raka.


"Raka, besok saya berangkat ke Bogor. Udah lama gak pulang, sekalian ambil cuti juga." ujar Arin


"Besok? Jam berapa? Nanti saya antar aja ya?" ujar Raka menawarkan diri.


"Gak usah, pak dokter kan pasti sibuk. Saya bisa naik kereta kok nanti biar ayah saya yang jemput di stasiun." tolak Arin dengan sopan.


"Enggak kok, besok kan sabtu saya gak ada jadwal praktek. Jadi kamu berasal dari Bogor?"


"Iya, saya lahir dan besar di Bogor. Lalu memutuskan untuk kuliah dan kerja di Jakarta." ujar Arin.


"Ya sudah, besok saya anterin kamu aja ya. Lagipula saya belum pernah loh ke sana, jadi penasaran sama Kota nya. Boleh ya?" tanya Raka membuat Arin terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya setuju.


Tentunya Raka sangat senang dan bersemangat karena bisa mengantarkan Arin pulang ke rumahnya.


~


Keesokan harinya mereka akhirnya sampai tepat di depan rumah kedua orang tua Arin. Ayah dan ibu langsung keluar untuk menyambut mereka.


Sebelumnya Arin sudah menelpon jika ia akan pulang di antar oleh seorang teman. Dan begitu mendengarnya ibu sangat antusias, mereka pikir Arin kini sedikit demi sedikit mulai bisa melupakan masa lalu nya.


Setelah mesin mobil di matikan, Arin dan Raka pun turun dari mobil. Arin dan Raka segera menghampiri keduanya yang sudah berdiri menunggu di depan rumah.


"Assalamu'alaikum." ujar Arin dan Raka bersamaan.


"Waalaikumsalam." jawab ayah dan ibu serentak.


Arin pun langsung mencium punggung tangan ayah dan ibunya kemudian mereka berpelukan secara bergantian. Arin pun langsung memperkenalkan Raka sebagai temannya. .


Dengan sopan Raka memperkenalkan dirinya lalu mencium punggung tangan kedua orang tua Arin secara bergantian. Ayah dan ibu langsung menyukai Raka begitu melihatnya.


Dengan antusias mereka segera mengajak keduanya untuk masuk ke dalam rumah. Hari sudah menunjukan hampir pukul 12 siang ketika mereka sampai di Bogor.


Karena weekend, jalanan menjadi macet dan mereka menghabiskan waktu di jalan selama hampir 3 jam lamanya. Di rumah hanya ada kedua orang tua Arin, karena Dean sedang pergi camping sementara Adrian dan istrinya berada di rumahnya.


Ibu dan ayah sengaja belum memberitahukan kedatangan Arin karena Meisya baru saja melahirkan selama 2 minggu, jadi ibu tidak ingin waktu istirahatnya terganggu.


"Ayah, ibu kok rumah sepi banget? Dean kemana?" tanya Arin sembari meletakkan tasnya di sofa.

__ADS_1


"Dean lagi pergi naik gunung, camping lah apalah itu namanya." jelas ibu yang hanya di angguki oleh Arin.


"Nak Raka, silahkan duduk." tawar ayah.


"Ya, om terima kasih." jawab Raka dengan sopan.


"Nak Raka suka kopi atau teh?" tanya ibu.


"Apa aja tante, maaf jadi ngerepotin." ujar Raka sungkan.


"Ah nak Raka ini, repot apa sih. Ya sudah tunggu sebentar ya ibu buatkan minum dulu. Arin ayo bantu ibu nak siapkan camilan untuk Raka." ajak ibu.


"Bentar ya." ujar Arin lalu berjalan mengikuti ibunya ke dapur.


Sementara Raka dan ayah sedang mengobrol di ruang tamu.


"Arin, itu pacar kamu teman kantor apa gimana?" tanya ibu mulai mengorek informasi.


"Ibu, Raka tuh cuma temen Arin bukan pacar." jawab Arin sembari menyiapkan beberapa kue di piring.


"Ah, kenapa gak di pacarin aja? kayaknya dia baik dan juga mapan. Dia juga tampan. Kamu mau cari yang gimana lagi sayang?" tanya ibu kembali mendesak Arin.


"Iya, iya ibu ngerti." jawab ibu mengalah.


"Kamu kenal Raka dimana? Teman kantor kamu?" tanya ibu lagi.


"Gak bu, dia tetangga aku di kost.“ jawab Arin.


"Oh kerja kantoran juga?" tanya ibu lagi masih penasaran.


"Nggak, dia kerja di rumah sakit." ujar Arin.


"Sebagai apa? Bukan OB kan?" tanya ibu lagi membuat kedua mata Arin membulat seketika.


"Ih, ibu sembarangan aja. Raka tuh seorang dokter." ujar Arin pada akhirnya.


"Astagfirullah." ujar ibu membuat Arin kembali menoleh.


"Ibu, kenapa sampe istighfar begitu?" tanya Arin merasa heran dengan tingkah ibunya.


"Ibu kaget sayang, ternyata ibu ada kesempatan punya calon mantu dokter." ujar ibu dengan polosnya tersenyum bahagia.

__ADS_1


Arin hanya bisa memutar kedua bola matanya dengan malas. Ibunya itu kenapa mendadak jadi terobsesi dengan Raka, pikirnya.


"Bu, jangan ngomong macem-macem ya depan Raka. Aku sama Raka cuma temen." ujar Arin sembari mengambil gelas berisi minuman dingin ke dalam nampan bersama sepiring kue berisi kue sus dan kue pay.


Ibu pun hanya mengedikkan bahunya dengan wajah polos namun ketika Arin berbalik pergi, ibu langsung tersenyum bahagia.


Setelah itu Arin menyajikan makanan dan minuman di meja, sementara ayahnya dan Raka kini sudah terlihat mengobrol dengan akrab.


Padahal Arin tidak sampai 10 menit berada di dapur, tapi begitu kembali keduanya sudah terlihat akrab saja, pikir Arin.


"Di minum dulu pak, Raka." ujar Arin.


Raka pun meminum sirup buatan Arin karena tenggorokannya memang sudah terasa kering. Sementara Arin pamit untuk pergi ke kamarnya dulu menaruh barang-barang bawaanya.


"Raka, pinjem kunci mobilnya dulu dong." ujar Arin.


"Oh, mau ambil barang ya? Ayo saya ambilkan." ujar Raka segera bangkit dari duduknya.


"Gak usah, kamu istirahat dulu aja pasti capek kan tadi macet banget. Saya bisa sendiri kok." ujar Arin.


"Gak apa-apa. Biar saya aja." ujar Raka tersenyum.


Raka langsung pamit ke ayah Arin untuk mengambilkan barang Arin di mobil lebih dulu. Arin pun mengikuti Raka di belakangnya.


Raka pun langsung membuka bagasi mobilnya untuk mengambil koper berukuran kecil milik Arin, dan sebuah kado yang sudah di bungkus dengan rapi.


"Ini kado buat siapa rin?" tanya Raka yang sudah penasaran sejak di jakarta.


"Oh ini buat keponakan saya. " jelas Arin sembari tersenyum menatap bungkusan kado berukuran cukup besar itu.


"Oh gitu." ujar Raka.


Mereka pun masuk kembali ke dalam rumah sembari membawa kedua barang itu. Arin langsung membawa barang-barangnya ke dalam kamar sementara Raka kembali duduk di sofa bersama ayah dan ibu Arin.


Dan tidak jauh dari rumah Arin, Satria tengah duduk menatap rumah Arin dengan wajah yang sendu. Hatinya sakit melihat kebersamaan Arin dan Raka.


Begitu mengetahui jika Arin mengambil cuti selama 2 hari, Satria pikir mungkin akan pulang ke Bogor. Dengan begitu bersemangat ia pergi ke kota hujan itu tadi pagi, karena mungkin saja ia bisa mempunyai kesempatan untuk berbicara dengan Arin.


Tapi nyatanya ia salah besar, ia melupakan Raka yang sudah pasti akan menemani Arin di sana. Satria melihat ke sekitar jalanan ke rumah Arin. Ia kembali terbayang bagaimana ia dulu hampir setiap hari menjemput dan mengantarkan Arin pulang.


"B*go!! gue bener-bener b*go!! Kenapa gue bisa ngelakuin kesalahan sefatal itu!! ujarnya sembari berteriak frustasi memukul stir mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2