Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Kejutan


__ADS_3

Setelah keduanya Check out dari hotel, Arin mulai mendatangi satu persatu tempat kost yang sudah ia lihat melalui iklan di internet. Ada dua pilihan tempat yang ia sukai, dan akan ia datangi secara langsung.


Begitu melihat kedua tempat tersebut Arin memutuskan untuk memilih tempat kost yang pertama. Selain karena posisinya yang berada di tengah kota, ia juga merasa nyaman dengan fasilitas yang di sediakan.


Arin langsung membayar untuk biaya kost selama 6 bulan ke depan. Ia juga menaruh barang-barang yang ia bawa di sana dan hanya membawa tas kecil untuk pergi ke Bogor.


Begitu pun Sherina, Arin meminta Sherina untuk menaruh kopernya dulu di kamarnya. Namun di luar dugaan, Sherina malah ikut membayar sewa untuk kamar kost yang berada tepat di depan kamar Arin.


Awalnya Sherina merasa ragu, tapi setelah ia pikir baik-baik mencari kost'an saat ini lebih menguntungkan untuknya. Dia sudah membayar biaya sewa untuk 1 bulan, yang jika ia tetap tinggal di hotel biaya tersebut hanya cukup untuk beberapa hari.


Dan yang kedua selama ia di Jakarta, setidaknya ia tidak ingin tinggal jauh dengan Arin. Karena satu-satunya teman yang ia miliki di tempat asing ini hanyalah Arinda.


Sebenarnya Arinda sudah menawarkan diri untuk berbagi kamar selama Sherina di Jakarta, tapi ia menolak dengan alasan agar bisa saling membuat nyaman satu sama lain. Bagaimana pun juga mereka adalah teman baru, dan pasti akan butuh adaptasi untuk tinggal bersama.


Waktu sudah hampir menunjukkan pukul 11 siang saat mereka sampai di Stasiun. Awalnya Arin mengajak Sherina untuk pergi menggunakan taksi online, tapi Sherina menolak dan malah mengajaknya menaiki kereta.


"Anggap saja, ini adalah liburan." ujar Sherina ketika mengajaknya naik kereta.


Arin pun tidak mempermasalahkan hal tersebut dan memilih untuk mengikuti kemauan Sherina. Ia adalah tipe gadis yang senang dengan petualangan dan tantangan. Sesuatu yang mudah merupakan hal yang tidak ia sukai.


Mungkin hal itu juga yang bisa membuatnya bertahan selama beberapa tahun dengan mengejar seseorang yang walaupun ia telah di tolak, tapi ia tidak pernah menyerah dan berkecil hati.

__ADS_1


Sherina adalah wanita mandiri dan pekerja keras, meskipun berasal dari keluarga yang berada ia tidak pernah bersikap sombong dan jumawa. Ia selalu berpikir jika apa yang di capai keluarganya saat ini adalah buah dari kerja keras orangtuanya.


Dan untuk itu penting baginya untuk bisa mengimbangi keberhasilan kedua orangtuanya dengan mengembangkan dirinya sebaik mungkin. Sherina adalah tipe orang yang selalu berpikir dan bersikap positif.


Bahkan gadis sesempurna Sherina pun gagal memikat hati Satria. Karena ini bukan tentang kesempurnaan, ini tentang hati telah terikat tidak bisa berpaling lagi dengan mudahnya. Sherina pun menyadari tentang semua itu, sebagaimana kerasnya pun ia berusaha jawabannya hanya sia-sia.


Patah hati seringkali mengubah banyak hal, begitu pun pandangan hidup seseorang. Sherina pun merasakannya, jika patah hatinya membuatnya begitu lemah hingga ingin terus berlari. Walaupun hal itu bertentangan dengan kepribadiannya yang selalu berani dalam menghadapi banyak hal.


Setelah melakukan perjalanan hampir 1,5 jam akhirnya mereka berdua pun sampai di sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas. Beberapa tanaman hias tampak memenuhi setiap sudut. Rumah tersebut masih tampak asri meskipun telah di tinggalkan oleh para penghuninya.


"Ini rumah kakak kamu Rin?" tanya Sherina sambil melirik ke kanan kirinya memperhatikan setiap tata letak tanaman yang beraneka ragam.


"Bukan, ini rumah orang tuaku. Tapi semenjak kami pindah ke pulau, ibu ku meminta kakakku dan istrinya untuk tinggal di sini." jelas Arin sembari terus melangkah mendekati pintu rumah.


"Waalaikum salam, walah ternyata neng Arin sudah datang. Masuk neng, biar bibi panggil teh Meisya di dalam." jelas Bi Ani yang merupakan asisten rumah tangga yang bekerja dengan Meisya.


"Gak usah bi Ani, biar Arin aja yang panggil. Bi Ani minta tolong bikinin jus jeruk ya 2. Sheri, duduk dulu ya aku tinggal sebentar." ujar Arin dan Sherina pun mengiyakan seadanya.


Tanpa canggung Arin berjalan masuk ke dalam dan segera menuju lantai 2 dimana kamar Adrian dan Meisya berada. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu Meisya dan Alma keponakannya yang sangat ia rindukan.


Tok tok tok ,

__ADS_1


Arin pun mengetuk pintu terlebih dahulu begitu sampai di depan pintu kamarnya. Tidak menunggu lama Meisya pun tampak membukakan pintu sambil menggendong putri cantiknya.


Ia pun berteriak kencang karena begitu terkejut melihat Arin yang kini sudah berada di depannya. Si kecil Alma langsung menjerit histeris karena teriakan ibunya membuatnya benar-benar kaget.


"Ish, udh ibu-ibu juga mesti aja teriak-teriak. Gak liat keponakan gue ampe sawan begini." ujar Arin sambil merebut Alma dari gendongan ibunya.


"Ya abis, gue kira lu gak bakal dateng hari ini. Tadi pagi bilang mau cari kost gimana sih!" seru Meisya yang sudah gemas dengan adik iparnya itu.


"Sengaja dong biar surprise." jelas Arin dengan memperlihatkan deretan gigi putihnya.


Keduanya pun akhirnya tertawa bersama, menertawakan kebodohan mereka masing-masing dan akhirnya saling berpelukan melepas rindu yang sudah tak terbendung.


"Gue seneng liat lu yang sekarang." ujar Meisya sendu.


"Gue kesini bukan buat lu sedih, eh iya kita ke bawah ya soalnya gue sama temen. Kasihan kalau nunggu lama-lama, ngobrol di sana aja sekalian gue kenalin." ajak Arin sambil menarik lengan Meisya sementara satu tangannya menggendong si kecil Alma.


Setelah sampai di bawah Arin pun tampak memperkenalkan Meisya dan Sherina satu sama lain. Meskipun mereka baru bertemu, tapi Sherina bisa cepat menyesuaikan diri dan tidak bersikap malu-malu.


Karena pada dasarnya sifat dan karakter keduanya hampir serupa. Jadi mereka bisa tampak sangat akrab meskipun baru saling mengenal. Meisya pun memperlakukan Sherina dengan sangat baik.


Setelah berbincang-bincang cukup lama akhirnya mereka pun memutuskan untuk makan siang menjelang sore. Karena keasikan mengobrol sampai membuat mereka lupa waktu. Alhasil mereka baru mulai makan ketika jam menunjukkan pukul 3 sore.

__ADS_1


Arin memutuskan untuk menginap selama 2 sampai 3 hari di sana. Ia sangat rindu dengan kota kelahirannya tersebut. Dan ia sudah merencanakan banyak hal dengan Sherina selama mereka tinggal.


Adrian tidak berada di rumah karena sedang bekerja. Arin bahkan melarang Meisya untuk memberitahu tentang kepulangannya pada Adrian karena ingin membuat kejutan. Bahkan Dean pun belum mengetahui jika Arin sudah kembali ke Jakarta dan sedang berada di Bogor.


__ADS_2