
Hari-hari berlalu dengan begitu cepat. Kini Arin dan Satria telah kembali ke kehidupannya masing-masing. Di kantor mereka terlihat seperti atasan dan bawahan yang profesional dalam bekerja.
Tapi tetap saja, semua orang merasakan angin perubahan di sana. Dimana Arin dan Satria menjadi lebih baik dalam bekerja sama dan bisa saling mengandalkan.
Tentu saja semua orang yang terbiasa bekerja dengan mereka bisa menyadarinya dengan cepat. Perubahan sikap dan sifat Arin yang begitu drastis, juga hubungan di antara Arin dan Satria yang terlihat begitu cair.
"Mereka seperti teman lama yang baru bertemu lagi setelah bertahun-tahun." ujar Andi menatap keduanya dengan aneh.
"Sepertinya lebih dari itu." timpal herti.
"Jangan-jangan mereka berkencan? " ujar Andi curiga.
"Gak mungkin, dokter Raka di kamanain?" bantah Herti.
"Iya ya, mereka berdua juga keliatan makin sweet tiap harinya." ujar Andi sembari menyentuh keningnya tampak berpikir.
"Kali ini, gue setuju sama kalian berdua." ujar Ike yang entah sejak kapan ada di belakang mereka berdua.
"Gue emang gak suka sama Arinda tapi ngeliat dia dan Pak Satria akur begini sih aneh juga." tambah Ike membuat kedua rekan kerjanya itu mendelik seketika.
"Eh Mariske lu tuh kayak jelangkung aja, datang gak di undang pulang gak di antar." cibir Herti yang memang selalu sebal pada Ike yang selalu memusuhi Arin sejak awal.
"Tahu, lu ngagetin gue aja sama ayang beib." timpal Andi yang mendapatkan ketukan keras di kepalanya.
"Jangan asal mangap tuh bibir. Sembarangan aja." ujar Herti sebal.
"What ever!" ujar Ike yang malas karena malah kedua sejoli di depannya itu memperdebatkan sesuatu yang tidak penting.
Ia pun memilih untuk kembali ke mejanya untuk mengerjakan tumpukan berkas yang harus ia selesaikan hari ini.
Dan ternyata Bayu pun mendengarkan gosip yang tengah di perbincangkan para bawahannya itu. Ia pun turut merasa heran dengan perubahan atmosfer di antara mereka berdua yang jauh berbeda.
Ia pun diam hanya diam menatap Arin dan Satria yang tampak sedang berdiskusi walaupun mungkin mengenai pekerjaan tapi di selingi dengan tawa renyah keduanya.
Ia mencoba menepis kecurigaannya yang tak beralasan karena mana mungkin Satria tertarik pada Arinda. Ia mengetahui lebih dari siapapun jika Satria begitu tergila-gila dengan mantan kekasihnya.
Tapi melihat bagaimana cara Satria menatap gadis yang ia sukai benar-benar membuatnya di bakar api cemburu. Bayu pun mengurungkan niatnya untuk menemui Satria dan memilih kembali ke ruangannya.
__ADS_1
~
Sore harinya Bayu tampak memanggil Arin yang tengah berjalan menuju parkiran. Hari ini ia tidak di antar ataupun di jemput oleh Raka karena ia sedang ada jadwal praktek.
Karena itulah Arin memilih untuk mengendarai sepeda motor matic nya kembali sebagai kendaraan favoritnya untuk pergi bekerja.
Tapi belum sempat Arin menoleh Satria langsung menariknya ke sisi hingga mereka jatuh berguling di atas aspal.
Satria terlihat memeluknya dengan erat mencoba melindungi Arin agar tidak terluka. Karena terlalu fokus dengan ponselnya Arin hampir saja tertabrak mobil yang hendak keluar.
Deg,
Bayu sangat terkejut dengan apa yang ia lihat di depan matanya. Ia hendak menghampiri Arin dan Satria tapi Satria langsung bangkit dan terlihat panik memeriksa keadaan Arin.
Ada sedikit rasa ngilu di hatinya melihat sahabat yang sudah seperti saudaranya sendiri bisa sedekat itu dengan perempuan yang ia sukai.
Wajah Satria sudah menggambarkan dengan jelas bagaimana perasaannya terhadap Arin. Beberapa orang datang menghampiri mereka untuk menolong.
Beruntung Satria datang tepat waktu untuk menolong Arin, sehingga ia baik-baik saja dan tidak terluka sedikit pun. Sementara Satria sedikit tergores di ujung pelipis dan pipinya karena terbentur aspal.
Arin pun berdiri dengan memegang uluran tangan Satria di bantu 2 orang karyawan wanita yang kebetulan berada di sana.
"Aku gak apa-apa sat. Aku baik-baik aja kok. Tapi kamu yang berdarah." ujar Arin menyentuh ujung pipi Satria dengan lembut.
"Mas, mbak gak apa-apa?" tanya seorang karyawan HRD.
"Kita gak apa-apa kok, terimakasih. Kami baik-baik aja." jawab Arin sembari tersenyum ramah.
Kedua orang itu pun akhirnya pergi karena Arin dan Satria mengatakan mereka tidak apa-apa. Arin pun langsung mengajak Satria untuk ke mobil mencari kotak P3K.
Satria pun duduk di kursi depan dengan pintu terbuka sementara Arin berdiri di sisi mobil memegang kotak P3K untuk mengobati luka Satria.
Dengan hati-hati Arin membuka sebuah botol air mineral terlebih dahulu untuk mencuci luka Satria agar tidak infeksi. Setelah itu mengoleskan salep dengan sangat lembut sembari meniupi luka Satria agar tidak perih.
Hati Satria menghangat mendapati perhatian yang Arin berikan. Sudah lama sekali ia tidak merasa sebahagia ini, Arin benar-benar mengubah segalanya dalam hidup Satria.
Setelah selesai mengoleskan obat untuk luka kecil Satria itu, Arin menempelkan 2 buah plester kecil untuk menutupi luka tersebut agar tidak kena debu.
__ADS_1
"Selesai." ujar Arin sembari menekan pelan plester di pipi dan juga pelipis Satria.
"Terimakasih." ujar Satria sembari mendongak menatap Arin yang berdiri sedikit membungkuk di hadapannya.
Suasana pun berubah canggung seketika menyadari jarak wajah mereka yang sangat berdekatan. Kedua pipi Arin tampak memerah merona karena gugup.
"Ya udah sat, kalau gitu aku pulang dulu ya. "
ujar Arin cepat-cepat untuk menghilangkan kegugupan nya.
"Kamu pulang naik apa? Mau aku antar? " tanya Satria sembari menahan tangan Arin.
Arin pun terdiam melihat tangannya yang di genggam oleh Satria. Satria pun langsung melepaskan tangannya dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Gak usah sat, aku bawa motor kok. Aku pulang sendiri aja. Duluan ya. " pamit Arin sedikit canggung.
"Ah iya, hati-hati." jawab Satria sembari melambaikan tangannya berusaha terlihat biasa.
Arin pun langsung bergerak untuk meninggalkan mobil Satria dan berjalan ke parkiran motor yang berada tidak jauh dari sana.
"Terimakasih sat udah nolongin aku." ujar Arin yang sempat menghentikan langkahnya sebelum akhirnya benar-benar menghilang dari pandangan Satria.
Sementara Bayu terlihat mencengkram kuat setir mobil yang sedang ia genggam. Ia benar-benar kecewa pada sahabatnya itu. Bahkan Arin yang sudah lebih dulu ia kenal tidak pernah sebaik dan selembut itu padanya.
"Gue gak nyangka Sat, dari semua orang kenapa harus elu yang bikin gue kecewa kayak gini." ujar Satria sembari memukul setir dengan kencang karena kesal.
"Gue berharap lu gak akan pernah ngekhianatin gue Sat, dengan merebut satu-satunya cewek yang gue cinta." sambungnya lagi bermonolog.
Setelah Arin pergi, Satria pun turut meninggalkan parkiran untuk segera pulang ke apartemennya. Tidak lama Bayu mengirimkan pesan bertanya di mana keberadaan Satria dan mengatakan jika malam ini ia akan datang berkunjung.
Satria pun membalas pesan tersebut dan berkata jika ia akan sampai setengah jam lagi ke apartemennya.
"Gue harus cari tahu sebenarnya ada apa di antara lu sama Arin."
"Entah kenapa gue ngerasa, lu nyembunyiin hal besar dari gue Sat." ujar Bayu sembari menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Satria yang sedang berbunga-bunga mendapat perhatian Arinda, tidak menyadari akan ada badai besar yang akan menghantam hidupnya sekali lagi.
__ADS_1