
Satria hanya diam sambil mengaduk-aduk semangkuk bakso di tangannya dengan malas. Momen yang paling ia tunggu dan ia pikir akan begitu istimewa nyatanya tak seindah yang ia harapkan.
Awalnya Satria merasa familiar dengan gadis yang duduk berseberangan dengan adiknya. Gadis berambut pendek sebahu, dengan wajah yang sepertinya ia sangat ia kenal. Satria mencoba untuk mempercepat langkahnya menuju meja dimana kedua gadis itu duduk dengan nyaman.
Dan Satria hampir saja melompat kegirangan menyadari jika gadis itu adalah Arinda. Ia tidak ingin membuang kesempatan yang ada, tapi entah kenapa semua rencananya tidak berjalan seperti semestinya.
Arinda nya masih saja terlihat sama, tidak ada raut bahagia terpancar di wajahnya seperti Satria, pikirnya. Bahkan ketika Satria menawarkan diri untuk mengantarkannya pulang Arinda masih menolaknya seperti biasa.
Satria pikir satu tahun akan mengubah pendiriannya. Satria selalu berharap waktu satu tahun ini pula akan mencairkan hatinya. Mungkinkah kebencian itu tetap sama dan masih bertengger di hatinya, pikir Satria.
Citra pun yang melihat interaksi di antara keduanya mulai bertanya-tanya. Ia tidak menyangka Satria mengenal gadis yang duduk di hadapannya itu. Sekilas Citra memang merasa familiar dengan wajah Arin, meskipun ia tidak tahu pernah melihatnya dimana.
"Mas kenal cewek tadi?" tanya Citra penasaran.
"Iya." jawab Satria singkat.
"Kenal dimana?" tanya Citra kembali bertanya.
"Kepo!" ujar Satria singkat sambil menyentil dahi adiknya itu dengan memasang wajah menyebalkan.
"Mas ih." jawab Citra sambil mengusap dahinya dengan pelan.
Tapi bukannya meminta maaf Satria malah bersikap acuh. Ia sendiri sedang sangat kesal dengan keadaan yang menimpanya saat itu. Siapa yang akan menyangka tujuannya ke kedai bakso tersebut yang tadinya hanya mengantar Citra malah mendapat kejutan sebesar itu.
__ADS_1
Akhirnya Satria memilih untuk tidak melanjutkan acara makannya dan memilih untuk menunggu di mobil. Citra kesal bukan main tentunya, kakaknya itu memang selalu bersikap menyebalkan.
Tapi Citra menjadi semakin penasaran, siapakah gerangan gadis yang berhasil membuat kakaknya itu menjadi salah tingkah seperti itu. Bisa Citra lihat dengan jelas jika, Satria yang biasa bersikap dingin dengan perempuan bisa bersikap selembut itu.
Apa mungkin kakaknya telah move on dari mantan kekasihnya yang bernama Arinda itu. Bahkan eyang saja tidak pernah berhenti menyebut namanya sebagai satu-satunya perempuan yang bisa membuat masnya jatuh cinta setengah mati.
Atau mungkin sosok perempuan tadi adalah Arinda? tanya Citra dalam hatinya. Seketika pikirannya mulai menerka-nerka berbagai kemungkinan. karena ia merasa kasihan dengan kisah cinta kakaknya itu yang menurutnya sangat tidak beruntung.
Walaupun ia tidak mengetahui dengan jelas situasi keluarganya saat itu, tapi sedikit banyak ia mengerti beberapa hal. Satria telah melewati banyak hal berat untuk bisa sampai di hari ini, karenanya Citra begitu peduli.
Ia ingin sekali melihat kakaknya bisa hidup bahagia bersama orang yang di cintai nya. Karena selama ini, ia hanya melihat Satria selalu membatasi dirinya dari seorang wanita setiap kali ada yang tertarik dengannya.
Bahkan ia sangat tahu kisah tentang Sherina dari eyang putri. Walaupun ia tidak kenal dekat dan hanya pernah bertemu sekilas selama beberapa kali namun ia merasa kasihan dengan Sherina yang sama bucinnya dengan Satria pada Arin.
...****************...
Malam harinya Satria memilih untuk menepi dari suasana ramai dalam resepsi pernikahan sepupunya yang di adakan di sebuah hotel di Jakarta. Ia memutuskan untuk duduk di pojokan balkon hotel sambil menghisap sebatang nikotin dengan perasaan sedikit frustasi.
Akhirnya ia pun langsung menghubungi seseorang untuk membicarakan masalah kerjasamanya untuk membuka sebuah cabang pabrik di Jakarta. Melihat Arinda kini sudah di Jakarta membuatnya enggan untuk kembali ke Jogja.
Setelah lama berbincang di telepon akhirnya ia pun selesai membicarakan beberapa hal. Mereka pun membuat janji untuk meeting lebih lanjut mengenai rencana kerjasama tersebut.
Satria kembali bersemangat, bagaimana pun telah memberikan petunjuk dengan mempertemukan keduanya kembali. Mungkin ini isyarat dari Tuhan padanya untuk kembali memperjuangkan cintanya.
__ADS_1
Satria tidak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Ia pun kembali berselancar di handphonenya mencari kontak seseorang yang mungkin bisa membantunya menemukan keberadaan Arin kembali.
Dan ia pun menemukan Herti, segera ia kirimkan sebuah pesan singkat pada Herti. Ia pun tersenyum lebar ketika Herti akhirnya membalas pesannya tidak sampai semenit. Ia pun langsung beraksi dengan mencoba mencari tahu darinya tentang keberadaan Arin.
Herti pun sedikit merasa terkejut menerima pesan dari orang yang selama ini hanya menjadi objek pajangan dalam kontaknya. Satria pun menanyakan tentang kebenaran Arin yang sudah kembali menetap di Jakarta pada Herti.
Ia pun menceritakan pertemuannya dengan Arin sore tadi. Dan bak gayung bersambut ternyata respon Herti di luar dugaan nya. Herti pun membenarkan apa yang Satria pertanyakan tentang Arin.
Dengan bersemangat Herti juga menceritakan jika ia pun sekarang tinggal di satu rumah kost yang sama dengan Arin. Satria pun sangat senang mendengar kabar tersebut karena merasa menemukan titik terang atas permasalahannya.
Herti pun memberikan alamat rumah kost mereka dan informasi yang ia ketahui mengenai kondisi Arin saat ini. Mendengar apa yang Herti ceritakan membuat Satria terbakar semangat kembali untuk mengejar cintanya.
"Duh Sat inget umur sekarang berapa masih aja kamu galau mikirin orang yang sama." cetus Erwin yang tak lain adalah sang mempelai pengantin pria.
Satria tidak menanggapi ucapan Erwin dan hanya tersenyum kecil sambil kembali menghisap batang nikotinnya dengan perasaan entah.
"Gue tahu banget lu cinta mati sama dia, tapi gak beneran niat mati kan kalau gak dapat nya?" tanyanya lagi tidak puas.
"Jalan kehidupan setiap orang emang berbeda, apalagi buat dapetin yang namanya cinta. Gue cuma mau bilang selamat buat lu karena udah bisa mencapai garis finish pertama kehidupan ini dengan mudah. Tapi gue juga sedikit banyak tahu bahwa kehidupan setelah menikah juga bukan suatu hal yang mudah. Gue doain lu bisa lewatin itu dengan baik dan penuh kesabaran." ujar Satria sambil mematikan rokoknya ke dalam asbak.
"Arin itu bukan sekedar masa lalu buat gue yang bisa gue lupain gitu aja. Arin itu masa depan dan impian gue, Arin itu adalah doa yang gue panjatkan setiap hari dan juga tujuan terbesar dalam hidup gue. Jadi, kalau lu emang seperduli itu sama gue, cukup doain biar langkah gue ke depannya buat perjuangin dia lagi bisa di permudah." sambung Satria sambil menepuk bahu sepupunya itu dengan asal kemudian berlalu dari sana.
Satria tidak pernah suka jika ada yang menyinggung hal apapun tentang Arinda dalam hidupnya. Sekalipun itu adalah keluarganya sendiri, Satria tidak senang membahasnya dengan siapa pun.
__ADS_1