Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Luka yang terulang kembali


__ADS_3

Sesampainya di rumah Arin langsung berlari ke kamarnya dan mengunci diri di sana. Ia menumpahkan semua rasa sakitnya selama bertahun-tahun yang selalu tahan dan coba untuk sembunyikan dalam tangisan yang begitu memilukan.


Ayah dan ibu sangat terkejut mendengar kegaduhan dari kamar Arin. Mereka bergegas menyusulnya ke kamar dan mencoba mengetuk pintu, meminta putrinya untuk membukanya.


Tapi Arin seakan tuli dan tidak bergeming sedikit pun mendengar kekhawatiran orangtuanya itu. Hatinya benar-benar hancur dan sakit seakan mengulang luka yang sama.


Seakan itu baru saja terjadi, seperti belati yang di tusukkan tepat di jantungnya. Arin menangis dengan pilu, ia pun teringat seperti teringat dengan sesuatu. Segera ia bangun dan mengacak-acak lemari pakaiannya mencari sesuatu.


Setelah beberapa saat mencari, akhirnya Arin mendapatkan sebuah kotak berukuran tidak terlalu besar lalu mengeluarkannya. Arin pun membuka kunci pintu kamarnya dan bergegas keluar tanpa memperdulikan orangtuanya yang terus bertanya karena mengkhawatirkannya.


Penampilannya sudah berantakan dengan rambut yang acak-acakan serta jejak air mata di kedua sisi wajahnya. Matanya sudah terlihat membengkak karena ia telah menangis selama berjam-jam lamanya.


Dengan langkah cepat Arin membawa kotak berwarna biru muda itu ke halaman belakang dan melemparkannya. Sementara kedua orangtuanya hanya diam mencoba memberikan ruang untuk Arin.


Mereka mengikuti langkah kaki putrinya itu ke taman belakang. Dan begitu mereka sampai di sana, Arin terlihat menyalakan sebuah korek api dan melemparkannya ke arah kotak berisi foto-foto dan juga barang yang pernah Satria berikan dulu.


Arin menyimpannya selama bertahun-tahun karena ia selalu tidak sanggup untuk membakar atau membuangnya. Tapi kini tepat di depan kedua orangtuanya, Arin membakar habis semuanya.


Gadis malang itu hanya bisa terduduk di depan kobaran api tersebut sambil memukuli dadanya yang terasa begitu sesak. Ibu dan ayah langsung menghampiri dan membawanya ke dalam pelukan mereka.


Kali ini ayah dan ibu pun paham dengan apa yang telah terjadi. Mereka hanya berusaha menguatkan dan menenangkan Arin tanpa bertanya sedikit pun.


Setelah beberapa saat ibu menuntun putrinya ke dalam rumah masih sambil memeluknya. Kini mereka sudah berada di ruang keluarga dengan kondisi Arin yang berangsur tenang.


Ia dalam posisi berbaring dengan kepalanya bersandar di atas kedua paha sang ibu. Tangisannya sudah mereda dan hampir tidak terdengar, namun air matanya masih berjatuhan di kedua pipinya.


Ibu hanya membelai lembut puncak kepala putrinya tanpa berujar sedikit pun. Setelah bertahun-tahun ini adalah pertama kalinya Arin terlihat benar-benar meluapkan semua rasa sakit yang Satria berikan dulu.


Melihat putrinya hanya menangis dalam diam membuat hati ibu ikut hancur. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk itu, dan hal itulah yang membuatnya semakin bertambah sedih.


Sementara ayah memilih untuk pergi ke kamar putrinya yang kini tampak sangat berantakan. Pelan-pelan ayah merapikan satu persatu barang yang berserakan di lantai.


ia juga melihati semua foto yang terpajang di dinding kamar putrinya itu. Dimana terdapat banyak foto Arin sejak ia kecil sampai ia dewasa. Ayah tertegun melihat foto Arin ketika SMA yang tersenyum begitu cerah di antara deretan teman-temannya.


Hati seorang ayah pun sangat terluka ketika ia melihat putrinya dalam kondisi seburuk itu namun ia tidak bisa melakukan apa-apa. Bagi ayah hidup Arin seperti telah berhenti di usia 18 tahun.


Setelah semua hal yang menimpa putrinya, ia tidak pernah benar-benar melihat putrinya itu tersenyum dengan bahagia tanpa kepura-puraan sedikit pun.

__ADS_1


Selama ini ayah dan ibu hanya diam dan tak pernah berani mengungkit tentang Satria untuk menjaga hati putrinya. Ia tidak pernah menyangka jika pada akhirnya akan melihat putrinya kembali dalam keadaan hancur seperti itu.


Ayah pun mengusap salah satu foto Arin bersama Meisya yang terlihat sangat bahagia mengenakan seragam SMA. Perlahan ayah memeluki foto tersebut dan menangis dengan tersedu-sedu di atas ranjang putrinya.


Setelah hampir 1 jam, kondisi kamar Arin sudah seperti semula karena ayah langsung merapikannya seorang diri. Setelah selesai ayah pun memberikan isyarat pada istrinya untuk membawa putri mereka ke kamarnya agar Arin bisa beristirahat.


Sementara di sudut sebuah rumah yang di penuhi kegelapan, Satria tampak duduk tertunduk sambil menangis.


Hatinya sangat sakit melihat Arinda yang tampak sangat tertekan dan menderita.


Ia sendirilah yang menjadi penyebab dari kesedihan gadis yang sangat ia cintai.


Bahkan setelah 8 tahun, ia masih begitu mencintainya. Tidak 1 hari pun ia lewatkan untuk merindukannya.


Ia terus merutuki kebodohannya dan memukuli dirinya sendiri sambil berteriak frustasi.


Ia marah dan sangat membenci dirinya sendiri .


Untuk meluapkan semua rasa depresinya, akhirnya Satria kini tiba di sebuah Club malam yang berada di pusat kota hujan tersebut.


Satria menghabiskan semua minuman di depannya agar ia bisa melupakan sejenak rasa frustasinya. Ia tidak menghiraukan beberapa gadis yang datang dan menggodanya seolah ia tidak melihat mereka.


~


Setelah memastikan Arin tertidur ayah dan ibu pun kembali ke bawah. Mereka langsung menghubungi Adrian dan menceritakan semuanya.


Adrian sangat terkejut mendengar hal itu karena ketika Arin datang berkunjung ke rumahnya bersama Raka, Arin masih tampak baik-baik saja.


"Gimana keadaan Arin sekarang bu?"


"Alhamdulillah sekarang sudah lebih tenang. Adikmu sudah tidur sekarang.“


" Syukurlah kalau begitu."


"Adrian, bisakah besok kamu membawa istri dan bayimu ke sini. Bawa mereka untuk tinggal selama beberapa hari di sini. Agar pikiran adikmu bisa teralih."


"Baik bu, besok pagi-pagi kami akan pulang."

__ADS_1


Begitulah kira-kira isi percakapan dan Adrian. Tanpa ayah dan ibu ketahui Arin sudah terjaga kembali sejak tadi.


Ia hanya terduduk di atas ranjang dengan tatapan kosong. Tidak ada air mata lagi yang keluar dari kedua matanya yang indah dan berwarna kecoklatan itu.


Hanya sunyi yang bersuara di tengah kekalutan hatinya.


Andai saja, kamu ada di posisi aku saat ini.


Apa yang akan kamu rasakan sekarang?


Apakah kamu tahu bagaimana keadaan ku saat ini?


Aku bahkan tidak bisa memejamkan mataku untuk terlelap.


Aku bahkan kesulitan untuk menelan apapun.


Apakah kau tahu?


Ketika melihatmu, aku merasa lebih hancur dari hari-hari sebelumnya.


Aku merasa sekarat dan akan mati.


Aku tidak tahu lagi seberapa banyak aku bisa terluka.


Tidak ada yang bisa aku lakukan dengan itu.


Bagaimana jika hari-hari gila ini menjadi milikmu?


Bagaimana jika kau yang mengalami kehancuran ini dan bukan aku?


Akankah kamu akhirnya mengerti?


Dadaku yang sesak dan terasa seperti akan meledak.


Seolah semua rasa sakit memenuhi hatiku.


Karena aku hanya pernah mencintai mu, seumur hidupku.

__ADS_1


__ADS_2