Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Arinda, Satu-satunya cinta


__ADS_3

Setelah menyelesaikan drama mendebarkan melakukan salah satu olahraga ekstrem tersebut, Arin dan yang lainnya sudah berpindah ke wahana Treking.


Panitia sudah mengatur sedemikian rupa, skenario mencari jejak harta karun yang harus di dapatkan berbekal dengan peta yang berbentuk teka-teki. Setiap kelompok haruslah memutar otaknya dengan keras untuk memecahkan setiap teka-teki yang di berikan panitia.


Mereka baru berhasil menyelesaikan permainan tersebut saat matahari sudah berada tepat di atas kepala. Istirahat makan siang pun di lakukan bersama-sama di sebuah lapangan yang besar namun cukup rindang.


Pihak restoran sudah menyediakan beberapa blok prasmanan untuk semua tamu. Mereka pun menikmati makan siang mereka di tengah alam terbuka dengan pemandangan tidak main-main.


"Setelah ini kita akan berpindah ke lokasi flying fox dan kita juga akan memainkan beberapa games di sana." ujar Satria sambil menyerahkan sebotol minuman bersoda.


"Ya, aku tahu." ujar Arin tampak enggan menerima minuman tersebut.


Tapi bukan Satria namanya jika tidak bersikap seenaknya. Ia menarik satu tangan Arin dan menggenggam kan botol minuman itu padanya. Satu tangannya yang lain mengacak-acak rambut Arin hingga sedikit berantakan.


Sontak saja kejadian romantis tersebut kembali menyita perhatian semua orang di sekitar mereka. Tapi Satria seolah menulikan pendengarannya mendengar bisik-bisik semua orang yang bergosip tentang mereka.


Karena sedikit terkejut Arin hanya terdiam sembari mengerjapkan matanya sesekali sampai akhirnya ia mampu menguasai kembali dirinya yang sedikit terhipnotis dengan sikap manis Satria.


Sejak dulu Satria memang biasa bersikap seperti itu. Dia adalah tipe laki-laki yang bersikap manis dan romantis dengan pasangannya. Sampai membuat banyak pasang mata selalu menatap iri melihat kebersamaan mereka.


Setelah beberapa saat akhirnya Arin pun tersadar, ia pun menghela nafas pelan. Sepertinya ia memang tidak bisa menghindari Satria lagi, apakah boleh ia egois dengan menikmati kebersamaan mereka saat ini?

__ADS_1


Toh, sebentar lagi ia akan segera pergi dari kota ini dan entah mungkin mereka tidak akan pernah bertemu lagi. Bolehkah ia memiliki sedikit kenangan yang manis bersama Satria? Hatinya menghangat ketika memikirkan itu semua.


Kegiatan mereka di arena Flying fox sangat seru dan menyenangkan. Selain bermain seluncuran dengan seutas tali tersebut panitia telah mengatur beberapa games untuk semua peserta acara.


Mulai dari games kereta panjang, lomba bakiak dan menara air. Semua kegiatan berlangsung dengan sangat meriah. Canda tawa seolah tak berhenti saling bersahutan memenuhi arena permainan.


Dan waktu sudah menunjukan pukul 3 sore ketika mereka berada di arena terakhir yaitu Arung jeram. Satria sibuk menyiapkan peralatan keamanan bagi Arin, semua perhatian nya tidak luput dari pengamatan Herti dan Andi.


Mereka tersenyum penuh arti melihat bagaimana cara Satria memperlakukan Arin selama acara outbound berlangsung. Mereka benar-benar di buat terkejut, Satria yang biasa terlihat serius dan tegas di kantor bisa sehangat dan selembut itu pada seorang wanita.


Dan wanita tersebut tidak bukan dan tidak lain adalah sahabatnya sendiri. Mereka pun diam-diam mengabadikan beberapa foto kebersamaan Satria dan Arin selama acara berlangsung.


Setelah bersiap, semua peserta mulai mengikuti instruksi dari seorang guide yang bertugas untuk membimbing masing-masing kelompok mengarungi sungai yang terlihat jernih dan memiliki arus cukup kuat.


Satria yang melihat gurat ketakutan di wajah Arin langsung menyelipkan jemari tangan Arin di dalam genggamannya seakan menyalurkan kekuatan untuknya.


Sedikit terkejut, Arin pun menoleh menatap wajah Satria yang mencoba untuk meyakinkannya kalau semua akan baik-baik saja. Tidak seperti biasanya entah karena memang benar-benar takut atau nyaman Arin tidak menolak.


Ia mengikuti langkah besar Satria sambil menatap punggung laki-laki di depannya itu. Tidak ada yang berubah dengan Satria kecuali wajah dan penampilan nya yang kini terlihat maskulin dan dewasa.


Tapi jika ia perhatikan, rasanya punggung Satria terlihat lebih lebar dari apa yang ia ingat dulu. Tubuh Satria tetap tinggi namun terlihat sedikit lebih berisi dan keras. Sepertinya ia cukup rajin berolahraga, pikir Arin.

__ADS_1


Memikirkan hal-hal seperti itu membuat Arin malu sendiri, bagaimana bisa dia memperhatikan Satria secara fisik seperti ini. Ketika sampai di bawah, akhirnya satu persatu mereka mulai duduk di atas perahu karet.


1 perahu karet di isi oleh 10 orang, yaitu 9 peserta dan 1 orang guide. Satria dan Arin duduk berdampingan sementara di belakangnya di susul oleh Andi dan Herti.


Ketika perahu mulai berjalan, wajah Arin terlihat sedikit menegang karena takut. Meski begitu, seperti yang lain Arin mencoba untuk tetap fokus mengikuti setiap arahan dari guide yang mendampingi mereka.


Perlahan tapi pasti, permainan semakin menyenangkan sekaligus mendebarkan ketika mereka melewati aliran air sungai yang terdapat beberapa batu besar dengan arus yang cukup kuat.


Teriakan para peserta terdengar samar beradu dengan suara deru air yang terdengar berisik. Tubuh semua orang sudah tampak basah, namun mereka terlihat menikmati kegiatan yang memacu adrenalin itu.


Hingga akhirnya perjalanan mereka berakhir di tempat yang sudah di tentukan. Satu persatu mereka mulai turun dari perahu dengan wajah berbinar ceria. Mereka saling berbincang dan berseloroh dengan heboh mengingat pengalaman mereka tadi menyusuri aliran sungai.


Setelah itu mereka langsung bergegas kembali ke hotel untuk beristirahat dan membersihkan diri serta berganti pakaian yang sudah basah. Acara penutupan akan di lakukan malam harinya dalam jamuan makan yang di adakan di halaman belakang hotel.


Herti langsung memposting foto-foto tersebut di akun Insta dairy nya. Tidak tanggung-tanggung ia juga memberikan tag di akun Satria. Kenapa hanya di akun Satria, ya karena Arin tidak menggunakan akun sosial media apapun.


Herti terkikik geli ketika postingan nya sudah ramai oleh komentar padahal belum ada 3 menit. Dan begitu ia lihat, komentar-komentar tersebut berasal dari akun-akun yang tidak ia kenal.


Dan mereka ramai-ramai mempertanyakan status hubungan keduanya terhadap Satria. Sepertinya itu adalah teman-teman Satria dan Arin ketika sekolah dulu. Karena mereka terkesan mengenal keduanya, pikir Herti.


Sementara Satria tidak bisa melepas senyuman dari wajahnya ketika melihat notifikasi di handphonenya karena ulah Herti. Walau begitu, ia sangat berterimakasih karena telah mengabadikan kebersamaannya dengan Arin dengan foto yang sangat indah.

__ADS_1


Diam-diam ia mengirimkan direct message pada Herti memintanya untuk mengirimkan semua foto mereka berdua yang di ambil oleh Herti. Tentu saja Herti pun langsung melakukannya tanpa berpikir.


"Jika memang cinta ini tak lagi mungkin, biarlah ini menjadi kenangan manis yang akan ku patri dalam hatiku. Sampai kapan pun, kamu mempunyai tempat paling istimewa di hatiku. Karena, kamu adalah satu-satunya cinta. Karena kamu adalah Arinda, cinta pertamaku."


__ADS_2