Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Sherina's birthday


__ADS_3

Setelah sampai di hotel, Sherina memaksa ikut ke kamar Arin dengan alasan jika dia masih ingin mengobrol. Dan seperti biasa, karena merasa tidak enak hati tentunya Arin pun memberikan izin.


Sesampainya di kamar, Arin memilih untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu lalu berganti pakaian sementara Sherina menonton tv.


Tidak sampai setengah jam Arin sudah nampak lebih segar dengan setelan piyama tidur. Arin melihat Sherina masih setia menonton TV hanya saja pandangannya nampak kosong.


"Sher, kamu mau mandi di sini?" tanya Arin sambil menggosok rambutnya yang masih basah dengan handuk.


Tapi seperti berada di tempat lain, Sherina sama sekali tidak menggubris pertanyaan yang di ajukan oleh Arin. Karena memang ia tidak mendengar suara Arin, ia terlalu sibuk dengan lamunannya.


"Sher." panggil Arin sambil menepuk punggung Sherina pelan.


"Eh, iya rin gimana?" tanya Sherina sedikit gelagapan.


"Kamu kenapa Sher? Lagi ada masalah?" tanya Arin yang melihat Sherina tampak murung.


"Gak apa-apa kok Rin." ujar Sherina berusaha tersenyum namun kedua matanya memancarkan kesedihan.


Arin pun berjalan ke arah lemari pendingin dan mengambilkan 2 kaleng minuman cola.


Ia memberikan salah satunya untuk Sherina lalu duduk di sampingnya sambil meneguk minuman bersoda tersebut.


"Terimakasih." lirih Sherina.


"Hey, ini bukan kamu banget deh." ucap Arin membuat Sherina terkekeh.


"Terimakasih ya sudah meluangkan waktu hari ini untuk aku. Sejujurnya, aku sangat takut akan melewati hari ini penuh dengan kebosanan sendirian di tempat asing." jujur Sherina tersenyum masam.


"Terimakasih, karena berkat kamu ulang tahunku kali ini menjadi lebih berkesan." sambungnya lagi sambil meneguk minuman kaleng tersebut.


"Ya ampun Sher, kenapa gak bilang sih. Happy birthday for you, sorry aku gak siapin kado apapun untuk kamu." ujar Arin masih dengan keterkejutannya.


"It's okay, kamu adalah kado terbaik yang aku punya di hari ini. Thank you so much." timpal Sherina sungguh-sungguh.

__ADS_1


"Kamu di sini liburan? kenapa ngelewatin hari ulang tahun di tempat asing Sher? Atau jangan-jangan kamu sedang melarikan diri dari seseorang atau sesuatu." tebak Arin membuat Sherina kembali tertawa kecil.


"Sepertinya tuhan memang mentakdirkan kita untuk menjadi teman." ujar Sherina tanpa menjawab pertanyaan Arin sedikit pun.


"Kalau kamu belum siap bercerita it's okay lagi pula kita baru kenal. Aku gak akan maksa, but please kalau ada sesuatu yang mungkin bisa aku bantu please just say it." ujar Arin dengan sungguh-sungguh.


Sherina pun langsung memeluk Arin dengan air mata yang mulai tak bisa ia tahan. Ia memang sedang membutuhkan sandaran, dan Arin saat ini sudah memberikannya.


"No, not like that. I mean, it's hard to say cause my heart feeling so deeply hurt." ujar Sherina sambil menumpahkan kesedihannya.


(Tidak, tidak seperti itu. Maksudku, sulit untuk mengatakannya karena hatiku sangat terluka)


Arin pun hanya diam sementara tangannya terulur mengusap lembut punggung Sherina. Malam itu mereka bercerita banyak hal, terutama Sherina. Ia menceritakan jika ia tengah lari dari patah hatinya.


Sherina juga bercerita jika ia sangat merasa sedih karena kedua orangtuanya bercerai setahun lalu. Setelah itu, ia mulai hidup sendiri karena kedua orangtuanya sudah sibuk dengan hidupnya masing-masing.


Bahkan hari ini, di hari ulangtahun nya tidak satupun dari mereka yang menghubunginya. Mereka benar-benar telah melupakannya, kini ia benar-benar sendirian. Sherina datang ke Jakarta untuk alasan yang entah, dia hanya ingin pergi dari semua masalahnya.


Mereka terus saling bercerita tentang banyak hal sampai mereka tertidur. Akhirnya Sherina menginap di kamar Arin, mereka bahkan tidak ingat jam berapa mereka mulai tertidur.


Pagi harinya Arin bangun lebih dahulu, ia pun mulai membersihkan dirinya dan berias diri. Hari ini Arin tampak mengenakan setelan kemeja dengan celana skinny berwarna nude. Ketika Arin sedang menggunakan make up, Sherina pun terbangun.


"Morning." sapa Sherina dengan mata pandanya.


"Morning too." jawab Arin sambil tersenyum hangat.


"Mau kemana udah cantik aja?" tanya Sherina.


"Kita mau pergi ke rumah lama ku." ujar Arin dengan santai.


"Kita?" tanya Sherina sambil melompat dari tempat tidur.


"Iya, cepat kembali ke kamar mu dan bersiap atau kau bisa menggunakan barang-barang ku." jawab Arin sambil memoles blush-on di pipinya dengan brush make up.

__ADS_1


"Wait, i'll be back." ujar Sherina segera bergegas keluar dari kamar Arin.


Setelah hampir 30 menit, Sherina telah siap dengan overall rok jeans 7/8 di padankan dengan kemeja berwarna putih. Ia juga mengenakan sneaker berwarna putih dengan rambut yang di kuncir ekor kuda.


Meskipun usia Sherina lebih tua, tapi dia sangat senang berpenampilan fresh layaknya ABG. Tidak sedikit orang yang menyangka dia masih anak kuliahan, karena selain wajahnya yang baby face penampilan nya juga selalu fresh.


"Sepertinya orang-orang akan menyangka kalau aku ini kakakmu, padahal usiaku jauh lebih muda darimu." gerutu Arin yang hanya di tanggapi tawa geli oleh Sherina.


Keduanya memiliki selera fashion yang berbeda, jika Arin senang berpenampilan dewasa lain halnya dengan Sherina. Kiblat fashion nya bahkan adalah para idol Korea.


Setelah mereka melakukan perdebatan kecil mengenai selera fashion masing-masing, Arin pun mengajak Sherina untuk segera berangkat. Tapi sebelum itu, ia mengajak Sherina untuk Check out terlebih dahulu dari hotel.


"Rin, kita bakal lama emang di rumah kamu sampe check out langsung dari sini." ujar Sherina sambil menggeret kopernya di lobby hotel.


"Enggak juga sih, paling sekitar 2,3 harian. Kamu gimana? kelamaan gak kira-kira?" tanya Arin.


"Enggak sih, terus rencana kamu setelah pulang ke rumah kamu yang lama apa? Kamu mau menetap apa balik lagi ke pulau?" tanya Sherina yang baru mengetahui sedikit tentang Arinda.


"Enggak mungkin lah kalau menetap di rumah ku yang lama, soalnya aku udah nyebar lamaran kerja via email untuk perusahaan di sini." jawab Arin membuat langkah Sherina terhenti.


"Jadi kamu mau menetap di sini lagi?" tanya Sherina yang hanya di tanggapi anggukan kecil oleh Arin.


"Sebelum ke Bogor, kita liat kos-kosan dulu ya. Kemarin aku udah cari lewat online, kalau ada yang cocok aku mau langsung taro barang dulu di sana dan bawa baju seperlunya aja ke Bogor." Jelas Arin panjang lebar.


"Ih, kamu rencananya udah matang gitu, tapi pas kemarin aku tanya masih bilang belum tahu mau apa." gebuk Sherina kesal karena ia sama sekali tak memiliki rencana apapun.


Ia merasa malas untuk kembali ke Jogja, tapi dia juga tidak tahu apa yang bisa ia lakukan di Jakarta. Ia tidak memiliki sanak saudara di sana, dan hanya sebatang kara.


"Enggak gitu Sher, aku itu orangnya lebih ke apa-apa yang terlintas di benakku ya langsung aku lakuin. Pas kita jalan-jalan kemarin aku belum ada rencana apa-apa spontan aja orangnya." jelas Arin lagi sembari menyetop taksi di depannya.


"Kamu mau menetap apa balik ke Jogja?" tanya Arin.


"Aku masih belum tahu, masih bingung." ujar Sherina jujur sambil menghela nafas pasrah.

__ADS_1


__ADS_2