Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Bab 118


__ADS_3

Satria sudah terlihat rapi mengenakan setelan jas berwarna biru gelap yang di sediakan mamanya. Ia pun merasa aneh karena harus mengenakan pakaian yang rapi seperti itu padahal hanya untuk menemani sang mama.


"Ma, ini mama gak salah nyiapin aku baju ini?" tanya Satria sambil merapikan jas yang ia kenakan.


"Enggak kok, acaranya spesial makanya harus rapi." jawab mama Sarah langsung mengajak Satria untuk pergi.


Mama Satria tidak ingin membuat Satria curiga dengan pesta kejutan yang telah semua orang siapkan. Akhirnya mereka pun pergi dengan di antar oleh sopir karena Satria masih belum bisa berkendara jauh.


Dokter masih membatasi aktivitas Satria agar tidak terlalu menggunakan kakinya karena masih dalam masa pemulihan. Setelah menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam dalam perjalanan akhirnya mereka pun sampai di tempat tujuan.


Beberapa orang terlihat sudah berlalu lalang memasuki gedung serbaguna yang di pakai sebagai tempat berlangsungnya acara. Satria nampak tidak curiga ketika beberapa orang terlihat menyapanya dan mamanya karena memang mereka cukup lama tinggal di kota hujan.


Dan begitu sampai di dalam gedung tiba-tiba saja fokus Satria teralih dengan suasana yang mendadak hening dan lampu pun tiba-tiba saja mati. Ia pun tidak bisa melihat apa-apa karena kondisi yang gelap sampai akhirnya ia melihat cahaya dari sudut kirinya.


Arin berjalan menghampirinya sambil membawa sebuah kue ulang tahun lengkap dengan lilin yang sudah menyala. Satria pun sedikit terkejut menyadari kehadiran kekasihnya di sana.


Tanpa sadar kedua sudut bibirnya terangkat menjadi senyuman yang sangat lebar. Arin semakin mendekat sambil menyanyikan lagu ulang tahun untuk Satria. Tentu saja Satria merasa sangat bahagia, mendapatkan kejutan manis seperti itu.


Meskipun ia masih belum mengetahui situasi yang terjadi sebenarnya. Ia bisa melihat wajah yang sudah sangat ia rindukan selama berbulan-bulan ini. Dan begitu Arin sampai tepat di depan Satria lampu pun di nyalakan.


Perhatian Satria teralih ketika melihat semua orang tampak berkumpul di sekelilingnya. Bahkan eyang putri dan Citra pun sudah ada di sana. Bukan hanya seluruh keluarga dan kerabatnya tapi semua keluarga Arin dan bahkan teman-teman sekolahnya dulu ada di sana.


Satria hampir saja menjatuhkan airmatanya karena begitu terharu dengan pesta kejutan ulang tahunnya yang bahkan ia sendiri lupa. Semua orang tampak ikut menyanyikan lagu ulang tahun sampai akhirnya Satria meniup lilin ulang tahunnya tersebut.


"Mas, selamat ulangtahun ya. Aku udah siapin kado di sana ya." ujar Arslan menghampirinya sambil menunjuk ke arah sebuah meja dimana terdapat tumpukan kado di sana.


Satria pun lantas menggendong Arslan dan mencium pipi bocah gembul tersebut. Rasanya ia benar-benar bahagia sampai tidak bisa mengatakan apa-apa. Setelah itu acara di lanjutkan dengan pemotongan kue, dan suapan pertama Satria berikan untuk Arindanya.


"Sayang makasih ya, buat surprisenya. Aku benar-benar bahagia." ujar Satria sedikit berbisik di tengah keluarganya.

__ADS_1


"Jangan seneng dulu, aku masih punya kejutan yang lain." ujar Arin membuat Satria penasaran.


Arin pun menarik Satria untuk menemui kedua orangtuanya. Awalnya Satria sedikit merasa takut mendapatkan respon yang tidak mengenakkan dari kedua orangtua Arin. Tapi ia salah, Kedua orangtua Arin menyambut dirinya dengan hangat bahkan mengucapkan selamat ulangtahun untuknya.


"Om, Tante terimakasih karena sudah bersedia hadir jauh-jauh kemari." ujar Satria dengan sungguh-sungguh.


"Tentu saja kami harus hadir, mana mungkin kami tidak hadir di acara pesta pertunangan putri kami satu-satunya." ujar ayah Arin membuat Satria benar-benar terkejut.


Deg


"Mm..maksud om?" tanya Satria sedikit ragu.


Ayah dan ibu Arin hanya mengedikkan bahunya acuh, sementara Arin tersenyum lebar menatap Satria. Di tengah kebingungannya Satria pun mendengar suara seorang MC yang sedang membuka acara.


Arin pun memutar tubuh Satria ke arah belakangnya dimana terdapat wall decoration dengan tulisan "Happy engagement for Arinda & Satria". Tentu saja Satria begitu terkejut menerima kejutan besar lainnya.


Kedua orangtuanya terlihat menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan dn keraguan Satria. Satria pun refleks menarik Arin ke dalam pelukannya membuat Dean dan Adrian berdehem.


Satria pun tersadar melihat wajah kedua calon saudara iparnya tiba-tiba menunjukkan ketidaksukaannya. Arinda adalah satu-satunya saudara perempuan mereka, karena itulah mereka selalu bersikap posesif terhadap Arinda.


Satria pun hanya bisa memasang senyum tanpa dosa setelah melepaskan pelukannya. Acara pun berlangsung dengan meriah, setelah acara tukar cincin para tamu di persilahkan menikmati hidangan sambil mendengarkan live musik dari seorang penyanyi.


Dan yang menjadi kejutan berikutnya untuk Arin dan Satria adalah kehadiran Sherina dan Raka yang telah bersiap di atas panggung. Mereka terlihat akan tampil akustik dengan Sherina yang menyanyi dan Raka yang bermain gitar.


Lagu A thousand years dari Christina Perry terdengar mengalun dengan merdu di bawakan oleh Sherina. Dan tentunya permainan gitar dokter Raka pun terlihat cukup baik. Semua orang tampak terhanyut menikmati hiburan yang di tampilkan tersebut bahkan beberapa orang merekamnya dn membagikannya dalam beberapa postingan di social media.


Dan akhirnya setelah 2 jam akhirnya acara pun selesai. Sebagian tamu terlihat meninggalkan gedung menyisakan teman terdekat dan keluarga terdekat saja yang tersisa.


Setelah acara pertunangan keluarga Satria akan pulang ke rumah lama mereka karena esok harinya kedua keluarga akan berkumpul untuk membahas rencana pernikahan Arinda dan Satria.

__ADS_1


"Selamat ya Rin, Sat. Semoga acara selanjutnya di berikan kelancaran dan kemudahan menuju hari H pernikahan kalian." ujar Sherina dengan tulus sambil memeluk sahabatnya itu.


"Ih, ikutan." ujar Herti yang tiba-tiba saja datang dan ikut memeluk kedua sahabatnya membuat semua orang tertawa.


"Lebay deh lu her, segala ikut-ikutan." cetus Andi begitu pelukan mereka terlepas membuat Herti mendelik dengan tatapan sinis.


"Bilang aja sirik." timpal Herti.


"Selamat ya Rin dan pak Satria untuk pesta pertunangannya, tapi kenapa gak langsung nikah aja sih." ujar Andi memberikan ucapan selamatnya sekaligus memberikan keluhannya.


"Saya juga gak tau ndi, kalau tahu begini saya sih mending langsung nikah aja. Tapi kalau Arin nya mau sih sekarang juga saya siap-siap aja kalau mau nikah." jawab Satria mengundang gelak tawa semua orang.


"Kamu tuh, emangnya gampang nikahin anak orang. Buat bikin acara ini aja tuh Arin harus capek-capek urus semuanya sendiri bolak balik Jakarta buat ketemu WO sama lain-lainnya." jelas mama Satria membuat Satria sadar jika mungkin kejadian tempo hari hanyalah kesalahpahaman saja. Arin sedang menyiapkan semuanya untuk acara ini tapi ia malah berpikir yang tidak-tidak.


"Ya udah Sat, mama sama papa pulang dulu ya kasian Arslan sama eyang udah capek." pamit papa Satria yang di ikuti oleh keluarga lainnya.


Begitu juga dengan keluarga Arin sudah lebih dulu pulang. Kedua belah pihak keluarga mengerti jika keduanya perlu waktu untuk bicara. Mama Satria pun menyisakan sebuah mobil untuk keduanya gunakan nanti.


.


.


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2