
Sherina harus belajar menerima kekalahan nya. Ia telah benar-benar kalah oleh seseorang yang bahkan belum pernah ia kenal.
Rasa sakit di hatinya bagaikan sembilu yang di sayat sayat ribuan pisau. Suara tangisnya tertelan oleh gemuruh hujan yang semakin lama semakin deras menghujam bumi.
Air matanya bahkan sudah tak terlihat karena tertutup oleh derasnya air hujan. Sherina terus berjalan tak tentu arah berusaha mengurai sesak di dadanya.
Penolakan Satria mungkin bukan yang pertama kalinya ia alami, namun ia sangat yakin jika kali ini adalah penegasan untuk hubungan mereka untuk terakhir kalinya.
Sejujurnya, Sherina sendiri sudah merasa lelah dengan perasaannya sendiri. Ia berpikir, mungkin inilah jawaban dari Tuhan untuk setiap doanya.
Sudah tidak tersisa kesempatan sedikit pun untuk mempertahankan cintanya. Cinta bertepuk sebelah tangannya akhirnya harus berakhir tanpa sempat ia mulai.
Itu adalah terakhir kalinya Satria melihat Sherina. Setelah hari itu, gadis cantik dengan rambut sedikit bergelombang itu tak pernah menampakkan lagi wajahnya di depan Satria.
Ada sedikit rasa bersalah yang bersarang di hatinya, tapi Satria mencoba mengabaikannya. Jika ia ingat kembali, Sherina adalah orang yang paling banyak membantunya selama ini.
Bahkan ketika ia tinggal dan bekerja di Jakarta, Sherina lah yang selalu menemani eyang nya dan menjaganya. Untuk hal itu, Satria sangat berterimakasih dan tidak akan melupakan kebaikan Sherina.
~
3 bulan telah berlalu, kini usaha Satria semakin berkembang dengan pesat setelah ia bekerjasama dengan temannya. Bahkan kini ia sedang membangun sebuah pabrik yang lebih besar.
Setelah mendapat suntikan dana yang cukup besar, ia juga melakukan penjualan secara online. Dengan pengiriman ke beberapa kota besar dan tentunya dalam jumlah yang cukup banyak.
Satria menggunakan jasa selebgram untuk mempromosikan bisnisnya. Karena itulah produknya bisa dikenal dengan cepat di pasaran.
Jika Satria begitu sibuk dengan bisnisnya, lain halnya dengan Arinda yang kini baru saja mendarat di Jakarta. Setelah berpikir cukup lama dan mempersiapkan dirinya sebaik mungkin, Arin memutuskan untuk kembali.
Ia tiba di bandara ketika hari sudah mulai sore. Arin belum memutuskan untuk mencari tempat tinggal selama di Jakarta, untuk sementara ia akan tinggal di hotel sebelum menemukan tempat tinggal yang cocok untuknya.
__ADS_1
Tidak ada yang mengetahui kedatangannya, Arin sengaja merahasiakannya. Ia bahkan meminta kedua orangtuanya untuk tidak memberitahu tentang keberadaan nya pada Dean dan Raka.
Arin memesan sebuah taksi online untuk pergi ke hotel yang telah ia booking melalui aplikasi. Sebuah mobil Honda Brio berwarna merah adalah taksi yang sudah ia pesan.
Tidak sampai 5 menit menunggu taksi pun datang, kebetulan ada 2 mobil yang sama persis di depannya. Tapi sang sopir langsung menghampirinya, untuk membantu menaikkan barang bawaan Arin ke dalam bagasi.
Arin pun segera menaiki taksi tersebut tanpa banyak bertanya. Namun setelah memasuki tol tiba-tiba saja sang sopir menerima sebuah panggilan telepon.
Dan ternyata Arin telah salah menaiki taksi, yang ia pikir adalah taksi yang sudah ia pesan. Sang sopir pun langsung menghentikan laju kendaraannya dan memberitahukan hal tersebut kepada Arin.
"Mbak, maaf sepertinya salah pick up penumpang. Barusan customer saya menelepon."
"Lah, terus pak ini nasib saya gimana dong?" tanya Arin.
"Tunggu sebentar ya mbak, kebetulan customer saya juga menaiki taksi yang mbak pesan. Jadi tadi itu ada kesalahpahaman saja, taksi mbak sudah menuju kemari." jelas bapak sopir taksi tersebut.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya taksi yang di tunggu pun datang. Seorang gadis menggunakan mantel berwarna biru langit terlihat turun dari mobil tersebut.
"Gak apa-apa pak, ya sudah jadi ini gimana? kita mau bertukar aja, mbaknya gak apa-apa." tanya gadis tersebut sambil melirik ke arah Arin yang baru saja menurunkan kopernya dari dalam bagasi.
"Gak apa-apa kok mbak, santai saja." jawab Arin sambil tersenyum.
Mereka pun akhirnya bertukar taksi dan kembali melanjutkan perjalanannya dengan taksinya masing-masing. Tanpa mereka ketahui ternyata mereka mempunyai tujuan yang sama.
Setelah berkendara hampir 1 jam, karena jalan yang mereka lewati sempat macet akhirnya mereka pun sampai di tempat tujuan. Kedua mobil tersebut memasuki halaman hotel tersebut secara beriringan.
Dan begitu keduanya turun dan saling melihat keberadaan masing-masing, Arin dan gadis tersebut pun saling tertawa. Entah kebetulan atau memang takdir, ternyata mereka akan tinggal di hotel yang sama.
Jika mereka tahu bahwa tujuan mereka adalah sama, mungkin mereka tidak akan mau repot-repot untuk bertukar taksi lagi. Toh, mereka pergi ke tempat dan tujuan yang sama.
__ADS_1
"Ya ampun, ternyata kita satu tujuan toh." ujar gadis tersebut sambil menarik kopernya menghampiri Arin.
"Iya, sebuah kebetulan yang aneh." timpal Arin sambil tersenyum.
"Atau mungkin sebuah takdir." timpalnya lagi .
"Sherina." ujar gadis tersebut sambil mengulurkan tangannya.
"Arinda." jawab Arin sambil tersenyum menjabat tangan gadis tersebut.
Seketika senyum di wajah Sherina luntur mendengar sebuah nama yang tidak asing. Arin pun sedikit keheranan melihat perubahan air muka Sherina.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Arin spontan.
"E..enggak kok gak apa-apa." jawab Sherina yang kini kembali tersenyum dengan lebar.
Mereka pun saling berbincang sambil berjalan masuk ke dalam hotel. Mereka berpisah di dalam lift karena kebetulan kamar yang mereka pesan berada di lantai yang berbeda.
Meski begitu, Sherina sempat meminta kontak Arin untuk ia hubungi. Mereka bahkan membuat janji untuk makan malam bersama. Dalam waktu singkat keduanya menjadi sangat akrab karena pembawaan Sherina yang ramah.
Sesampainya di dalam kamar Sherina langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Ia menarik nafas cukup dalam dan menghembuskan nya dengan kasar.
Sherina bertanya-tanya dalam hati, apakah mungkin jika Arinda yang ia kenal adalah Arinda yang sama dengan gadis yang Satria cintai setengah mati. Entah ia harus merasa senang atau sedih jika memang benar.
Sudah 3 bulan ini, ia mencoba untuk move on dan melupakan Satria. Bahkan ia sampai datang ke Jakarta untuk mencari suasana baru dan kesibukan baru dengan orang-orang baru di sana.
Untuk saat ini memang Sherina hanya memutuskan untuk berlibur, tapi ia juga sedang memikirkan untuk pindah dan menetap di sana. Tapi siapa sangka, yang pertama ia temui malah seorang gadis bernama Arinda.
Tapi Sherina mencoba untuk menepis semua pikiran tersebut, mengingat jika nama Arinda pasti lah bukan hanya milik satu orang. Lagi pula, jika memang benar ia adalah Arinda yang sama maka Sherina benar-benar beruntung.
__ADS_1
Tuhan langsung menjawab rasa penasaran nya tentang Arinda selama ini, jika memang benar ia adalah gadis yang sama. Entah takdir seperti apa yang mengikat mereka, Sherina tidak mau banyak berpikir.
kedua mata nya dengan cepat terpejam karena memang tubuhnya benar-benar lelah setelah melakukan perjalanan Jogja-Jakarta. Walaupun ia menggunakan pesawat, yang notabenenya adalah trasnportasi tercepat untuk memangkas jarak tapi ia tetap merasa kelelahan.