Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Gelisah


__ADS_3

Setelah kepergian eyang dan Citra ke Jakarta Satria pun termenung sendiri. Sudah beberapa bulan ini dia menjadi sangat sibuk karena usahanya mulai berkembang dengan baik.


Tapi tiba-tiba saja ada hal yang mengusik hatinya, ketika partner bisnisnya mengajukan untuk mengembangkan penjualan mereka dengan membuka pabrik di ibu kota. Ia sedang menimbang-nimbang apakah harus melakukan saran tersebut atau tidak.


Pembukaan pabrik pertamanya di Jogja saja sudah membuatnya sibuk bukan main. Apalagi jika nanti dia membuat cabang di Jakarta, pikir Satria. Sejujurnya ia tidak tega meninggalkan eyangnya berlama-lama sendirian.


Walaupun sekarang eyang sedang berada di Jakarta, itu pun hanya sementara karena akan ada acara pernikahan sepupunya. 3 hari lagi Satria pun akan menyusul ke Jakarta untuk menghadiri acara pernikahan sepupunya itu.


Namun sebelum itu ia harus menyelesaikan beberapa pekerjaan terlebih dahulu. Malam itu Satria merasa tubuhnya sangat lelah, dengan gontai ia berjalan ke arah pohon kembar yang ada di hadapannya.


Hampir setiap Minggu sesibuk apapun ia pasti akan meluangkan waktunya hari dalam seminggu untuk pergi ke sana. Tidak ada yang ia lakukan, seperti biasa ia hanya menatap sedih ke arah pohon beringin tersebut.


Tangannya tergerak mengambil dompet di saku celananya, dan ketika ia buka terdapat foto Arinda yang tengah tertawa lepas. Walaupun ia selalu bersikap biasa saja, pada kenyataannya rasanya ia hampir mati karena merindukan mantan kekasihnya itu.


Kedua sudut bibirnya tertarik namun kedua sudut matanya menggenang. Jika ada laki-laki yang paling menyedihkan saat ini, pastilah dirinya. Mencintai seseorang yang tidak bisa di miliki memang sangat berat, terlebih itupun karena ulah diri sendiri.


Dalam kesedihannya, tiba-tiba saja terdengar suara gemuruh petir menggelegar di atas langit yang berwarna hitam. Angin pun mulai bertiup perlahan, memberi tanda akan datangnya hujan yang sebentar lagi siap mengguyur seluruh permukaan tanah yang terlihat kering.


Tapi Satria tidak bergeming sama sekali, tidak peduli hujan ataupun badai jika ia sedang sangat merindukan Arinda nya, tubuhnya tidak akan bergeser barang 1 meter pun dari sana.


Dan benar saja, tidak menunggu waktu lama hujan pun turun mengguyur kota Jogja dengan derasnya. Setelah hampir 1 jam lamanya hujan pun akhirnya mulai mereda, tidak sederas sebelumnya. Akhirnya Satria pun memutar langkahnya untuk menuju mobilnya yang di parkir tidak jauh dari sana.


Ia pulang ke rumah dengan keadaan basah kuyup. Hampir pukul 11 malam ketika ia tiba di rumah dengan pakaian yang sudah hampir mengering. Ia pun segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya lalu berganti pakaian untuk tidur.


Setelah selesai dan bersiap untuk tidur handphonenya yang terletak di atas nakas pun berdering. Terlihat nama mamanya terpampang di layar handphonenya itu, Satria langsung mengangkat panggilan tersebut.


"Assalamualaikum ma."

__ADS_1


"Waalaikum salam, kamu sudah pulang mas?"


"Sudah ma, ini baru mau tidur. Kerjaan lagi banyak-banyak nya karena pesanan yang meningkat dari hari ke hari aku jadi harus lembur." kilah Satria sedikit berbohong.


"Oh seperti itu, gak apa-apa loh mas kamu nya yang semangat. Ini kesempatan dan rezeki yang di kasih sama Gusti Allah, sing hati-hati terus lakoni dengan ikhlas insyaallah hasilnya tak akan mengkhianati." ujar mamanya sedikit memberikan nasihat nya.


"Iya ma, ngomong-ngomong mama papa sama Arslan apa kabar? Maaf ya Satria jarang telpon, belum sempat juga ke Jakarta beberapa bulan ini." tanya Satria sedikit merasa tidak enak hati.


"Ndak apa-apa mas, jangan kamu jadikan pikiran. Kami semua sehat kok gak usah cemas." jawab mama Satria menenangkan.


"Oia, mama mau tanya kamu ini kapan nyusul eyang ke sini? Kalau bisa jangan lama-lama ya budhe mu sudah pada nanyain itu." tanya mama Satria lagi.


"Di usahakan besok malam ya ma, paling telat Lusa siang paling berangkat dari sini nya." jawab Satria.


"Oh iya iya. Ya sudah, kamu hati-hati di sana, hati-hati juga nanti di jalan. Gak usah langsung ke rumah budhe, pulang ke rumah dulu aja ya nanti Arslan ada di rumah kok sama Citra." jelas mama Satria.


"Ya sudah, kamu langsung istirahat saja. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Satria pun sedikit menghela nafas sambil melempar handphonenya sembarang ke atas ranjang. Dengan cepat ia pun merebahkan dirinya di sana dengan pikiran menerawang. Entah kenapa, ketika memikirkan akan pergi ke Jakarta membuat nya sedikit gelisah.


Padahal ini bukanlah yang pertama kali semenjak setahun belakangan ini, dia sudah sangat sering mondar-mandir Jogja-Jakarta. Tapi entah kenapa keberangkatannya saat ini sedikit membuatnya gelisah seakan menjadi firasat jika akan terjadi sesuatu.


Namun Satria pun berusaha untuk menghempaskan semua pikiran negatif yang bersarang di kepalanya saat ini. Mungkin ini karena tubuhnya sudah sangat lelah, Satria harus beristirahat agar besok ia bisa bangun dalam keadaan lebih segar.


~~

__ADS_1


Sementara di Jakarta Arin tengah sama gelisah nya. Ia sudah memposisikan tubuhnya senyaman mungkin dengan kedua mata yang terpejam. Tapi ia tetap merasa tidak menemukan posisi yang membuatnya nyaman.


Setelah menerima foto-foto yang Satria berikan sebagai salam perpisahan, Arinda menjadi sangat gelisah. Ia tidak bisa mengalihkan pikirannya ke hal lain dan terus memikirkan Satria.


Entah karena cinta yang belum selesai atau sekedar merasa rindu dengan masa lalu, yang jelas Arinda tidak ingin terjebak dengan hal itu. Ia pun akhirnya memilih keluar dari kamarnya menghampiri kamar Sherina yang berada tepat di depannya.


Tok tok tok,


"Sher, udah tidur?" tanya Arin sambil mengetuk pintu pelan.


Ceklek, pintu pun terbuka memperlihatkan Sherina yang masih mengenakan Hoodie seperti hendak pergi atau mungkin baru saja pulang.


"Kamu mau keluar atau dari luar?" tanya Arin melihat penampilan Sherina.


"Dari luar Rin, abis gabut yaudah jajan deh ke depan. Pas banget kamu belum tidur jam segini, ayo kita makan." ajak Sherina dengan semangat memperlihatkan beberapa bungkus makanan di atas meja.


"Kamu beli ini semua buat kamu sendiri ?" tanya Arin merasa takjub dengan kekuatan makan teman barunya itu.


Sherina tidak menjawab dan hanya tertawa kecil sembari memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Dan spontan saja Sherina menarik tangan Arin menuju meja kecil di pojokan kamar nya di mana ia menaruh semua makanan nya.


"Tadi iseng, lihat semua ini jadi pengen beli niatnya sih cicip dikit-dikit aja tapi berhubung ada temennya kita makan sama-sama oke." ujar Sherina dengan semangat 45.


Arin pun hanya bisa takjub menatap setiap bungkus makanan yang tergeletak di atas meja. Harus ia akui Sherina memiliki sesuatu yang di idam-idamkan setiap perempuan.di dunia yaitu banyak makan tapi tubuhnya tetap terjaga.


Siapa yang akan menyangka tubuh kurusnya mampu mencerna makanan sebanyak itu. Arin pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir dengan setiap kejutan yang di berikan Sherina.


Mereka pun akhirnya duduk lesehan berdua sembari menikmati setiap makanan yang sudah satu persatu Sherina buka bungkusannya. Malam itu Sherina, membeli 1 porsi Sate Maranggi, 1 porsi tengkleng daging kambing, 1 buah kebab berukuran jumbo, tempe mendoan, dan Risoles mayo dan Risoles ayam pedas yang sedang viral beberapa waktu lalu.

__ADS_1


__ADS_2