Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Sebuah pesan perpisahan


__ADS_3

Jalan untuk memulai kehidupan yang baru, telah terbuka lebar. Arin menjalani hari-harinya dengan penuh semangat. Beberapa kali ia datang ke beberapa perusahaan besar untuk melakukan interview.


Meskipun belum ada keputusan yang final tentang penerimaannya sebagai karyawan Arin tetap bersikap optimis. Ia tidak patah semangat dan tetap yakin jika akan segera mendapatkan pekerjaan yang cocok untuknya.


Jika Arin sedang sibuk mondar-mandir untuk interview lain halnya dengan Sherina. Ia sibuk menghabiskan waktunya untuk jalan-jalan dan berburu wisata kuliner. Ia belum mau memutuskan langkah apa yang akan ia ambil ke depannya.


Ia ingin menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang walaupun hanya sendiri. Sudah cukup ia menghabiskan waktunya selama beberapa tahun untuk bekerja keras mengembangkan bisnisnya.


Meskipun begitu, ia tetap melakukan kontrol dari jarak jauh pada orang yang ia percayai untuk menangani semua urusan bisnisnya selama ia berada di Jakarta. Sempat terpikir juga dalam benak Sherina untuk membuka cabang angkringannya di Jakarta.


Walaupun ia dalam mode santai dan menikmati liburan, ia tetap tidak akan melewatkan hal-hal yang mungkin bisa membuatnya menghasilkan pundi-pundi rupiah.


Sesekali Herti datang ke tempat kost mereka untuk berkunjung bahkan terkadang untuk menginap. Ia selalu beralasan jika ia masih sangat merindukan Arin walaupun kini Arin sudah kembali lagi ke Jakarta.


Herti pun beberapa kali membujuk Arin untuk bekerja di perusahaan tempatnya bekerja sekarang. Tapi Arin selalu menolak dan beralasan jika ia ingin mencoba suasana baru dan dengan usahanya sendiri.


Herti pun akhirnya menyerah dengan keinginannya dan berusaha mendukung apapun yang menjadi keputusan sahabatnya itu. Jika Herti masih bekerja, lain halnya dengan Andi. Ia membuka sebuah studio foto, di daerah Jakarta Selatan.


Meskipun tidak besar, namun tempatnya cukup nyaman dan ramai meskipun baru buka beberapa bulan. Sebelumnya Fotografi hanya menjadi hobinya, ketika bekerja di kantor Bayu dulu ia juga sering membuka jasa fotografi untuk acara prewedding atau wedding party dan acara pesta lainnya sebagai sampingannya.


Namun setelah ia memutuskan resign dari kantor, tiba-tiba saja ia memiliki keinginan untuk mengembangkan hobinya tersebut. Dan ternyata, usahanya tidak sia-sia dan cukup membuatnya puas.


Sejak dulu ia mempromosikan jasanya melalui sosial media, dan banyak orang yang menyukai karyanya melalui apa yang ia posting setiap harinya. Meskipun penghasilannya belum cukup besar tapi setidaknya Andi bersyukur usahanya terbilang penuh dengan kemudahan.


"Her, gue ngiri deh sama Andi. Dia bisa gampang aja buka studio foto kayak gitu ya setelah resign." cetus Arin sambil mengoleskan kutek di kuku tangannya.

__ADS_1


"Iya sih, dia tuh orangnya gak bisa di tebak juga. Yang pertama ngajak gue resign juga dia." timpal Herti.


"Oh, tapi kenapa sih sebenernya alasan kalian resign dari perusahaan? Kan di sana udah enak, kalian berdua udah karyawan tetap juga." tanya Arin sedikit penasaran.


"Ih, gimana ya jelasinnya. Gue bingung sebenarnya, tapi intinya kita berdua udah gak nyaman kerja di kantor itu. Apalagi, pak Bayu tuh berubah total semenjak lu pergi." ujar Herti sedikit berhati-hati.


"Berubah gimana maksudnya?"


"Ya dia kayak bukan dia yang biasa. Mukanya selalu dingin sama bawahan, dan gak bisa ada salah dikit pasti marah-marah. Bahkan kebijakan perusahaan juga banyak yang di rubah sama dia. Dan sebenernya ada hal yang belum lu tahu juga." ujar Herti dengan takut-takut.


"Ini soal pak Satria." ujar Herti membuat Arin menghentikan gerakan tangannya sesaat.


"Kenapa emang sama dia?" tanya Arin pada akhirnya membuat Herti sedikit terkejut.


"Sebenernya, gak sampe 3 hari lu resign ada kekacauan besar di kantor. Pak Satria di tuduh menggelapkan dana perusahaan dan jual berkas penting berisi informasi perusahaan ke pesaing." jelas Herti seketika membuat gerakan tangan Arin terhenti total.


"Beruntungnya, pak Satria punya bukti akurat sama rekaman tentang orang yang sengaja menjebak dia di kantor. Dia taro kamera tersembunyi di sudut ruangannya, dan punya rekaman pembicaraan orang yang mau fitnah dia." jelas Herti membuat Arin diam-diam bernafas lega.


Bagaimana pun ia tahu dan percaya Satria tidak akan pernah melakukan hal sekotor itu di perusahaan. Mendengar penjelasan Herti membuatnya sangat lega, karena ia tahu betul Satria tidak mungkin mengkhianati Bayu yang bukan saja sebagai bosnya tapi juga sahabat baiknya.


"Tapi yang lebih bikin kaget apa tahu gak?" tanya Herti sedikit memancing reaksi Arin.


"Kenapa lagi?"


"Pak Bayu sendiri yang merencanakan buat menjebak pak Satria. Gue gak habis pikir, karena gue tahunya mereka Bestie lengket gitu . Bahkan pak Bayu sendiri yang bawa pak Satria untuk kerja di perusahaan. Tapi kenapa sampai setega itu ya fitnah pak Satria." ujar Herti membuat Arin kembali terdiam.

__ADS_1


Sedikit perasaan bersalah menguat di hatinya. Karena bagaimanapun, ia yakin jika kebencian Bayu saat ini terhadap Satria adalah karena dirinya. Padahal salah satu alasan dia untuk pergi juga karena ia tidak mau merusak persahabatan di antara keduanya.


Tapi ternyata apa yang ia pikirkan tidak terjadi. Bayu sudah kadung benci pada Satria, dan itu karena dirinya. Herti pun mencoba menyadarkan Arin dari lamunannya semenjak ia menceritakan soal Satria Arin hanya diam termenung.


"Ini semua karena gue Her, pak Bayu jadi seperti itu. Hubungan keduanya hancur karena gue." ujar Arin dengan sendu.


"Gak gitu Rin, udah ah lu kok jadi melow gini tahu gitu gue gak bakal ceritain kalau tahu reaksi lu bakal sedih kayak gini." gerutu Herti.


"Lagian setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Setelah kejadian itu pak Satria resign dari kantor dan balik ke Jogja. Beliau sempat pamitan sama divisi kita sebelum keluar dari perusahaan."


"Dan dia nitipin sesuatu buat lu ke gue, walaupun lu dah pergi tapi pak Satriani bilang lu pasti balik suatu hari nanti." sambungnya lagi sambil mengeluarkan sebuah kotak persegi berukuran kecil.


Arin pun tampak ragu untuk menerima barang tersebut, tapi Herti langsung menempatkannya di tangan Arin. Ia pun langsung berpamitan untuk pulang, dan beralasan jika ia sudah mempunyai janji dengan Andi untuk pergi ke suatu tempat.


"Dia bilang ini pesan perpisahan buat lu, jangan gak di kasih kalau ketemu." ujar Herti sebelum benar-benar keluar dari kamar Arin.


Arin pun hanya diam sambil menatap ke arah kotak persegi di tangannya tersebut dengan tatapan kosong. Ia pun akhirnya memberanikan diri untuk membuka foto tersebut, dan isinya adalah rangkaian foto-foto Arin selama acara gathering perusahaan yang terlihat tertawa dengan lepas.


Arin pun tersenyum sambil meraba setiap foto yang ia pegang di tangannya satu persatu. Dan ketika ia membalik salah satu foto tersebut, ia pun melihat tulisan Satria sebagai pesan untuk nya.


...Sama seperti dalam foto ini aku harap kamu selalu bahagia. Teruslah tertawa, karena bahagia mu akan menjadi hadiah untuk doa-doa ku....


Arin pun tersenyum menatap tulisan tersebut dengan air mata yang menggenang. Ia pun kembali membalik sebuah foto lagi dan menemukan tulisan lain.


...Momen paling bahagia dalam hidup ku adalah melihat kebahagiaan di wajah Arinda....

__ADS_1


Perlahan tapi pasti tetesan air mata pun keluar begitu saja dari kedua matanya tanpa bisa ia tahan. Hanya melihat tulisan-tulisan tangannya saja, membuat rasa rindu seketika membuncah di hatinya.


Ada sekitar 10 buah foto di tangannya dan semua memiliki tulisan dan pesan di balik fotonya. Arin pun sesekali tertawa masih dengan air mata yang menetes setiap membaca satu demi satu pesan yang ditulis oleh Satria di foto tersebut.


__ADS_2