Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Bab 107


__ADS_3

Arin terbangun dengan kepala yang masih terasa berdenyut nyeri. Ia pun menerawang mencoba mengingat apa yang terjadi hingga akhirnya ia pun membulatkan matanya karena terkejut.


Ia ingat kalau terakhir kali sadar, ia berada di rumah sakit untuk membawa Satria. Setelah kejadian penculikan yang di lakukan Bayu yang membuat Satria terluka parah, akhirnya Arin dan keluarganya membawa Satria ke rumah sakit untuk segera mendapatkan pertolongan.


Flashback,


Setelah Bayu menembak perut Satria sampai akhirnya Satria tidak sadarkan diri, Arin pun menghampiri tubuh kekasihnya itu yang sudah tergeletak begitu saja dengan mata yang hampir terpejam.


Sebelum akhirnya benar-benar pingsan Satria sempat muntah darah, ia hanya bisa mengucapkan maaf untuk cinta pertamanya itu. Karena Satria merasa jika ia mungkin tidak akan bisa selamat, tubuhnya juga sudah sangat lelah.


Meskipun sudah berusaha sekuat tenaga untuk tetap sadar, pada akhirnya Satria pun harus berlapang dada jika mungkin tuhan berkehendak lain dengan segera memanggilnya kembali pulang ke sisiNya.


"Arinda, sekarang dia sudah mati. Gak ada gunanya lagi kamu tangisi dia." sambil menarik tangan Arin untuk membuatnya melepaskan tubuh Satria.


Tapi Arin malah menghempaskan tangan Bayu dengan kasar dan tak memperdulikannya sama sekali membuat Bayu semakin merasa frustasi. Ia pun berteriak kesal sembari menendang udara karena Arin tidak mau bergerak dan tetap menangis sembari memeluk tubuh Satria.


"Kenapa kamu harus menangisi dia? Dia sudah mati!" ujar Bayu frontal sembari menarik tubuh Arin untuk menatapnya membuat tangis Arin semakin kencang.


Air Matanya terlihat semakin deras mengalir, hati Arin begitu sakit mendengar apa yang Bayu katakan. Arin tidak memercayai sedikitpun apa yang Bayu katakan, karena Satria pasti akan bertahan untuknya.


"Lupakan dia, sebentar lagi kita akan menikah. Dan aku janji aku akan selalu membahagiakan kamu." ujar Bayu sembari mencoba menggapai pipi Arin dengan lembut tapi yang terjadi Arin malah menamparnya terlebih dahulu dengan kencang.


Plakk,


Bayu pun tertegun melihat sikap Arin yang lebih berani lagi. Seketika emosinya menjadi naik ia pun menjambak rambut Arin hingga membuat kepalanya menengadah menatap langit-langit. Arin hanya tertawa, membuat Bayu sedikit terkejut.


"Kamu pikir, jika Satria mati pun aku akan mau bersama kamu? Mimpi kamu Bayu !!" ujar Arin dengan mata yang berkilat memperlihatkan kemarahan.


"Lebih baik aku mati dari pada harus membiarkan kamu memiliki aku." ujar Arin sembari mendorong tubuh Bayu hingga membuatnya terlepas dari Satria.


Dn secepat kilat Arin mengambil pistol yang di pegang oleh Bayu membuat Bayu terkejut membelalakkan matanya melihat Arin yang kini tengah berdiri sambil memegang pistol di tangannya.


Bukannya menodongkan pistol tersebut ke arah Bayu ataupun anak buahnya. Tapi diluar dugaan Arin malah menarik pistol tersebut ke arah kepalanya. Ia pun menertawakan Bayu yang tampak ketakutan melihatnya seperti itu.

__ADS_1


Arin terus tertawa, tapi tawanya menyiratkan kepedihan dan kesedihan yang mendalam. Semua anak buah Bayu mencoba mendekati Arin tapi Arin terus mengancam jika mereka berani untuk mendekat maka ia tidak akan segan untuk menembak kepalanya sendiri.


Tentu saja hal itu membuat Bayu panik bukan main. Ia sangat mencintai wanita yang kini ada di hadapannya itu. Walaupun ia sedikit marah dengan apa yang Arin ucapkan saat ini tapi ia tidak akan mungkin rela jika harus kehilangan Arin begitu saja.


Saat Bayu tengah berusaha membujuk dan menenangkannya Arin pun melihat sekelebat bayangan para polisi yang sepertinya sudah datang ke lokasi penculikan. Tentu saja Arin akan memanfaatkan keadaan tersebut. Hatinya sedikit lega karena mengetahui bantuan telah datang.


Dengan begitu ia bisa segera membawa Satria ke rumah sakit secepat mungkin. Dan ketika para penjahat lengah karena fokus pada Arin yang sedang bernegosiasi dengan Bayu para polisi pun bergerak cepat.


Dorr, dorr.


Terdengar 2 kali letusan senjata api dimana kepala penculik tersebut mendapatkan hadiah timah panas dari polisi. Mereka sengaja melakukan hal tersebut karena sang ketua penculik adalah penjahat yang sangat licik dan lihai dalam setiap aksinya.


Ia selalu bisa meloloskan diri setiap petugas polisi akan menangkapnya. Ada beberapa kasus penculikan bahkan pembunuhan yang di ketuai oleh orang tersebut. Dia sangat berbahaya, dan sudah menjadi buronan selama hampir 3 tahun dan selalu lolos dengan mudah.


Karen itu begitu ada kesempatan, maka polisi segera melumpuhkannya terlebih dahulu. Beruntung Bayu sempat mengintruksikan Ara anak buahnya untuk membuang senjata mereka ketika Arin sedang mengancamnya tadi.


Tapi bukannya menyerah ketua penculik tersebut malah nekat melompat mengambil senjata apinya yang ia buang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ia pun dengan segera hendak membidik Arin tak perduli lagi dengan apa yang tidak di perbolehkan oleh orang yang membayarnya yaitu Bayu.


Bayu yang lebih dulu menyadari hal tersebut berlari secepat mungkin untuk melindungi Arin yang kini tengah berusaha mendudukkan tubuh Satria. Dan dalam sekejap peluru tersebut berhasil menembus punggung Bayu yang telah berhasil menjadi tameng dari wanita yang sangat di cintainya itu.


Dorr,


Setelah menatap Bayu beberapa saat Arin kembali menatap ke depan berusaha kembali membangunkan Satria dan secepatnya Dean berlari menghampirinya di susul oleh Adrian dan ayahnya yang tampak begitu khawatir dengan keadaannya.


"Dean cepat bantu kakak. Kita harus segera sampai di rumah sakit." ucap Arin dengan khawatir bahkan ia mengacuhkan kekhawatiran Adrian dan ayahnya yang berusaha mengonfirmasi keadaannya saat ini.


"A..Arin..apa tidak ada sedikit saja perasaan kamu untuk aku. Bahkan perasaan kasihan?" tanya Bayu membuat Arin menoleh sesaat ia menatap Bayu dengan tatapan dingin.


"Aku tidak akan berterimakasih karena kamu telah menyelamatkan aku, karena itu adalah hal yang pantas untuk kamu dapatkan." jawab Arin menohok membuat bulir airmata Bayu semakin deras.


Bahkan setelah langkah yang begitu jauh yang harus ia tempuh, ternyata semuanya tidak bisa meluluhkan hati Arin untuknya. Malah kini Arin begitu membencinya, membuat Bayu semakin merasakan sakit di hatinya.


Ambulance pun telah datang dan membawa Satria dan Bayu ke rumah sakit yang sama untuk mendapatkan penanganan serius secara cepat. Mereka akhirnya sampai di rumah sakit terdekat setelah 15 menit menempuh perjalanan.

__ADS_1


Arin memutuskan untuk ikut dalam ambulance, ia tidak mengindahkan apapun perkataan ayahnya saat itu. Arin sudah berhenti menangis sejak saat keluarganya datang, tapi tatapan wajahnya menjadi dingin dan kosong.


Ayah dan Adrian pun memutuskan untuk mengikuti Arin ke rumah sakit dengan mobil sementara Dean ikut dengan Arin di dalam ambulance. Sepanjang perjalanan, Arin tak henti merapalkan banyak doa di dalam hatinya sambil menggenggam terus tangan Satria yang mulai terasa dingin.


Dalam kepalanya saat itu begitu kosong, tidak ada hal lain selain Satria yang menjadi fokusnya. Begitu sampai di rumah sakit Satria pun langsung di bawa ke IGD untuk mendapatkan tindakan.


Dan di tengah kekalutannya, Arin mencoba untuk tetap tenang. Ia teringat dengan keluarga Satria dn memutuskan untuk segera menghubungi mereka karena ia masih menyimpan nomor mama Satria.


Setelah menelpon dan memberitahukan keberadaan Satria di rumah sakit, Arin pun menceritakan sedikit tentang apa yang terjadi sampai akhirnya mama Satria memutuskan sambungan teleponnya.


Dan setelah 1 jam menunggu akhirnya seorang dokter pun datang dan menghampiri Arin dan juga keluarga Satria yakin baru saja sampai beberapa saat lalu. Dokter pun memberitahukan jika kondisi Satria saat ini tengah kritis.


Satria mengalami luka yang cukup parah dan juga kehilangan banyak darah. Refleks keluarganya pun menawarkan diri untuk menjadi pendonor bagi Satria dan menandatangani berkas persetujuan operasi yang akan di lakukan.


Dan saat di ruang tunggu Arin terus diam dengan wajah datarnya ia tidak duduk sedikitpun dari awal. Tapi tiba-tiba saja perasaannya menjadi semakin tidak tenang. Operasi sudah berlangsung selama 4 jam namun belum ada satupun dokter yang keluar.


Karena lelah dengan pikiran buruk yang terus menghantuinya dan kurangnya asupan nutrisi selama beberapa jam ini akhirnya Arin pun tumbang. Ia jatuh pingsan ketika operasi masih berlangsung, sejak awal ia menolak setetes pun air yang di berikan keluarganya.


Dan begitu ia bangun dan mengingat semuanya Arin pun langsung bergegas turun dari brankar. Ia juga mencabut selang infus yang dari tangannya dan bergegas keluar dari ruangan tempatnya saat ini menerima perawatan.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2