
Saat ini Arin dan Satria tengah duduk berhadapan dengan kedua orangtuanya. Sementara di samping kiri dan kanan mereka ada Adrian dan Meisya yang tampak turut dalam pembicaraan tersebut.
"Apa benar kamu memutuskan untuk kembali bersama dia?" tanya ibu membuat Arin mendongak perlahan menatap kedua mata sayu ibunya.
"Saya sangat mencintai Arin Tante." jawab Satria langsung mendapat tatapan tajam dari ibu Arin.
"Saya bertanya pada putri saya." jawab ibu dengan dingin menatap tidak suka ke arah Satria.
"I..iya bu." jawab Arin sedikit gugup.
Tampak raut kekecewaan tergambar di wajah kedua orangtuanya. Mereka tidak pernah menyangka jika dalam waktu 1 bulan putrinya bisa kembali dengan laki-laki brengsek yang sudah menghancurkan hidupnya dulu.
Satria yang melihat ketakutan di wajah Arin berusaha menguatkannya dengan menggenggam tangan Arin dengan lembut. Dari tatapannya Satria ingin meyakinkan Arin jika semua akan baik-baik saja.
"Arin pergilah ke kamar dengan kakak ipar mu." ujar sang ayah kini membuat Arin menggeleng lemah.
""Ayah tidak meminta banyak, tolong turuti permintaan ayah kali ini Arin." ujar ayah lagi dengan tegas membuat Arin tak lagi bisa membantah.
Sesaat Arin menatap Satria yang kini tengah menatapnya dengan senyum teduh sambil menganggukkan kepalanya pelan. Arin dan Meisya pun akhirnya pergi dari ruang tamu menuju kamarnya di atas dengan berat hati.
"Kamu juga Adrian, ayah dan ibu ingin berbicara secara pribadi dengan Satria. Tolong kamu hargai permintaan ayah saat ini." ujar ayah Arin menatap tegas ke arah putra sulungnya itu.
Ia sangat tahu jika Adrian saat ini tengah di kuasai oleh emosi. Berbicara tidak akan menghasilkan apa-apa jika hati dan pikiran sedang panas. Akhirnya Adrian pun menurut memilih untuk pergi ke halaman belakang dimana putrinya sedang bermain bersama pengasuh.
Setelah semua orang pergi, kini hanya tersisa Satria dan kedua orangtua Arin di ruang tamu. Suasana menjadi begitu canggung dan senyap karena keduanya hanya diam selama beberapa saat.
__ADS_1
"Sebelum kamu menjelaskan apapun, saya ingin bertanya dan memberi tahu kamu beberapa hal." ujar ayah Arin memulai pembicaraan.
"Sudah berapa lama kamu putus dengan Arin?"
"Hampir 10 tahun om." jawab Satria dengan tenang.
"Dalam 10 tahun, apakah kamu tahu apa saja yang putri saya lewati karena kamu?"
Deg
"Baiklah jika kamu belum tahu maka akan saya beritahu."
"Setelah Arin tahu kamu menghamili wanita lain, putri saya begitu sangat terpuruk. Dia mengurung dirinya di dalam kamar selama berhari-hari. Bukan hanya menolak makan dan minum, putri saya juga pernah nyaris bunuh diri." jelas ayah Arin dengan suara tercekat berusaha kuat dalam menjelaskan bagaimana keadaan Arin saat itu.
"Sepertinya kamu tidak tahu apa-apa tentang hal ini. Putri saya mengiris pergelangan tangannya dengan pecahan kaca. Beruntung ibunya cepat mengetahui kejadian tersebut sehingga nyawa putri kami bisa cepat di selamatkan saat itu." jelas ayah lagi membuat Satria hanya menunduk menahan air mata yang sudah akan jatuh dari kelopak matanya.
"Dan beberapa hari di rawat di rumah sakit, putri saya menjadi lebih banyak diam. Ia tidak banyak bicara dan dokter pun mengatakan jika Arin sepertinya mengalami depresi. Dan selama bertahun-tahun ia selalu rutin pergi ke psikiater untuk berobat dan menjalankan terapi."
"Tapi begitu ia sudah mulai berangsur pulih dan baik-baik saja kamu datang kembali dalam kehidupan putri saya. Hingga akhirnya putri saya memilih untuk pergi ke sebuah pulau terpencil yang sangat jauh dari sini.
Selama 1 tahun penuh putri saya mencoba untuk bangkit dan melupakan kamu, mengobati sakitnya kembali sampai psikiaternya mengatakan jika Arin sudah benar-benar sembuh dan bisa lepas dari obat anti depresan yang ia konsumsi selama bertahun-tahun karena kamu."
"Dan lihatlah sekarang, begitu putri saya mencoba memulai kehidupannya kembali lagi-lagi kamu datang ke dalam hidupnya dengan begitu mudah. Mungkin dia bisa dengan mudah memaafkan kamu karena dia begitu mencintai kamu. Tapi apa kamu pikir saya akan memaafkan kamu begitu saja?"
"Setelah membuat putri saya menderita selama hampir 10 tahun?"
__ADS_1
"Setelah membuat kami hampir saja kehilangan satu-satunya putri kami yang berharga?"
"Apakah kamu merasa pantas untuk bisa kembali mendapatkan putri kami dengan masa lalu kamu yang seperti itu?"
Satria hanya bisa menunduk semakin dalam, dengan air mata yang sudah tak bisa ia tahan. Perlahan ia mendekat ke arah ayah dan ibu Arin dan bersimpuh memohon di bawah kaki mereka.
"Saya minta maaf om, tante. Karena saya gak tahu penderitaan Arin sebesar itu. Saya juga tidak akan membela diri atau menjelaskan apapun karena memang masa lalu saya telah menyakiti Arin terlalu dalam. Tapi saya mohon om, tante berikan saya kesempatan untuk membahagiakan Arin."
"Saya berjanji jika saya tidak akan pernah membuat Arin menderita lagi. Saya akan selalu membahagiakan putri om dan tante." ujar Satria dengan suara parau.
"Jangan membuat janji yang bahkan kamu sendiri tidak yakin akan bisa menepatinya." ujar ibu Arin setelah cukup lama diam dan hanya menjadi pendengar di antara suaminya dan Satria.
"Terus terang saja, tante tidak rela jika Arin berhubungan lagi dengan kamu apalagi untuk ke jenjang yang lebih serius lagi. Kamu juga harusnya bisa mempertimbangkan ini dengan baik, apakah Arin bisa menerima keberadaan anak kamu. Apa kalian sudah membicarakan itu semua?" ujarnya lagi benar-benar membuat Satria kehabisan kata-kata.
Lidahnya terasa kelu, ia tidak punya jawaban apapun atas pertanyaan kedua orangtua Arin. Terlebih ia tak pernah menyangka akan mendapatkan cerita seperti itu tentang Arin yang selama ini tidak pernah ia ketahui.
"Untuk saat ini, pulanglah. Renungkan lah apa yang om dan tante ceritakan saat ini. Pernikahan bukanlah sesuatu yang bisa di jalankan hanya dengan kata-kata cinta." ujar ayah Arin membuat Satria bingung harus bersikap seperti apa.
Apakah ia harus mengalah lebih dulu dan kembali lagi nanti atau diam dan terus memperjuangkan hubungan mereka. Walaupun harus menentang kedua orangtua Arin saat ini.
"Belum ada separuh pun yang kamu ketahui tentang Arin selama 10 tahun belakangan ini. Dan jika kamu tetap memaksa sekarang maka jawaban kami adalah tidak. Karena sebagai seorang ayah, om menginginkan seorang laki-laki yang pantas untuk putri om. Renungkanlah dengan diri kamu sendiri, apakah kamu merasa pantas untuk Arin di masa depan."
Satria pun akhirnya memilih untuk mengalah, sebelum pulang ia mencoba berpamitan dengan kedua orangtua Arin. Beruntungnya, meskipun mereka mungkin membenci Satria setidaknya sikap mereka masih sedikit baik dari pada apa yang ia telah pikirkan.
"Saya pasti kembali om, tante. Assalamualaikum." ujar Satria setelah berpamitan dengan kedua orangtua Arin.
__ADS_1