Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Sambutan Adrian


__ADS_3

Setelah membicarakan banyak hal mengenai rencana mereka ke depannya, Satria mengantarkan Arin pulang. Mereka harus mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk apa yang harus mereka hadapi besok pagi.


Setelah memastikan Arin masuk ke dalam rumah kostnya Satria pun bergegas pulang. Arin pun berjalan dengan gontai menuju kamarnya dengan banyak pikiran bercabang di kepalanya.


Begitu Arin hendak masuk ke kamarnya terlihat Sherina baru saja keluar, dengan membawa botol minuman kosong di tangannya untuk ia buang di tempat sampah yang terletak di depan kamar masing-masing.


Belum sempat Arin menyapa Sherina lebih dulu masuk kembali ke dalam kamarnya. Membuat Arin tiba-tiba saja kebingungan dengan sikap dingin Sherina terhadapnya. Seingatnya, siang tadi hubungan mereka masih baik-baik saja.


Arin mencoba mengingat-ingat apa mungkin ia memiliki kesalahan terhadap Sherina yang membuat sahabatnya itu sedikit marah padanya. Tapi semakin berpikir, Arin semakin merasa beban berat di kepalanya semakin bertambah.


Ia pun tidak mau ambil pusing untuk masalah lain terlebih dahulu. Di depan matanya, sudah jelas masalah besar tengah menantinya. Arin memilih untuk segera membersihkan dirinya dan mengadukan segala kegamangannya di atas sajadah yang ia gelar.


Ia menumpahkan segala kesedihan dan ketakutannya pada sang pencipta. Setelah mengadukan segala permasalahan di hidupnya itu Arin memilih untuk berbaring di atas sajadah.


Lambat laun kedua kelopak matanya tertutup sempurna hingga akhirnya ia tertidur masih mengenakan mukena di atas sajadahnya. Sherina pun hanya bisa terdiam setelah apa yang ia lakukan terhadap Arin.


Ada sedikit rasa bersalah di hatinya karena mengacuhkan sahabatnya itu. Sherina sadar jika semua ini bukanlah kesalahan Arin atau siapapun tapi entah kenapa Sherina tetap merasa tidak bisa menerima hal itu begitu saja.


Ia pun mencoba untuk memejamkan mata dan tidak mau ambil pusing dengan semuanya namun kantuk seolah telah pergi jauh darinya. Beberapa kali ia hanya bisa membolak-balikkan tubuhnya saja di atas pembaringan tanpa benar-benar tidur.


Sherina sungguh bukan orang yang picik dalam memandang segala sesuatu hal. Sisi baiknya lebih dominan dari keegoisan karena rasa kecewa yang kali ini sedang bercokol di hatinya.

__ADS_1


Sherina pun sadar tidak ada gunanya juga ia marah dan bersikap acuh terhadap Arin. Lagipula Arin memang sudah lebih dulu ada dalam hidup Satria. Kenapa ia harus marah, karena ia tak bisa menggeser posisi Arin di hati Satria.


Sherina pun menyadari kesalahan dan keegoisannya itu. Esok pagi ia bertekad untuk menemui Arin untuk meminta maaf atas sikapnya. Lagi pula Arin belum tentu tahu jika laki-laki yang sangat ia cintai adalah Satria.


Sherina yakin, Arin pasti tak pernah mengetahuinya melihat sikapnya selama ini seperti itu. Setelah hampir saja mendekati dini hari, Sherina baru saja bisa tertidur dengan nyenyak.


***


Pukul 6 pagi Satria sudah berdiri di depan kost'an Arin untuk menjemputnya. Namun kali ini tujuannya bukanlah untuk mengantar Arin pergi bekerja melainkan mengantarkannya bertemu kedua orangtuanya.


Sebenarnya Satria sangat merasa gugup dan khawatir tentang penolakan orangtua Arin terhadapnya. Namun Satria mencoba menepis semua pikiran negatifnya dan menyembunyikan rasa khawatirnya karena tak ingin menambah beban pikiran Arin tentunya.


Arin keluar dengan menggeret sebuah koper berukuran kecil. Ia sudah tahu dan paham dengan betul pasti keluarganya akan menahannya di Bogor nanti. Meskipun untuk alasan pekerjaan mungkin ia tidak akan bisa pergi.


"Sayang, kok bengong sih." ujar Satria menghampiri Arin yang tampak termenung sepanjang perjalanan.


"Ah, gak apa-apa aku lagi mikirin kerjaan aku. Tadi aku udah ijin dengan alasan sakit, tapi bingung kalau misalnya.."


"Udah, kamu percaya aja sama aku. Semuanya bakal baik-baik aja, kita hadapi sama-sama oke." potong Satria tidak ingin Arin lebih memikirkan kemungkinan terburuknya daripada hal baik yang harusnya menjadi harapan yang mereka tanamkan dalam hati dan pikiran mereka saat ini.


Arin pun hanya menatap Satria dengan tatapan tak terbaca sebelum akhirnya mengangguk dengan seutas senyum kecil tersungging dari bibirnya. Satria benar, tidak seharusnya ia berpikir tentang hal buruk saat ini.

__ADS_1


Ia harus tetap bisa berpikir positif di tengah permasalahan yang kini sedang mereka hadapi. Meskipun sulit, Arin yakin jika mereka akan menemukan jalan keluar yang baik dari segala permasalahannya saat ini.


Setelah berkendara menggunakan mobil selama hampir 3 jam akhirnya mereka pun sampai di halaman rumah kedua orangtua Arin. Satria terlihat beberapa kali menghela nafasnya dengan kasar untuk membuang kegugupannya.


Ia dan Arin memutuskan untuk turun setelah mempersiapkan diri mereka sebaik mungkin. Sudah ada Meisya yang menyambut kedatangan mereka di depan rumah. Ia pun langsung berlari menghampiri adik iparnya itu dan memeluknya sebagai bentuk dukungan untuk Arin.


"Lu yang kuat ya, jangan sampai kalian kepancing emosi di dalem. Tetap tenang, di depan ayah sama ibu nanti, gue yakin kalian bisa lewatin semua ini." ujar Meisya sebelum akhirnya membawa mereka masuk ke dalam rumah.


Suasana tampak hening begitu mereka masuk ke dalam rumah. Arin tidak tahu jam berapa kedua orangtuanya sampai di rumah. Bahkan ia juga melihat mobil Dean sudah terparkir sempurna di halaman rumah mereka.


Pastinya Dean yang sudah menjemput dan mengantarkan kedua orangtuanya pulang ke rumah. Namun setelah beberapa langkah masuk ke dalam rumah mereka masih belum melihat siapapun.


Namun tanpa ia duga Adrian yang baru saja keluar dari kamar langsung menghampiri Arin dan Satria. Tanpa aba-aba ia langsung melayangkan bogem mentah di wajah Satria persis seperti apa yang Dean lakukan kemarin.


Sontak saja Arin dan Meisya berteriak kaget dengan apa yang di lakukan Adrian. Memang ini pertama kalinya Adrian bertemu dengan Satria lagi setelah beberapa tahun. Meisya segera menarik tubuh Adrian untuk menahannya melakukan hal yang lebih jauh lagi.


Tapi Adrian masih terlihat begitu emosi, sedangkan Satria hanya bisa diam menerima apa yang menurutnya pantas ia dapatkan sejak dulu. Karena itu ia tidak akan marah apalagi membalas jika Adrian atau bahkan ayah Arin akan melakukan hal yang sama.


"Adrian, cukup!" ujar ayah Arin dengan suara dingin mencoba menghentikan putra sulungnya.


Adrian pun dengan terpaksa menuruti perintah ayahnya itu tanpa banyak bicara. Sementara Satria hanya bisa menunduk di hadapan kedua orangtua Arin saat ini. Setelah keributan kecil tersebut akhirnya kini semua orang tampak berkumpul di ruang tamu kecuali Dean yang entah berada dimana.

__ADS_1


Sejak Arin dan Satria menginjakan kakinya di rumah tersebut Dean belum sama sekali terlihat batang hidungnya sama sekali. Bahkan ketika Adrian menghajar Satria dan suasana rumah menjadi cukup riuh ia tetap tidak keluar dan bergabung.


Ayah dan ibu Arin hanya diam sejak tadi sambil menatap ke arah Satria dengan tatapan yang tajam. Mereka sendiri sangat berusaha menjaga emosi mereka karena tidak ingin melukai hati putri mereka.


__ADS_2