Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Sahabat


__ADS_3

Satria terbangun di sebuah kamar yang masih begitu familiar baginya. Ya itu adalah kamar di rumah lamanya yang sampai saat ini masih di pertahankan oleh kedua orangtuanya.


Walaupun tidak ada yang mengisinya tapi rumah ini selalu di bersihkan seminggu 2 kali. Mama Satria menyuruh seseorang untuk membersihkan rumah mereka agar ketika di kunjungi masih nyaman untuk di tempati.


Kepalanya sedikit terasa pusing karena semalam ia benar-benar mabuk berat. Beruntungnya ia bertemu salah satu sahabatnya ketika SMA di club tersebut.


Flashback,


Ketika malam semakin larut dan semua orang berada di sana hanyut dalam kegemarannya masing-masing. Begitu juga dengan Satria yang sudah menghabiskan 6 botol miras dan sudah terlihat mabuk.


Seorang laki-laki yang baru saja datang bersama teman-temannya terus melihat dan memperhatikan Satria. Ia adalah Niko, sahabat Satria ketika SMA.


Ia merasa mengenal laki-laki yang sedang terlihat kacau dan terus menerus meneguk minuman di gelasnya. Niko memisahkan diri dari teman-temannya itu dan mencoba mendekati Satria untuk memastikannya.


Niko begitu terkejut melihat benar jika Satria yang tengah mabuk berat dan di goda oleh seorang wanita malam. Niko pun mengusir wanita tersebut dan mencoba menyadarkan Satria.


"Satria! Lu ngapain lagi mabok kayak gini. 8 tahun lu ngilang sekarang ketemu malah keadaan lu gini sih." ujar Niko sembari menepuk-nepuk pipi Satria agar sadar.


Tapi karena ia sudah benar-benar mabuk, Satria hanya meracau tidak jelas sembari tertawa.


"Siapa lo, jangan pegang-pegang gue. Lepasin gue." racau Satria sembari berusahalah menepis tangan sahabat lamanya itu.


Niko pun lebih dulu membayar tagihan Satria sebelum akhirnya membawanya keluar. Karena ia tidak tahu mobil Satria yang mana, ia mengambil kunci mobil dari saku jas Satria dan menekan tombol untuk membuka kunci mobilnya.


Beruntung mobil tersebut di parkir tidak jauh dari tempat mereka berada. Niko meninggalkan mobilnya di parkiran karena harus mengantarkan Satria pulang.


Ia pun menitipkan mobilnya pada penjaga keamanan di sana karena kebetulan Club tersebut adalah milik Om nya. Dan ia sudah berlangganan di sana bahkan mengenal hampir semua pekerja di sana.


Niko masih mengingat alamat rumah Satria yang dulu karena ia sering main dan menginap di sana dulu. Ia mengetahui jika keluarga Satria telah pindah dari sana tapi rumah tersebut tetap di rawat dan di jaga dengan baik.


Sepanjang jalan Satria terus meracau tidak jelas. Kadang ia akan tertawa, kadang ia akan menangis bahkan merengek memanggil nama mantan kekasihnya itu.

__ADS_1


Niko hanya bisa menggelengkan kepalanya tidak percaya. Karena ini sudah 8 tahun, ia pikir mungkin Satria sudah tidak berhubungan dengan Arin lagi atau bahkan menikah dengan orang lain. Karena ia sendiri sebentar lagi akan menikah, pikirnya.


"Satria, Satria. Huh, gue kira lu mabok kenapa? Eh tahu-tahunya masalah cewek juga."


"Dan ini dah 8 tahun Sat, lu masih pacaran sama si Arinda?" tanya Niko lagi yang tidak di tanggapi oleh Satria.


Begitu sampai di rumah Satria langsung memuntahkan seluruh isi perutnya. Niko adalah sahabat baiknya, bahkan saat seperti itu pun ia tidak meninggalkan Satria.


"Ah bangsat, 8 tahun lu ilang sekarang ketemu-ketemu nyusahin gue lu ah." ujar Niko sembari melemparkan tubuh Satria ke atas ranjang.


Ia pun duduk bersandar di sisi lain ranjang tersebut sambil menghisap sebatang rokok kemudian ia pun tertawa mengingat kejadian ini.


Padahal ia datang ke Club untuk bersenang-senang, tapi ia harus mengurungkan niatnya karena bertemu dengan sahabat lamanya itu yang bahkan mungkin tidak akan mengingatnya ketika sadar nanti.


***


Satria tidak mengingat apapun tentang semalam dan hanya ingat jika ia pergi ke Club dan minum-minum. Sambil memegang kepalanya yang masih terasa begitu pusing ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan berganti pakaian.


Ia masih bertanya-tanya dalam hati, tentang bagaimana ia bisa pulang dan sampai di rumah dengan selamat. Setelah selesai, ia terkejut melihat seorang laki-laki yang sedang tertidur di atas sofa.


Satria pun mencoba untuk membalik tubuh orang asing yang berada di dalam kamarnya itu dan ia begitu terkejut sampai berteriak karena terkejut. Niko pun tersentak kaget mendengar teriakan Satria dan segera bangkit sambil bertanya-tanya apa yang terjadi.


"Aaaakkkkhhh."


"Mana malingnya sat? mana maling? mana?" ujar Niko spontan.


"Bangsat, gue kira siapa lu! elu malingnya."


"Enak aja tuh bacot."


"Lagian ngapain lu ada di kamar gue coba?"

__ADS_1


"Gak tahu terimakasih yah lu. Udah gue bayarin bill nya, susah payah gue anterin pulangnya malah ngatain gue maling lagi." protes Niko kesal.


"Oh gitu, sorry deh nik sorry."


"Sorry, sorry aja lu. Lagian lu ngapain sih ngilang 8 tahun tiba-tiba ketemu malah nyusahin gue."


Satria pun tiba-tiba terdiam mendengar penuturan sahabatnya itu dan kembali teringat dengan masalahnya saat ini. Niko pun bisa melihat perubahan pada wajah Satria yang tiba-tiba.


"Eh sorry nih bro, gue gak maksud apa-apa kok.“


" Iya gak apa-apa, kok."


"Sat, lu kemana aja sih selama 8 tahun ini? Kenapa tiba-tiba ngilang gitu aja? Sebenernya lu ada masalah apa?"


Satria pun tampak terdiam dan tak tahu harus menceritakan semuanya dari mana.


Niko hanya bisa diam mendengarkan cerita Satria, banyak hal besar yang telah terjadi tanpa pernah ia ketahui selama ini. Sahabatnya sudah melewati hidup yang cukup pelik.


"Terus gimana sekarang? Lu masih ada rasa sama Arin?" tanya niko.


"Gue masih sayang banget ko sama Arin. Selama 8 tahun ini, gue gak pernah lupain dia sedikit pun."


"Tapi masalahnya, apa mungkin Arin bisa maafin gue setelah semua yang terjadi?"


"Gue bener-bener nyesel banget ko, selama 8 tahun ini tapi gue juga gak bisa ngelupain apalagi ngelepasin dia gitu aja."


"Apalagi sekarang kita 1 kantor, gue tiap hari ketemu sama dia. Dan gue gak mau sampai ada cowok lain yang akhirnya gantiin posisi gue di hati dia." ujar Satria jujur.


"Emang dia masih jomblo gitu?"


"Gue gak tahu soal itu, tapi akhir-akhir ini dia memang lagi deket sama 1 cowok. Tapi entah kenapa gue gak percaya kalau Arin beneran suka ama cowok itu."

__ADS_1


"Gue bingung kalau urusan kayak gini tuh sat. Jujur gue gak bisa 100% ngedukung keinginan lu gitu aja. Soalnya lu juga harus tahu kalau yang terjadi di masa lalu itu bener-bener menyakiti Arin. Dan gue rasa, kalau gue jadi dia gak mungkin gue bisa maafin lu gitu aja setelah lu buntingin cewek lain."


Satria pun hanya bisa terdiam mendengar penuturan sahabatnya itu.


__ADS_2