Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Pagi-pagi buta


__ADS_3

Hampir pukul 3 pagi Raka terbangun karena getaran ponselnya yang tak berhenti sejak beberapa saat lalu. Raka pun memaksa kedua matanya untuk terbuka dan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja di samping tempat tidurnya.


Ia sedikit terkejut melihat nomor yang tertera di sana adalah nomor Arin. Tanpa ragu ia bergegas mengangkat telepon tersebut dan sebelum bisa berucap ia bisa mendengar samar suara tangisan perempuan tersebut yang tertahan penuh sesak.


"Kamu kenapa Rin? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Raka begitu khawatir.


Tidak ada jawaban dari seberang telepon dan hanya tangisan gadis itu yang terdengar semakin memilukan.


"Rin? please jawab saya dulu. Kamu baik-baik aja kan?" tanya Raka semakin khawatir mendengar Arin yang hanya semakin terisak.


"Kamu dimana? Saya berangkat ke Bogor ya sekarang?“ tanya Raka hampir mematikan sambungan teleponnya untuk bersiap.


" Raka." panggil Arin dengan suara bergetar nyaris tak tersisa membuat Raka mengurungkan niatnya.


"Ada apa Rin? Apa yang terjadi sebenarnya?"


Arin terdiam cukup lama ia mencoba untuk memenangkan dirinya lebih dulu. Dengan perlahan ia menghapus air mata yang mengalir di kedua pipinya.


"Raka, apa aku bisa minta tolong?" tanya Arin.


"Tentu, apa yang bisa aku lakukan untuk kamu?" tanya Raka.


"Bisakah kamu ke rumahku besok? Kita perlu bicara." ujar Arin setelah terdiam beberapa saat.


"Tentu, baiklah. Besok pagi-pagi aku akan ke sana.“


" Baiklah, Terimakasih."


"Hm, Rin. Apapun yang terjadi, percayalah aku akan selalu ada buat kamu."


"Terimakasih." ujar Arin dengan hati yang menghangat.


**


Dan di sanalah kini Raka berada, di depan sebuah rumah seorang yang baru saja ia tinggalkan kemarin. Ibu yang hendak menyapu halaman terkejut menyadari kehadiran Raka yang sepagi itu sudah berada di sana.

__ADS_1


Pasalnya setelah Arin menelponnya dini hari tadi, ia tidak lagi bisa melanjutkan tidurnya karena khawatir. Ia terus memikirkan keadaan perempuan yang selalu bersamanya selama 2 bulan belakangan ini.


Hingga akhirnya ia memutuskan untuk berangkat pagi-pagi buta agar bisa sampai dengan cepat. Ia sangat mengkhawatirkan Arin, karena ia merasa ada sesuatu yang mungkin terjadi padanya.


"Nak Raka, kenapa pagi-pagi sekali nak Raka sudah ada di sini? Ayo nak, masuk-masuk." ujar ibu Arinda dengan ramah.


Raka pun langsung menghampiri wanita paruh baya tersebut dan mencium punggung tangannya.


"Maaf Bu, Raka sudah datang sepagi ini.“ ujarnya membuat kedua sudut bibir wanita itu terangkat.


" Tidak apa-apa, ayo nak masuk dulu. Kita bicara di dalam." ujar Ibu membuat Raka mengikutinya masuk ke dalam rumah.


Ayah Arin yang sedang membaca koran di meja makan pun sedikit terkejut melihat kedatangan laki-laki tersebut.


"Pak, lihat ini ada nak Raka datang."


"Selamat pagi om." Ujar Raka sambil mencium punggung tangan ayah Arin.


"Duduklah nak, apa kau sudah sarapan?" tanya ayah Arin membuat Raka sontak menggelengkan kepalanya tanpa sadar.


"Sudah apanya nak Raka, kalau jam 6 pagi aja kamu udah ada di sini. Pasti kamu berangkat dari Jakarta sekitar jam 4 subuh.“ ujar ibu membawakan segelas susu dan sepiring nasi goreng.


Raka pun hanya bisa tersenyum penuh canggung mendengar ucapan wanita paruh baya itu.


"Makanlah, lebih dulu. Kamu pasti lelah, baru kemarin kamu pulang dan sekarang sudah berada di sini." ujar ibu lembut.


"Ya, makanlah dulu setelah itu om ingin bicara dengan kamu." ujar ayah Arin.


Mendengar perhatian dari kedua orang tua Arin membuat hatinya sedikit menghangat. Raka sangat merindukan suasana rumah di pagi hari seperti itu, yang sudah begitu lama tidak ia rasakan.


Raka mulai menikmati makanan yang ada di hadapannya itu dengan hati yang begitu menghangat. Hampir 15 menit sampai akhirnya ia menghabiskan makanan tersebut dan meminum segelas susu hangat buatan ibu Arin itu.


Kini Raka dan ayah Arin tengah duduk di halaman belakang sembari menikmati suasana pagi yang begitu menyegarkan mata. Udara pagi di sana masih sangat sejuk meskipun berada di pusat kota. Dan ayah pun sengaja membuat halaman belakang di penuhi tanaman dan beberapa pepohonan agar bisa membuat rumah terasa lebih sejuk.


"Nak Raka, apa Arin menghubungi kamu?" tanya ayah yang langsung di angguki oleh Raka.

__ADS_1


"Iya om, semalam Arin menghubungi saya." ujar Raka.


"Om senang, setidaknya dia menghubungi kamu dan tidak menghabiskan semua masalahnya sendirian seperti biasa."


"Arin adalah satu-satunya putri om, dan sejak kecil ia sangat mandiri meskipun kami semua memanjakannya. Ia adalah anak yang cerdas dan sangat periang. Arin sangat mudah untuk di sukai oleh siapapun sejak kecil. Arin selalu membuat orang di sekitarnya tersenyum bahagia. Karena itulah, ia mudah dekat dengan siapapun dan sangat mudah di Terima dalam pertemanan."


"Sampai akhirnya beranjak dewasa dan mengenal Cinta, awalnya semuanya tampak baik-baik saja sampai akhirnya semuanya berubah."


Raka hanya mendengarkan dan menyimak semua yang ayah Arin katakan. Dan ayah pun menceritakan awal dari semua kisah ini berasal. Walaupun ia tidak menyangka dengan apa yang terjadi sebenarnya tapi ia tetap berusaha mendengarkan dengan baik tanpa menyela sedikit pun.


Walaupun sebenarnya ia sudah tahu tentang hal tersebut dari Arin langsung, tapi Raka memilih untuk mendengarkannya kembali dari pandangan keluarga Arin. Raka pun menceritakan jika sebenarnya Arin dan Satria kini adalah atasan dan bawahan di kantor.


Ayah sangat terkejut mengetahuinya, ia tidak menyangka jika putrinya benar-benar sudah dewasa. Ia sudah bisa menghadapi masa lalunya dan tetap profesional dalam bekerja.


Padahal selama ini Arin mati-matian tidak ingin pulang ke kota kelahirannya karena tidak lagi ingin melihat mantan kekasihnya itu. Dan setelah 8 tahun lalu, mereka malah di pertemukan dalam ruang lingkup yang sama.


Ayah dan Raka sama-sama termenung dengan pikiran entah kemana. Tak lama kemudian terdengar suara Adrian dan Meisya yang datang. Ibu segera membantu menantunya itu untuk mengambil cucunya yang tampak begitu pulas di gendongan sang ibu.


"Ayah ada di belakang, kalian ke sana aja. Biar cucu ibu ini sama neneknya dulu." ujar ibu tersenyum teduh.


Adrian dan Meisya pun langsung menghampiri ayahnya yang kini sedang duduk di temani Raka.


"Loh ada Raka? nginep?" tanya Meisya.


"Enggak, Raka baru dateng. Arin yang minta." jelas ayah membuat keduanya mengangguk mengerti.


Setelah mencium punggung tangan ayahnya itu secara bergantian Adrian dan Meisya duduk di sebuah kursi kayu panjang yang berada tepat di samping kiri ayahnya.


"Yah, Raka sudah tahu?" bisik Adrian pelan.


"Sudah." ujar ayah.


"Arin gimana sekarang, yah? Aku boleh gak nemuin Arin sekarang?“ tanya Meisya.


"Sebaiknya jangan dulu. Biarkan dia beristirahat, dia pasti tidak bisa tidur semalaman." ujar ayah yang sangat mengerti bagaimana perasaan putrinya saat ini.

__ADS_1


"Baik yah, kalau gitu Meisya ke ibu dulu.“ pamit Meisya.


__ADS_2