
Arin terbangun ketika cahaya matahari tampak menelusup di jendela kamarnya. Entah sudah berapa menit ia terdiam di atas tempat tidur tanpa berniat untuk bangun sedikitpun.
Matanya sudah terbuka, tapi tubuhnya masih enggan untuk beranjak dan hanya ingin bergelung di atas kasur selama seharian. Tapi tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu, ibunya memanggil nya untuk ikut sarapan bersama di meja makan.
"Rin, bangun nak sudah siang. Ayo kita sarapan." ujar ibu di balik pintu.
"Iya bu, sebentar aku mandi dulu." jawab Arin sambil menurunkan kedua kakinya dan mencoba untuk bangkit.
Iya bergegas pergi ke kamar mandi, dan tidak sampai 15 menit ia sudah menyelesaikan ritual mandinya itu. Karena malas berdandan Arin memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan langsung menuju ruang makan.
Nampak ayah dan ibunya tengah duduk manis menunggunya untuk bergabung. Ia pun memilih untuk duduk bersebrangan dengan ibunya.
Perlahan-lahan ibu tampak mengambilkan nasi beserta lauk ke dalam piring milik ayahnya. Dan tentunya sambil mengeluarkan nasehat-nasehat yang setiap hari membuat kepala Arin pusing ketika mendengar nya.
"Kalau anak gadis itu, di usahakan bangunnya jangan siang-siang. Nanti jodohmu semakin jauh nak di ambil orang." ujar ibu sembari mengambilkan lauk ke piring ayahnya.
"Iya bu, perasaan tiap hari ibu ngomong itu terus. Apa gak bosen ya bu, yah." ujar Arin santai sembari menyeruput secangkir teh hangat di tangannya yang di buatkan oleh ibu.
"Itu teh sudah ibu bikin satu jam lalu, tapi kamu gak bangun-bangun. Akhirnya ibu bikin lagi yang baru."
"Oh iya bu, maaf dan makasih buat teh nya." ujar Arin tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang tampak putih.
Ya inilah kehidupan baru yang sudah Arin jalani selama 1 tahun semenjak ia keluar dari perusahaan Bayu. Ia tinggal di sebuah kampung yang terletak di pesisir salah satu pantai di luar pulau Jawa.
Ayah dan ibunya membeli rumah di sana dan memulai bisnis kecil di kampung tersebut. Yaitu budi daya udang kering yang biasa di pakai sebagai bumbu masakan.
Sedangkan ibunya membuka sebuah kelas untuk mengajarkan anak-anak di sekitar pesisir tentunya secara cuma-cuma alias gratis. Dan terkadang Arin juga membantu mengajari anak-anak di sana.
Perkampungan di sana cukup terpencil dan jarang ada orang luar yang datang. Anak-anak di kampung banyak yang tidak bersekolah karena kehidupan ekonomi di kampung tersebut masih cukup sulit.
Karena itu ibu ingin mengajarkan anak-anak di sana minimal untuk bisa membaca, menulis dan berhitung. Tidak tanggung-tanggung ia juga membuat sebuah perpustakaan gratis yang berada di samping kelas tempat nya mengajar.
__ADS_1
"Hari ini kamu bantuin ibu ya di kelas, ibu mau pergi ke kota untuk berbelanja kebutuhan bulanan kita karena sudah mau habis." jelas ibu.
"Iya bu, nanti Arin kesana 1 jam lagi." jawab Arin menyetujui permintaan ibunya.
Karena sebenarnya ia memang tidak mempunyai pekerjaan dan hanya menganggur selama 1 tahun belakangan. Ibunya sampai di buat jengkel karena Arin kini lebih suka menghabiskan waktunya untuk menyendiri duduk berjam-jam di pantai.
Meski begitu, tidak jarang ia membantu pekerjaan ayahnya dan juga ibunya. Ia memberikan saran pada ibunya untuk membuka sekolah gratis bagi warga setempat.
"Ibu pergi sama siapa?" tanya Arin sambil mengunyah nasi dan lauk dengan mulutnya.
"Ibu pergi sama pak Hendra, soalnya ayah lagi sibuk katanya." ujar ibu sedikit ketus sengaja menyindir suaminya.
"Loh, ibu kok begitu. Biasanya juga kalau ayah gak sibuk ayah yang antar. Sekali-kali lah bu, ibu pergi dengan orang lain." jawab ayahnya dengan sabar.
Suasana ruang makan begitu riuh dengan perdebatan keduanya namun Arin malah tersenyum simpul dan tetap santai sembari menyantap sarapan paginya.
***
Belum ada roda ekonomi penggerak yang cukup di sana. Walaupun ayahnya membuka usaha kecil-kecilan di sana, tetap saja tidak mudah untuk bertumbuh dengan pesat. Ia hanya bisa membuka lapangan pekerjaan untuk beberapa orang saja.
Padahal di sini banyak pantai-pantai yang indah dan masih sangat asri, tapi penduduk setempat menolak untuk adanya pembukaan pantai sebagai tempat wisata.
Karena mereka tidak ingin keindahan pantai mereka jadi tercemar karena orang-orang yang kurang bertanggungjawab ketika berkunjung. Karena masyarakat di Indonesia masih memiliki kesadaran yang rendah akan sampah dan dampaknya terhadap lingkungan.
Banyak orang yang abai dengan permasalahan tersebut karena di anggap sebagai persoalan enteng yang nyatanya tak kunjung selesai di negara kita.
Karena itu ibunya sangat bersemangat untuk mendirikan sekolah di sana suatu hari nanti. Ia akan memulai nya dengan kelas darurat untuk menumpas anak-anak buta huruf terlebih dahulu.
Karena ibu ingin masyarakat di sini nanti bisa menjadi sumber daya manusia yang baik dan berguna di manapun, terutama untuk dirinya sendiri.
Hidup selama 1 tahun di sana mengubah banyak hal dalam diri mereka termasuk pola pikir dan tingkah laku. Arin merasa banyak bersyukur karena ia di berikan kesempatan mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
__ADS_1
Orang tua yang berpendidikan, ekonomi yang bisa di katakan cukup walaupun tidak kaya. Dan masih banyak lagi pelajaran yang bisa ia ambil ketika berada di sana.
Arin juga bisa belajar untuk lebih mencintai dirinya sendiri. Dan untuk itu, ia bertekad jika ia akan sembuh dari penyakit mental nya itu. Dengan mencintai diri sendiri, maka artinya dia tidak akan berbuat sesuatu hal yang bisa menyakiti dirinya sendiri.
Ia beruntung memiliki support system yang sangat baik. Mereka bukan hanya selalu mendukungnya dalam setiap keadaan namun mereka juga selalu membantu Arin untuk terus bangkit ketika ia merasa terpuruk.
Membantunya yang tengah belajar untuk berjalan walaupun masih tertatih. Dan untuk itu ia jadi banyak-banyak bersyukur apalagi mengingat pengorbanan kedua orangtuanya untuk ikut pindah dengannya.
Mereka bahkan meninggalkan banyak hal untuk bisa berada di sana. Hanya Adrian dan istrinya yang masih menetap di kota hujan tersebut. Sementara Dean yang kuliahnya akan segera selesai, memutuskan untuk menetap di Bogor dan akan pindah ke Jakarta setelah wisuda.
Karena kebetulan ia mendapatkan tawaran kerja dari tempat ia magang ketika ia kuliah. Baru 2 kali mereka datang berkunjung sejak Arin dan kedua orangtuanya menetap di sana.
Dan kedua orang tua Arin hanya pulang 1 kali saja dalam setahun terakhir yaitu saat Dean hendak di wisuda sementara Arin menetap sendiri.
Tapi meskipun begitu Meisya sang kakak ipar selalu menghubungi nya setiap hari. Bahkan Arin hampir bosan menanggapi telepon dari sahabatnya yang sangat cerewet itu, seperti hal nya hari ini.
Kriiiing, dering telpon pun kembali berbunyi. Dengan malas Arin pun mengangkat nya pada deringan ke lima membuat Meisya kesal.
"Ariiin, kenapa baru di angkat?!! " pekik Meisya dengan nada yang menyentak kesal membuat Arin menjauhkan sejenak benda pipih itu dari telinganya.
"Emangnya di pikir gue di sini nganggur apa gak ada kerjaan." gerutu Arin sambil mengusap telinganya pelan namun masih terdengar di telinga Meisya.
"Hei, lo itu di sana emang pengangguran. Masih sibukkan ayah sama ibu malah, dasar gak produktif." cetus Meisya mengingatkan membuat Arin terkekeh kecil.
"Lagian ada apa sih? Apa gak bosen gangguin gue tiap hari? Abang gue kemana sih emang?" ujar Arin sambil melipat bibirnya, kebiasaan yang ia lakukan setiap hari adalah membuat kakak ipar tersayang nya itu kesal.
"Gue yang terganggu nih dengan fans-fans lo yang datang hilir mudik kemari nyariin lo terus. Heran udah setahun juga, apa gak adalah cewek laen yang spek nya lebih dari lo." cibir Meisya yang hanya di tanggapi gelak tawa oleh Arin.
"Sialan! ketawa lagi lo. Di kira gue badan informasi apa yang di tanya-tanya terus tentang keberadaan lo." sambungnya lagi.
"Sabar ya, nanti juga mereka bosan! Udah dulu yaa, kakak ipar aku sibuk." ujar Arin dengan sangat manis.
__ADS_1
"Najis banget sih ah, sok cute lo! ya udah salam buat ayah sama ibu." ujar Meisya sembari mematikan teleponnya dengan kesal.