Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Sherina


__ADS_3

Hari sudah berganti malam, Satria masih betah duduk di atas bangku taman yang ada di setiap sudut taman kota. Tangannya tampak sibuk men scroll galeri fotonya yang di penuhi kenangan indah saat acara gathering dulu.


Ketika mengingat Arin, seketika itu juga ia teringat akan sahabat nya Bayu. Setelah kejadian terakhir di kantor, mereka tidak pernah bertemu lagi. Entah apa yang kini Bayu rasakan terhadap nya hanya Bayu sendiri dan Tuhan yang tahu.


Satria sangat berharap jika Bayu bisa menemukan seseorang yang dengan tulus mencintainya. Ia sangat hafal betul bagaimana sulitnya Bayu untuk tertarik dengan seorang gadis.


Kurang lebih Bayu itu tipe laki-laki yang sulit untuk jatuh cinta. Tapi ketika ia telah benar-benar jatuh cinta, ia akan seakan setia dan sulit melupakan nya.


Entahlah, apa kah Bayu masih membenci Satria atau tidak saat ini. Yang jelas Satria tidak pernah membenci nya karena ia tahu Bayu seperti itu pasti karena hasutan Rendi.


Entah karena apa Satria tidak tahu pasti penyebab utama Rendi begitu membencinya seperti itu. Karena apa yang ia ingat dulu, adalah mereka bertiga bersahabat cukup dekat.


"huh!! " Satria berdecak lalu menghembuskan nafas dengan kasar.


Ia pun segera bangkit dan mulai membuka aplikasi hijau di ponselnya. Segera ia pun memesan sebuah taksi online untuk mengantarnya pulang.


Ia tidak tega jika harus pakde Tejo kembali dan menjemputnya. Walaupun ia tahu, pakde Tejo pasti akan dengan senang hati melakukan nya.


Tidak lama, yang di tunggu pun datang. Satria segera menaiki mobil Xenia berwarna silver tersebut. Dan hampir pukul 9 malam ketika Satria sampai di rumah, mbok nah pun membukakan pintu untuk nya.


"Mbok, eyang mana?"


"Eyang baru saja masuk ke kamarnya, apa perlu saya kasih tahu kalau aden sudah pulang?" tanya mbok nah.


"Tidak perlu, lagi pula saja juga sangat lelah sepertinya mau langsung istirahat." jelas Satria sembari berjalan ke arah kamarnya.


"Baik den kalau begitu, simbok permisi saja." jawab mbok nah sembari memutar langkah nya ke arah belakang rumah.


Satria segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan berganti pakaian. Tubuhnya sudah sangat lengket karena seharian melakukan aktivitas di luar.


30 menit kemudian ketika ia selesai dan bersiap untuk pergi tidur, matanya menangkap sebuah paper bag asing di atas meja kerjanya yang berada tak jauh dari ranjang.


Satria pun memilih untuk melihat isi dari paper bag itu terlebih dahulu dan mengeceknya. Kedua alisnya sedikit bertaut melihat nama pengirimnya di sana.

__ADS_1


Hembusan nafasnya mendadak terdengar cukup berat ketika mengecek isi dari paper bag tersebut. Sebuah Jam tangan cukup mewah di dalam sebuah kotak berbentuk persegi yang di beri pita di atasnya.


Dan ada sebuah kartu ucapan terselip di sana yang membuat Satria memutar kedua bola matanya dengan malas.


Happy birthday, seperti biasa aku adalah yang pertama mengingatnya. Untuk kali ini, tolong jangan di kembalikan.


Sherina


Satria pun membuang kartu ucapan tersebut ke tong sampah yang tepat berada di sisi kakinya. Sementara jam tersebut ia kembalikan ke dalam paper bag.


Satria sudah benar-benar muak dengan gadis yang selalu mengirimkan hadiah ulang tahun untuknya setiap tahun. Karena besok adalah hari ulang tahun Satria dan seperti biasa Satria akan mengembalikannya.


Ia sudah hafal betul dengan gadis yang mengirimkan hadiah tersebut bahkan muak. Karena gadis tersebut lah, hubungannya dan Bayu semakin memburuk. Bayu menganggap jika Satria hanya berpura-pura menolak di depannya saja.


Sherina adalah gadis pertama yang di cintai oleh Bayu. Tapi sialnya gadis itu selalu mengejar-ngejarnya sejak dulu. Walaupun Satria sudah menolaknya dengan segala cara, tapi ia tetap tidak bergeming.


Dan hal yang membuat Bayu mantap untuk meninggalkan jogja dulu untuk bekerja di Jakarta juga karena gadis tersebut. Ia selalu mengikuti Satria kemanapun bahkan ketika bekerja.


Dan ketika Satria memilih pindah, ia sengaja meminta semua orang untuk merahasiakan kepergiannya. Dia termasuk gadis yang cukup gigih dalam mengejar Satria.


***


Pagi hari pun datang, Hari ini Satria tidak akan pergi keluar dan hanya melakukan pengecekan produknya di rumah. Kebetulan, ia membangun sebuah lahan di halaman belakang rumah eyang nya tersebut sebagai tempat untuk produksi.


Beberapa pekerja yang berasal dari lingkungan tersebut telah sibuk berkutat dengan masing-masing tugasnya. Kebetulan permintaan pesanan sedang ramai-ramai nya. Satria pun meminta Pakde Trisno untuk mencarikan tambahan 2 orang pekerja untuk membantu bagian packing.


Satria memanfaatkan ibu-ibu rumah tangga di sekitar untuk membantunya membangun usaha tersebut. Dan Pakde Trisno adalah orang yang ia percayai untuk mengawasi jalannya proses produksi, packing sampai pengiriman.


"Sat, sarapan dulu loh ini sudah hampir jam 9 pagi." ujar eyang menghampiri Satria yang tampak sibuk mengecek pesanan bersama admin.


"Sebentar lagi eyang." jawab Satria sambil menoleh ke arah eyangnya sambil tersenyum.


"Sebentar mu itu lama, pokoknya eyang akan tunggu di sini." ujar eyang sedikit kesal.

__ADS_1


Satria pun terkekeh pelan, ia pun memberikan arahan pada 2 orang admin yang sedang membuat pembukuan untuk pesanan dan pembukuan untuk modal belanja.


Baru setelah itu ia pun menghampiri eyang nya sambil menggamit lengan eyang menuntunnya kembali ke rumah. Eyang sudah sarapan lebih dulu, dan kini ia hanya menemani Satria di meja makan.


"Le, kemarin Sherina datang." ujar eyang membuka obrolan.


"Iya, Satria sudah lihat hadiahnya." jawab Satria cuek.


"Jangan di kembalikan yo, eyang tidak tega melihatnya. Dia itu gadis yang baik loh, sabar juga menghadapi kamu selama ini."


"Maksud eyang?"


"Apa kamu tidak ada rencana untuk memberikan kesempatan sekali saja untuk dia, le. Eyang kasihan sekali melihatnya, dia sangat gigih untuk mendapatkan hati kamu." jawab eyang dengan hati-hati.


Iya tahu cucunya itu sangat kesal jika ia membahas masalah ini, tapi sebagai seorang perempuan ia merasa kasihan pada gadis itu. Padahal dia tidak kalah cantik dengan Arin, tapi entah kenapa Satria begitu dingin dengannya pikir eyang.


Satria yang mendengar hal tersebut langsung berhenti makan dan menaruh sendoknya di atas piring. Ia pun meraih gelas berisi air putih yang ada di samping tangannya.


"Eyang tahu jawaban Satria tidak akan berubah sampai kapanpun."


"Tapi mau sampai kapan le, kamu menunggu Arin?"


"Ini bukan tentang Arin eyang, tapi ini tentang hati aku sendiri. Apa eyang mau aku menikahi wanita yang tidak aku cintai. Hati itu tidak bisa di paksakan, kalau pun akhirnya Satria menyerah tentang Arinda bukan berarti Sherina bisa menggantikannya eyang." jelas Satria dengan sabar.


Eyang pun nampak terdiam dan mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Satria.


"Aku minta maaf eyang, tapi aku benar-benar tidak tertarik sedikit pun dengan Sherina. Aku terus sendiri bukan semata-mata karena menunggu Arin, tapi karena aku juga belum menemukan seseorang yang bisa menggantikan Arin di hati aku."


"Sekarang Satria bukan lagi berada di usia dimana Satria bisa mencoba-coba dalam berhubungan. Satria pengen kalau memang ada gadis yang membuat Satria tertarik nanti itu untuk Satria bawa ke jenjang yang serius. Satria juga pengen kok eyang nikah, jadi eyang tolong ya ngertiin Satria." jelas Satria dengan jujur, ia pun segera bangkit dan menghampiri eyangnya.


Ia pun menggenggam tangan eyangnya sambil berjongkok di hadapan wanita yang kini berusia hampir 65 tahun itu.


"Eyang tolong do'akan Satria ya, jika memang jodoh Satria sudah dekat semoga di berikan kelancaran. Dan tentang Arin, kami sudah sepakat untuk memasrahkan semuanya pada takdir. Satria ingin sukses lebih dulu eyang, tolong eyang doakan supaya usaha Satria bisa berkembang dengan baik." ujar Satria dengan suara yang lembut.

__ADS_1


Sebisa mungkin ia berusaha untuk membuat eyangnya mengerti tanpa merasa tersinggung dengan ucapannya.


__ADS_2