
Setelah berbicara panjang lebar dengan Meisya akhirnya Arin pun mendapatkan titik terang untuk permasalahannya itu. Meisya mencoba membujuk ayah dan ibunya Arin untuk memberikan ijin bagi Arin kembali ke Jakarta.
"Ayah, sebenarnya Meisya bukan bermaksud ikut campur. Tapi ngelihat Arin di posisi ini Meisya juga ngerasa kasihan." ujar Meisya dengan hati-hati.
"Apa Arin yang meminta kamu untuk bicara sama ayah dan ibu?" tanya ibu Arin menebak.
"Enggak kok bu, ini murni pendapat aku aja. Jadi gini loh, aku juga ngerti kalau ibu sama ayah kecewa dengan keputusan Arin untuk kembali sama Satria. Tapi disini Meisya gak mau ngebahas hal itu." jelas Meisya membuat kedua mertuanya saling pandang.
"Lantas apa yang mau kamu bicarakan sayang?" tanya ibu melembut.
"Arin belum sebulan bu kerja di kantornya yang sekarang, dan dia suka banget sama lingkungan tempat kerjanya sekarang. Apa ayah dan ibu tidak bisa mempertimbangkan untuk mengijinkan Arin kembali ke Jakarta. Karena tidak mungkin jika Arin bisa mengambil ijin kerja selama berhari-hari. Dan lagi, Arin bukan remaja seperti dulu lagi yah, bu. Tidak mungkin kita menahannya terus menerus di sini." jelas Meisya panjang lebar menatap kedua orang yang sudah ia anggap layaknya orangtua sendiri.
Mendengar hal tersebut ayah dan ibu pun hanya diam saling berpandangan. Ia sadar jika apa yang di katakan oleh menantunya adalah sebuah kebenaran. Mereka sadar betul jika menahan Arin di rumah adalah hal yang salah karena putri mereka itu sudah dewasa dan sudah berkarir.
"Atau kalau memang ibu dan ayah khawatir Arin akan berhubungan diam-diam dengan Satria, ayah dan ibu bisa meminta Arin untuk kembali tinggal di sini dan pergi bekerja pulang pergi naik kereta. Toh, jarak dari rumah ini ke stasiun juga tidak terlalu jauh. Tapi sebelum itu berikan Arin waktu beberapa hari dulu untuk pindah dan berkemas." ujar Meisya lagi membuat ayah dan ibunya akhirnya menghela nafas panjang.
"Kamu benar sayang, baiklah panggil Arin untuk bicara dengan kami sekarang." ujar ibu pada akhirnya membuat senyum di wajah Meisya mengembang seketika.
Setelah itu kedua orangtuanya memberikan Arin banyak pesan sebelum akhirnya mengijinkan Arin untuk kembali ke Jakarta. Arin berjanji jika Minggu depan akan pindah kembali ke rumah mereka. Setelah itu Arin langsung bersiap untuk pergi ke rumah Satria.
Ia pun mengirimkan pesan kepada mamanya Satria sebelumnya, jika ia tidak bisa langsung datang. Mama Satria pun mengerti jika Arin sedang dalam posisi sulit tapi ia tidak tahu lagi harus berbuat apa selain meminta bantuan Arin.
Setelah berkemas, ayah sendiri yang mengantar Arin sampai naik ke kereta. Sebenarnya Arin merasa bersalah karena harus membohongi kedua orangtuanya namun ia juga takut jika jujur sudah pasti ayah dan ibunya tak akan memberikan ijin untuknya menemui Satria.
Setelah memastikan Arin menaiki kereta tujuan Jakarta ayahnya bergegas untuk pulang kembali ke rumah. Arin pun dengan cepat berjalan ke beberapa gerbong di depannya dan turun di pintu gerbong tersebut agar ayahnya tidak melihatnya.
Arin memutuskan untuk keluar dari stasiun menggunakan pintu lain yang berlawanan arah dengan yang biasa ia dan ayahnya lewati. Sambil berjalan Arin sudah memesan sebuah taksi online.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit akhirnya Arin pun sampai di sebuah rumah 2 lantai dengan pagar berwarna putih.
Begitu sampai di depan gerbang, Arin pun segera menghubungi mama Satria.
Tidak menunggu lama terlihat mama Satria berlari sedikit tergopoh-gopoh untuk membuka pintu gerbang. Di belakangnya terlihat Arslan berlarian menyusul di belakang mama Satria.
"Maaf ya nak Arin, tante lupa gerbangnya masih di kunci. Soalnya takut Arslan keluar, dia tuh orangnya suka kabur-kaburan." ujar mama Satria.
"Iya tante gak apa-apa." jawab Arin sambil melihat ke arah Arslan yang kini berdiri di belakang tubuh neneknya itu.
"Ma, Arslan bosen. Boleh keluar ya?" ujar Arslan membuat Arin tersenyum kecil kemudian menghampirinya.
"Kamu mau pergi kemana emangnya?" tanya Arin sambil mengelus rambut Satria dengan lembut.
"Mah kakak itu siapa?" tanya Arslan yang memang tidak mengenal Arin sebelumnya.
Ada sedikit rasa aneh menjalar di hati Arin ketika mamanya mengenalkan ia sebagai calon kakak ipar Arslan. Walaupun memang pada kenyataannya yang Arslan ketahui memanglah Satria itu adalah kakaknya.
Satria memandang Arin dengan tatapan yang entah namun beberapa saat kemudian ia pun tersenyum lebar sembari menarik tangan Arin untuk masuk ke dalam rumah.
"Mbak jadi pacarnya mas Satria ya? Ayo masuk mbak, aku anterin ke kamarnya nanti bujuk mas Satria ya biar keluar. Aku pengen main tapi dari pagi udah teriak-teriak depan kamarnya mas Satria gak bangun juga mbak."
Celotehnya sedikit menunjukkan kekesalannya.
Hal tersebut terlihat lucu di mata Arin. Sebenarnya Arin bukan tidak pernah mengenal Arslan, Arin pernah mengenal Arslan namun itu ketika Arslan masih sangat kecil dan yang ia tahu memang jika Arslan adalah adiknya Satria saat itu.
"Eh, Arslan kamu mau bawa mbak Arin kemana?" tanya mamanya dengan gemas melihat tingkah Arslan yang sejak tadi memang membuatnya sakit kepala.
__ADS_1
"Ke kamar mas Satria." jawabnya jujur.
"Arslan sayang, mbak arin baru sampai biarin mbakmu istirahat dulu ya. Lagi pula mama mau ngobrol dulu sama mbak Arin, kamu nonton tv lagi gih sana." ujar mama Satria membuat Arslan diam beberapa saat lalu mengangguk menyetujui permintaan mama Satria.
"Maaf ya nak Arin, kalau Arslan lancang dan membuat kamu tidak nyaman." ujar mama Satria merasa tidak enak hati.
"Gak apa-apa kok tante, namanya juga anak-anak." jawab Arin sambil tersenyum lembut.
"Kamu duduk dulu ya, di sini. Tante ke belakang dulu sebentar."
Suasana rumah Satria tampak sepi, Arin tidak tahu siapa saja yang ada di rumah tersebut. Ia hanya bisa mengira-ngira saja sambil melihat setiap detail rumah Satria yang tampak tidak berubah sama sekali. Hanya beberapa ruangan yang berganti warna catnya, namun semua masih persis seperti apa yang ia lihat beberapa tahun silam.
Tidak lama kemudian seorang gadis yang mengenakan dress rumahan tampak berjalan ke arah Arin dengan senyum mengembang. Arin pun hanya bisa membalas senyuman tersebut walaupun hatinya merasa sedikit tidak nyaman karena kesalahpahaman di antara mereka tempo hari.
"Hai, mbak masih ingat aku gak?" sapa Citra dengan ramah.
"Ingat kok Citra."
"Hem, mbak kok bisa di sini? Mbak kenal mas Satria kan sebenarnya." ujar Citra penasaran.
"Mbak Citra kepo banget ya?" ujar Arslan yang entah kapan tiba-tiba sudah berada di belakang Citra.
"Mbak Arin, mbak Citra emang kepo orangnya." sambungnya lagi membuat Citra melotot ke arahnya karena gemas membuat Arin tersenyum lebar melihat tingkah keduanya.
"Kalian ini, kenapa bertengkar. Citra maaf ya mbak waktu itu gak ngenalin kamu di kedai bakso soalnya terakhir mbak lihat kamu, kamu masih SD dulu." ujar Arin membuat keningnya mengurut seketika.
"Mbak kenal aku? Dari dulu?" tanya Arin yang hanya di angguki oleh Arin.
__ADS_1