
Beberapa hari berlalu sejak pertemuan nya dengan Satria. Arin pun mendapatkan panggilan interview di salah satu perusahaan periklanan.
Karena sangking antusiasnya Arin bahkan sudah terlihat rapi pada pukul 7 pagi untuk siap berangkat. Walaupun sebenarnya jadwal interview nya akan di lakukan pukul 10 pagi. Ia terlalu bersemangat, dan sangat yakin jika akan di terima di perusahaan tersebut.
"Widih, udah cantik aja. Mau kemana?" tanya Sherina sambil menenteng segelas air putih di tangannya.
Penampilannya terlihat berantakan khas orang bangun tidur. Ia masih mengenakan sebuah kaos oversize berwarna putih dan celana pendek. Rambutnya ia ikat asal saja, ia hanya baru mencuci wajah saja ketika keluar dari kamar.
"Hari ini aku ada jadwal interview Sher, doain ya." ujar Arin dengan bersemangat.
"Oh gitu, good luck deh ya. Kalau keterima nanti malam traktir ya." jawab Sherina setengah bercanda.
"Pasti! Kamu sama Herti mau apa aja terserah. Doain aku ya biar lolos dan ke terima di perusahaan ini." timpal Arin lagi sambil mengunci pintu kamarnya.
"Udah mau jalan? Emang interview jam berapa?" tanya Sherina lagi.
"Interview nya sih jam 10, cuma aku pengen jalan-jalan dulu sebentar buat ngerefresh otak biar gak kusut nanti pas waktu nya berhadapan sama orang HRD nya." jawab Arin jujur karena sebenarnya ia merasa sedikit gugup.
Arin ingin mencoba untuk berjalan-jalan sebentar sambil mencari sarapan di luar, Seperti yang Sherina lakukan setiap hari. Bertemu dengan Sherina memang sedikit membawa angin perubahan pada hidupnya.
Ia mulai menyukai kebiasaan yang di lakukan oleh sahabat barunya itu. Cara Sherina memandang dunia dan menikmati hidupnya membuat Arin sedikit terusik. Ingin rasanya bisa menjadi manusia yang langkahnya terlihat santai namun penuh kepastian, pikir Arin.
Seiring berjalannya waktu, sedikit banyak Arin mulai mengetahui siapa sebenarnya sosok Sherina dan apa saja yang ia miliki. Itupun tidak pernah sengaja Sherina ceritakan pada Arin tapi karena satu dan lain hal yang membuatnya ketahuan.
Baik Arin maupun Herti sangat kagum dengan Sherina yang sudah begitu sukses di usia muda dalam mengelola dan membangun bisnisnya dari nol. Tapi Sherina sama sekali tidak pernah memamerkannya dan selalu bersikap rendah hati.
Singkat cerita Arin pun sampai di sebuah pusat jajanan dan makanan yang ada di area salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta. Di sana terdapat banyak pedagang yang menjajakan menu sarapan pagi dari yang tradisional sampai internasional.
__ADS_1
Arin memutuskan untuk mendekati seorang penjual nasi pecel yang terlihat begitu ramai. Setelah cukup lama mengantri ia pun bisa menikmati salah satu makanan khas Madiun tersebut.
Setelah selesai menyantap sepiring nasi pecel yang lezat, Arin berpindah ke sebuah gerobak yang terletak tidak jauh dari tempatnya makan. Ia sedikit tertarik untuk mencicipi makanan manis selanjutnya untuk ia nikmati di perjalanan.
Arin memang tidak memiliki selera makan sebesar Sherina yang bisa langsung lahap ketika makan dalam porsi banyak dan berbagai menu. karena itu ia pun memutuskan untuk membeli pancake sebagai dessert.
Sambil menunggu antrian untuk membeli pancake yang tengah Viral tersebut, Arin memilih untuk memesan es podeng sebagai teman menunggunya. Dan tak terasa waktu pun berlalu dengan cepat.
Arin pun melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Ia pun dengan cepat berjalan ke sebuah mall yang terletak tidak jauh dari sana untuk berganti pakaian resmi dan merapikan riasan wajahnya.
Setelah itu ia pun bergegas untuk menuju perusahaan yang gedungnya terletak 2 blok di belakang gedung mall tersebut. Arin memilih untuk berjalan kaki sambil menikmati pancake yang ia pesan dengan penuh kesabaran tadi.
Tepat pukul 9.30 Arin sudah sampai di depan gedung perusahaan tempatnya melamar pekerjaan. Sebelum masuk, ia pun mencoba menenangkan diri dan membuang rasa gugupnya dengan cara berlatih pernapasan selama beberapa kali.
Dengan penuh rasa percaya diri, Arin pun masuk ke dalam perusahaan tersebut. Resepsionis pun mengarahkannya untuk pergi ke lantai 12 dimana ia akan melakukan interview. Tidak lama setelah ia duduk di ruang tunggu, datang sekitar 3 orang pelamar lain yang juga lolos sampai tahap interview.
Setidaknya ia sudah berusaha keras untuk sampai di tahap ini. Ia tidak akan pernah menyesal karena ia telah berusaha secara maksimal. Namun jika ia tidak mendapatkan pekerjaan tersebut, Arin pun hanya bisa pasrah.
Setelah selesai melakukan interview, Arin masih harus menunggu selama 1 hari kerja untuk mengetahui hasilnya. Ia pun meninggalkan perusahaan tepat pukul 12 siang.
Sebelum pulang Arin memutuskan untuk pergi ke mall yang ia datangi tadi untuk bersiap-siap. Arin pun naik ke lantai 5 dimana terdapat beberapa restoran dan cafe. Setelah melihat-lihat ia pun memilih untuk memasuki sebuah cafe yang berada di sebelah restoran cepat saji.
Setelah mendapatkan tempat duduk di sana, Arin memutuskan untuk menghubungi Sherina terlebih dahulu karena mereka sudah berjanji untuk makan siang bersama di sana. Arin pun memberitahukan jika ia telah memilih salah satu cafe dan sudah berada di sana untuk memesan makanan.
"Sher, kamu masih dimana?" tanya Arin begitu panggilan terhubung.
Sherina nampak diam saja tidak menanggapi pertanyaan yang Arin ajukan.
__ADS_1
"Sher, kamu denger aku gak? Hei, masih dimana?" tanya Arin kembali dengan sabar.
"Eh, ini Rin sebentar lagi aku sampai kok. Aku udah di depan mall. Kamu di mananya?" tanya Sherina balik dengan cepat.
Arin pun bisa menangkap sesuatu yang berbeda dari suara Sherina. Tapi ia memilih untuk diam dan menanyakannya nanti secara langsung. Suara Sherina juga terdengar gelisah, dan tidak seceria biasanya.
"Em, aku di lantai 5 cafe Harmoni ya." jawab Arin singkat.
Setelah menunggu sekitar 5 menit Sherina pun sudah terlihat memasuki area cafe. Dapat Arin lihat jika wajah Sherina terlihat begitu lusuh dan sedih. Bahkan matanya terlihat sembab seperti habis menangis.
"Maaf ya, kamu nunggu lama gak?" tanya Sherina begitu sampai di meja Arin.
"Enggak kok, ayo duduk sini." jawab Arin.
"Aku udah pesen jus Strawberry kesukaan kamu tuh, minum pasti haus banget kan?" ujar Arin kembali ketika Sherina duduk di depannya.
"Wah, makasih bestie." jawab Sherina dengan penuh semangat seperti biasanya.
Meskipun begitu Arin tahu jika Sherina hanya berusaha untuk terlihat biasa saja. Ia tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya dengan Sherina. Ia tidak pernah melihat wajah Sherina sesedih itu selama ini.
"Kamu gak apa-apa kan?" tanya Arin setelah Sherina menikmati segelas jus strawberry kesukaannya.
"Eh, kelihatan ya. Padahal aku udah tahan sebisa mungkin loh biar gak ketahuan kamu." jawab Sherina tersenyum pahit sambil mengaduk-aduk sedotan dalam gelas-gelas nya.
"Ada apa? Kamu lagi ada masalah ya?" tanya Arin kembali.
"Bukan ada, tapi memang lagi lari dari masalah. Tapi sekarang masalahnya malah ngikutin dari Jogja kesini." jawabnya sambil setengah tertawa.
__ADS_1
Meskipun wajahnya memperlihatkan tawa, tapi dapat Arin lihat dengan jelas gurat kesedihan begitu kentara di wajahnya. Arin pun bertekad, untuk menghibur Sherina agar ia tidak bersedih lagi terlepas dari apapun itu masalahnya.